
Selamat! Membaca š¤
šāØāØāØāØš
"Baik, Seno. Maafkan aku yang sudah mengganggumu."Sahut Windy dengan nada sedih penuh kecewa dengan Seno yang selalu bersikap dingin padanya.
"Tidak maslahah."Timpal Seno, dan dia segera pergi dari sana menuju di mana rekan-rekannya berada.
Windy masih tidak bergeming. Dia menatap punggung Seno yang semakin menjauh sampai tidak terlihat lagi.
"Seno, apa kamu tahu! Melupakanmu adalah hal yang paling sulit dan tidak bisa aku lakukan. Seandainya petaka itu tidak terjadi padaku, mungkin kita sudah hidup bahagia bersama anak-anak kita. Seperti apa yang sering kita bicarakan dulu. Dan jika kamu tahu apa terjadi padaku dulu, apa kamu akan memaafkan aku yang sudah meninggalkan mu begitu saja."Gumam Windy.
***
"Seno, bukankan wanita yang bicara denganmu tadi dokter Windy?"tanya Dika.
"Benar."Sahut Seno.
"Kenapa dia bisa ada di sini? dia seperti...! Mengikuti Mu. Karena setiap ada kamu pasti ada dokter itu?"Ujar, menerka-nerka.
"Mana aku tahu, kau tanya saja langsung padanya."
"Apa aku harus bertanya padanya?"
"Jika kamu penasaran, bertanyalah."
"Tapi aku tidak berani bertanya seperti itu."Ujar Dika.
"Kalau begitu diam saja, tidak usah membicarakan atau menghiraukan dia ada di mana."
"Baiklah."Dika mengaguk patuh.
**
"Dika, kau atur Tim kedua yang akan menggantikan kita di sini, karena besok sore aku akan menjemput Rana."Titah Seno.
"Baik, tapi...!"Dika menggantungkan ucapannya, seraya mengusap-usap telapak tangannya.
Seno melirik, dia sudah tau jika ada yang Dika inginkan jika berekspresi seperti ini.
"Katakan ada apa?"tanya Seno.
"Hehehe.. Bolehkah aku ikut dengan mu?"
"Apa? Aku ingin menjemput Rana, bukan ingin bertugas atau jalan-jalan. Jadi untuk apa kamu ikut?"
"Aku juga ingin berlibur selama beberapa hari, kamu tahukan, selama satu tahun ini aku tidak pernah mengambil cuti. Jadi ijinkan aku berlibur dan ikut bersamamu di sana, aku tahu di sana kamu bukan hanya ingin menjemputmu Rana, tapi kamu ingin menikmati hari-hari berbeda dengan suasana yang berbeda di sana. Kamu tidak akan kembali dalam waktu dekatkan, karena kau akan bulan madu di sana?"
Seno memicingkan mata, dalam hatinya bertanya.
'Dari mana Dika tau rencana ku itu, padahal aku belum cerita padanya.'
Dika terkekeh.
__ADS_1
"Aku tahu semuanya Seno, aku tau apa yang kau pikirkan dan rencanakan walaupun kamu tidak menceritakannya padaku."
Seno tersenyum miring.
"Sepertinya bakatmu bertambah satu, yaitu menjadi cenayang. Kamu bisa memikirkan ini untuk ide usahamu kelak."Ujar Seno.
"Apa! Cenayang! Benarkah? Aku berbakat dalam hal itu?"Tanya Dika berantusias Sambil mencengkram pundak Seno seraya mengguncang nya beberapa kali.
"Benar, kamu pandai membaca pikiran orang lain."Sahut Seno, sambil menurunkan kedua tangan Dika yang masih berada di pundaknya.
Dika sampai berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika dirinya kembali memiliki bakat yang terpendam, dan kini bakat itu muncul, ini tentu akan menjadi kebanggaan bagi dirinya dan akan dia jadikan usaha, ketika dia pensiun nanti.
"Terima kasih Seno, kamu memang paling mengerti aku dan tahu semua tentang diriku, bahkan kamulah satu-satunya orang yang terlebih dahulu mengetahui bakat terpendam ku ini."
Dika yang merasa terharu ingin segera memeluk Seno.
Namun lelaki itu segera menghentikannya.
"Kau tidak boleh sembarangan memelukku, jauhkan dirimu."Seno mendorong Dika.
"Baiklah aku akan menjauh, tapi ijinkan aku untuk ikut denganmu besok sore?"
"Tidak!"tolak Seno cepat.
"Kamu ini pelit sekali, aku ikut saja tidak boleh."
"Kamu akan menggangguku dan Rana di sana, apa kau tidak malu?"
PLAK!
Sebuah topi mendarat tepat di wajahnya, sesaat setelah Dika selesai dengan perkataannya. Dan yang melemparkan itu adalah Seno.
"Aku bercanda Seno."Ucap Dika yang mulai takut setelah menyadari Seno mulai kesal.
Tapi meskipun Dika tahu jika Seno sudah kesal padanya, tapi dia tetap tidak berhenti membujuk lelaki itu agar bersedia mengajaknya.
"Ayolah, Seno. Ijinkan aku ikut bersamamu untuk menjemput Rana. Aku berjanji tidak akan menggangu rencana bulan madu mu dengan Rana, aku hanya...!"
"Kau hanya ingin menghindari perjodohan yang dilakukan orang tuamu kan?"potong Seno.
Jika terbelalak dia tidak menyangka jika Seno tahu masalahnya saat ini.
"Kamu tahu soal ini?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu! Tolong selamatkan aku dari perjodohan ini, bawalah aku pergi jauh dari kota ini agar orang tuaku tidak terus memaksa dan membujukku untuk segera menikah."Pinta Dika dengan memohon.
"Bukankah malah bagus jika orang tuamu mencarikan jodoh untukmu, kamu selalu gagal mendekati beberapa wanita yang selalu berakhir dengan penolakan. Mungkin sudah saatnya orang tuamu bertindak mencarikan jodoh untukmu, terima dan ikuti apa yang orang tuamu inginkan."
"Tapi masalahnya bukan hanya di situ Seno. Jika saja orang tuaku menjodohkan aku dengan wanita yang cantik dan normal mungkin saja aku akan terima. Tapi ini....! Ah! sudahlah, aku tidak bisa membayangkannya."
"Kamu sudah bertemu dengannya?"tanya Seno.
__ADS_1
"Belum, tapi aku sudah melihat fotonya."
"Jangan percaya dengan foto, bisa jadi itu hanya tipuan."
"Tapi biasanya seseorang akan terlihat cantik di foto. Ayolah Seno, aku tidak mau membahas gadis itu aku hanya ingin kau mengijinkan aku untuk ikut bersamamu."Dika mengatupkan kedua tangannya.
Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Seno pun mengangguk.
"Baiklah, aku izinkan kau ikut denganku tapi ingat! Jangan menggangguku dan Rana, dan pulang nanti kau harus pulang sendiri, karena aku tidak mau ada orang lain di mobil saat aku sedang bersama Rana."
Dika mengangguk dengan penuh semangat.
"Baiklah! aku berjanji untuk itu dan aku sangat yakin kehadiranku di sana akan membantumu. Karena kamu au pasti akan kesulitan mempersiapkan apa yang harus kau siapkan di saat ingin berbulan madu benarkan."
Dalam hati Seno mengiyakan perkataan temannya, jika dia pasti akan membutuhkan bantuan Dika untuk bertanya sesuatu karena ia tidak tahu jika soal perempuan.
Setelah sepakat, kedua lelaki ini pun masuk ke dalam tenda, sepertinya mereka akan kembali membahas perjalanan menuju ke Kota XXX tempat Rana berada saat ini.
Namun ternyata percakapan Dika dan Seno tadi didengar oleh Windy.
"Jadi Rana sudah kembali ke Kota XXX, dan Seno akan menjemputnya besok!"gumam Windy.
šāØš
Di tempat lain.
Setelah mengetahui fakta tentang Rana, dan Vir yang tidak mau mendengarkannya, Mayang memutuskan untuk menemui Rana secara langsung.
Untuk apa?
Tentu saja untuk meminta Rana agar bersedia meninggalkan Vir.
"Maaf, apa Anda yang ingin bertemu dengan saya?"tanya Rana kepada Mayang, wanita yang baru dia temui pertama kali dan saat ini Rana berada di ruangan khusus, rumah sakit tersebut setelah rekannya menyampaikan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya secara khusus.
"Benar, kamu yang bernama Kirana kan?"
"Benar, saya Kirana."
Tampa beranjak dari duduknya, Mayang mengulurkan tangan memperkenalkan diri kepada Rana yang terlihat kebingungan dengan dirinya yang memanggil Rana secara tiba-tiba.
"Perkenalkan! nama saya Mayang Sari, kamu bisa memanggil saya dengan sebutan Nyonya Mayang, saya pemilik Rumah Sakit tempatmu bekerja saat ini. Dan saya juga orang tua dari Virgoun, dokter spesialis anak yang berprestasi di rumah sakit ini. kamu pasti belum pernah melihat Saya sebelum ini kan? oleh sebab itu saya memperkenalkan diri agar kamu tahu siapa saya."Ujar, Mayang dengan nada angkuh, menandakan jika dirinya paling berkuasa di rumah sakit tersebut.
Bersambung...
šāØšāØšāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š¤
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak seperti like dan hadiahnya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø
__ADS_1