4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Memberi Pengertian Pada Sarah


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØšŸ


"Tapi Kak Sarah sangat membenciku atas kejadian itu, tapi aku menyadari kebenciannya karena itu memang salahku yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Wisnu."


"Mas, kita bisa bicarakan ini perlahan kepada Kak Sarah, jika kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu aku yakin Kak Sarah pasti akan mengerti dan mengikhlaskan semuanya."


Seno mengangguk, dan ia pun akan segera meluruskan kesalahpahaman ini dan meminta maaf secara langsung kepada Sarah dan Bima karena dia gagal menyelamatkan Wisnu saat itu.


****


****


*****


"Mas, kau belum siap? Bukankah hari ini kau sudah mulai bekerja kembali?"tanya Rana heran, melihat Seno keluar dari kamar dengan penampilan yang kucel bahkan masih mengenakan pakaian tidur. Padahal ini sudah jm 07:00 pagi, biasanya Seorang Senopati di jam seperti ini sudah rapih dan siap berangkat bekerja.


Seno berjalan secara perlahan menghampiri Rana yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Lalu ia langsung memeluknya.


"Ada apa Mas?"


"Aku merasa tidak layak untuk melakukan pekerjaan ini,"sahut Seno yang masih memeluk Rana.


"Apa karena karena kak kejadian itu?"


Seno mengangguk.


"Mas, kamu sendiri yakin jika itu bukan kemauanmu. Tapi itu satu-satunya pilihan yang harus kau ambil saat itu, tapi kenapa kau malah merasa bersalah seperti ini. Jika kau seperti ini terus-terusan, itu akan semakin membuat kak Sarah membencimu karena dia akan tetep mengira kaulah penyebab Almarhum Mas Wisnu meninggal. Mari kita bertemu Kak Sarah dan Mas Bima. Kita jelaskan semua pada mereka."Kata Rana.


Seno mengangguk, dan dia pun bersiap untuk menuju ke rumah Bima dan Sarah. Dia harus segera meminta maaf pada Sarah agar wanita itu tidak terus-terusan membencinya.


Bukan hanya merasa bersalah pada Sarah dan Bima, Seno juga merasa bersalah pada Dino. Bocah malang itu harus kehilangan papahnya di saat dia belum merasakan pelukan dan melihat wajah papahnya.


šŸāœØ


Di tempat lain.


Dika yang baru beberapa detik lalu mendapat pesan dari Seno, jika hari ini Ketuanya itu kembali libur, merasa kesal karena dia harus kembali menggantikan Seno untuk sementara di tambah lagi hari ini ada latihan khusus pasti akan memakan waktu lama.


"Aah.. ini tanda-tanda akan gagal kembali, gagal rencanaku mengajak makan malam Aurel, karena latihan membutuhkan waktu seharian bahkan sampai malam. Aaah... Seno, kenapa kau tidak sedikitpun membantu sahabatmu yang baik dan Soleh ini,"keluh Dika dengan berteriak, karena dia akan gagal pergi makan malam bersama Aurel, yang sudah lama Dika rencanakan dan susah payah ia membujuk gadis itu dengan berbagai cara dan alasan. Hingga Aurel pun bersedia, tapi Aurel meminta makan malam di jam :19:00. Tapi, latihan Baru akan selesai dia jam 21:00.


"Dika! kenapa berteriak seperti itu! Suaramu sungguh jauh lebih mengganggu dari suara tokek."Ujar rekanya, yang merasa terganggu dengan keluhan dan teriakan Dika, di saat mereka sedang bersiap-siap untuk melakukan latihan.


"Ini semua karena Ketua mu itu, dia kembali tidak bekerja tanpa memberi alasan yang jelas yang bisa aku terima secara lahir dan batin, padahal baru tadi sore dia bilang akan bekerja kembali."Crocos Dika, dengan menggebu-gebu.


"Maksudmu, Pak Seno?"


"Siapa lagi? Cuma itukan Ketua mu."Sahut Dika semakin kesal.


"Pak Seno, ketua mu juga, jangan bicara sembarangan padanya."


"Kau membelanya?"


"Tidak, aku hanya menyampaikan fakta yang sebenarnya kalau Pak Seno juga ketua mu, jadi kau sungguh tidak pantas memakinya seperti itu."


"Tapi aku sungguh sangat kesal dengan lelaki itu, dan dia memang pantas di maki,"sahut Dika.


"Jika kau ingin memaki Pak Seno, lakukan saja di depannya secara langsung apa kau berani?"tantang salah satu rekannya.


Dika terkekeh mendengar tantangan dari temannya.


"Haha.. Apa kau meremehkan aku?"


"Jadi, kau berani tidak?"

__ADS_1


Dika segera bangun dari duduknya, dengan berdiri tegak dan penuh percaya diri.


"Tentu saja!"ucapnya dengan sangat yakin.


"Jadi kau benar-benar berani, memaki Pak Seno di hadapannya secara langsung?"


"Tentu saja. Tidak!"


sahut Dika, dengan nada suara yang ia turunkan. Tidak seperti tadi penuh dengan semangat.


Hahaha.


Hahaha....


Mereka semua terbahak-bahak.


"Melihat dari ekspresimu yang begitu semangat, aku pikir kau berani ingin memaki Pak Seno di depannya secara langsung, tapi ternyata, tidak. Hahaha..."Ledek temannya.


"Aku bukan tidak berani, tapi aku hanya belum siap jika harus dipindahkan tugas, atau pensiun dini. Sudahlah tidak usah membahas itu, lebih baik kalian segera ke lapangan untuk latihan, biarkan aku yang berkorban menggagalkan kencan pertamaku dengan Aurel."


"Haha.. Kau jangan ngambek seperti ini dong,"temannya kembali meledek. Sambil cekikikan.


"Tapi tunggu, berkencan? Apa kau benar-benar sudah berkencan dengan gadis yang bernama Aurel itu?"


"Tentu saja! Apa kalian tidak percaya?"kesal Dika.


"Tentu saja kami tidak percaya, mana mungkin dengan segampang itu gadis yang bernama Aurel menerimamu, sedangkan sudah ada ratusan kali kau di tolak gadis."


Dika menajamkan matanya, menatap semua teman-temannya.


"Ah, tidak-tidak. Aku hanya bercanda Dika, kau jangan serius seperti ini. Ayolah! Jangan melotot seperti itu, nanti matamu bisa katarak. Hehe.,"ujar temannya, yang sudah menyadari jika kali ini Dika sedang tidak bisa di ajak bergurau.


"Benar Dika, lain kali kamu bisa berkencan dengan kekasih barumu itu, bersabarlah."Sahut salah satu teman.


Dika tidak menggubris, masih dengan melebarkan kedua matanya, Dika melewati teman-temannya yang melihatnya sambil menebar senyum perdamaian.


"Tapi aku tidak yakin jika Dika dan gadis itu berkencan, dia sensitif seperti ini mungkin karena hal lain."


"Kalau Ibuku sensitif dan mudah tersinggung seperti ini, biasanya ibuku sedang menstruasi."


"Kenapa disamakan dengan Ibumu, tidak mungkinkan jika Dika menstruasi."


Hahaha...


Hahaha..


"Apa kalian pikir aku tidak mendengar ledekan kalian?"Ujar Dika sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Ah, kau mendengarnya, padahal kau sudah lumayan jauh. Tapi kami dapat ilmu ini darimu, Dika. Jadi kau jangan marah."Sahut temanya.


"SUDAH CEPAT LATIHAN! APA KALIAN MAU SAYA REKOMENDASIKAN, AGAR KALIAN PENSIUN LEBIH CEPAT!"teriak Dika dengan suara menggelegar.


"Tidak! kami siap untuk latihan!"sahut mereka secara bersamaan. Dengan badan tegap dan patuh.


"Bagus! kalau begitu cepat menuju ke lapangan."


Semua mengangguk dan mereka secara bersama-sama berlari menuju tempat, dimana biasa melakukan latihan fisik, dan ketanggapan.


"Kenapa dia bersikap seperti Pak Seno,"keluh temannya berbisik kepadada rekannya.


"Sudah biarkan saja, mungkin dia benar-benar sedang menstruasi."


"Benar juga ya."


Mereka kembali terkekeh. Namun tidak sampai terdengar Dika.

__ADS_1


Sementara Dika berjalan dengan santai, sambil memikirkan cara agar Aurel mau di ajak makan malam di jam 21: 30.


āœØšŸšŸšŸāœØ


Di kediaman Bima.


Seno tengah duduk dengan wajah penuh penyesalan, ia baru saja menceritakan kejadian yang sebenarnya atas kecelakaan 7 tahun yang lalu pada Bima dan Sarah.


"Seno, aku sudah mengikhlaskan kejadian yang merenggut nyawa Wisnu, begitu juga dengan orang tua kami. Karena itu memang sudah menjadi takdir Wisnu, dan kami juga masih sangat bersyukur karena Sarah, Dino serta puluhan anak-anak di sana masih dapat diselamatkan. Aku yakin Wisnu pasti ikhlas dan tenang di sana. Dan aku juga tidak pernah menyalahkan mu atas meninggalnya Wisnu, karena jika aku ada posisimu sudah pasti aku akan melakukan hal yang sama."Ujar Bima dengan bijak, karena Bima memang tidak pernah menyalahkan siapapun apalagi Seno atas meninggalnya Wisnu sang adik, di saat Sarah menceritakan kalau Seno lah penyebab Wisnu meninggal dia tetap tidak menyalakan Seno sedikitpun.


"Terima kasih Mas Bima. Sekali lagi aku minta maaf, atas ketidak berdayakan ku saat itu."


"Sudah lupakan itu semua, kita kirim doa untuk Wisnu agar dia mendapatkan tempat terbaik di sana."


Berbeda dengan Bima, Sarah sepertinya masih belum bisa menerima fakta yang sebenarnya. Namun dia masih bisa menahan emosi untuk tidak memaki atau menggunjing Seno.


"Aku permisi, ke kamar."Kata Sarah, dan dia langsung berlalu tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Seno, maafkan Sarah. Dia memang sangat mencintai Wisnu, hingga sampai saat inipun Sarah masih belum melupakan mendiang Wisnu. Mungkin saat ini dia hanya terkejut, pelan-pelan aku akan bicara padanya,"ujar Bima.


"Benar Mas, aku akan bicara pada Kak Sarah, aku yakin dia pasti mengerti posisimu saat itu."Sahut Rana. Dan iapun ikut bangun menyusul Sarah ke kamarnya.


***


Tok.


Tok.


"Kak Sarah, boleh aku masuk!"panggil Rana.


Tidak ada sahutan dari dalam, Rana memutuskan untuk masuk saja.


Rana melihat Sarah sedang menatap ke arah jendela.


"Kak Sarah, kau baik-baik saja."


Sarah hanya diam tidak menyahuti ucapan Rana.


Rana berjalan semakin mendekati Sarah dan ia mulai memberi pengertian kepada Sarah.


"Kak, seandainya kak Sarah yang ada di posisi Mas Seno saat itu. Apa yang akan kak Sarah lakukan? aku sangat yakin kalau Kak Sarah akan melakukan hal yang sama. Keselamatan orang lain adalah hal yang utama bagi Mas Seno begitu juga dengan rekan-rekannya, malah terkadang mereka mengabaikan keselamatan sendiri demi orang lain, tapi para Tim Penyelamat hanyalah manusia biasa. Mereka hanya bisa berusaha semampu mereka dan tetap Tuhan yang berkehendak atas segalanya. Begitu juga dengan kepergian Mas Wisnu, itu semua sudah kehendak Tuhan tidak ada yang bisa menghalangi dan merubah takdir seseorang."


Sarah langsung memeluk Rana.


"Maaf, maafkan kakak Rana. Kakak tidak tau harus dengan cara apa agar kakak bisa mengikhlaskan kepergian dan melupakan mendingan Mas Wisnu. Hingga aku selalu membenci setiap apapun yang berkaitan dengan meninggalnya Mas Wisnu. Termasuk membenci Seno. Aku membenci Seno karena aku belum bisa merelakan kepergian Mas Wisnu."


"Kak, kami tidak pernah memintamu untuk melupakan Mas Wisnu, tapi kami hanya meminta ka Sarah untuk mengikhlaskan kepergiannya agar Mas Wisnu tenang di sana, orang sebaik Mas Wisnu memang tidak seharusnya untuk dilupakan, tapi kita harus mengikhlaskan dia mendahului kita. Lihatlah Mas Bima, selama bertahun-tahun dengan sabar dan penuh ketulusan Mas Bima menyayangi Kak Sarah dan Dino, dia menyayangi kalian lebih dari apapun. Dan sekarang, Kak Sarah sudah memiliki Putra bersama Mas Bima. Cobalah untuk melihat Mas Bima dan mulailah semuanya dari awal dengan selalu menjaga perasaan Mas Bima yang sudah sangat tulus menyayangi kak Sarah dan Dino. Bukan cuma Kak Sarah yang merasa sangat kehilangan, Mas Bima juga merasakan hal yang sama tapi dia tetap mencoba mengikhlaskan semuanya demi memenuhi tanggung jawabnya kepada Dino. Satu hal yang harus kak Sarah tau, Mas Bima sangat mencintai dan menyayangi kak Sarah."


Sarah terdiam.


kata-kata Rana seperti menyentak hati Sarah, selama ini dia memang tidak pernah melihat Bima, dia hanya menganggap Bima sebagai suaminya saja, tapi hati Sarah sepenuhnya milik Wisnu, segala sesuatu tentang Wisnu Sarah abadikan dan dia selalu menceritakan kehebatan Wisnu pada Bima dan Sarah pun selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintai Wisnu.


Tidak menutup kemungkinan bukan, jika Bima cemburu meskipun Wisnu adik kandungnya sendiri dan sudah berpulang.


Sarah mengurai pelukannya.


"Rana, apa selama ini aku egois?"tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Bersambung...


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2