
Selamat! Membaca š¤
šššš
Malam semakin larut, dan entah kenapa hujan turun begitu deras dan seperti enggan untuk berhenti.
Bukan hanya guyuran air hujan yang lebat di malam itu. Tapi, angin kencang dan petir melengkapi suasana menegangkan di malam ini.
Bukan hanya itu saja, beberapa tenda roboh akibat tidak tahan menahan terjangan angin.
Keadaan tiba-tiba panik dan riuh, karena tenda klinik yang di dalamnya terdapat beberapa korban yang di rawat ikut roboh.
"Cepat! Cepat, bantu pindahkan semua pasien di Tenda yang lebih kuat."Teriak Dokter Wahyu. Dan segera di tanggapi dengan beberapa dokter dan perawat di sana.
Seno dan rekan-rekannya yang mendapati kekacauan di Tenda klinik tentu tidak tinggal diam. Mereka menerjang derasnya hujan yang di sertai petir dan angin kencang, untuk mengevakuasi korban ke tenda yang lebih kuat.
Namun hampir semua tenda di sana roboh.
"Apa yang harus kita lakukan pak, tenda yang tersisa pun sepertinya tidak akan bisa menahan terjangan angin ini?"
"Cari tenda yang ukurannya lebih besar, dan pasang beberapa alat tambahan agar tenda itu kuat,"Sahut Seno.
"Baik pak."Dan Pria yang bertanya tadi pun segera berlari melakukan apa yang di sarankan Seno.
"Dokter, beberapa pasien menggigil. Sepertinya mereka tidak tahan menahan dingin."
"Lakukan apapun, yang bisa melindungi pasien."Sahut Dokter Vir.
Robohnya tenda membuat pasien terguyur air hujan. Dan di sini Tim Penyelamat berjibaku untuk melakukan yang terbaik.
Mereka tidak perduli dengan guyuran air hujan yang membasahi tubuh mereka. Yang terpenting semua warga di sana selamat dan baik-baik saja.
Tim SAR, memasang plastik tebal yang mereka rentangkan untuk melindungi pasien dari guyuran air hujan, dan mereka sendiri yang menjadi tiang penyanggah, memastikan jika plastik itu tidak akan terbang atau robek. Sambil menunggu tim yang lain memasang tenda yang lebih kuat.
Bukan hanya tenda klinik yang mengalami kepanikan. Tenda yang menampung korban selamat pun tidak luput dari kepanikan. Hingga Seno harus membagi timnya untuk membantu di kedua tempat tersebut.
Teriakan wanita dan tangisan anak-anak semakin mewarnai ketegangan di malam itu. Mereka kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di saat gempa dan tsunami menerjang kota kecil tersebut.
__ADS_1
Usia tenda yang di rasa cukup kokoh berdiri, mereka memindahkan pasien dengan cara bergotong royong.
Banyak pasien yang tidak sadarkan diri. Termasuk Bella, anak yang seharusnya di bawa ke kota esok hari, kondisinya semakin memburuk.
Rana yang menyadari bahwa kondisi Bella semakin memburuk, berteriak memanggil dokter Vir.
Tubuh anak itu sedingin es dengan bibir yang membiru.
"Lakukan sesuatu agar anak ini tetep hangat, aku akan meminta tim SAR untuk mengevakuasi Bella terlebih dahulu."Ucap dokter Vir.
"Baik dok."Sahut, Rana, dan ia melakukan segala hal agar Bella tetap pada suhu yang hangat. Sudah tidak ada selimut atau sejenisnya yang bisa Rana gunakan untuk membungkus Bella, dan satu-satunya kain yang kering di sana adalah kemejanya. Tampa pikir panjang, Rana membuka kemejanya yang cukup tebal untuk membungkus tubuh Bella, sedangkan ia hanya menggunakan kaos lengan pendek yang tipis.
"Pak Seno, kita harus mengevakuasi Bella terlebih dahulu, kondisinya semakin memburuk."Ujar dokter Vir, pada Seno yang tengah berjibaku bersama Dika dan rekannya memindahkan pasien ke tenda yang kuat.
Mendengar nama Bella, Seno langsung mengingat kondisi gadis kecil itu.
Bella pasien yang tergolong darurat hingga harus di utamakan dari yang lainnya.
"Baik."Dengan sigap, Seno berlari menuju tenda 20.
"Jangan!"seorang ibu menghentikan langkah Seno.
"Ibu jangan khawatir, teman saya pasti akan memindahkan suami ibu,"sahut Seno.
"Tidak bisa, pokoknya suami saya harus di pindahkan saat ini juga, bagaimana bisa Anda meninggalkan pekerjaan Anda yang belum selesai malah akan menolong orang lain." Ibu itu terlihat tidak terima dengan Seno yang akan ikut Vir untuk memindahkan Bella.
"Bu, semua yang ada di sini akan kami evakuasi, ibu tenang. Ada rekan-rekan saya yang akan segera memindahkan suami ibu."Seno kembali memberi penjelasan.
Namun ibu tersebut tidak terima. Ia kekeh ingin Seno yang memindahkan suaminya.
Dokter Vir pun menjelaskan jika Bella satu-satunya Pasien yang sangat kritis di sana, hingga anak itu harus di utamakan.
"Tidak! pokoknya, kalian harus mengutamakan suami saya terlebih dahulu."Teriak ibu tersebut.
Karena tidak mau menambah kekacauan, Seno meminta Dika untuk membantu Vir memindahkan Bella.
ššš
__ADS_1
Sementara di tempat lain.
Kartika dan Sarah tengah menonton televisi yang menyampaikan berita terbaru di kota yang terkena musibah tersebut.
Meskipun tidak ada Video yang nyata dari berita tersebut, namun presenter yang menyampaikan berita terbaru di kota tersebut menggambarkan situasi menegangkan di sana. Bahkan BMKG memprediksi akan terjadi tsunami susulan.
Dan hal ini tentu membuat Kartika histeris.
"Sarah, apa kau tidak bisa menghubungi adik mu?"
"Tidak bisa Bu, sudah pasti sinyal di sana sangat buruk."Sahut Sarah yang tak kalah panik.
šš
Kembali ke tempat darurat.
Pasien sudah berhasil di evakuasi semua, dan para dokter tengah sibuk memeriksa kondisi mereka.
"Sepertinya Kita harus membangun tenda baru, karena tenda yang ada tidak akan kuat menampung."Ujar Dika.
"Lakukan!"Sahut Seno.
"Baik!"
Seno yang sudah mencurahkan semua tenaganya, menatap kekacauan di sana. Seandainya ia mempunyai kekuatan ingin rasanya Seno menghentikan badai di malam yang terasa sangat panjang itu.
Di saat matanya berkeliling. Seno melihat Rana di bawah guyuran hujan tanpa pelindung, gadis itu tengah membantu korban dari tenda pengungsi untuk ke tempat yang lebih aman. Seno membuka sragamnya dan berlari menuju Rana.
Bersambung..
šššš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya ya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø