
Selamat. Membaca š¤
āØššāØ
Windy tidak menyangka jika jadinya akan seperti ini, dia datang dengan niat baik untuk meminta maaf kepada Rana dan Seno. Tapi kesalahan Windy adalah, dia meminta Wahyu untuk menemaninya dan lelaki itulah yang membuat semuanya kacau sampai ia kembali mendengarkan kata-kata Seno yang menyakitkan hatinya.
Windy sangat tahu bahwa sudah tidak ada lagi cinta di mata Seno karena Windy sangat mengenal lelaki itu. Tapi entah mengapa, hatinya pun selalu berbisik agar ia sering-sering bertemu dengan Seno dan Rana dengan niat untuk menjalin pertemanan.
***
Seno sudah bisa membuat Wahyu bungkam untuk sementara waktu. Kini saatnya ia meyakinkan Kartika.
Seno duduk menghadap Kartika.
Lelaki itu menjelaskan tanpa ada sedikitpun yang ditutup-tutupi termasuk tentang masa lalunya dan Windy, Winda yang datang menemuinya dan permintaan gila Winda kepada Rana pun Seno katakan.
"Jika aku mau. Dan jika aku masih mengharapkan Windy. Tentu dulu aku sudah mengejarnya ke luar negeri, karena itu bukan hal yang sulit bagiku. Aku bisa pergi kemanapun untuk mengejarnya, tapi itu tidak aku lakukan karena saat itu aku memutuskan untuk benar-benar meninggalkan masa laluku dan mengikuti permintaan kakek Arif untuk melamar Rana, saat itu aku memang tidak mencintai Rana karena hatiku masih kosong. Tapi saat aku menikahi Rana, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah menghianati istriku dengan memikirkan, mengharapkan apalagi mencintai wanita lain, sekalipun aku belum mencintai Rana. Aku tidak pernah membagi hati pada wanita lain. Aku berusaha keras tapi bukan berusaha untuk melupakan masa lalu. Aku berusaha untuk menjaga hati Rana agar tidak terluka jika mengetahui hal yang sebenarnya, bahwa aku tidak mencintainya. Aku sama sekali tidak khawatir kalau Rana mengetahui masa laluku dengan wanita lain, tapi saat itu aku khawatir dan takut kalau Rana terluka ketika dia tahu bahwa aku belum mencintainya. Hingga saat itu aku memutuskan untuk mengungkapkan semuanya karena aku merasa sangat bersalah jika harus mengikat Rana dalam pernikahan tanpa cinta. Tapi setelah Rana pergi aku baru menyadari semuanya, bahwa sebenarnya aku mencintai Rana, menyayanginya dan tidak bisa kehilangan dirinya, hingga aku memutuskan dan berjuang untuk tetap mempertahankan rumah tangga kami,"tutur Seno, kepada ibu mertuanya.
"Aku tidak bisa memaksa dan meyakinkan Ibu untuk percaya kepadaku, tapi Ibu pasti bisa menilai semuanya."Sambung Seno.
Kartika mengangguk.
"Ibu percaya padamu, karena jika kau masih memikirkan wanita lain tentu kau sudah mengejarnya daripada kau membuang-buang waktu untuk meyakinkan Rana. Sudah lupakanlah semuanya."
"Terima kasih, Bu."
Sepertinya Seno berhasil meyakinkan Kartika.
**
Wahyu menampilkan wajah yang sangat kesal luar biasa dan dalam hatinya pun marah ketika mendengar Kartika mempercayai Seno.
Sementara Windy semakin terluka mendengar kata-kata dari Seno.
Ia sudah tidak memiliki harapan apapun atas cinta lamanya itu, karena Seno sudah benar-benar melupakannya.
"Ibu, mari aku antar ke kamar. Ibu harus beristirahat, Ibu pasti lelah kan."Ujar Aurel dan dia menuntun Kartika masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu Wahyu dan Windy keluar terlebih dahulu dari Rumahnya.
****
BUG!
BUG!
Dua pukulan kuat, melayang tepat di wajah Wahyu.
Dan yang memberikan pukulan dahsyat itu tentulah Seno, karena sejak tadi dia sudah tidak tahan ingin melakukannya hingga setelah Aurel membawa Kartika masuk ke dalam kamar, tanpa ragu-ragu Seno menarik Wahyu keluar Rumah dan menghajar lelaki itu.
"Sial! Apa yang kau lakukan brengsek!"Umpat Wahyu yang terhuyung seraya menyentuh ujung bibirnya yang ternyata berdarah.
"Apa kau mau lagi? Sepertinya masih ada bagian yang lain, yang belum terjamah dengan tanganku."Tantang Seno yang sama sekali tidak menggubris umpatan dari Wahyu.
"Kurang ajar!"Wahyu sudah akan meraih Seno namun Windy segera mencegahnya.
"Jangan Wahyu!"
"Windy, apa kau berniat melindungi lelaki ini? dia sudah menyakitimu dengan kata-kata munafiknya itu. Apa kau masih mau membelanya?"marah Wahyu yang tidak terima karena aksi balas pukulnya dihalangi oleh Windy.
"Tidak seperti itu Wahyu, jangan buat keributan di rumah orang lain. Ayo kita pulang ."Ajak Windy yang segera menarik tangan Wahyu untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Namun Wahyu yang sedang dikuasai oleh emosi segera menepis kuat tangan Windy dan ia langsung menerjang Seno untuk membalas pukulan yang dia terima.
BUG!
BUG!
Wahyu terkekeh ketika ia berhasil melayangkan dua pukulan di wajah Seno sampai membuat wajahnya lebam.
Dan Seno pun membalasnya dengan senyum miring sambil berkata.
"Kau dua aku dua, tapi tentu belum berakhir sampai sini."Setelah mengatakan itu, Seno kembali menyerang Wahyu dengan membabi buta, meluapkan semua kekesalannya atas ulah Wahyu yang berniat menghasut Ibu mertuanya.
***
Kedua lelaki yang tengah dikuasai oleh emosi di dalam hati dan otaknya saling adu jotos meninggalkan jejak lebam di wajah mereka masing-masing. Tentu saja tidak ada yang mau mengalah terlebih dahulu karena sama-sama keras kepala.
"Hentikan! Cukup Seno, Wahyu!"teriak Windy, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak, karena jika ia melerai pasti ia yang akan terkena pukulan dari kedua singa yang tengah berkelahi itu.
Sementara Dika.
Dengan santainya, lelaki itu melipat kedua tangannya di dada, dan bersandar di pintu mobil Seno, melihat tontonan yang tidak layak ditonton sambil bergumam.
"Akhirnya kau merasakan juga kemarahan Seno, kan. Tapi...! Sepertinya dokter itu tidak bisa di remehkan, dia bisa mengimbangi Seno. Jangan-jangan selain dokter, dia juga seorang petarung? Tidak-tidak, seno pasti bisa."
"Dika tolong bantu aku untuk menghentikan mereka, mereka bisa terluka parah jika terus-terusan begini."Pinta Windy dengan raut wajah yang sangat cemas.
"Sudah biarkan saja, mereka bukan anak kecil. Sekali-kali olahraga, agar otot-otot mereka tidak kaku."Sahut Dika yang masih dengan posisi semula bersandar di pintu mobil dengan Rileks.
***
"Aurel, suara apa di depan? Ibu seperti mendengar suara keributan?"tanya Kartika yang samar-samar mendengar perkelahian antara Seno dan Wahyu.
**
Di luar Windy masih terus membujuk Dika agar mau melerai kedua lelaki yang tengah berkelahi itu.
Sedangkan Seno dan Wahyu masih terus gelut, sepertinya mereka tidak merasakan sakit meskipun wajahnya sudah sama-sama babak belur.
Saat ini, Seno menguasai perkelahian karena dia bertumpu di atas tubuh Wahyu sambil terus memberikan Stampel biru-biru di wajah Wahyu.
*
Dika yang melihat Aurel keluar dari pintu, sigap mengambil posisi dengan menarik Seno dari atas tubuh Wahyu guna menghentikan perkelahian mereka.
Padahal sejak tadi Windy membujuknya tapi Dika tidak menggubrisnya, tapi setelah melihat Aurel, dia langsung melerai perkelahian itu.
"Hei. Apa-apa ini, kalian bukan anak TK, kenapa harus berkelahi seperti ini, bijaklah sebagai orang dewasa, selesaikan masalah dengan kepala dingin jangan berkelahi seperti ini."Kata Dika.
"Minggir Dika!"Bentak Seno.
"Tidak bisa Seno, kau ini temanku. Tentu saja aku harus menghentikan jika kau melakukan sesuatu yang tidak bijaksana."Kata Dika menahan Seno yang ingin menyergap Wahyu kembali.
Sementara Windy bertindak cepat dengan menahan Wahyu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian malah berkelahi? seperti anak kecil saja!"kesal Aurel.
"Benar, padahal aku sudah melerai sejak tadi, tapi mereka keras kepala."Sahut Dika.
"Ibu Kartika dan ayah Ridwan sedang beristirahat, jika kalian masih ingin melanjutkan perkelahian kalian, pergilah ke Ring Tinju, jangan di sini."Kata Aurel yang masih kesal.
__ADS_1
"Sepertinya ide itu bagus juga, lanjutkan saja di Ring Tinju. Aku akan ada di barisan paling depan untuk mendukungmu, tapi untuk saat ini. Stop dulu,"bisik Dika di telinga Seno.
.
"Tenangkan dirimu Wahyu."Kata Windy, menenangkan Wahyu.
Karena tidak mau mengganggu istirahat Kartika dan Ridwan, kedua lelaki itu pun memutuskan untuk menunda perkelahian mereka.
"Ingat! Ini belum selesai."Kata Wahyu sambil menunjuk ke arah Seno.
"Tentu saja, aku juga belum puas dengan ini."Timpal Seno, menantang.
Wahyu yang kesal segera masuk ke dalam mobilnya.
"Seno, bukankah kau bilang ingin menjemput Rana? ini sudah menjelang malam."Kata Aurel.
"Tentu saja."Sahut Seno, lalu ia bergerak menuju ke arah mobilnya.
"Seno, tunggu!"cegah Windy, dan Seno pun menghentikan langkahnya.
Windy berjalan mendekati Seno, ia melihat luka serius di wajah lelaki itu.
"Luka mu terlihat serius, itu harus segera diobati, jika tidak akan terinfeksi. Ijinkan aku untuk membantumu mengobatinya."Tawar Windy, yang tidak tega melihat wajah Seno yang terluka dan berdarah.
"Tidak perlu, istriku seorang perawat hebat, aku tidak membutuhkan dokter lain untuk membantu mengobati luka-luka ini."Kata Seno, menolak kebaikan Windy.
Tapi penolakan itu, bagai sebuah pisau yang menggores hati Windy.
"Ah, dia benar. Istrinya seorang perawat yang handal. Tentu saja dia tidak membutuhkan dokter apapun, sudah pergilah Seno. minta istrimu untuk mengobati luka-luka mu ini. meskipun tidak terlihat parah tapi harus tetap diobati."Sahut Dika.
Dan semakin membuat Windy merasa terpojokan.
Tanpa menunda-nunda lagi, Seno segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan halaman Rumah tapi sebelum itu. Dia berpesan pada Dika.
"Dika, tolong kau jaga Ibu Kartika dan ayah Ridwan selama aku tidak ada, Malam ini aku tidak pulang ke Rumah, karena aku akan mengajak Rana ke sesuatu tempat, dan kami baru akan pulang besok pagi."
"Waaaa.. Aku tahu apa yang ingin kau lakukan, karena kita memiliki pikiran yang sama, kau tenang saja aku akan menjaga dengan baik semua yang ada di Rumah ini, kau pergilah nikmati waktu mu."
****
"Windy, sebaiknya kau obati saja luka Wahyu karena sepertinya dia pun terluka parah."Kata Aurel, yang menguraikan ketegangan yang terlihat di wajah Windy karena merasa terpojokkan oleh kata-kata Dika dan Seno tadi.
Windy menggangguk.
"Aku permisi Aurel, titipkan pesanku kepada Ibu Kartika. Aku meminta maaf atas semua kekacauan ini."
"Baiklah, berhati-hatilah di jalan."
Bersambung.
āØššššāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1