4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Usaha Yang Tidak Di Hargai


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—


Hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, Rana sudah siap dengan penampilan terbaiknya.


Dengan hati yang berbunga-bunga, Rana melangkahkan. Ia akan membawakan makan siang untuk Seno.


šŸšŸšŸ


Rana sampai di Pos SAR tepat waktu.


"Syukurlah aku belum terlambat."


"Rana?"sapa Dika yang memang mengenali gadis itu.


"Ah, iya. Selamat siang Dika, aku ingin bertemu Mas Seno."


"Bertemu Seno!"pandangan Dika tertuju pada tangan Rana yang membawa sebuah Paper Bag, "Apa itu?"tanya Dika yang memang selalu kepo.


"Ini makan siang untuk Mas Seno."


"Waaah.. Luar biasa, beruntung sekali Seno ada yang memperhatikan seperti ini, aku benar-benar merasa iri dengannya, mari ikuti aku, Seno ada di dalam."Ajak Dika.


Dan tanpa ragu Rana mengikuti Dika


Beberapa orang yang ada di sana menatap kedatangan Rana.


"Dia istri Seno, dia ingin membawakan makan siang untuk lelaki beruntung itu,"kata Dika. Yang seolah tau jika orang-orang yang ada di sana mempertanyakan Rana.


"Dia cantik juga."


"Iya, ternyata Seno memiliki istri yang cantik."


"Kita baru tau ini, karena dulu Seno tidak mengundang kita di hari pernikahannya."


"Lelaki itu benar-benar kurang ajar, tidak mengundang kita di hari bahagianya."


Bisik-bisik manusia yang ada di sana.


"Seno! Lihatlah siapa yang datang,"seru Dika.


Seno yang tengah berbincang dengan rekan kerjanya, menoleh dan ia sangat terkejut ketika melihat Rana ada di sana.


Seno bergegas menghampiri istrinya.


"Rana. Ada apa! Kenapa kau datang ke sini?"

__ADS_1


"Kau ini kenapa menyambut istrimu dengan bicara seperti itu, lihatlah istrimu yang baik ini membawakan makan siang untukmu. Sepertinya dia sangat tahu jika kau akhir-akhir ini jarang makan."Kata Dika dengan suara yang keras hingga menarik perhatian orang-orang di sana.


Semua tersenyum dan bersorak.


"Waah, hanya istri Pak Seno yang datang ke sini untuk membawakan makan siang, seandainya istri saya seperti itu,"sahut salah seorang pria.


Seno tersenyum canggung sementara Rana tersipu malu.


"Ikut aku,"Seno mengajak Rana keluar dari Pos.


"Rana, seharusnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini."


"Tidak apa-apa Mas, aku sama sekali tidak merasa direpotkan, justru aku senang bisa datang ke sini membawakan makan siang untukmu, tapi apakah benar yang dikatakan Dika jika akhir-akhir ini kau tidak makan siang."


"Kau jangan dengarkan dia, Dika memang selalu berlebihan, aku selalu makan dengan baik."


Seno meraih Paper Bag yang ada di tangan Rana.


Rana tersenyum bahagia dan baru saja ia ingin mengatakan.


'Mari kita makan bersama'


Seno justru menyuruhnya segera pulang.


"Pulang!"


"Baiklah, aku akan pulang."Sahut Rana dengan nada Pelan, namun ia masih tetap berbesar hati.


Seno mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi.


"Jangan lupa dimakan ya Mas dan hati-hati dalam bekerja."Kata Rana sebelum ia melangkah pergi dari sana."


"Iya,"sahut Seno singkat dan sebelum Rana beranjak, Seno sudah lebih dulu masuk ke dalam Pos.


"Tidak apa-apa Rana, yang penting Mas Seno sudah menerima makan siang yang kau bawa."


Seno yang sudah berada di dalam Pos, membelokkan langkahnya menuju sisi bangunan. Bukan ke ruangan yang biasa para Tim SAR gunakan untuk makan dan beristirahat.


Ia mengulurkan isi dari Paper Bag berwarna merah muda yang baru beberapa menit ia terima dari Rana.


"Ah, aku lupa mengatakan pada Mas Seno, jika kakek Arif memintanya untuk berkunjung."Kata Rana yang baru mengingat pesan yang dikirim Arif pagi tadi, yang memintanya dan Seno datang.


Kirana memutar arah Kembali menuju Pos.


Tap.

__ADS_1


Tap.


Tap.


Suara sepatu Rana terdengar cukup nyaring ketika beradu dengan lantai.


"Dimana Mas Seno, apa dia ada di ruangan itu,"gumam Rana sambil melihat satu ruangan yang terdengar riuh.


Namun Rana tidak jadi memasuki ruangan itu karena ia mendengar suara dari sisi bangunan dan Rana memutuskan untuk melihatnya.


DEG!


Bagai dihantam dengan batu besar, hati Rana seketika merasa sesak.


Ia melihat.


Seno tengah mengeluarkan semua isi yang ada di rantang biru, dan memasukkan kedalam tong sampah.


Tanpa menyadari kehadiran Rana, lelaki itu terus mengorek isi rantang dan membuangnya tanpa rasa bersalah, lalu rantang kosong itu ia kembali memasukkannya ke dalam Paper Bag.


"Rana!"


Seno terkejut setengah mati, di saat ia membalikkan badan, matanya melihat Rana yang tengah berdiri mematung menyaksikan kelakuannya.


Rana menengadahkan wajahnya, menahan air mata yang sudah hampir melesat. Dadanya nyeri melihat Seno dengan tega membuang semua makanan yang sudah susah paya ia masak.


"Rana, aku..!"


"Aku tau Mas, mungkin masakanku tidak seenak Restoran tempatmu makan dengan bahagia, tapi setidaknya kau hargai makanan itu, kau tidak harus membuatnya berakhir di tong sampah. Jika kau benar-benar tidak sudi memakannya, kau bisa memberikan itu pada pengemis atau gelandangan, setidaknya usahaku tidak sia-sia."Kata Rana dengan suara bergetar.


"Rana, aku tidak bermaksud seperti ini.. Aku...!"


"Ada apa ini! kenapa kalian malah ada di sini?"


Dika muncul menghentikan ucapan Seno.


"Tidak ada apa-apa, aku permisi, karena ada hal yang harus aku kerjakan."Sahut Rana, dan ia segera pergi dari sana.


Bersambung...


šŸšŸšŸšŸšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Minta dukungannya ya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø


__ADS_2