4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Gagal Pergi Bulan Madu


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


āœØšŸšŸāœØ


Disaat semua tengah merasakan bahagia. Ada satu orang yang merasa kecewa sedih bercampur kesal dia adalah Windy.


"Kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali?"tanya Winda kepada putrinya yang pulang lebih awal.


"Tidak apa-apa mah, aku hanya lelah saja ini segera beristirahat."Sahut Windy dengan cuek lalu ia berjalan menuju ke kamarnya.


"Sudah mama bilang kan, jika mereka tidak akan pernah menghargai mu yang sudah mengalah untuk semuanya."


Windy menghentikan pergerakan tangan yang ingin membuka pintu setelah mendengar kata-kata dari Winda.


"Apa maksud Mama?"


"Mama tahu kau pasti berniat ingin menemui wanita itu kan, sudahlah Windy mama sudah bilang padamu jika Rana itu bukan teman baik seperti apa yang kau katakan kepada Mama. Karena jika dia memang baik tentu saja dia mengerti posisi dan keadaanmu saat ini."


Windy berbalik menghadap ibunya.


"Apa Mama berniat kembali menghasut ku?"


"Tidak, mama hanya ingin menyadarkan mu saja, bahwa orang-orang itu sungguh munafik dan tidak sebaik yang kau kira. Ingatlah Windy, yang bisa menghargai dirimu dan mengerti dirimu hanya dirimu sendiri dan mama, orang lain tidak akan pernah mengerti posisimu."


Windy terdiam, dan melihat diamnya Windy Winda semakin memberikan hasutan-hasutan buruk di otak putrinya itu. Entah apa yang ada di pikiran Winda saat ini hingga ia bernafsu sekali menginginkan Windy untuk memasuki kehidupan Seno dan Rana.


**


"Beristirahatlah Nak, kamu pasti lelah kan. Semoga kau bermimpi indah dan pikirkan baik-baik perkataan Mama bahwa tidak ada yang bisa mengerti dirimu selain dirimu sendiri dan kau harus bisa mengembalikan sesuatu yang pernah kau miliki, kau tidak boleh mengalah begitu saja pada orang lain,"ujar Winda setelah dia memberikan masukan-masukan sesat kepada anaknya.


Tanpa mengatakan apapun Windy masuk ke dalam kamarnya.


**


Dengan memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunya dan memikirkan semua kejadian yang menimpanya beberapa hari terakhir ini. Dan dia juga memikirkan sikap Seno yang dingin dan cuek kepadanya membuat Windy membenarkan kata-kata ibunya jika tidak ada yang bisa mengerti dirinya selain hatinya sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan? sampai saat ini aku memang tidak pernah bisa melupakan Seno sedikitpun bahkan aku memiliki hasrat ingin merebut Seno dari Rana, tapi aku tidak boleh melakukan itu. Aku harus bisa seperti Vir, yang merelakan Rana bahagia bersama Seno. Tapi kenapa aku tidak sekuat Vir, hatiku malah terasa sakit ketika melihat Rana dan Seno bahagia. Bukankah seharusnya aku yang berada di posisi Rana saat ini,"gumam Windy. Yang tidak menyadari kata-kata yang keluar begitu saja dari bibirnya.


"Astaga, apa yang aku pikirkan. Sadar Windy kau tidak boleh berpikiran buruk seperti ini."


setelah Windy menyadari bahwa gumam nya itu salah, ia memilih untuk mendengarkan saran dari Aurel, menghubungi dan meminta maaf kepada Rana melalui sambungan telepon saja.


("Halo, Windy. Ada apa?")


tanya Rana di seberang sana.


("Aku hanya ingin bicara denganmu Rana, aku juga ingin meminta maaf kepadamu") ucap Windy dan dia pun mengatakan apa yang memang ingin dia katakan kepada Rana saat itu terutama menyampaikan permintaan maafnya atas perbuatan Winda beberapa waktu yang lalu dan keributan yang terjadi di rumah orang tua Rana.


Di sini Windy merasa lega karena Rana memaafkannya dan sudah tidak memikirkan tentang masalah Winda yang datang kepadanya. Dan Windy juga menyampaikan maksudnya yang ingin mengajak Rana untuk bekerja sama di Rumah Sakit tempatnya bekerja saat ini.


("Terima kasih atas tawaranmu Windy, tapi Maaf, sepertinya aku tidak bisa. Aku ingin beristirahat dulu untuk beberapa minggu ke depan.") Tolak Rana.


("Tidak apa-apa Rana, aku mengerti, tapi jika kau sudah siap untuk bekerja kembali Segera hubungi aku.")

__ADS_1


("Baik kamu terima kasih.")


Mereka menyudahi obrolan singkat lewat sambungan telepon.


***


"Kamu menolak bekerja di Rumah Sakit yang sama dengan wanita itu?"tanya Seno yang ternyata sejak tadi berada di samping Rana mendengarkan obrolan kedua wanita itu.


"Iya,"sahut Rana. Tapi dia tidak bisa memberi alasan kepada Seno kenapa dia menolak tawaran dari Windy.


Tapi meskipun Rana tidak memberi alasan apa yang membuat dia menolak tawaran Windy Seno sudah bisa menebaknya, dan kalaupun Rana menerima tawaran dari Windy Seno tentu tidak akan mengizinkan istrinya kerja di satu tempat yang sama dengan wanita itu karena tau Rana pasti tidak akan merasa nyaman jika sering bertemu dengan Windy, ditambah lagi Winda akan terus mengganggu istrinya itu.


"Pilihan yang tepat,"Seno meraih tangan istrinya,"Sayang. Aku tidak pernah melarang mu untuk melanjutkan keinginanmu yang tetap menjadi perawat. Tapi aku tidak akan mengizinkanmu jika kau satu Rumah Sakit yang sama dengan Windy, aku bisa menghubungi dokter Ardi, di Rumah Sakit tempatnya bekerja membutuhkan banyak sekali perawat yang baik dan tulus sepertimu jika kau mau aku akan mengantarmu ke sana."Ujar Seno.


"Terima kasih Mas, aku memang tidak bisa melepaskan profesi, dan terima kasih jika kau sudah mau mengerti dan membiarkan aku untuk menjalankan di profesi ku saat ini."


"Tentu. Ini sudah malam kalau begitu mari kita tidur."


"Apa kau tidak makan malam dulu, Mas?"


"Aku akan makan malam setelah makan sesuatu,"ucap Seno dengan senyum yang mencurigakan.


Rana menghela nafas dan sudah mulai memasang wajah lelah.


"Mas, kau jangan yang aneh-aneh lagi."


"Yang aneh-aneh bagaimana? Aku bilang kan hanya ingin makan sesuatu? apanya yang aneh?"sahut Seno dengan wajah tanpa dosa.


Rana memicingkan mata menatap dekat lelaki itu.


"Aaah.... ternyata hanya mie rebus syukurlah aku pikir dia akan melakukan itu kembali." Batin Rana merasa lega.


Seno terdekat sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Rana.


"Aku yakin kau pasti memikirkan sesuatu yang lain kan?"


"Tidak!"Suhut Rana cepat, dengan wajah yang malu-malu.


"Benarkah, lalu kenapa wajahmu merah seperti ini."Goda Seno, yang semakin membuat Rana salah tingkah.


"Tidak Mas, kau Jangan berpikir yang tidak-tidak. Sudahlah kau ingin makan mie rebus kan! aku akan membuatkannya untukmu,"untuk menghindari rasa canggung dan malu, Rana beranjak ingin menuju dapur tapi Seno segera menarik tangannya.


"Kau tunggu di sini saja, biar aku yang memasaknya sendiri sekaligus untuk mu."


"Tidak Mas, biar aku saja yang melakukannya. Kau tunggu di sini saja."


"Tidak biar aku saja."


Mereka saling berebut seperti anak-anak yang tidak mau mengalah dengan keinginan masing-masing.


"Kalau begitu mari kita membuatnya secara bersama-sama,"kata Seno memberi keputusan.


Rana mengangguk setuju.

__ADS_1


Dan mereka pun menuju dapur, tapi tidak dengan berjalan kaki. Karena Seno membopong istrinya itu hanya untuk menuju ke dapur.


Membuat Author ingin Salto sampai ke Korea.


Sudahlah, tidak usah di jabarkan seperti apa proses pembuatan mie rebus versi Seno dan Rana, karena jika di jelaskan, Author merasa ingin pindah planet saja.


āœØšŸšŸšŸšŸāœØ


Beberapa hari kemudian.


Rana kembali bekerja, dengan persyaratan yang begitu ketat dari Seno. Dan dia bekerja di Rumah Sakit tempat Dokter Ardi bekerja, dokter Ardi, dokter yang merawat Seno selama dia koma dan sampai saat ini karena Seno masih menjalani pengobatan rutin terutama di bagian kakinya.


"Kau kenapa Mas, kenapa lesu seperti ini?"tanya Rana. Yang mendapati Seno datang menjemputnya dengan wajah lesu tidak bersemangat, seperti orang yang gagal gajian.


"Ijin Cuti ku di tolak."Sahut Seno, dengan lemas


"Cuti?"


"Iya, kan aku sudah pernah bilang satu Minggu lagi kita akan pergi bulan madu, dan kemarin aku mengajukan cuti. Tapi cuti ku di tolak pusat, karena cuaca buruk yang akhir-akhir ini terjadi dan Prediksi BMKG yang menyerukan waspada di berbagai titik yang rentan terjadi bencana. Aku harus tetap siaga di sini."


"Mas, lalu kenapa kau harus sedih seperti ini, lakukan apa yang sudah menjadi tugas dan kewajibanmu. Masalah bulan madu tidak terlalu wajib untuk saat ini, aku tidak apa-apa jika kita tidak pergi bulan madu. Dan aku sudah sangat bahagia saat ini."


Seno mengangguk.


"Maafkan aku, aku tidak pernah memberikan itu padamu, impian setiap wanita yang sudah menikah. Tapi aku berjanji saat semua sudah kembali membaik kita akan tetap pergi berbulan madu."


"Kau benar Seno, kalian bisa pergi di lain waktu, lagi pula kalian masih bisa melakukannya di rumah kan?"


Sahut Ardi yang tiba-tiba muncul.


"Kau mengejutkan ku saja,"kesal Seno yang merasa terganggu.


"Maaf, Seno. Aku hanya ingin menitip pesan pada istri mu ini, untuk menyeret mu datang padaku. Sudah berapa lama kau tidak melakukan pemeriksaan, jika ibumu tau dia pasti marah padaku."


Rana melirik Seno.


Dan Seno beralih melirik Ardi.


"Kau tidak harus menitipkan pesan pada istriku kan, bahkan aku sudah memperingatkan mu untuk menjaga jarak tidak lebih dari dua meter, saat bicara dengan istriku."


"Jika aku tidak mengatakan ini di depan istrimu, kau pasti tidak akan datang melakukan pemeriksaan kan. Karena sudah puluhan kali aku menghubungi mu. Kau tidak perlu menggubrisnya, aku seperti terlihat sedang tergila-gila padamu karena mengirim pesan padamu setiap hari."Keluh Ardi.


Seno kembali melirik Rana, dan wanita itu semakin tajam menatapnya. Membuat Seno ciut seketika.


Bersambung...


āœØšŸšŸšŸšŸāœØ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™

__ADS_1


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2