
Selamat, membaca š¤
šāØšāØš
Winda tidak langsung menjawab pertanyaan Windy karena dia diam untuk beberapa saat.
"Mah, tolong katakan padaku. Untuk apa Mama menemui Rana? dan apa saja yang sudah mama katakan kepada Rana? Mamah tidak melakukan sesuatu pada Rana kan?"Tanya Windy kembali. Dia sangat berharap jika Winda tidak mengatakan apapun yang membuat hati Rana terluka.
"Windy! Untuk apa kamu memikirkan wanita lain, kamu harus memikirkan dirimu sendiri pikirkan kebahagiaanmu. Lagi pula Mama tidak melakukan apapun kepada Rana, Mama hanya meminta agar dia mau berbagi denganmu."
"Apa! berbagi denganku?"
"Benar, Mama hanya meminta kepada Rana untuk membiarkan Seno bersamamu."
Windy sampai menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak habis pikir jika Winda bisa berkata seperti itu.
"Apa Mama sadar dengan apa yang Mama katakan kepada Rana?"
"Tentu saja, Mama sadar dan sangat sadar. Dan Mama yakin sekali. Jika Rana mendengarkan permintaan Mama, terbukti dengan Rana yang pergi, kembali ke kota tempatnya berasal meninggalkan Seno. Itu bertanda jika dia memberikan kesempatan untukmu bersama dengan Seno."
"Mama!"teriak Windy,"Aku benar-benar tidak habis pikir jika Mama bisa melakukan ini semua? apa sebenarnya yang ada di pikiran Mama sampai Mama tega meminta hal memalukan seperti itu kepada Rana? Rana itu istri Seno mah, kenapa Mama sampai hati meminta seorang istri untuk membagi suaminya kepada wanita lain? aku benar-benar sangat kecewa pada Mama."
"Windy!"Bentak Winda,"Kamu, jangan bodoh dan menyerah begitu saja, Seno itu milikmu dari awal dia milikmu. Dan Rana datang merebut semuanya, kamu harus bisa mengambil kembali apa yang seharusnya milikmu Windy, Mama sangat yakin jika Seno Masih Mencintaimu, kalian berpisah bukan karena saling menyakiti hingga memusnahkan Rasa cinta diantara kalian, saat kau pergi Seno masih sangat mencintaimu dia menikah dengan Rana hanya pelarian saja karena kecewa padamu. Dan setelah dia tahu apa yang terjadi sebenarnya Mama sangat yakin Seno akan membalik hatinya kembali kepadamu."
"Mah...!"
"Windy, kamu jangan munafik, Mama sangat yakin jika kau juga masih mengharapkan untuk hidup bersama dengan Seno. Ini kesempatan untukmu Windy, tidak masalah jika kau menjadi yang kedua dalam status pernikahan tapi kamu tetap menjadi yang pertama di hati Seno."Kata Winda, dengan sangat percaya diri.
Windy sudah tidak bisa berkata apapun lagi, Dia hanya bisa menyayangkan sikap dan kelakuan Mamanya saat ini.
"Tidak! Mah, aku tidak akan pernah melakukan apa yang Mama inginkan, aku tidak akan mungkin menghancurkan rumah tangga Seno dan Rana."
"Rumah tangga mereka memang sudah hancur Windy, karena pernikahan mereka tidak didasari rasa cinta dari sebelah pihak. Kamu harus tau itu, Seno terpaksa menikahi Rana tapi dia tidak pernah mencintai istrinya itu dan....!"
"Cukup! Mah."Potong Windy.
"Aku tidak mau mendengar apapun dari Mama, dan aku ingin Mama minta maaf kepada Rana dengan kata-kata mama yang tentu saja sudah menyakiti hati Rana."
Winda diam.
Dan Windy kembali berucap.
"Baiklah, jika Mama tidak mau meminta maaf kepada Rana, biar aku yang meminta maaf kepada Rana dan Seno. Aku harus meluruskan ini semua agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua."Tegas Windy.
Setelah mengatakan itu, Windy segera berlalu meninggalkan Winda yang sebenarnya masih ingin berbicara dan membujuknya agar bersedia menjadi yang kedua untuk Seno.
__ADS_1
"Yakinlah pada Mamah Windy, jika Seno masih sangat mencintaimu dan Seno tidak bahagia hidup bersama istrinya. Dia hanya akan bahagia denganmu. Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada, pikirkanlah karena Mama sangat tahu kau masih mengharapkan Seno dan ingin hidup bersamanya."Teriak Winda.
Namun teriakan itu sudah tidak lagi digubris oleh Windy karena ia terus berjalan dan masuk ke dalam kamarnya.
****
Windy duduk di depan cermin ia mengusap wajahnya dengan kasar, Windy masih tidak menyangka jika mamanya tega melakukan ini semua.
"Aku harus minta maaf kepada Rana dan Seno, aku tidak mau Seno membenciku karena hal ini."Gumam Windy, sambil menatapnya dirinya di depan cermin. Lalu tiba-tiba dia termenung dan kembali bergumam.
"Jadi, Seno sudah mengetahui semuanya dan dia tetap bersikap dingin kepadaku, malah dia semakin menjauhiku. Itu artinya Seno benar-benar marah padaku, jadi fakta itu pun sama sekali tidak bisa membuat Seno kembali bersikap hangat kepadaku."
Windy menyadari sesuatu.
***
Windy, memutuskan untuk menghubungi Rana dan Seno, namun tidak bisa dia lakukan karena panggilannya selalu dialihkan.
Dan dengan nekat, Windy memutuskan untuk pergi ke kota di mana Rana tinggal. Gadis ini sungguh tidak tenang dengan apa yang sudah terjadi tanpa sepengetahuannya.
Dan Windy berniat untuk meluruskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Rana ataupun Seno.
Niat Windy yang ingin pergi ke Kota tersebut sama sekali tidak dihalangi oleh Winda, dia membiarkan putrinya pergi di malam hari menuju ke Kota di mana saat ini Rana tinggal. Winda hanya meminta Wahyu untuk menemani putrinya itu selama dalam perjalanan.
Dan di malam itu juga Windy serta Wahyu berangkat.
šāØšāØšāØ
Suara benda jatuh terdengar nyaring di sebuah ruangan yang tertutup, dan itu berasal dari sebuah map besar yang membentur lantai.
"Ini, benar-benar sudah gila. Apa Vir sudah tidak waras, anak itu benar-benar ingin membuat kepalaku pecah dan mati karena serangan jantung."
Saat ini Mayang sedang berada di puncak emosinya yang sudah menggunung, karena baru saja ia melanjutkan memeriksa dan membaca berkas yang berisi data tentang Rana yang belum selesai dia lanjutkan. Dan beberapa saat yang lalu dia jatuhkan map tersebut.
Dia baru saja menemukan fakta bahwa Rana belum berpisah secara resmi dengan suaminya, yang artinya. Rana masih berstatus istri orang. Dan tentu saja hal ini semakin membuat Mayang murka.
"Sekarang! cepat panggil Vir, suruh dia menghadap saya sekarang juga."Titah Mayang pada asistennya dengan nada geram.
"Untuk apa Nyonya? Jika Anda ingin meminta Vir untuk meninggalkan Gadis itu sepertinya akan sia-sia saja, karena Vir benar-benar serius dengan gadis yang bernama Rana ini seperti apapun Anda menyadarkan Vir, dia tidak akan pernah mau mendengarkan Anda Nyonya."Sahut Asisten Mayang.
Wanita glamor ini sesaat terdiam, dia membenarkan apa yang baru saja dikatakan asistennya. Percuma saja jika dia bicara dengan Vir sekalipun mulutnya sampai berbusa, karena lelaki itu tidak akan pernah mau mendengarkan nasehatnya. Jika Vir sudah mempunyai keinginan yang kuat.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menjauhkan Vir dengan wanita itu?" Batin Mayang.
Namun, baru saja Mayang berpikir dengan sangat keras dia sudah mendapatkan ide yang menurutnya cemerlang.
__ADS_1
"Cepat! antarkan saya ke rumah gadis itu."Pinta Mayang kepada asistennya sambil berlalu dari ruangan pribadinya.
"Anda mau ke mana Nyonya?"
"Sudah jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang saya perintahkan. Minta sopir untuk menyiapkan mobil dan kita segera pergi menuju rumah gadis itu."
Asisten yang tidak diperkenankan untuk bertanya kembali karena tugasnya hanya menuruti perintah dari sang nyonya.
****
Saat ini, Mayang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah orang tua Rana. Karena jarak tempuh yang tidak terlalu jauh hingga dalam waktu 20 menit saja Mayang sampai di sana.
****
"Selamat, malam. Apa benar ini rumah Kirana?"sapa Mayang sekaligus bertanya setelah Kartika membukakan pintu yang dia ketuk secara kuat.
"Beber, Anda siapa? Apa Anda ingin bertemu dengan Rana?"
"Saya Mayang, orang tua Vir, dan kedatangan saya untuk bertemu dengan orang tua gadis itu? apakah Anda orang tuanya?"
Kartika cukup terkejut dengan kedatangan Mayang yang ternyata orang tua Vir.
"Benar, nama saya Kartika orang tua Rana. Apa yang membawa Anda datang ke rumah saya?"
Mayang tersenyum tapi senyumnya ini seperti merendahkan, dia menatap Kartika dari ujung kaki sampai ujung kepala, bukan hanya itu. Mayang juga mengedarkan pandangannya di sekeliling bangunan rumah orang tua Rana.
"Baguslah. Saya ingin bicara dengan Anda."Kata Mayang, setelah puas meneliti dan menilai kediaman orang tua Rana dengan pikirannya sendiri.
"Kalau begitu, silakan Anda masuk ke dalam."Ujar Kartika.
"Tidak perlu, saya bicara di sini saja. Karena saya akan bicara pada intinya tanpa harus bertele-tele."Tolok Mayang, yang merasa enggan untuk masuk ke dalam rumah Kartika.
"Baik, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?"
Bersambung...
šāØšāØšāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1
Jangan lupa untuk like ya š¤š¤