4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Usaha Penyelamatan.


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Seperti apa yang di katakan oleh para relawan, bahwa keluarga yang akan mereka evakuasi sangat keras dan kasar. Terbukti dengan mereka yang langsung menghadang rombongan tim penyelamat yang akan memasuki area rumah mereka.


Dengan tampang wajah yang sangat sangar dan mata yang menyala, Pria yang wajahnya di tumbuhi rambut dan bertubuh kekar serta satu orang temannya menghadang Seno dan yang lainnya.


"Enyahlah kalian dari sini jika tidak mau salah satu dari kalian terluka."Ujar Pria yang berewokan dengan suara keras.


Seno dan dua rekan dari SAR maju menghadapi dua lelaki sangar itu. Ya, merekalah tameng untuk yang lainya.


"Selamat siang! Kami datang bukan untuk mengganggu keluarga Anda, kami hanya ingin memastikan jika Anda dan keluarga dalam keadaan baik-baik saja. Dan ijinkan Dokter serta perawat untuk memeriksa istri Anda dan orang tua yang ada di rumah ini."Ucap Seno, dengan nada lembut berharap jika pria itu luluh dan mengijinkan dokter masuk kedalam rumahnya.


Namun tidak semudah itu, karena pria yang berperawakan besar itu mengeluarkan sebilah belati yang dia simpan di pinggangnya.


"Sudah saya duga, pasti kalian ingin mencampuri urusan keluarga saya. Saya peringatkan sekali lagi untuk pergi dari sini, jika kalian tidak mau saya bertindak lebih jauh."Ancam Pria itu seraya mengacungkan belati di hadapan Seno.


"Pak Seno, berhati-hatilah. Sepertinya pria itu tidak main-main,"bisik rekan Seno.


Seno Mengangguk.


"Kalian berdua pastikan, keamanan dokter dan perawat yang ada di belakang kita. Biar saya yang akan menangani Pria ini."Sahut Seno, dengan nada berbisik.


"Baik pak!"


"Cepat! Pergi, kenapa kalian malah diam!"bentak Pria tadi.


Dan Seno kembali membujuk pria itu agar bersedia mengijinkan dokter masuk.


Ardi yang posisinya ada di belakang Seno, tidak tinggal diam, dia ingin menghubungi polisi, karena inilah satu-satunya jalan yang Ardi rasa sengat evektif.


Namun, di saat Ardi mengeluarkan ponselnya dan belum sempat dia melakukan panggilan salah satu Pria yang sedang bernegosiasi dengan Seno, melemparkan sebuah kayu, dan kayu itu tepat mengenai tangan Ardi yang sedang menggenggam ponselnya.


Semua tertuju pada Ardi yang tangannya terluka karena hantaman dari kayu besar yang di lemparkan ke tangannya. Dan dengan cepat Rana mengambil alih ponsel Ardi yang terjatuh, karena ia ingin melanjutkan apa yang Ardi lakukan.


"Jika kau berani melakukannya, saya tidak akan segan-segan untuk mematahkan tanganmu!"sentak Seno, saat ia melihat pria berewokan itu ingin melakukan apa yang baru saja mereka lakukan pada Ardi, dan kali ini, sasaran mereka Rana.


Melihat kemarahan Seno, pria itu menahan gerakannya yang ingin melukai Rana. Dan Seno pun menghilang pandangan Pria itu dari Rana.


**


Di rasa sudah tidak bisa menggunakan cara halus. Seno memberi isyarat pada dua rekannya untuk bertindak sesuai apa yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.


"Pak, kami tidak mau ada kekerasan di sini, kami hanya ingin memastikan jika kalian dalam keadaan baik-baik saja. Tapi kenapa kalian malah melukai dokter kami?"Ucap Rana yang mengalihkan fokus kedua orang itu.

__ADS_1


"Kami tidak butuh di perhatikan dengan orang-orang munafik seperti kalian, saya tau apa yang harus saya lakukan untuk keluarga saya!"Marah pria itu.


"Saya mengerti, Anda pasti akan melakukan yang terbaik untuk keluarga Anda, tapi ijinkan kami membantu. Cuaca saat ini sedang tidak stabil, BMKG pun meminta penduduk untuk mengungsi ke tempat yang aman."


"Benar, bagaimana jika banjir susulan datang dan merendam rumah Anda, semua keluarga Anda pasti dalam bahaya."Sahut Windy, mendukung ucapan Rana.


Namun seperti apapun Rana dan Windy membujuk, kedua pria itu tetap tidak mau mendengarkannya.


Dan di saat kedua Pria itu lengah kerena fokusnya di alihkan Rana dan Windy.


Seno, dan dua rekannya serta Ardi. Bergerak menyergap dua Pria itu.


"Apa yang kalian lakukan! Apa kalian cari mati! Cepat lepaskan!"marah pria itu dengan memberontak sekuat tenaga, namun karena ada dua Pria yang menahannya, hingga iapun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sakiiiiiiit!"


dan di saat yang bersamaan, mereka mendengar suara teriakan wanita dari dalam rumah. Dan dengan gerakan cepat, Windy serta Rana berlari masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan di dalam sana.


"Jangan berani menginjakkan kaki kalian di rumah saya!"teriak pria yang sedang ditahan oleh Seno dan Ardi.


Namun, rintangan kembali terjadi karena disaat Rana dan Windy baru menginjakkan kaki di pintu, seorang wanita paruh baya dengan mata setajam silet menghadang mereka berdua.


"Mau apa kalian!"bentaknya pada Windy dan Rana.


"Tidak!"bentak wanita tua itu.


"Sakiiiiiiit! Tolong perutku sakit..!"teriakan kembali terdengar dari dalam rumah dan karena sudah tidak bisa lagi menunggu Rana menarik wanita tua itu dan menyuruh dokter Windy masuk ke dalam.


"Kau yakin Rana?"tanya Windy, yang melihat Rana cukup kesusahan menahan wanita tua namun terlihat masih kekar itu.


Rana mengaguk.


"Cepat! Masuklah!"


Windy, yang seorang diri masuk ke dalam rumah dan dia melihat wanita yang tengah hamil besar tergeletak di lantai yang beralaskan tikar lusuh sambil memegangi perut dan merintih kesakitan.


"Tenanglah!"Windy segera menenangkan wanita yang merintih kesakitan itu.


"Tolong! Perut saya sakit!"rintih wanita itu.


Dan Windy segera melakukan pemeriksaan.


**


Sementara di luar, Seno dan Ardi berhasil menaklukkan pria yang memiliki tenaga sangat kuat itu dengan cara mengikatnya.

__ADS_1


Sementara kedua rekan Seno kewalahan karena pria yang mereka tahan benar-benar seperti Samson. Pria itu berhasil melepaskan diri, dan dengan cara membabi buta pria itu menyerang kedua rekan Seno sampai membuatnya terluka.


BUG! dengan kuat, Seno memukul pria itu dari belakang sampai membuatnya tersungkur.


Dan dengan cepat, mereka kembali menyergap pria itu dan mengikatnya seperti pria sebelumnya.


Setelah kedua pria itu bisa diamankan mereka beralih tempat, masuk ke dalam rumah dan kedua tim SAR rekan Seno menahan wanita tua yang sebelumnya ditahan oleh Rana.


"Apa kau sudah menghubungi polisi?"tanya Ardi pada Seno yang tengah memperhatikannya memeriksa lansia yang sudah sangat lemah di sana.


"Sudah, polisi akan segera datang!"


"Bagus, tapi sepertinya kita harus segera membawa kedua orang tua ini ke rumah sakit karena mereka sudah sangat lemah."Ucap Ardi.


Seno mengangguk dan ia pun kembali menghubungi seseorang yang ada di pengungsian untuk mengirimkan bantuan agar bisa membawa kedua lansia itu ke rumah sakit secepat mungkin.


"Dokter, Windy! Bisa tolong aku memeriksa lansia yang ada di dalam kamar?"pinta Ardi.


"Tentu!"


Windy bergegas masuk kedalam kamar, dan Rana yang mengambil alih wanita hamil yang sudah bisa tenang.


"Kenapa perut saya sakit lagi!"ucap wanita itu sambil memegang kuat lengan Rana.


Rana melihat ada cairan yang mengalir dari kedua sela paha wanita itu.


"Sayang! dia kenapa?"tanya Seno yang menghampiri Rana.


"Mas, sepertinya ibu ini mau melahirkan!"


"Apa! Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Tolong panggil dokter Ardi Mas."


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2