
Selamat membaca š¤
ššš
"Dia! apa dia yang akan menjadi Koki pengajar di sini?"tanya Seno pada Dika seraya melirik Cilla dan Mawar dengan mata yang terkejut.
"Sepertinya begitu,"sahut Dika yang juga tidak menyangka jika kedua Gadis itu yang akan menjadi Koki pengajar di sana.
"Astaga Dika, apa sebelumnya kau tidak mencari tahu dulu siapa Koki yang ada di tempat kursus ini?"tanya Seno sedikit kesal.
"Aku tidak sempat untuk melakukan itu. Sudahlah, tidak masalahkan jika Cilla dan temanya yang mengajarimu, bukankah dia juga hebat. Kau ingatkan di hari pernikahan Dokter mu itu, kedua gadis itu membuat kue pengantin yang cukup enak meskipun tidak sedap dipandang mata, karena kue itu terpampang di resepsi pernikahan Ardi dan Aurel."Ujar Dika, seketika mengingat kembali momen yang membuatnya bersedih.
"Jadi, aku harus menjadi murid mereka berdua?"
"Anggap saja seperti itu dan ini semua demi calon anakmu kan. Jadi jangan banyak mengeluh dan belajarlah dengan baik di sini. Aku tunggu di luar, karena yang tidak berkepentingan dilarang untuk berada di dapur ini."Ujar Dika dan dia langsung meninggalkan Seno.
**
Di saat Dika keluar, dia berpapasan dengan Mawar, yang secara tidak sengaja tengah membuka kacamatanya.
Langkah kaki Dika terhenti! Dan Mawar tidak menyadari ika dia sedang berpapasan dengan Dika yang saat ini malah tengah memperhatikan wajahnya.
"Kak Dika!"panggil Cilla dengan berantusias, dan yang menoleh adalah Mawar.
"Dika!"
Mendengar Cilla berteriak memanggil nama lelaki itu, Mawar melihat ke depan dengan sedikit mengangkat wajahnya, dan dengan cepat Mawar kembali memakai kacamatanya setelah dia benar-benar melihat wujud yang baru saja dipanggil oleh Cilla, menjulang di hadapannya.
"Kak Dika, aku senang bisa bertemu dengan kakak di sini. Apa Kak Dika ikut kursus memasak di sini?"tanya Cilla yang sudah berada di depan Dika dan Mawar.
Dika mengalihkan pandangannya dari Mawar untuk menjawab pertanyaan dari Cilla.
"Tidak, aku hanya mengantar Seno."
"Kenapa Kak Dika tidak ikut kursus seperti Kak Seno? bukankah itu akan jauh lebih menyenangkan?"ujar Cilla.
"Tidak bisa, aku terlalu banyak kegiatan."
"Aah.. Seperti itu, tapi tidak masalah. Kak Dika tidak usah ikut kursus memasak karena biar aku saja yang memasak dan tugas Kak Dika hanya memakannya."
Dika menghela nafas panjang mendengar celotehan dari gadis itu.
"Cilla, aku permisi, karena aku harus menjelaskan apa saja yang harus peserta lakukan untuk memulai memasak."Ujar Mawar yang seperti biasa, harus menghindari Dika.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera menyusul mu setelah aku berbicara dengan Kak Dika,"sahut Cilla.
"Sudah, kau pergilah ke sana. Aku juga ingin pergi, karena tidak mungkin kan jika aku ada di sini."Timpal Dika.
"Tidak apa-apa jika Kak Dika ingin ada di dapur ini, aku malah merasa senang karena kak Dika ada di sini dan menemani aku."
Dika berpikir sejenak namun tiba-tiba otaknya memiliki ide untuk memuaskan rasa penasarannya selama ini.
"Baiklah, jika diizinkan. Aku ingin berada di dapur ini karena aku harus memperhatikan dan memastikan, apakah Seno belajar dengan baik."Kata Dika.
"Tentu saja di izinkan, Kak Dika bisa menunggu di sana sambil memperhatikan para peserta kursus,"sahut Cilla seraya menunjuk kursi yang menghadap langsung ke arah peserta kursus.
"Terima kasih,"Timpal Dika dan ia segera melenggang menuju kursi tersebut lalu duduk dengan santai dan anteng.
Tapi ternyata! selain ingin mengawasi Seno, sebelah mata Dika juga tengah mengawasi Mawar.
Ya, Dika menangkap sesuatu yang lain dari gadis itu. Dan dia ingin memastikan apakah dugaannya ini benar atau salah.
Sementara Mawar. Tentu saja tidak merasa nyaman dengan kehadiran Dika di sana. Dia terus saja menunduk ketika lelaki itu mengarahkan pandangan padanya.
"Cilla, apa kau yang meminta Dika untuk berada di sini?"tanya Mawar.
"Iya, Kak Dika ingin memastikan Ka Seno, menjalani Kursus dengan sungguh-sungguh."
"Tidak akan, kau jangan khawatir,"yakin Cilla.
"Baiklah, aku serahkan padamu jika Koki Bos marah."Ujar Mawar.
**
Setelah memberikan beberapa penjelasan dasar, Cilla dan Mawar mulai melakukan tugasnya. Dan yang saat ini sedang mawar lakukan adalah, meminta semua peserta kursus untuk menghafal benda yang sudah disediakan di hadapan mereka masing-masing.
Dan benda itu adalah, beberapa bumbu dapur yang tentu saja sering digunakan dalam memasak.
"Pada nampan berwarna Hijau, bumbu dapur manakah yang bernama Jahe? Saya minta, peserta mengambil satu bumbu yang di yakini itu Jahe. Dan dalam hitungan mundur saya minta peserta untuk mengangkat bumbu yang bernama Jahe tersebut."Ujar Mawar yang memberikan tantangan pada para peserta.
Semua terlihat nampak bingung sambil menatap nampan yang berada di hadapan mereka.
Dan Mawar kembali berucap.
"Saya beri waktu untuk kalian membedakan mana yang Jahe dan bukan, dan ketika saya mengatakan stop! kalian harus sudah mengangkat satu bumbu yang kalian yakini itu adalah Jahe."
"BAIK!"sahut semua peserta secara bersamaan.
__ADS_1
Dan mereka mulai memilah, mana itu Jahe.
Di meja yang paling belakang, seorang peserta tengah kebingungan sampai menautkan kedua alisnya dengan mulut yang berkomat-kamit.
Dia adalah Seno, lelaki itu tentu saja kebingungan setengah mati, tidak bisa membedakan mana itu Jahe, karena semua bumbu yang berada di nampan hijau memiliki bentuk, model, dan warna yang hampir sama.
Tidak mau gagal di tantangan pertamanya, Seno harus memecahkan teka-teki ini.
"Dika! Dika!"panggilnya dengan suara pelan pada lelaki yang tengah menonton dengan khusyuk.
"Apa dia tuli! kenapa tidak mau melirik ke sini," kesel Seno. Padahal, tentu saja Dika tidak akan mendengar panggilannya yang seperti berbisik itu.
Tidak ada cara lain untuk membuat temannya itu menoleh, Seno meraih satu timun, dan ia melemparkannya ke arah Dika secara diam-diam, tanpa diketahui oleh siapapun terutama Koki yang sedang berdiskusi.
"Sial! Siapa yang melemparkan timun ini!"umpat Dika karena timun itu tepat mengenai kepalanya.
Dika memperhatikan orang-orang yang ada di sana termasuk para peserta, dan matanya pun sampai kepada Seno yang tengah menggerakkan tangannya meminta bantuan.
"Apa?"tanya Dika. Tapi dengan bahasa isyarat.
"Mana yang namanya Jahe, dari semua bumbu ini?"Sahut Seno yang juga menggunakan bahan isyarat.
masih dengan bahasa isyarat.
"Masa begitu saja kau tidak tahu?"
"Aku benar-benar tidak tau. Sudah jangan banyak mengeluh cepat katakan padaku, yang mana Jahe?"
"Tunggu sebentar, aku akan memeriksanya.
Bersambung..
ššš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
mohon dukungannya.
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š¤
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø
***
__ADS_1