
Selamat, membaca š¤
āØššššāØ
Di tempat Lain, Winda sedang merasakan kesal karena rencana dia kali ini gagal.
Bener apa yang diperkirakan Seno, bahwa Winda memang merekayasa hilangnya Windy, karena sebenarnya Windy tidaklah hilang. Gadis itu pergi ke luar negeri karena ada sesuatu yang mendesak, yang mengharuskan Windy berangkat malam itu juga, malam di saat Winda menghubungi Seno dan meminta lelaki itu untuk mencari Windy.
Tentu saja Winda melakukan ini untuk merenggangkan hubungan antara Rana dan Seno.
Winda pikir, dengan membawa kabar menghilangnya Windy kepada Seno, lelaki itu akan Panik, cemas dan khawatir. Seno akan berjuang sekuat tenaga, melewati lembah, naik turun gunung, menyeberangi laut, hutan belantara dan segala-galanya untuk mencari Windy.
Dan tentu saja, jika Seno melakukan semua itu akan menimbulkan perasaan cemburu dan marah di hati Rana, karena lelaki itu menghabiskan waktunya untuk mencari di mana Windy berada.
Dan setelah Seno merasa putus asa karena tidak dapat menemukan Windy, Winda akan menyuruh Windy pulang dan dia akan merencanakan pertemuan yang dramatis antara kedua orang itu.
Ya, itulah direncanakan spontan yang di susun Winda setelah Putri semata wayangnya berpamitan ingin pergi ke luar negeri pada malam itu juga karena ada sesuatu yang mendesak yang harus Windy kerjakan di sana.
Dan untuk mendukung rencananya itu, dengan sengaja Winda mengeluarkan ponsel Windy dari dalam tasnya. Tampa Windy sadari ada rencana tidak masuk akal dari ibunya.
Namun semua rencana yang Winda pikir akan berjalan dengan mulus, semulus kulit bayi, ternyata harus gagal total karena Seno sama sekali tidak peduli dan bersikap masa bodo atas kabar menghilangnya Windy, bahkan dia sama sekali tidak ikut melakukan pencarian kepada Gadis itu meskipun sudah puluhan kali Winda mengajukan agar anggota tim SAR yang mencari putrinya. Tapi Seno tetap tidak menggubrisnya.
Membuat Winda kesal setengah mati, dia juga takut sandiwaranya ini ketahuan karena Dengan bodohnya dia melibatkan polisi demi mendukung sandiwaranya ini.
"Apa benar, Seno sudah tidak lagi peduli dengan Windy, hingga dia sama sekali tidak merasa khawatir ketika mendengar kabar Windy menghilang. Sungguh lelaki itu jahat! apa dia tidak memikirkan dan mempertimbangkan pengorbanan Windy selama ini, Windy sudah berkorban banyak untuknya tapi dengan semudah itu Seno melupakan Windy dan membuangnya seperti sampah. Aku sungguh tidak terima putriku diperlakukan seperti ini, dari awal pun Seno milik Windy, tidak ada sesuatu yang anak ku miliki bisa dimiliki orang lain. Bagaimanapun caranya, aku akan tetap memisahkan Seno dan Rana karena mereka tidak pernah diciptakan untuk bersama."Gumam Winda meyakinkan dirinya sendiri.
Makin hari kelakuan Winda semakin gila, sepertinya dia benar-benar tidak menerima dan tidak rela melihat Rana dan Seno hidup bahagia sementara anaknya harus terpuruk dengan masa lalu, dan tidak bisa keluar sedikitpun dari bayang-bayang kelam itu. Bahkan Windy tidak pernah bisa membuka hatinya untuk laki-laki manapun selalu Seno.
Tidak mau jika aksi kebohongannya ini diketahui oleh pihak kepolisian, Winda kembali mengatur rencana karena hari ini Windy akan kembali ke tanah air.
dan yang wanita itu lakukan adalah! meminta putrinya untuk berbohong kepada publik bahwa dirinya benar-benar menghilang, bahkan dengan gilanya Winda meminta putrinya untuk bersandiwara bahwa dia terpaksa kabur karena merasa bersedih, karena cinta masa lalunya direbut oleh orang lain.
Mendengar permintaan gila dari ibunya tentu saja Windy tidak mau melakukan hal itu. Tapi dia tetap membantu Winda agar tidak terlibat dengan hukum, dengan Windy memilih untuk ikut berpura-pura kabur dari rumah karena dia ingin menenangkan diri sementara waktu.
****
"Apa Mama puas! apa Mama puas sudah membuatmalu dan heboh seluruh kota dengan mengarang cerita bahwa aku telah melarikan diri? Mah, sebenarnya apa yang ada di pikiran Mama sampai Mama melakukan hal gila seperti ini. Cukup Mah! tolong berhenti membuat masalah apalagi jika itu berkaitan dengan Seno dan Rana, jika mama terus-terusan bersikap seperti ini aku tidak akan segan-segan meninggalkan mama."Ancam Windy yang saat ini benar-benar sangat marah dan kecewa kepada ibunya.
Apa yang dilakukan Winda saat ini sudah di luar batas kewajaran manusia yang memiliki akal sehat. Windy pun harus bersikap keras pada ibunya itu, meskipun dengan cara yang sedikit keras tapi Winda sangat bebal.
"Windy, kenapa kamu jadi menyalahkan Mama. Bahkan kau ingin meninggalkan mama hanya karena masalah ini! Mama melakukan ini hanya demi kamu Windy semuanya demi kamu demi kebahagiaan kamu Mama rela berbuat seperti ini agar kau bahagia Windy."
"Tidak mah, aku tidak akan pernah bahagia jika mama bersikap seperti ini. Ini memalukan Mah, ini juga merugikan banyak orang. Aku mohon. Tolong hentikan semuanya. Tolong jangan pernah mengganggu lagi Rana dan Seno."Windy bahkan sampai mengatupkan kedua tangannya di hadapan Ibunya, agar ibunya itu mau mengerti dengan kenyataan yang ada saat ini.
__ADS_1
Winda terdiam, mungkinkah ia merasa bersalah atas hal gila yang sudah akhir-akhir ini dia lakukan.
Winda melakukan ini karena dia sangat menyayangi Windy lebih dari apapun, dia tidak ingin melihat anaknya terpuruk dengan masa lalu dan Winda tahu jika kebahagiaan Windy hanyalah bersama Seno.
Anaknya akan bisa melupakan masa lalu kelam dan menjalani hidup normal jika Windy bisa bersama dengan Seno.
"Lebih baik Mama beristirahat sekarang, Dan aku harap ini hal gila yang terakhir Mama lakukan. Jika Mama kembali membuat ulah, aku tidak akan pernah membantu Mama lagi dengan alasan apapun."Tegas Windy dan dia pun segera berlalu dari sana, setelah mengantarkan Winda ke kamarnya.
āØššāØ
"Jadi benar, Windy kabur dari Rumah?"tanya Rana kepada Aurel yang saat itu sedang mengunjunginya di Rumah Sakit.
"Ya, menurut cerita yang aku dengar begitu. Windy kabur dari Rumah dengan alasan ingin menenangkan pikirannya."Sahut Aurel.
"Apa menurutmu Windy melakukan ini, karena Mas Seno? aku tahu dan aku bisa melihat dari mata Windy bahwa dia masih sangat mencintai Mas Seno. Mungkin saja Windy benar-benar tidak bisa melupakan Mas Seno sehingga dia nekat melakukan hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya."
"Itu belum tentu Rana, mungkin saja Windy memutuskan untuk pergi dari rumah secara diam-diam karena ada alasan tertentu bukan karena masalah cinta saja, alasan seseorang kabur dari rumah! bisa jadi dia pusing dengan pekerjaannya yang menumpuk atau dia memiliki masalah dalam anggota keluarganya ,"jelas Aurel.
"Kau benar juga, tapi aku sungguh merasa kasihan dengan Windy."
"Aku pun kasihan dengan dia, tapi mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa melakukan apa-apa kan, kita hanya bisa menasehati dan menguatkannya tapi jika dia menginginkan dan terus-terusan terpaku dengan masa lalunya, kita tidak bisa berbuat apa-apa karena kita tidak punya kekuatan untuk memindahkan seseorang yang masih terjebak di masa lalu ke masa sekarang, karena yang bisa melakukan itu hanya Windy sendiri."
PROK!
PROK!
"Sungguh luar biasa, aku benar-benar terkesan dengan kata-kata yang baru saja kau ucapkan,"ujar seseorang yang baru saja membunyikan suara dari telapak tangannya dan dia adalah Ardi.
"Dokter Ardi!"Rana yang sedang duduk segera bangun untuk menyapa kedatangan dokter itu.
Berbeda dengan Aurel, dia masih duduk di tempat tanpa berkutik bahkan matanya pun tak berkedip karena terpesona melihat kehadiran dokter Ardi di sana.
Wajah tampan, kulit putih, hidung mancung dan rambut hitam mampu menarik seluruh pandangan Aurel.
"Hai! apa yang sedang kau lihat?"ujar dokter Ardi sambil melambai-lambaikan tangan di wajah Aurel yang terlihat bengong menatap wajahnya.
"Aurel!"Panggil Rana dengan menepuk lengannya.
"Iya! Kenapa? dia tampan sekali!"kata Aurel dengan refleks karena itulah yang ada di pikirannya saat ini.
Dokter Ardi terkekeh.
"Apakah pujian itu kau berikan untuk saya?"
__ADS_1
Aurel tersenyum malu-malu, sungguh ia merasa kaku berhadapan dengan dokter Ardi, lelaki yang benar-benar berwujud seperti apa yang menjadi tipe idealnya selama ini.
"Ah, tidak seperti itu. Maafkan saya, saya hanya sedang memikirkan sesuatu yang lain,"ujar Aurel yang tidak mau mengakui.
Ardi mengangguk, lalu ia mengulurkan tangannya kepada Aurel. Melihat dari gerak-gerik dokter itu, sepertinya Ardi pun cukup terkesan dengan pertemuan pertamanya.
"Saya Ardi."
Tampa menunggu lama lagi, Aurel mengundurkan tangannya.
"Saya Aurel."
"Senang bertemu dengan mu."Sahut Ardi tanpa melepaskan jabat tangannya dengan Aurel begitu juga dengan Aurel yang terlihat ingin berlama-lama berjabat tangan dengan dokter Ardi.
"Aurel!"Panggil Rana kembali dan tentu saja membuat Gadis itu terkejut lalu melepaskan tangannya.
Rana mengedipkan mata kepada Aurel ,untuk menjaga sikapnya.
"Dia dokter Ardi."
"Aaah, Anda dokter! melihat dokter seperti ini aku jadi ingin sakit setiap hari,"gumam Aurel dengan suara penahan namun Rana bisa mendengar gumam temannya itu dan seketika Rana mencubit lengannya.
"Apa! aku tidak sengaja bicara seperti itu, mulutku ini memang sulit dijaga jika melihat sesuatu yang indah di pandang mata,"bisik Aurel lalu ia kembali tersenyum kepada dokter Ardi.
Ardi memberikan sebuah kartu pengenal kepada Aurel.
"Itu nomor ponselku, jika ada yang ingin kau konsultasikan, 24 jam ponselku aktif untuk itu."
Aurel meraih kartu itu dengan malu-malu dan perasaan yang tidak karuan.
"Terima kasih."
Dan setelah sesi perkenalan itu, Dokter Ardi berpamitan karena dia harus memeriksa kembali para pasien yang sedang menunggu dirinya.
Bersambung..
šāØāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada keslahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø