4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Mendatangi Rumah Seno.


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—



šŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸ


Mobil yang di kendarai Aurel menepi di depan pagar rumah Seno yang berwarna hitam.


"Kita sudah sampai Ran. Sepertinya aku parkir di sini saja, tidak perlu masuk ke halaman rumahmu kan?" Tanya Aurel.


"Ini bukan rumah ku."Sahut Rana.


"Aaah, iya aku lupa. Maksudku rumah mantan... Eh, suami.. Bukan-bukan! Calon mantan suamimu, itu yang tepat. Ayo kita turun."Ajak Aurel, yang sudah melepas sabuk pengaman dan segera membuka pintu mobil.


Di dalam mobil Rana masih ragu-ragu untuk turun, dia sebenarnya gugup harus bertemu dengan Seno kembali, dan ini juga yang menjadi alasan dia meminta Aurel mengantarnya.


"Rana, kenapa kau masih di dalam? Apa kau tidak mau turun?"Aurel membuka pintu mobil untuk Rana yang masih terdiam di dalam.


"Ini aku mau turun. "Rana membuka sabuk pengaman dan ia pun memberanikan diri untuk turun.


Rana menatap rumah yang 4 tahun lalu ia tinggalkan dengan membawa kekecewaan, dan ia kembali mengingat di saat dia berjalan keluar, tapi hatinya sangat berharap kalau Seno akan menahannya. Namun ternyata semua itu tidak terkabul. Hingga Rana benar-benar pergi dari rumah itu Seno tidak menahan dan mengatakan apapun.


"Rumah ini masih seperti yang dulu, tidak ada yang berubah dari warna cat dan suasananya."Ujar Aurel yang juga menatap depan rumah Seno.


Rana menimpali perkataan Aurel hanya dengan anggukan.


"Ini masih siang, sepertinya Seno belum pulang dari tempatnya bekerja, rumahnya sepi dan pasti pagarnya dikunci kan?"tanya Aurel kepada Rana, yang masih terus menatap rumah nya dan Seno dulu.


"Rana, kenapa kau diam saja? aku sedang berbicara denganmu?"Kesal Aurel yang, merasa di abaikan.


"Maaf, aku sedang sedikit tidak fokus. Tapi aku mendengar apa yang kau tanyakan."


"Lalu? "


"Sebaiknya kita tunggu di sini saja, ini hari Sabtu, biasanya Mas Seno pulang lebih cepat dari hari biasanya."


"Ternyata kau masih saja mengingat jam berapa dia pulang ketika hari Sabtu dan hari biasa."


Rana melirik Aurel dan Aurel segera menunduk, mengerti jika perkataannya tadi mengusik hati Rana.


"Baiklah kita tunggu di sini saja."Ujar Aurel lalu ia semakin mendekat ke pagar dan melihat bunga-bunga yang tersusun rapi di halaman rumah itu.


"Kau lihat itu Rana! Bunga-bunga ini tumbuh dengan subur. Sepertinya, lelaki itu merawatnya dengan sangat baik, bukankah ini bunga-bunga yang dulu kau tanam? aku masih ingat betul disaat kau mengajakku untuk membeli bibit-bibit bunga ini."Seru Aurel.


Rana yang tengah memeriksa ponselnya berjalan menghampiri Aurel dan melihat apa yang baru saja Gadis itu katakan. Ternyata benar saja, tidak ada yang berubah sedikitpun dari rumah ini. Bahkan tataan pot bunga dan jenis-jenis bunga yang ada di sana sama seperti dulu, di saat Rana meninggalkan rumah tersebut. Malah tumbuhan yang ada di sana semakin subur menandakan, jika tanaman tersebut dirawat dengan sangat baik.


Aurel tidak sengaja mendorong pintu pagar yang ternyata tidak terkunci.

__ADS_1


"Apa dia lupa mengunci pagar? Lihat ini terbuka!"kata Aurel sambil menunjuk pagar yang sudah terbuka lebar.


"Mungkin Mas Seno, lupa menguncinya."Timpal Rana.


"Kalau begitu, lebih baik kita tunggu di dalam saja, setidaknya kita duduk di teras. Di sini sangat panas Rana."Ujar Aurel yang belum mendapat persetujuan dari temannya sudah lebih dulu masuk ke dalam halaman dan mendudukkan diri di teras rumah, dan mau tidak mau. Rana mengikutinya dari belakang.


Kedua wanita itu semakin dibuat terkejut karena lagi-lagi setiap yang ada di rumah itu tidak berubah termasuk dua kursi yang ada di teras sama persis seperti dulu.


Baru saja Rana mendudukkan diri di kursi ponselnya sudah bergetar menandakan ada pesan yang masuk dan itu berasal dari dokter Vir.


(Ranah, aku akan kembali besok. Apa ada sesuatu yang kau inginkan aku bisa membawakannya untukmu) Pesan Vir, yang belum mengetahui jika Rana ada di kota yang sama dengannya.


Rana menghela nafas panjang setelah mendapat pesan dari sang dokter, Iya kembali mengingat kesungguhan dari dokter Vir yang ingin memperistrinya.


"Ada apa? Siapa yang mengirim pesan, sepertinya pesan itu tidak biasa hingga membuat wajahmu berubah drastis seperti ini."Tanya Aurel yang memang sudah sangat mengenali seluk-beluk Rana.


"Dokter Vir,"sahut Rana, sambil mengirim balasan untuk Vir.


"Apa dia dokter baik yang pernah kau ceritakan kepadaku?"


Rana mengangguk.


"Kenapa dia mengirim pesan?"tanya Aurel penuh dengan selidik, karena ia yakin ada sesuatu antara Rana dan dokter itu.


Dan untuk mengurangi beban pikiran, Rana pun menceritakan semuanya kepada Aurel mungkin saja Gadis itu bisa memberinya solusi untuk masalah hatinya dengan dokter Vir..


"Aaaah... Sungguh Sulit...!"keluh Aurel setelah ia mendengar cerita panjang lebar tentang dokter Vir. Lalu ia semakin mendekat pada Rana,"Tapi, apa kau mencintai dokter itu?"tanya Aurel dengan menatap serius wajah Rana.


"Sampai saat ini aku masih belum bisa membuka hati untuk siapapun, termasuk dokter Vir. Aku masih trauma apa lagi di saat Vir mengatakan ingin meminang ku di depan ibu dan Ayah, itu seperti mengulang kisah ku dulu. Dan aku kembali di liputi rasa takut dan kecemasan jika semua akan terulang kembali, dan dokter fir adalah orang yang nyari sempurna. Apa mungkin wanita dengan masa lalu seperti aku, yang gagal dalam berumah tangga, pantas dengan lelaki sepertinya."


"Tapi, sepertinya Vir benar-benar serius pada mu, dia mencintaimu dengan tulus,"Aurel menggenggam tangan Rana,"Aku tau seperti apa rasa trauma mu pada kata cinta dan merajut rumah tangga, bahkan kamu sampai melakukan pengobatan untuk itu. Tapi, bukalah hatimu Rana, bayangkan hal yang indah di saat kau menikah dan menjalani rumah tangga bersama orang yang benar-benar mencintaimu, mungkin dengan begitu kau bisa menghilangkan trauma mu. Dan setiap orang memiliki masa lalunya sendiri, sepertinya dokter Vir bisa menerima itu, itu yang menyebabkan dia bersungguh-sungguh melamar mu."


"Aku akan mencobanya."


"Meskipun sudah ratusan kali aku mencoba dan itu tetap tidak bisa, ditambah lagi dengan masalahku dan Mas Seno saat ini. aku tidak mau melukai hati Vir."


"Rana!"


Satu suara dari wanita paruh baya mengejutkan Rana dan Aurel.


Dia adalah Lina, yang membawa makanan untuk Seno, dan seperti mendapatkan berkah dari langit, ia malah bertemu menantunya sana.


Wanita itu sampai bergetar dan berkaca-kaca melihat kehadiran menantu kesayangannya.


"Apa Ibu tidak salah lihat! Kau ranah kan? Kirana, menantuku?"


Rana dan Aurel saling tatap. Dan di sini Rana bingung harus bersikap apa, Lina adalah mertua yang paling sempurna di mata Rana. Ia benar-benar menyayangi Rana melebihi anaknya sendiri, begitu juga dengan Rana, yang benar-benar menyayangi Lina seperti orang tuanya sendiri.

__ADS_1


"Rana?"Panggil Lina seraya berjalan mendekati menantunya.


Rana bangkit dan ia lebih dulu menghampiri Lina.


Dengan cepat Lina memeluk Rana. Karena tak kuasa menahan haru, karena bisa kembali bertemu dengan menantunya. Lina sampai menangis.


"Kau benar Rana kan!"Lina memperhatikan lekat wajah Rana, setelah ia menguraikan pelukannya. Lina ingin memastikan jika wanita yang ada di hadapannya saat ini benar-benar menantunya.


"Iya, ini aku Rana. Bu."


Sambil terisak haru, Lina berkata.


"Kau semakin cantik saja, Ibu sangat senang kau pulang. Bagaimana dengan kabarmu, kau baik-baik saja kan? Selama ini kau hidup dengan baik kan? Maafkan Seno yang sudah melukai hatimu, tapi Seno benar-benar sudah menyesali itu semua dan ia berjanji akan memperbaikinya. Di saat itu. Seno juga mengalami kecelakaan hingga ia tidak bisa menjemputmu untuk pulang."


"Aku baik-baik saja Bu. Dan selama ini aku hidup dengan baik. Aku sudah tahu cerita 4 tahun yang lalu, tapi aku terlambat mengetahuinya. Maafkan aku Bu, di saat ibu sedang berduka aku tidak ada di sisimu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan ayah Ferry saat itu. Tolong maafkan aku."Sesal Rana.


"Tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu dimaafkan, ini semua sudah takdir. Tuhan lebih sayang pada ayahmu hingga Tuhan lebih dulu memanggilnya, yang terpenting sekarang, kamu sudah kembali, kamu pulang, dan ini sudah sangat membuat bahagia lebih dari apapun."


Ujar Lina yang sepertinya salah paham dengan kedatangan Rana di rumah Seno.


"Bu. Aku..!"


"Masuklah, kita bicara di dalam. Ibu sudah sangat merindukanmu."


Potong Lina, dan segera menuntun Rana mendekati pintu masuk, ia segera membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.


"Oh... Selain pagar yang tidak dikunci ternyata pintu rumahnya pun tidak dikunci."Celetuk Aurel tiba-tiba, yang membuat Lina menyadari akan kehadiran gadis itu.


"Benar nak, setelah Rana pergi dari rumah ini Seno tidak pernah mengunci pintu dan pagar rumah di saat dia pergi bekerja."sahut Lina,"Ibu masih ingat kau temannya Rana kan?"sambungnya sambil meneliti Aurel.


"Benar Tante, saya datang ke sini untuk mengantar Rana."


"Terima kasih banyak sudah mengantarkan menantu Ibu pulang, ayo cepatlah masuk kita bicara di dalam."Ajak Lina. Dengan wajah yang berbinar menandakan jika hatinya sangat bahagia.


Merasa tidak enak dengan Lina, Aurel pun ikut menarik Rana yang ragu-ragu untuk masuk ke dalam.


"Ayo kita masuk. Setidaknya, hargai kebaikan ibu mertuamu ini, kau bisa menjelaskan semuanya kepada beliau ketika sudah berada di dalam."Bisik Aurel dan Rana pun mengikuti mengikuti Aurel dan Lina.


Bersambung..


šŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ™


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ¤—

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2