
Selamat membaca π€
πππ
Dengan penuh rasa bangga dan senyum mengembang, Seno berjalan memasuki Rumah Sakit dan dia langsung menuju ke bagian pendaftaran.
Kehadiran Seno dan Rana di sana menarik perhatian beberapa pengunjung di RS tersebut. Tentu saja yang paling menarik mata mereka adalah Seno yang menggendong Tas besar.
Apakah, lelaki itu ingin mendaki gunung setelah mengantar istrinya?
Atau mungkin dia habis mendaki dan langsung ke Rumah Sakit?
Aah, mungkin saja mereka memang tinggal di Gunung?
Mungkin seperti itu isi pertanyaan dari benak orang-orang yang melihat Seno.
"Silahkan Ibu dan Bapak tunggu di sini, Dokter akan memanggil sesuai Nomor Anterian."Ujar seorang perawat dengan sangat ramah setelah dia mengantar Rana dan Seno di ruangan khusus Ibu dan Anak.
"Terima kasih."Sahut Rana.
Seperti apa yang dibayangkan oleh Rana, di sana sudah banyak wanita dengan berbagai usia, yang sedang menunggu antrian. Rana mengulas senyum bahagia karena dia bisa merasakan berada posisi mereka.
Menunggu Dokter memanggil namanya, dan menunggu momen di saat dokter menjelaskan tentang kondisi calon anak mereka.
"Terima kasih Tuhan, engkau sudah memberi aku kesempatan untuk merasakan momen bahagia yang sempurna ini."
Seno dan Rana duduk berdampingan, di sana Seno bukan satu-satunya lelaki meskipun itu ruangan khusus untuk ibu dan anak. Tapi banyak lelaki yang duduk di kursi tunggu karena mereka sedang menemani istrinya.
Seno terus memutar pandangannya, melihat ibu-ibu yang sedang mengelus-elus perut mereka yang sudah nampak membesar.
"Sayang, usia berapa bulan jika perutnya sudah sebesar itu?"tanya Seno dengan nada berbisik kepada istrinya.
Rana mengikuti pandangan mata Seno yang sedang melihat seorang lelaki yang tengah mengusap perut besar Istrinya.
"Sepertinya ibu itu sudah memasuki bulan ke 9, Mas."Kata Rana.
"Kenapa lama sekali?"
"Tidak lama untuk melihat perubahan perut, karena saat memasuki bulan ke 5 pun sudah nampak membesar."Jelas Rana.
Seno mengangguk setelah mendengar penjelasan dari istrinya, dalam hatinya sudah tidak sabar ingin melakukan apa yang sedang lelaki yang ada di depannya itu lakukan. Namun Seno juga tidak mau kalah untuk saat ini, meskipun perut istrinya masih terlihat rata tapi bukan berarti dia tidak bisa mengusap-usapnya.
"Sombong sekali pria itu, memangnya dia pikir aku tidak bisa melakukannya, hingga dia harus pamer seperti ini! Lihatlah aku juga bisa."
__ADS_1
Batin Seno, sambil mengusap-usap perut istrinya.
"Mas, apa yang kau lakukan?"bisik Rana.
"Aku hanya ingin menyapa anak kita?"sahut Seno namun tidak dengan nada berbisik. Karena dia menyahut dengan suara nyaring dan langsung menarik perhatian mereka yang sedang menunggu Antrian.
"Mas, kecilkan suaramu. Kau bisa mengganggu Dokter yang ada di dalam."
"Baik, Maafkan aku, aku terlalu bersemangat."Ucap Seno, namun tidak menghentikan kegiatan tangannya yang sedang pamer pada pria yang ada di depannya.
***
Setelah beberapa menit di sana, Rana terlibat perbincangan dengan Ibu yang duduk berbaris dengannya, mereka saling bertukar cerita, masa kehamilan yang saat ini sedang mereka rasakan. Rana terlihat tertawa kecil dan bahagia mendengar salah satu ibu menceritakan tentang anak pertamanya pada saat masih bayi.
βDan Seno membiarkan istrinya larut dengan wanita-wanita di sana. Meskipun hatinya sedikit kesal karena dia tidak bisa bermanja-manja dengan wanitanya.
"Pak!"panggil seorang pria.
"Iya, ada apa?"sahut Seno.
"Kalau boleh tau, apa isi didalam Ransel ini?"tanya Pria itu dengan hati-hati, karena dia takut yang di tanya tersinggung atau tidak merasa nyaman. Namun karena penasaran dengan apa yang di bawah Seno, Pria itu memberanikan diri untuk bertanya dan di dukung dengan Pria lainnya yang juga merasa penasaran.
"Ini, keperluan istri saya."Jawab Seno apa adanya.
Seno mengangguk.
"Iya, apa kalian tidak membawa apa yang menjadi keperluan istri kalian?"tanya Seno Sambil meneliti 4 lelaki yang ada di depannya.
"Untuk apa membawa keperluan sebanyak itu? Bukankah di sini hanya membutuhkan waktu paling lama 2 jam."
Seno langsung menggelengkan kepalanya.
"Cek. Cek. Sepertinya kalian harus belajar bagaimana menjadi suami yang siaga saat istri sedang dalam masa kehamilan."
"Saya sudah selalu siaga, buktinya saya mengantarkan istri saya ke Dokter."Sahut satu Pria yang terlihat lebih muda dari Seno, sepertinya di juga calon Ayah baru.
"Itu benar, tapi kalian tidak melakukannya dengan maksimal, seperti membawa beberapa kebutuhan istri kalian saat sedang berada di luar Rumah."Ujar Seno.
"Memang apa saja yang di butuhkan, padahal istri kita di sini tidak sampai setengah hari?"
Seno semakin menggeleng dengan kuat.
"Kalian tidak tau apa saja yang akan di rasakan ibu hamil di waktu yang hanya kurang dari 3 Jam. Bisa jadi dia pegal, lelah, kedinginan, haus, lapar! Kalian harus memikirkan itu semua. Ibuku bilang, jika wanita hamil akan tiba-tiba berubah Mood dan suhu di tubuhnya, mereka juga harus banyak makan dan tidak boleh merasa harus. Nah! apakah kalian membawa makanan untuk istri kalian?"tanya Seno, setelah dia menyampaikan ilmu yang dia dapat dari ibunya.
__ADS_1
"Tidak! Tapi, jika istriku lapar aku bisa langsung beli saja di luar. Tidak perlu repot-repot bawa barang sebanyak ini."Sahut satu lelaki yang sepertinya seusia dengan Seno, namun dia sudah berpengalaman karena dia tengah menemani istrinya yang sedang hamil anak ke dua.
"Astaga!"Seno menepuk keningnya,"Bisa-bisanya kau membiarkan istrimu makan dan minum yang belum kau pastikan sendiri kebersihannya? Bagaimana kalau makanan yang kau beli diluar belum dimasak dengan sempurna, tidak di cuci dengan bersih atau tidak memiliki rasa yang sesuai dengan keinginan istrimu. Terkena debu atau yang lainnya?"
Ke-empat Pria itu terbengong mendengar Omelan Seno yang seperti ibu mertuanya.
"Kenapa kau diam? kau tidak memastikannya kan?"
"Ti... tidak!"
"Sudah kuduga! Mulai dari sekarang, kau harus memastikan semua makanan yang masuk ke dalam perut istrimu. Itu bukan hanya demi kesehatan istrimu tapi juga demi kesehatan calon bayi kalian."
Rana dan beberapa ibu yang lainya mendengar wejangan Seno.
Sedangkan ke-empat Pria tadi mengangguk serentak. Mungkin setelah ini mereka akan melakukan hal yang sema seperti Seno.
"Mas, kenapa bicara seperti itu."Bisik Rana sambil menyentuh lengan suaminya, karena merasa tidak enak dengan bapak-bapak dan Ibu-ibu yang ada di sana.
"Tidak apa-apa, Bu Rana. Justru saya berterima kasih pada suami Anda. Semoga saja suami saya bisa seperti suami Bu Rana setelah kembali dari sini."Sahut satu Ibu yang duduk tidak jauh dari Rana.
Rana hanya menggunakan canggung.
**
"Sayang, apa kau lapar?"tanya Seno setelah beberapa menit suasana hening.
"Tidak, Mas. Aku hanya merasa haus."
Dengan sigap. Seno langsung membuka Ransel dan mengeluarkan botol air minum berserta gelas yang memang sudah dia siapkan.
"Sungguh ini semua sangat berguna." Batin Seno.
Bersambung.
ππππ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya π€
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini π€
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1