
Selamat! Membaca š¤
āØšāØšāØšāØ
Dengan menimbang-nimbang, akhirnya Aurel berkata.
"Tadi siang, saya mengantarkan Rana pergi menemui, Seno."Ya, Aurel memilih untuk mengatakan yang sebenarnya.
Vir sedikit tersentak, namun ia tidak begitu terkejut karena sudah menduga hal ini sebelumnya. Vir juga tidak mau banyak bertanya pada Aurel karena ia tidak mau di nilai terlalu banyak mencampuri urusan Rana. Vir hanya bertanya.
"Lalu, sekarang Rana ada di mana?"
Lelaki itu tidak mengira jika Rana masih ada di rumah Seno.
"Rana, masih berada di rumah Seno."
Dan kali ini Vir terkejut level tinggi.
"Apa? Masih di rumah Seno?"
"Iya."Sahut Aurel.
Vir meredam rasa terkejutnya.
"Bisa tolong beri tahu saya, di mana alamat Seno."
Untuk kedua kalinya Vir bertamu dan berakhir dengan meminta sebuah alamat.
"Maaf dokter Vir, tapi untuk apa?"
"Saya harus menjemput Rana."
"Saya rasa, Anda tidak perlu menjemput Rana, karena Rana bisa pulang sendiri."
Vir yang tidak tenang tentu menolak dengan larangan Aurel.
Dan ia tetep meminta Aurel untuk memberi tahu alamat Seno.
"Dokter Vir, mohon maaf jika saya harus bicara seperti ini pada Anda. Biarkan Rana menyelesaikan masalahnya dengan Seno tanpa ada campur tangan dari kita, Rana juga berhak menentukan keputusan apa yang ingin ia ambil tanpa ada tekanan dari siapapun. Kita tidak bisa memaksanya untuk ini dan itu, karena hidupnya adalah miliknya."
"Maksud Anda?"
"Saya tau, Anda memiliki hubungan seperti apa dengan Rana, dan Anda juga pasti sudah tau masalalu dan masalah yang tengah Rana hadapi saat ini, jika Anda benar-benar mencintai Rana, saya minta bersabarlah untuk menunggunya dan terima semua apa yang ada pada dirinya. Dan untuk saat ini tolong berikan ruang dan ketenangan pada Rana agar ia bisa menyelesaikan masalahnya dengan Seno. Saya minta, Anda untuk tidak datang menjemput Rana di rumah Seno."
Vir terdiam sejenak, tapi setelah itu ia kembali berucap.
__ADS_1
"Maafkan saya, tapi sepertinya saya memang harus menjemput Rana dari sana, karena saya tidak bisa menjamin tidak akan terjadi sesuatu buruk pada Rana di sana."
"Dokter Vir, biar bagaimanapun juga Seno masih sah suaminya Rana, dia yang lebih berhak atas Rana saat ini, Anda jangan khawatir. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada Rana. Terlepas dengan apa yang pernah dilakukan Seno kepada Rana, apa salahnya jika kita memberi kesempatan pada Seno untuk menjelaskan apa yang ingin dia jelaskan kepada Rana, dan Anda jangan khawatir dokter Vir, Rana pasti akan mengambil keputusan yang tepat. Kita sebagai orang terdekatnya hanya bisa mendukung dan menguatkan Rana, kita tidak berhak mencampuri dan memasuki masalah pribadinya lebih jauh. Saya harap anda mengerti."
Akhirnya Vir mengerti, dan mengiyakan apa yang dikatakan Aurel, dia menahan diri untuk tidak menjemput Rana di rumah Seno. Walaupun sebenarnya hati Vir diliputi rasa kekhawatiran yang luar biasa karena takut jika Rana kembali luluh kepada lelaki itu, namun apa yang dikatakan Aurel ada benarnya, saat ini ia harus memberikan ruang kepada Rana untuk menyelesaikan masalah pribadinya.
Tapi ada kata-kata Aurel yang mengganjal di hati Vir, yaitu
(Seno, masih suami Rana yang Sah)
Dan Aurel pun mengatakan apa yang ia tahu tentang permasalahan Seno dan Rana yang belum resmi berpisah, berharap jika Vir semakin mengerti keadaan mereka berdua.
Vir menghembuskan nafasnya dengan kasar setelah mendengar cerita panjang lebar dari Aurel, di sisi lain ia sangat prihatin dengan apa yang terjadi kepada Seno beberapa tahun yang lalu, tapi dia juga tetap tidak memaafkan kelakuan Seno kepada Rana di saat wanita itu masih menjadi istrinya. Sehingga Vir akan tetap membantu Rana untuk berpisah dengan Seno.
šāØšāØšāØšāØ
Kembali pada Seno dan Rana.
Lelaki itu baru saja usai mengatakan apa yang ingin Ia jelaskan kepada Rana, entah apa yang dia jelaskan, tapi setiap kata Seno selalu mengucapkan maaf dan maaf dia sangat menyesali apa yang selama ini ia lakukan kepada Rana dan berjanji kepada Istrinya untuk memperbaiki semuanya dan akan mencintai Rana sepenuh hati dan tulus.
Rana hanya diam mendengarkan penjelasan Seno, meskipun Seno berkata dengan sungguh-sungguh bahwa saat ini ia sudah mencintai Rana dan merasa sangat kehilangan sampai membuatnya frustasi ketika Rana pergi dari hidupnya. Namun, Rasa trauma yang begitu mendalam di hati Rana membuat wanita itu tidak begitu mempercayai kata-kata cinta yang Seno ucapkan. Karena dulu pun, di saat mereka menikah, Seno mengatakan cinta tapi kenyataannya dia tidak pernah mencintai Rana sedikitpun.
"Maafkan aku."Ujar Seno, di akhir ucapannya yang lagi-lagi meminta maaf. Padahal sudah puluhan kali juga Rana mengatakan bahwa ia sudah memaafkan Seno.
Tapi meskipun Rana sudah memaafkan Seno, sepertinya ia masih ragu jika harus kembali lagi dengan lelaki itu.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?"tanya Seno. Dan pertanyaan ini menyentak hati Rana.
Rana diam, karena dia sendiri tidak tahu apakah dia sudah tidak mencintai Seno atau masih mencintai lelaki itu, yang jelas. Rasa kecewa, takut, dan trauma sudah memenuhi hati dan pikiran Rana sehingga ia ragu untuk kembali melanjutkan rumah tangganya bersama Seno.
"Maafkan aku mas, yang jelas aku tidak akan pernah bisa kembali lagi denganmu, lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing. karena ini akan jauh lebih baik."Ya, hanya itu yang Rana katakan, di saat Seno mempertanyakan cintanya.
Tapi Seno tidak menyerah, selama masih ada waktu ia akan tetap berusaha mempertahankan rumah tangga dan istrinya. Dia akan melakukan apapun agar Rana tetap bersamanya, dan ia berjanji pada hatinya tidak akan pernah menceraikan Rana meskipun wanita itu meminta dan memohon padanya, ia baru akan menyerah jika Rana benar-benar mengatakan, bahwa ia sudah tidak lagi mencintainya.
Rana melihat Seno yang tertunduk, Rana menangkap sinyal kekecewaan dari wajah Seno, namun ia tidak ingin perduli. Biarlah lelaki ini kecewa pada dirinya agar Seno bisa dengan mudah melepaskan semuanya. Itulah yang ada di pikiran Rana.
"Mas, tolong buka pintunya. Aku harus segera pulang, ini sudah menjelang malam."Pinta Rana dengan suara pelan.
Seno yang sebenarnya tidak ingin membiarkan Rana pergi dari rumah, berniat untuk mencegah dan tetap menahan wanita itu di sana. Namun ketika ia mengingat nasehat dari Lina Seno pun mengalah.
"Baiklah, jika dengan cara ini aku tidak bisa mempertahankanmu. Aku akan mengejar mu dengan cara yang lain." Batin Seno.
"Baik, aku akan mengantarmu,"sahut Seno.
"Tidak perlu Mas, aku bisa pulang sendiri. Kau tetaplah di sini menemani ibumu."Tolak Rana.
__ADS_1
"Biarkan Seno mengantarmu pulang nak, Ibu tidak apa-apa di rumah sendirian. Karena Ibu sudah merasa baikan."Lina yang tiba-tiba keluar dari kamar dan berjalan mendekati mereka seraya mengucapkan kata-kata yang di atas tentu membuat Rana terkejut.
Ia dan Seno berdiri secara bersamaan dan menghampiri Lina.
"Ibu yakin baik-baik saja?"tanya Rana.
"Ibu tidak apa-apa."
"Apa, ibu ingin pulang ke rumah, biar aku yang akan mengantar ibu pulang."Sahut Seno.
" Kamu ini bagaimana sih Mas, Ibu sedang tidak sehat. Kenapa kau malah meminta ibu untuk pulang ke rumah. Bukankah lebih baik ibu tetap di sini agar ibu bisa beristirahat malam ini di rumahmu,"sahut Rana yang entah kenapa tiba-tiba kesal pada Seno.
Dan Seno hanya bengong, dengan Rana yang tiba-tiba mengomel padanya.
Lina mengulas senyum sambil menggenggam tangan Rana.
"Iya nak, ibu akan tetap di sini, dan ibu akan beristirahat dengan baik. Sekarang biarkan Seno mengantarmu."
"Aku bisa pulang sendiri Bu."
"Tidak, Seno akan tetep mengantarmu. Ini sudah hampir Malam, berbahaya jika jalan di malam hari seorang diri di zaman seperti ini, apalagi jarak rumahmu dan rumah Sarah sangatlah jauh,"lalu Lina beralih kepada putranya,"Seno cepatlah antar Rana, jangan sampai ia kembali ke rumah Sarah larut malam, Ibu tidak apa-apa di sini menunggumu sambil beristirahat."
Seno mengangguk, lalu ia melirik Rana, takut jika wanita itu kembali menolak untuk diantarnya. Tapi melihat reaksi Rana yang diam, itu menjadi jawaban untuk Seno bahwa Rana bersedia diantarnya pulang.
"Kalau begitu ibu beristirahatlah di dalam kamar setelah mengantar Rana, aku akan segera pulang."Ujar Seno.
Setelah berpamitan kepada Lina, Rana pun pulang diantar Seno.
Meskipun ia sedikit merasa tidak suka karena harus diantar oleh Seno, tapi Rana juga senang karena ia bisa keluar dari rumah itu.
āØšāØšāØ
Di dalam perjalanan.
kedua manusia yang berada di dalam mobil, seperti tidak memiliki pita suara karena mereka hanya diam tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Rana lebih memilih menatap jalanan yang sudah mulai gelap, dengan memiringkan kepalanya di kaca mobil. Sedangkan Seno, fokus pada kemudinya.
Bersambung..
āØšāØšāØšāØšāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø