4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Demi Aurel


__ADS_3

Selamat membaca 🤗


✨🍁🍁🍁✨


Demi mempertahankan keangkuh dan keegoisanya. Winda lebih memilih untuk menetap di sana, daripada harus tinggal bersama keluarganya.


Semoga saja Winda tidak menyesali apa yang sudah menjadi pilihanya ini.


✨🍁🍁✨


''Dika, apa bisa kau mengantar Aurel pulang? Aurel tidak membawa mobilnya,''pinta Lina.


''Tentu saja bisa,''sahut Dika dengan cepat dan penuh semangat.


''Tidak perlu Tante, aku bisa pulang sendiri dengan memesan taksi online,''tolak Aurel yang sebenarnya tidak mau di antarkan oleh Dika.


''Tidak Nak Aurel. Kamu sudah meluangkan waktu untuk menjenguk ibu di sini, jadi ibu harus memastikan jika kau pulang dalam keadaan selamat, ini sudah hampir malam biar, Dika yang akan mengantarmu pulang.''


Karena tidak merasa enak hati dengan Lina, Aurel pun mengiyakannya.


*****


''Apa kau sudah makan?''tanya Dika yang saat ini sedang dalam perjalanan mengantar Aurel pulang.


''Sudah,''sahut Aurel dengan singkat.


''Tapi aku belum.''


''Memangnya kenapa kalau belum?''


Eheem... Dika berdehem terlebih dahulu, sebelum dia mengeluarkan suara trbaiknya kembali.


''Begini, aku tidak bisa makan telat karena perutku akan merasa sakit, sama seperti dirimu, aku juga tidak bisa makan malam lewat dari jam 7.''


''Lalu, kenapa kau tidak makan terlebih dulu?''


"Ibu Lina memintaku untuk mengantarmu tepat waktu, jika aku makan dulu pasti akan lama."Ujar Dika.


"Yasudah kalau begitu kau makanya nanti saja setelah mengantarkan aku pulang,"sahut Aurel.


"Tapi sekarang tiba-tiba perutku sakit, siang tadi pun aku tidak sempat makan."


Aurel kembali melirik.


"Lalu?"


Dika mengulas senyum.


"Bagaimana kalau kita makan malam dulu?"


Mendengar kata makan malam, membuat Aurel kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu, dan seketika Aurel pun langsung menolak.


"Tidak, aku kan sudah bilang, kalau aku sudah makan."


"Baiklah, kau temani aku makan saja."


"Masa makan saja harus di temani, aku tidak mau."Aurel tetap menolak.

__ADS_1


"Ayolah, apa kau mau melihat aku pingsan atau mati di dalam perjalanan mengantarmu pulang? Waaaah.. Jika itu terjadi, sudah pasti kau akan di curigai."


"Kenapa ucapannya terdengar ngeri, aah. Aku ingat salah satu temanku bilang, kalau temannya selalu bicara soal kematian, dan tidak lama kemudian dia benar-benar mati. Astaga! Apa ini tanda-tanda bahwa dia akan...!" Batin Aurel seraya melirik Dika.


"Bagaimana?"tanya Dika.


"Baiklah, kita mampir dulu ke Rumah Makan terdekat. Tapi aku tidak mau jika kau mampir ke kuburan."Akhirnya Aurel mengalah.


Dika mengangguk dengan semangat.


"Baiklah, kita ke Rumah makan pertama yang kita lewati."


**


Beberapa menit kemudian.


Mobil Dika menepi di sebuah Rumah makan sederhana. Dan seperti apa yang di minta Aurel, ini bukan Rumah Makan yang letaknya di tengah pemakaman umum.


Dengan gesit, Dika turun terlebih dahulu untuk membuka pintu sang gadis pujaannya.


Dan merekapun berjalan beriringan memasuki RM tersebut.


**


"Kau yakin tidak mau makan apapun?"tanya Dika.


"Tidak, aku mau Es teh manis saja."


Dika mengangguk, dan dia segera beranjak untuk memesan makanan.


"Baik Pak, mohon di tunggu. Pesanan Anda akan segera siap,"sahut seorang gadis pelayan Rumah Makan tersebut.


"Terima kasih."Dika berjalan kembali ketempat Aurel yang sudah menunggu di meja, yang posisinya berada di dekat pintu masuk.


Dan mereka duduk saling berhadapan.


"Dika!"panggil Aurel.


"Iya."


"Apa kau sering datang ketempat ini?"


"Tidak, tapi jika ibuku mengajak aku makan diluar, pasti tempat ini yang beliau tunjuk."


Aurel mengangguk.


"Syukurlah, ternyata ibumu tidak seperti dirimu yang menyukai tempat seram."


"Ibuku penakut. Tapi dia baik dan ramah, sama seperti ibu Lina. Dan sudah bisa aku pastikan jika ibuku akan menyayangi menantu perempuannya."Sahut Dika, dengan penuh maksud, apalagi di kata Menantu. Pandangan Dika langsung tertuju pada Aurel.


Tidak lama kemudian.


Pesanan yang Dika minta mendarat dengan sempurna dan tertata rapi di meja yang hanya memiliki 2 kursi itu.


"Selamat menikmati makanannya Pak, Bu. Jika ada menu tambahan atau sesuatu yang lain, Anda bisa langsung panggil pelayan kami."Ujar seorang gadis yang membawa pesanan Dika, di bantu dengan 2 orang temanya.


"Terima kasih,"sahut Dika.

__ADS_1


Dan ke 3 pelayan itu berlalu setelah menundukkan sedikit kepalanya.


Sedangkan Aurel, tengah terbengong-bengong menatap semua makanan yang ada di meja.


"Apa mereka tidak salah membawa pesanan?"tanya Aurel pada Dika yang sedang tersenyum ringan, seperti tanpa dosa.


''Tidak, ini memang benar pesanan untukku,"sahut Dika dengan yakin.


Aurel mengedarkan pandanganya. Lalu dia kembali menatap Dika.


''Apa kau memesan makan ini untuk orang lain juga?''


''Tida, ini untukku sendiri, kenapa? apa kau mau? aku bisa memesan lagi untukkmu apa kau mau makanan yang ini?''


Aurel Langsung menggeleng tidak percaya karena makanan sebanyak itu, ternyata untuk Dika sendiri.


''Apa kau bisa menghabiskan semua makanan ini?'


''Tentu, aku akan menghabiskan setiap makan yang aku pesan, karena jika tidak, bukankah itu mubajir.''


''Aku tidak menyangka jika kamu bisa makan sebanyak ini.''Kata Aurel, dengan ekspresi antara kagum dan heran.


Dika tersenyum


''Setelah ini kamu akan terbiasa melihat aku makan seperti ini.''


Sebenarnya Dika tidak pernah makan dengan menu sebanyak ini, ini kelakuan konyolnya saja dengan maksud agar dia bisa lebih lama menghabiskan waktu dengan gadis itu.


*****


''Dika, sebaik kau jangan memaksa untuk menghabikan semua makanan ini,''Kata Aurel yang melihat Dika tidak sanggup untuk menghabiskan semua menu yang dia pesan.


''Benar juga, perutku serasa penuh karena makan yang masuk kedalam mulutku.''Batin Dika.


Tapi, meskipun dia sudah membatin. Dika tetep berkata.


''Tidak apa-apa, aku akan coba menghabiskannya."


Aurel masih terus memperhatikan Dika yang masih memasukan satu suap dua suap makanan di dalam mulutnya.


Meskipun gila, tapi sepertinya Dika berhasil, Selain dia bisa makan makanan dengan jumblah yang sangat banyak, tapi Dika juga bisa memakan waktu banyak bersama Aurel dan mereka terus berbincang-bincang.


Tapiiiii....


sesutu yang di luar dugaaan Dika terjadi. Disaat dia sudah mengngorbankan perutnya, demi bersama Aurel. Mata Dika menangkap sosok yang mengejutkan otak, hati dan juga lambungnya.


Bersambung..


🍁✨✨✨🍁


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini🤗


Mohon dukunganya🙏


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini🤗


Lope banyak-banyak untuk semuanya❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2