
Selamat membaca š¤
šāØāØāØāØš
Setelah pertemuan antara keluarga Olivia dan Dika. Kedua orang tua Olivia sepakat untuk membatalkan perjodohan yang sudah sekian lama mereka rencanakan ini.
Berbeda dengan orang tua Dika yang masih meminta Dika untuk memikirkan lagi. Orang tua Olivia justru segera mengambil keputusan, ketika Olivia mengatakan jika Lelaki yang akan di jodohkan dengan nya itu sudah memiliki kekasih. Dia segera menghubungi Ana dan membatalkan perjodohan antara putrinya dengan Dika.
Meskipun Ana tidak rela, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ana sedikit marah dan kecewa dengan Dika yang mengambil keputusan tanpa berfikir terlebih dahulu.
"Kenapa kau menolak Olivia, bukankah dia cantik, selain cantik, Olivia juga gadis yang sangat baik. Dia tidak jauh berbeda kan dengan gadis pujaanmu yang bernama Aurel itu?"ujar Kino, yang juga sangat menyayangkan keputusan Dika.
"Apa yang di katakan Ayahmu benar. Bukankah selama ini kau sangat sulit mendapatkan kekasih apa lagi istri. Tapi kenapa kau menolak Olivia?"marah Ana.
"Bu, aku tidak mau menyakiti hati Olivia dengan berpura-pura menerima dan menyukainya, lebih baik aku berterus terang di awal dari pada terlambat. Karena itu akan membuat semuanya menjadi runyam."Sahut Dika.
"Aku tidak mau mengulangi Kesalahan Seno, yang menerima seorang gadis yang tidak dia cintai dalam hidupnya. Dan selalu berpura-pura bahagia. Itu pasti akan menyakiti hati Olivia. Sama seperti Rana."
Ana sudah tidak bisa bicara apapun lagi, dia juga sudah tidak mau memaksa Dika.
"Ibu, tenang saja, aku akan segera membawa calon menantu untuk Ibu dan Ayah,"ujar Dika.
"Ya, ibu tunggu itu. Dan jika dalam waktu 3 bulan kamu belum membawa calon istri pada Ayah dan Ibu, ibu akan kembali menjodohkan kamu dengan gadis lain. Dan kamu tidak boleh menolak dengan alasan apapun. Kau harus menerima gadis pilihan Ibu apapun wujud gadis itu."
Kata-kata Ana, sontak membuat Dika terkejut! Bagaimana bisa ibunya memberi waktu singkat seperti itu. Dan apapun wujud gadis itu! Kata-kata ini yang paling mengerikan.
"Kenapa kau diam? Kau tidak bisa kan membawakan Ibu calon menantu dalam waktu 3 bulan?"sentak Ana.
Dika terkekeh, untuk mengurangi ketegangan di hatinya.
"Ibu tidak boleh meremehkan anak ibu ini."
"Jadi, kau bisa tidak?"Sahut Kino.
"Tentu saja!"jawab Dika dengan sangat yakin, padahal hati dan otaknya tengah bekerja keras untuk menemukan di mana calon menantu untuk ibunya.
"Sepakat! jika dalam waktu 3 bulan kamu tidak membawakan kami calon istri. Ibu dan Ayah akan kembali menjodohkanmu dengan gadis lain."
Dika mengagguk dengan sangat mantap.
***
Satu Minggu berlalu.
Dan hari ini adalah hari pernikahan Aurel dan Ardi.
"Sayang! apa tidak ada baju yang lain?"tanya Seno pada istrinya yang tengah mengenakan pakaian yang akan ia gunakan untuk menghadiri pernikahan Aurel.
"Ini pakaian di pilihkan Ibu yang sesuai dengan acara resepsi Aurel, Mas. Jadi tidak ada yang lain, aku dan keluarga Aurel menggunakan pakaian yang berwarna senada. Memangnya kenapa dengan gaun ini?"sahut Rana.
"Aku tidak suka dengan pakaian itu?"Jawab Seno.
"Tidak suka! kenapa? bukankah pakaian ini bagus?"
__ADS_1
"Dengan menggunakan baju seperti itu kau sangat mencolok karena terlalu bersinar, aku sangat yakin para laki-laki yang ada di pesta pernikahan Ardi, tidak akan mengalihkan pandangannya padamu walau hanya satu detik."Seno mengutarakan alasannya yang tidak menyukai gaun yang saat ini Rana gunakan.
"Mas, kau ini terlalu berlebihan mana ada yang mau menatapku, aku ini sudah bersuami."
"Tapi kau sangat cantik dan memesona. Hanya laki-laki yang memiliki penyakit katarak saja yang tidak memandang mu."
Rana terkekeh mendengar ucapan Seno.
"Lalu aku harus pakai baju seperti apa, Mas?"
Mendengar kata itu seketika Seno berbinar dan dia langsung menuju ke lemari pakaian istrinya untuk mengambil baju yang menurutnya cocok untuk dipakai Rana agar tidak menarik perhatian laki-laki di pesta nanti.
**
"Ini sayang!"kata Seno sambil menunjukkan Hoodie berwarna Moccha. Bukan cuma satu, tapi Seno menunjukkan dua Hoodie dengan warna dan model yang sama.
Rana terbelalak.
"Itu!"
"Iya, kita memiliki baju couple ini. dan bukankah ini sangat cocok jika kita gunakan secara bersama-sama."
"Mas, Kamu tahu kan kalau kita ingin menghadiri acara pernikahan?"tanya Rana.
"Tau, kita akan menghadiri pernikahan Ardi dan Aurel kan?"
"Lalu kau merekomendasikan baju itu untuk kita gunakan di acara sakral tersebut?"
"Iya, memangnya kenapa,bukankah ini bagus? kau juga bisa menggunakan topi yang ada di Hoodie ini agar wajahmu tidak dipandang oleh laki-laki yang ada di sana."
"Mas, sebaiknya kau minta saran pada ibu dulu. Apakah kedua Hoodie ini pantas untuk kita kenakan di pesta pernikahan Aurel."Dan Rana pun menyerahkan lelaki itu pada Lina, untuk mengatasi keanehan suami.
Ya, jika sudah merasa cemburu dan khawatir kalau istrinya dilirik lelaki lain, Seno selalu bertingkat tidak masuk akal.
Dan terkadang membuat Lina dan Rana jengkel mengatasinya.
****
Lina melipat kedua tangannya di dada sambil mendengarkan ucapan Seno yang meminta saran atas kedua baju yang ada di tangannya saat ini.
"Apa kau dan Rana ingin pergi ke puncak? yang memiliki udara dingin? atau kau ngin mengajak istrimu berlari pagi?"kata Lina, Setelah usai mendengar ucapan dari Seno.
"Kenapa?"tanya Seno seperti tanpa dosa.
"Seno, kau dan istrimu akan menghadiri pesta pernikahan Ardi dan Aurel dan acara itu sangat sakral bisa-bisanya kau meminta untuk mengenakan pakaian santai seperti ini. Kau sama saja tidak menghargai Aurel dan Ardi, Sudah! pakai pakaian yang sudah Ibu siapkan begitu juga dengan Rana, dia yang akan mendampingi Aurel. Jadi istrimu harus terlihat cantik."
"Ibu, tapi baju itu...!'
"Seno, Ibu sudah memilihkan baju yang cocok untuk istrimu, yang tidak terlalu terbuka seperti yang lainnya jadi kau tenang saja ibu akan berada di belakang istrimu, jika ada laki-laki lain yang melirik istrimu ibu akan mencolok matanya."Potong Lina, yang menyadari apa yang membuat Seno meminta menggunakan Hoodie di pesta pernikahan.
"Baiklah!"pasrah Seno. Setelah Lina menjanjikan akan mencolok mata laki-laki yang menatap istrinya.
Dan dia melenggang kembali memasuki kamarnya dan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan di sana.
__ADS_1
***
"Kau tampan sekali Mas, jika menggunakan pakaian seperti ini."Kata Rana, sambil meneliti suaminya setelah beberapa saat yang lalu dia memaksakan dasi di leher Seno.
"Apa aku perlu menggunakan pakaian seperti ini setiap hari?"Tanya Seno dengan serius.
"Haha, tentu saja tidak!"Sahut Rana cepat, karena takut jika suaminya itu benar-benar akan menggunakan pakaian seperti yang ia kenakan saat ini di setiap harinya.
Pasalnya, baju yang tengah Seno kenakan, adalah setelan jas super formal lengkap dengan dasi yang melingkar di lehernya.
"Bukankah aku terlihat tampan jika pakai pakaian seperti ini?"
"Iya benar, tapi kau jauh lebih tampan jika menggunakan pakaian yang biasa kau pakai sehari-hari. Apalagi Seragam SAR yang sering kau pakai. Kau sungguh yang paling tampan dari anggota Tim yang lainnya."
Seno mengulas senyum puas dan bangga, hatinya berkembang-kembang setelah mendapat pujian dari sang istri.
"Benarkan!"
"Tentu saja!"
Seno memberikan kecupan lembut di pipi Rana.
"Sayang! Bagaimana kalau kita tidak usah hadir ke acara itu, kita habiskan waktu kita hari di dalam kamar saja."
Rana langsung melotot.
Dan Seno langsung angkat tangan.
"Aku bercanda sayang, kita akan pergi ke pesta itu. Ayolah! Ajak Seno yang tidak mau jika istrinya merajuk karena itu akan sangat membahayakan."
***
Seno, Rana, Lina serta Kakek Arif pergi menuju gedung Resepsi pernikahan Aurel dan Ardi.
Di tengah perjalanan, Rana menyampaikan keinginannya yang ingin pulang ke rumah orang tuanya. Karena dia sudah sangat merindukan Kartika dan Ridwan.
"Iya Nak, pulanglah. Ibu dan ayahmu pasti sangat merindukanmu juga. Kapan kalian akan ke sana?"tanya Lina.
"Lusa Bu, karena besok Rana harus ke dokter dulu."Sahut Seno.
Lina mengangguk.
"Sampaikan salam Ibu pada, ibu dan Ayahmu di sana."
"Iya Bu, aku pasti akan menyampaikannya."Timpal Rana.
Bersambung.
šāØāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø