
Selamat, membaca š¤
šāØāØāØāØāØš
Seno tidak mau gagal untuk yang ketiga kalinya. Tapi tentu saja saat ini dia yakin tidak akan gagal.
Seno kembali ke tempat semula dengan bertumpu di atas Rana. Dan kali ini ia melakukan hal yang sama, melepaskan kimono yang Rana gunakan.
"Sepertinya, malam ini seluruh semesta merestui ku, dengan memudahkan semuanya. Untung saja aku meminta Staf Hotel untuk menyiapkan jubah mandi ini, jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk membukanya.". Batin Seno, lalu ia melemparkan jubah putih itu ke sembarang arah.
Dengan mata yang tidak berkedip sekalipun, Seno menatap tubuh polos yang kini terbaring dihadapannya.
Tanpa berlama-lama, karena dia pun sudah tidak sabar. Seno kembali menenggelamkan wajahnya di tengkuk Rana sambil mengecup dan mengucapkan kata-kata yang selama ini tidak pernah Seno ucapkan kepada istrinya itu, bukan hanya di tengkuk saja, karena semakin lama kecupannya berlari kemana-mana.
**
Karena mata Otor tiba-tiba berkunang-kunang, sebaiknya kita tinggalkan dulu pasutri ini, ya.
šāØāØāØš
"Sarah, apa kau akan pulang ke kota malam ini juga?"Tanya Kartika. Di saat Sarah tengah bersiap-siap mengemasi semua barang miliknya dan anaknya.
"Iya Bu. Mas Bima harus segera bekerja, jadi aku tidak bisa berlama-lama di sini."
"Apa tidak sebaiknya besok pagi saja? kau juga belum bertemu Rana malam ini?"
"Tidak Bu, aku sudah terlalu lama menunda untuk pulang. Jadi Malam ini aku benar-benar harus segera pulang."Kata Sarah, yang tetap memilih akan kembali ke rumahnya.
"Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah. Jaga anak-anakmu dengan baik jika sudah sampai jangan lupa untuk menghubungi Ibu."Pesan Kartika.
"Baik Bu."
"Aku tunggu di luar,"kata Bima, dengan membawa koper keluar dan di bantu oleh Dika.
Sementara Sarah, sebelum dia keluar dari Rumah orang tuanya ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Bu, tolong berikan ini kepada Rana."
"Apa ini Sarah?"tanya Kartika setelah menerima sebuah amplop berwarna coklat dari Sarah.
"Itu buku tabungan milik Rana dulu, selama 4 tahun lebih, Seno selalu mengirimkan uang di rekening itu. Aku tidak pernah menggunakannya sepeserpun, semua masih tersimpan di sana. Tolong berikan itu kepada Rana."Kata Sarah.
"Buku tabungan! kenapa tidak kau saja yang memberikan kepada adikmu?"
"Tidak. Ibu saja."Sahut Sarah, dengan wajah seperti yang tengah bersedih.
"Sarah, ada apa nak? apa ada sesuatu yang terjadi? apa kau tengah ribut dengan adikmu?"tanya Kartika yang menyadari jika Putri sulungnya itu tengah menyembunyikan sesuatu.
"Tidak! sudah, Ibu tidak usah memikirkan apa-apa. Sekarang aku pamit pulang. Ibu dan Ayah harus jaga kesehatan, dan jika Ayah sudah siap untuk tinggal di Kota, aku akan menjemput Ayah dan Ibu."Kata Sarah.
__ADS_1
"Berhati-hatilah. Ibu akan meminta Rana untuk menghubungimu."
"Tidak perlu Bu, biarkan dia fokus dan terbuai dengan apa yang ia pilih saat ini."
"Sarah!"
"Bu, aku Pamit."
Sarah yang tidak mau membahas lebih jauh tentang Rana, Seno dan dirinya memilih untuk menyudahi pembicaraannya dengan Kartika, ia segera berlalu dari Rumah itu menuju mobil, dan Bima serta kedua anaknya sudah menunggu di sana.
"Nenek, kakek, aku pulang dulu ya."Pamit Dino kepada Nenek dan Kakeknya yang terlihat sangat bersedih ketika cucunya akan pulang, padahal mereka berdua sangat terhibur dan merasa bahagia ketika Dino berada di sana.
"Iya sayang, berhati-hatilah di jalan jangan lupa untuk sering-sering menelpon nenekmu ini."
Dino mengangguk, lalu ia beralih kepada Aurel dan Dika.
"Tante Aurel, aku pulang dulu ya. Dan Om Dika, jangan lupa dengan janji Om kepadaku."
"Baik, tentu saja Om tidak akan lupa."
Mereka sama-sama melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil.
***
"Yah, apa Ayah merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sarah?"tanya Kartika pada Ridwan.
"Tentu saja Ayah bisa merasakan itu, tapi kita tidak bisa memaksa Sarah untuk mengatakannya pada kita, biarkan ia menyelesaikan masalahnya. kita sebagai orang tua hanya bisa mengirim doa agar anak-anak kita baik-baik saja dan bisa melewati serta menyelesaikan setiap masalah dan cobaan hidup yang menghampiri mereka."Sahut Ridwan.
šāØāØāØš
Sama seperti Sarah yang sudah berpamitan kepada orang tuanya untuk kembali ke kota, di sini juga ada Vir yang selesai berkemas untuk keberangkatannya esok hari.
"Asisten Mama sudah memesan tiket untuk penerbangan besok pagi jam 08.00, apa kau sudah menyiapkan semua barang-barang mu?"tanya Mayang kepada Vir yang tengah duduk di balkon kamar sambil memutar-mutar ponsel yang ada di tangannya, dengan tatapan kosong menatap gelapnya malam.
"Vir!"panggil Mayang kembali, setelah pertanyaan pertamanya tidak direspon oleh Vir.
"Sudah!"sahut Vir tanpa melihat ibunya.
"Vir, kamu sudah mengambil keputusan yang tepat untuk berangkat ke luar negeri. Mulailah hidup yang baik di sana dan jangan lagi kamu mengulangi kesalahanmu yang menyukai wanita tidak jelas."
Vir melirik, menatap Mayang yang juga tengah menatapnya.
"Mah, tolong keluar dari kamarku. Aku ingin beristirahat karena besok pagi aku harus berangkat ke Bandara."
"Baiklah! kau memang harus cukup istirahat, kalau begitu Mama keluar. Beristirahatlah dengan baik Vir."
***
Setelah Mayang keluar dari kamarnya, Vir pun masuk ke dalam dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
"Rana. Aku sangat berharap, selalu mendengar kabar bahagia tentangmu. Dan di sana nanti, aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu."Gumam Vir.
šāØšāØ
Setelah Otor selesai mengurus kepulangan Sarah ke Kota, dan keberangkatan Vir esok hari. Kita bisa kembali fokus pada Rana dan Seno.
Ternyata! pasangan ini masih bergulung di atas ranjang, dengan keringat yang bercucuran, padahal AC terpasang di kamar Hotel tersebut tapi entah kenapa mereka bisa merasakan panas sampai keringat sebesar biji jagung membasahi seluruh wajah dan tubuhnya.
Karena Otor menutup kedua bola mata yang Otor miliki ini, jadi Otor tidak bisa melihat kegiatan apa yang sedang mereka lakukan di atas ranjang.
Tapi, sepertinya kalian juga sudah tahu apa yang sedang pasangan suami istri ini lakukan, tanpa harus Otor jelaskan, karena Otor tidak cukup berani jika harus menghadapi Editor Review dengan Bab yang ada 21+++ nya.
**
Di kamar yang yang sebenarnya dingin tapi terasa panas ini, hanya terdengar suara-suara yang meresahkan, yang bisa membuat bulu kuduk siapapun akan merinding ketika mendengarnya.
"Cukup, Mas!"
"Sebentar lagi Sayang!"
"Aaawww.. Jangan mengigit nya, Mas!"
"Aku tidak menggigitnya."
Itulah beberapa contoh, penggalan kata yang terdengar di kamar itu.
Hingga...
10 menit.
30 menit.
45 menit.
60 menit.
90 menit.
Sampai di menit ke 240.
Salah satu dari mereka mengerang panjang, lalu menjatuhkan diri di atas kasur.
Bersambung...
āØššššāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø