4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Jangan Di Pikirkan


__ADS_3

Selamat membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


"Terima kasih Nak. Bubur buatan kamu memang selalu enak,"ujar Lina setelah dia menghabiskan satu mangkok bubur buatan Rana.


"Sama-sama Bu. Sekarang ibu istirahat ya."


Lina mengangguk, dan dia berbaring di atas ranjang. Tanpa menunggu lama dan mungkin juga lelah. Lina langsung memejamkan matanya, menuju ke alam mimpi.


"Ibu sudah tidur, sayang?"tanya Seno.


"Sudah Mas, jika besok Ibu masih sakit, lebih baik kita bawa ibu ke rumah sakit saja."


Seno mengangguk dan dia segera meminta istrinya itu untuk beristirahat di kamarnya.


***


"Mas, apa besok kau sudah mulai bekerja?"tanya Rana sambil menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya.


"Iya, karena Dika sedang berada di luar kota untuk beberapa hari ke depan. Jadi tidak ada yang menggantikan aku jika aku masih cuti."


Rana mengaguk sambil berkata.


"Biar aku yang menjaga ibu di Rumah."


Melihat ketulusan Rana. Membuat Seno kembali berterima kasih pada istrinya.


"Aku menyayangi Ibu Lina, sama seperti ibuku sendiri Mas. Karena beliau pun menganggap dan memperlakukan aku seperti putrinya sendiri."


"Terima kasih sayang! Aku sangat mencintaimu dan menyayangi mu."


***


"Sayang! Ada apa?"tanya Seno ambigu yang tentu saja membuat Rana bingung.


"Ada apa, apanya Mas?"


Seno berjalan mendekati istrinya."Aku tahu ada sesuatu yang saat ini tengah mengganggu pikiranmu, apa kau tidak mau menceritakannya kepadaku?"


Rana diam sejenak, bukan bermaksud ingin menyembunyikan apa yang tengah menjadi beban pikirannya saat ini, tapi Rana tidak mau Seno ikut terganggu.


"Ada apa?"tanya Seno kembali.


Dan Rana pun menceritakan apa yang tadi dia lihat di ponsel mertuanya serta kegundahan hati nya.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, aku yakin sebentar lagi kita akan memberikan cucu untuk ibu. Oleh karena itu kita harus lebih sering lagi melakukan sesuatu yang menghasilkan anak, mungkin yang biasanya satu hari 2 kali, kita bisa menambahnya menjadi 4 atau 5 kali."


Rana menatap Seno dengan tajam, di saat seperti ini masih sempat-sempatnya dia bercanda.


"Sayang, kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada kata-kata ku yang salah?"


"Mas, kau jangan terus-terusan bercanda."


"Aku tidak bercanda sayang, Aku serius. bukankah untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dan harapkan kita harus bekerja lebih keras lagi?"


Rana menggeleng.


"Tapi, tidak harus sehari lima kali juga kan Mas."


"Tidak 5 kali, bagaimana kalau ditambah menjadi 6 atau 7 kali?"

__ADS_1


Rana sudah terlihat kesal.


"Baiklah! Aku bercanda sayang, kita cukup melakukannya secara rutin saja," ucapannya lalu ia memeluk istrinya,"Jangan pikirkan apapun, dan jangan menjadikan itu beban dalam pikiranmu. Kita pasrahkan semuanya kepada Tuhan agar yang maha kuasa memberi kepercayaan kepada kita. Ibu pasti mengerti itu."Sambung Seno.


*****


Beberapa hari kemudian.


Syukur, kondisi Lina sudah membaik. Dan pada hari ini Rana sudah kembali bekerja di rumah sakit.


***


"Rana, apa kau tidak ingin makan siang dulu?"tanya rekannya.


"Nanti saja,"sahut Rana.


"Kau pasti, ingin makan siang bersama suamimu itu kan! Dia benar-benar Sweet banget, jauh-jauh dari kantor SAR kesini untuk tidak melewati makan siang bersamamu."


Mendengar kata-kata dari rekannya Rana hanya bisa mengulas senyum. Ya, Karena itulah yang selama ini Seno lakukan, di jam istirahatnya dia datang ke rumah sakit untuk makan siang bersama istrinya. Dan ketika sore hari dia kembali lagi ke rumah sakit untuk menjemput istrinya pulang.


"Kalau begitu, aku ke kantin duluan ya?"


Rana mengangguk.


"Iya."


**


"Rana, dokter Ardi memanggil mu?"ujar rekannya yang baru memasuki ruangan khusus perawat.


Rana langsung beranjak.


Di saat Rana sedang berjalan menuju dimana dokter Ardi berada, Rana melewati ruangan khusus ibu dan anak, yang saat ini cukup ramai.


Rumah Sakit tempat Rana bekerja memang sangat luas. Dan khusus untuk Ibu dan anak memiliki tempat dan pelayanan khusus yang terpisah dengan pelayanan umum serta lansia.


Rana melihat satu kamar yang khusus di isi dengan Bok-Boks berisi bayi yang baru dilahirkan. Tangisan bayi begitu menggema saling bersahutan dan terdengar begitu merdu di telinga Rana.


Rana menghentikan langkah kakinya sejenak, dan dia memperhatikan para perawat yang sedang mengurusi bayi-bayi dari jendela kaca yang berukuran besar.


Rana, mengulas senyum Jika dia diberi kepercayaan untuk memiliki makhluk selucu itu, pasti Orang tuanya, mertuanya dan suaminya akan merasa bahagia.


"Perawat Rana!"panggil seorang dokter, Spesialis kandungan.


"Iya Dok."


Dokter wanita itu tau apa yang sedang Rana perhatikan di sana.


"Siapapun pasti akan terpesona melihat bayi-bayi lucu itu, masuklah jika kau ingin melihatnya lebih dekat."Ujar dokter tersebut.


Sebenarnya, Rana ingin sekali menyelonong ke ruangan khusus bayi itu untuk melihat dan menyentuh bayi-bayi mungil namun dia mengingat jika saat ini sedang ditunggu oleh dokter Ardi.


"Terima kasih Dok, nanti saja karena aku sedang ditunggu oleh dokter Ardi."


Dokter itu mengangguk.


"Baik, kapanpun kau bisa masuk ke ruangan ini untuk melihat bayi-bayi itu, dan jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan temui saja aku."


"Baik Dok, terima kasih!"


Setelah berbincang singkat dengan Dokter wanita yang usianya tidak jauh berbeda dengan dirinya Rana kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Ardi, namun lagi-lagi Rana dihentikan, kali ini dia dihentikan karena seorang ibu hamil yang tidak senaja menabraknya ketika sedang berjalan dengan arah yang berlawanan..

__ADS_1


"Maaf, saya tidak senaja!"ujar wanita hamil itu dengan merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Tapi, Ibu mau ke mana ?"


"Saya ingin memeriksakan kandungan saya, bisa tolong untuk menunjukkan ruangannya?"


.


Rana mengangguk, dan dia pun harus kembali menunda untuk ke ruangan dokter Ardi karena harus mengantarkan ibu tersebut


Sesampainya di sana Rana kembali dibuat terenyuh ketika melihat beberapa suami siaga yang sedang menemani istrinya melakukan pemeriksaan. Tentu ini bukan pemandangan yang pertama dan langkah bagi Rana, karena dia sudah sangat sering bahkan setiap hari melihatnya. Namun entah kenapa hari ini perasaan Rana berbeda ketika melihat pemandangan seperti ini. Dan pada saat itu juga, Rana membayangkan posisinya dan Seno di tempat itu.


*


"Terima kasih banyak, sudah membantu saya,"ucap ibu hamil itu.


"Iya, sama-sama."Sahut Rana.


**


Rana kembali menuju ke dokter Ardi. Dan ada beberapa hal yang mereka bicarakan di sana.


****


"Baik Dok, kalau begitu saya permisi."Pamit, Rana. Karena sudah tidak ada lagi yang Ardi bicarakan dengannya.


"Tunggu!"cegah Ardi.


"Iya dok, apa ada hal yang lain?"


"Iya, tapi ini bukan soal rumah sakit. Tapi Aurel."


"Ada apa dengan Aurel, dok?"Rana terdengar khawatir.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin bertanya beberapa hal padamu soal Aurel."


Rana melihat ekspresi bahagia di wajah Ardi. Aurel belum menceritakan lagi seberapa jauh hubungannya dengan Ardi, karena semenjak pulang dari bulan madu Rana belum sempat bertemu dengan Aurel, Tapi, setelah melihat Ardi dengan Ekspresi yang tidak biasa seperti ini. Membuat Rana menyadari sejauh apa hubungan Ardi dan Aurel.


"Apa yang ingin dokter tanyakan?"


Ardi menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan Seca perlahan sebelum dia kembali bicara pada Rana.


"Sebenarnya aku tidak enak mengatakan ini karena aku juga ingin memberi kejutan padanya, tapi aku tidak bisa melakukannya seorang diri. Aku butuh bantuanmu. Dan aku harap kau tidak mengatakan apapun pada Aurel tentang ini."


"Ada apa? Kenapa kata-kata dokter malah terdengar menakutkan di telinga saya, Anda tidak akan melakukan sesuatu yang menyakiti Aurel kan?"Rana yang khawatir. Menjadi buruk sangka pada Ardi.


"Tentu saja tidak! Aku ingin melamar Aurel,"sahut Ardi.


Dan sontak Sahutan itu mengejutkan Rana. Rana tidak menyangka akan serius seperti ini. Lalu bagaimana dengan Dika.


Bersambung..


āœØšŸšŸšŸāœØ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2