4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Menyalahkan Seno


__ADS_3

Selamat. Membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØāœØšŸ


"Iya-iya. Ini aku sedang mengambilnya."Sahut Dika yang tidak kalah kesal.


Dan pada saat itu juga kedua lelaki ini mengerjakan apa yang harus mereka kerjakan, di hari yang sudah gelap dan di jalanan yang sangat sepi tanpa ada satu manusia pun yang melintas.


"Seno, kenapa kita seperti berada di dalam cerita horor?"Tanya Dika yang merasakan bulu kuduknya berdiri.


"Benarkah!"Sahut Seno tanpa melihat, karena dia sedang memasang Ban.


"Apa kamu tidak merasakan apa-apa?"


Seno menggeleng.


"Sepertinya kamu sudah mati rasa Sen, mungkin ini efek dari koma yang pernah kamu alami."


"Kamu ini bicara apa? Cepat bantu aku?"geram Seno.


Dika mengangguk dan segera membantu Seno. Namun pandangannya terus mengarah pada pepohonan yang tinggi dan gelap. Dika semakin merinding ketika matanya masih ingin melihat ke arah sana. Padahal hatinya ingin mengabaikan.


"Seno, apa tidak terpikir olehmu jika ada sesuatu di pepohonan sana?"Tanya Dika, seraya menunjuk lokasi dengan ekor matanya.


"Tentu saja aku berfikir."


"Apa, apa yang ada dipikiran mu setelah melihat tempat yang menyeramkan itu?"Dika berantusias, namu dia sedang ketakutan luar biasa.


Seno menyunggingkan senyum jahat, lalu dia menjawab


"Mungkin saja di sana ada hewan buas, atau makhluk halus yang sangat menyeramkan. Tanpa hidung, telinga, mata, wajah tangan dan kaki. Atau mungkin tampa kepala. Yang bergentayangan mencari kepala manusia untuk dia gunakan."Seno mengatakan ini sambil menahan tawa di hatinya, dia sangat tau jika Dika sangat penakut dalam hal yang begini. Hanya dengan melakukan teknik seperti menakut-nakuti anak kecil. Dika pasti pontang-panting.


Wajah Dika sudah di banjiri dengan keringat sebesar biji salak.


Sedangkan Seno semakin menjadi-jadi menakut-nakuti Dika.


"Bukan hanya mengambil kepala, tapi makhluk itu akan mengambil....!"


"Tidak! Cukup Seno, tolong jangan lanjutkan."Potong Dika.


Seno semakin terkekeh dalam hatinya.


"Dika! Lihat apa yang ada di belakang mu!"teriak Seno.


Karena terkejut dan ketakutan setengah mati. Reflek Dika memeluk Seno. Dia memeluk dengan sangat erat seperti meminta perlindungan pada temannya itu.


"Apa yang kamu lakukan Dika, cepat jauhkan dirimu dari tubuhku."


"Tidak, Seno. Tolong lindungi aku, bukan cuma ada apa di belakang ku, tapi aku juga seperti melihat ada sesuatu yang memperhatikan kepala ku di pepohonan itu. Mungkin saja itu makhluk yang baru saja kamu ceritakan. Dan dia mengincar kepala ku ini."


"Tapi jangan memeluk ku seperti ini."Geram Seno, yang mendorong kuat tubuh Dika. Namun semakin kuat juga Dika memeluknya.


Satu sisi mendorong dan satu sisi mempertahankan.


"Dika, cepat lepaskan! Jangan membuat ku marah!"


"Tidak Seno, tolong jangan lepaskan aku."Dika yang masih terus memeluk.


Hingga tidak mereka sadari ada sebuah kendaraan beroda dua yang melintas dan berhenti tepat di sisi mereka berdua.


Melihat cahaya dari lampu motor yang baru mereka sadari, Dika dan Seno diam tanpa bergerak, tapi masih dalam posisi berpelukan.


Seorang wanita yang sudah cukup umur, yang ada di jok belakang motor itu menatap tajam Dika dan Seno.


"Jaman memang sudah gila, apa di dunia ini sudah kehabisan wanita. Hingga mereka sampai beradu sesama jenis."Umpat wanita itu.


Dika dan Seno membelalakkan matanya.


Dan ibu itu kembali mengumpat Seno dan Dika.


"Hei. Jika kalian ingin berbuat mesum jangan di sini, apa kalian tidak takut jika di kutuk oleh penghuni tempat ini. Setidaknya modal sedikit dengan menyewa hotel."


Seno mengerutkan dahinya.


Begitu juga Dika , yang menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Kenapa dia marah?"tanya Dika pada Seno.


"Entah!"


"Apa dia makhluk yang baru saja kamu ceritakan?"


"Sepertinya bukan, makhluk itu tidak bisa naek motor. Tapi..! Apa kau ingat apa yang baru saja dia katakan?"


Dika sedikit berfikir, dan sambil otaknya bekerja mulutnya berucap.


"Adu sesama jenis? Mesum?"


Dua lelaki ini saling pandang. Dan seketika mereka menyadari posisi yang sangat memalukan itu sampai membuat orang salah paham.


Dengan sangat kuat mereka saling mendorong hingga sama-sama terjengkang kebelakang.


"Dikaaa...!"geram Seno, sambil mengusap-usap badannya yang tadi di peluk Dika.


"Senooo..!"Dika tidak kalah geram.


"Dasar, sudah ketahuan saja, malu-malu seperti ini. Coba kalau tidak tertangkap basah, pasti sudah semakin jauh."Si Ibu yang tiba-tiba muncul itu kembali menghujat. Meskipun pria yang membonceng nya meminta untuk berhenti dan meninggalkan mereka berdua.


Dika yang kesal dan malu meminta ibu itu segera pergi.


"Tentu saja saya akan pergi, ingatlah untuk bertobat. Masih banyak wanita cantik di dunia ini."Ujar Wanita tua itu, dan dia pergi dari sana.


Meninggalkan Seno dan Dika yang saling menatap tajam. Seperti ingin berperang.


**


Dan baru saja kendaraan roda dua itu berlalu, sebuah mobil menepi.


Dika dan Seno memperhatikan siapa yang ada di dalam mobi yang sudah membuka pintu, akan turun.


"Seno!"


Dan orang itu mengenali Seno, karena dia adalah Windy. Yang kebetulan melintas di jalan tersebut.


šŸāœØāœØšŸ


Rana mengusap air matanya yang sudah tidak terbendung lagi, tapi dia tidak menangis.


"Aku sungguh tidak apa-apa jika itu terjadi padaku Rel, tapi kenapa harus pada orang tuaku?"


Aurel memeluk Rana.


"Aku sangat mengerti perasaan mu, bersabarlah. Jangan bersedih atau menangis. Karena itu akan semakin membuat orang tuamu terluka."


Rana mengangguk. Dan di menguraikan pelukan Aurel.


"Aku ingin melihat ibu."Ucapnya dan segera berlalu, masuk kedalam.


"Tante Aurel, kenapa Tante Rana menangis. Apa Tante Rana juga sedih karena orang Jahat itu?"tanya Dino.


"Tante mu tidak apa-apa. Sekarang ayo masuk kedalam."Ajak Aurel.


****


Melihat ibu dan ayahnya berbaring di atas ranjang dengan mata yang terpejam, Rana merasakan begitu sakit di hatinya. Rana tahu jika saat ini ibunya tengah berpura-pura tertidur.


Rana mendudukkan dirinya di lantai lalu menyandarkan kepala di kaki Ibunya.


"Maafkan aku Bu."Ujar Rana sedikit terisak.


Kartika yang sudah tidak lagi bisa berpura-pura, mengangkat tangannya lalu mengelus kepala Rana.


Dan ini semakin membuat Rana sedih.


"Aku minta maaf Bu."


Kartika bangun dari baringnya begitu juga dengan Ridwan. Kedua orang tua ini sama-sama bersandar di ranjang.


"Untuk apa kau meminta maaf Nak, kamu tidak salah."


Rana mengangkat wajahnya lalu menatap Kartika.

__ADS_1


"Jika bukan karena aku, tidak mungkin wanita itu datang dan menyakiti hati ibu."


"Ibu tidak sakit hati, karena ibu tahu seperti apa Putri ibu, semua yang dikatakan wanita itu tidaklah benar dia hanya bisa menilaimu dari luar saja tanpa bisa melihat keseluruhannya. Untuk apa ibu sakit hati dengan ucapan yang sama sekali tidak benar, jangan pikirkan apapun lagi dan jangan pernah bersedih. Apa sebelum menemui Ibu Wanita itu menemuimu?"


Rana mengangguk.


Kartika menghela nafas, tanpa Rana cerita pun dia sudah bisa menebak apa saja yang Mayang katakan kepada putrinya.


"Bersabarlah nak jangan terpancing emosi dengan kata-kata yang tidak benar. Apalagi kau sampai bersedih memikirkannya, Ibu hanya ingin melihat kau bahagia."


"Iya Bu."


Kartika memeluk Rana.


"Ibu tau jika kau sama sekali tidak menyukai apalagi mencintai Vir. Itu benar kan?"


Rana mengangguk.


"Iya Bu."


"Tidak sulit untukmu menjauhi Vir."


****


"Aurel, apa kau mengenal wanita yang bernama Mayang?"tanya Sarah menghampiri Aurel yang berada di dalam kamar Rana. Dia baru saja mendengar cerita dari Dino, cerita sama apa yang anak itu katakan kepada Rana.


"Dia itu orang tua Vir."Sahut Aurel.


"Apa, orang tua Vir."


setelah mengetahui jika yang bernama mayang itu adalah orang tua Vir, Sarah keluar dari kamar adiknya dan memasuki kamar ibunya. Dia melihat ibunya tengah memeluk Rana dan mereka berdua menangis.


"Apa saja yang wanita itu lakukan kepada ibu?"tanya Sarah dengan nafas yang memburu. Dia juga merasa marah dan tidak terima setelah mendengar cerita dari Dino apa yang sudah dilakukan Mayang kepada ibunya.


"Sudah Sarah, tidak perlu dibahas lagi lupakanlah. Jangan memperbesar masalah ibu dan ayah tidak apa-apa."Sahut Ridwan.


"Ini semua karena Seno. Jika saja lelaki itu dulu melepaskan Raan dengan cepat, tentu tidak akan terjadi masalah seperti ini."Kata Sarah dengan berapi-api.


Rana menguraikan pelukannya dari Kartika lalu ia menatap ke arah Sarah.


"Kenapa Kak Sarah malah menyalahkan Mas Seno?"


"Tentu saja ini semua salah dia, kenapa? apa kau mau membela lelaki itu?"


Rana mendengus dengan kesal.


"Kak Sarah...!"


"Rana, sudah Nak. Tidak perlu di perpanjang."Cegah K


Ridwan, lalu ia beralih pada Sarah,"Sarah. Dengan sikap kamu yang seperti ini justru semakin memperkeruh keadaan. Sekarang, cepat kembali ke kamar kalian. Ayah tidak mau lagi mendengar kalian membahas soal ini. Lupakan!"Tegas Ridwan.


āœØšŸāœØ


"Ini sudah sangat malam, seharusnya kau terima saja tawaran dokter Windy tadi. Kita pasti sudah sampai di Rumah mertuamu. Lagi pula, ada si egois Wahyu di mobil itu. Tentu tidak maslahahkan."Ujar Dika yang mengeluhkan Seno, karena sudah menolak tawaran Windy yang menawarkan mereka berdua untuk ikut ke mobilnya.


"Kenapa tidak kau saja yang ikut dengannya?"


"Ya tidak bisa, mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian."


"Kalau begitu diamlah, 2 jam lagi kita akan sampai."


"Baiklah. Aku akan diam."


Bersambung..


šŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2