4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Usaha Ke Dua Seno


__ADS_3

Selamat. Membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Melihat senyuman yang menyeringai itu, Rana menjadi gemetar. Dan saat ini dia sudah tidak bisa lagi mundur karena terhalang lemari pakaian. Sedangkan Seno semakin maju mendekatinya.


"Mas, lebih baik kau sarapan dulu, ini sudah siang kau pasti lapar kan?"


"Iya, aku sangat lapar."Sahut Seno, yang masih menatap Rana dengan tatapan yang tidak biasa.


"Ka... Kalau... Begitu makanlah Mas, ajak juga Dika. Dia pasti lapar."Rana semakin gugup hingga membuat dia terbata-bata.


"Aku memang sangat lapar, tapi lapar ku ini tidak akan bisa di puaskan dengan sarapan."


Saat ini Seno sudah berdiri tepat di hadapan Rana yang tengah bersandar di lemari.


"Terserah kau mau sarapan atau tidak. Tapi tolong keluarlah."Usir Rana, ia bicara sambil menunduk karena tidak berani menatap Seno.


Mendengar Rana mengusirnya, Seno memajukan wajahnya, untuk mendekatkan wajahnya di wajah Rana, karena tinggi badan kedua manusia ini sangat jauh berbeda, Seno harus membungkuk untuk melakukan itu. Lalu ia berbisik tepat di telinga Rana.


"Kenapa kau malah bertanya seperti itu? Apa kau tidak ingin bertanya, sarapan seperti apa yang aku inginkan?"


Seno berbisik, tapi seperti terdengar mendesah di telinga Rana. Dan diapun meniup telinga Rana sampai membuat wanita itu merinding merasakan hembusan nafasnya.


Seno menggerakkan tangannya untuk mengangkat wajah Rana yang masih tertunduk.


"Tetaplah aku, kenapa kau malah memandang sesuatu yang tidak menarik selagi ada aku di hadapanmu."


Rana mendongak karena Seno mengangkat dagunya.


Tetapan mereka bertemu dan sama-sama saling menatap kedua bola mata. Jantung Rana sudah seperti akan loncat karena tatap Seno yang begitu lembut dan dalam, mampu memasuki setiap ruang yang ada di hatinya. Mulutnya terkunci tidak dapat berkata-kata.


***


Sementara di luar, Sarah dan Bima beserta orang tuanya baru kembali dari rumah sakit.


"Ayah istirahatlah, biar aku antar ke kamar."Ujar Bima dan langsung menuntun Ridwan menuju kamarnya.


"Apa mereka masih tidur?"tanya Ridwan di saat ia melihat Dika masih tak bergerak di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya bahkan sampai wajah.


"Mungkin mereka lelah Yah, hingga belum bisa bangun."Sahut Bima. Dan kembali menuntun Ridwan sampai kamarnya.


*


"Sarah?"


"Iya Bu."Sahut Sarah yang tengah menggendong bayinya.


"Apa kau merasa ada yang hilang di taman ini? Bunga-bunga di sini nyaris habis. Padahal kemarin sore masih nampak lebat di saat ibu dan ayah menyiramnya."Tanya Kartika. Yang baru menyadari ada sesuatu yang hilang di taman miliknya.


"Mungkin sebagian sudah layu atau gugur Bu. Nanti juga tumbuh lagi. Sudah ibu jangan pikirkan itu, lebih baik ibu istirahat sambil menemani Ayah."


Kartika mengangguk dan untuk sementara waktu dia melupakan tamannya yang nampak gundul.


"Oya bu. Sore nanti aku harus pulang, karena Mas Bima harus bekerja."


"Iya. Ibu mengerti."

__ADS_1


Sarah pun menuntun Kartika masuk ke dalam rumah.


Suasana sepi membuat Kartika dan Sarah bertanya-tanya. Kemana penghuni yang tersisa di rumah ini.


"Apa Rana sudah pergi ke posko? Kenapa sepi?"


"Sepertinya belum Bu, Rana kan ke posko bersama Aurel dan sekarang Aurel belum kembali dari pasar. Mungkin Rana ada di dalam kamarnya. Apa mau aku panggilkan?"


"Tidak perlu, biarkan dia istirahat."


"Baiklah, sekarang ibu istirahat. Aku mau pergi sebentar bersama Mas Bima."Ujar Sarah setelah ia membawa masuk Kartika ke dalam kamar.


"Kau mau kemana?"Sahut Ridwan.


"Ada urusan sebentar, tapi tidak lama. Aku akan segera pulang. Aku titip Dino ya Bu, Yah."


"Iya, berhati-hatilah."Sahut Kartika.


Setelah berpamitan, Sarah dan Bima kembali pergi meninggalkan rumah.


Dan kedua orang tua mereka masih belum menyadari apa yang sedang terjadi di kamar Putri bungsunya.


****


Kembali pada Rana dan Seno.


Melihat rambut sang istri yang tergerai dan masih basah serta acak-acakan, membuat Seno semakin tertarik. Dengan mata yang tidak berkedip sekalipun.


Rana yang semakin merasa tidak karuan di hatinya, memilih untuk menghindari. Ya, dia harus menghindar sebelum terjadi sesuatu di kamar itu.


GREB!


Dengan cepat, Seno menangkap tangan Rana.


"Mas, lepas!"


Seno semakin menyeringai. Dan lelaki itu malah memegang handuk yang tadi Rana gunakan untuk menutupi pundaknya.


"Apa yang kau lakukan, Mas!"Rana kembali menahan tangan Seno, dan lagi-lagi Seno menahannya. Bukan hanya menahan tapi lelaki itu meletakan kedua tangan Rana di atas kepala istrinya yang bersandar di lemari. Dengan satu tangan, Seno gunakan untuk menahannya.


PULUK!


Handuk yang menutupi pundak Rana terjatuh di lantai begitu saja, karena Seno menariknya.


Wajah Rana mulai memerah dengan dafas yang naik turun tapi berusaha ia tahan.


Seno kembali mendekatkan wajahnya di wajah Rana hingga hanya berjarak beberapa centimeter saja.


Tentu ini bukan yang pertama kali untuk Rana di dekati Seno. Bahkan merekapun tentu sudah pernah melakukan sesuatu yang sering di lakukan pasangan suami-istri. Tapi kali ini dada Rana bergemuruh lebih hebat dari 6 tahun yang lalu di saat Seno pertama kali menyentuhnya.


Tatapan Seno, itu yang membuat Rana merasa berdebar jauh lebih hebat. Karena lelaki itu menatapnya dengan cara berbeda dari 6 tahun yang lalu. Begitu juga dengan Seno, dia yang kaku dan tidak pernah menatap wajah dan mata Rana, merasakan sesuatu yang bergetar di hatinya. Bahkan degup jantung Seno jauh lebih cepat dari pada Rana. Ia seperti ingin meledak karena sebenarnya Seno gugup setengah mati.


Tapi menurut ajaran yang dia peroleh dari Dika. Lelaki harus terlihat Cool, lebih dominan, agresif, dengan tatapan mata yang penuh gairah cinta ketika menatap pasangannya.


"Mas, cukup! Tolong hentikan!"Pinta Rana.


"Kenapa? Aku suamimu. Aku berhak melihat apapun yang ada di tubuhmu ini."Sahut Seno dengan menyunggingkan senyum di kedua sudut bibirnya, berharap Rana terpesona dengan senyuman itu.

__ADS_1


Namun salah, karena Seno tersenyum dengan kaku dan gemetar. Rana malah melihat seperti orang cabul.


Sejak kapan Mas Seno bertingkah seperti ini?


Dulu dia tidak pernah seperti ini?


Dia lebih terlihat seperti orang mesum."


Pikir Rana.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau terkesima denganku?"tanya Seno percaya diri, melihat Rana yang diam dan menatapnya dengan lekat.


"Mas, lepas mas. Ini sudah siang, aku harus pergi."Rana memberontak.


"Mau kemana? Ada suamimu di rumah, kau malah mau pergi."Seno semakin menahan tangan Rana. Bahkan dia juga semakin memajukan badannya hingga tidak berjarak. Jakunnya naik turun ketika melihat pundak dan dada putih mulus Rana.


"Kau sudah tidak datang bulan kan?"tanya Seno.


Rana mendongak dan dia juga terkejut dengan pertanyaan itu.


"Aku...Aku, ma...!"


CUP!


Seno mengecup bibir Rana yang tiba-tiba gagu. Lalu berkata.


"Aku sudah tidak menerima alasan itu, karena ini sudah hampir satu Minggu."Katanya dan langsung mencium seluruh wajah Rana.


**


"Mas, jangan!"


Kaget Rana. Ketika Seno menyentuh handuk yang masih melilit tubuhnya, usai dia puas menciumi wajahnya.


Seno kembali memasang senyum cabul.


Dan sudah akan menarik handuk itu.


Wajah Rana pucat, tangannya masih di cengkram Seno. Dia tidak bisa berkutik.


Tok! Tok! Tok!


"Rana, apa kau di dalam? Kenapa pintunya di kunci?"


Teriak Aurel di luar kamar.


Bersambung...


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2