4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Ingin Nasi Goreng


__ADS_3

Selamat membaca šŸ¤—


šŸšŸšŸšŸ


Sepanjang malam Seno benar-benar tidak bisa memejamkan matanya, dia terus saja melotot menatap langit-langit kamar.


"Ah, apa aku masuk saja ke kamarnya ya. Aku tidak bisa tidur jika tidak sambil memeluknya, masa iya aku harus memeluk Ayah mertua, apa kata ibu mertuaku nanti?"gumam Seno dengan suara yang pelan.


Meskipun dia tersiksa karena tidak dapat memeluk istrinya malam ini Seno tetap menahan hasratnya, karena dia ingin memberikan ruang bagi Rana yang sedang bermanja-manja dengan ibunya.


"Ayo Seno pejamkan matamu, hitunglah anak domba yang ada di kepalamu saat ini dengan begitu kau akan segera tidur tanpa harus memikirkan hal yang lain."Gumamnya.


**


Sementara di kamar sebelah, tepatnya yang saat ini ditempati oleh Kartika dan Rana.


Setelah bercerita banyak tentang apa yang dialaminya kepada Kartika, namun Rana menceritakannya tidak dengan kesedihan meskipun diagnosa dokter sangat menyakitkan tapi Rana menceritakannya dengan penuh bahagia karena dia dikelilingi dengan orang-orang yang selalu mendukung dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Rana juga menceritakan tentang kebahagiaan Aurel yang menikah dengan Ardi serta duka yang di alami Dika pasca ditinggal Aurel menikah.


Entah angin apa yang berhembus malam ini sehingga Rana bersedia bercerita banyak pada ibunya padahal sejak anaknya ini tumbuh dewasa Rana tidak pernah menceritakan apapun kepada Kartika, terutama hal pribadi dan semua masalah yang sedang dia hadapi. Dan saat ini, Kartika seperti Flash back pada masa kecil Rana yang manja, dan selalu menceritakan setiap hal dan kejadian yang tengah menimpa dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.


Lelah karena bercerita panjang lebar, Rana sampai tidak sadar memejamkan matanya. Kartika mencium kepala putrinya lalu ia beranjak dari sana.


Kartika memasuki kamarnya yang saat ini ada Seno yang tengah berbaring sambil menggerakkan jari-jarinya, sepertinya dia masih menghitung domba-domba yang berkeliaran di kepalanya.


Ehem...


suara berdehem Kartika mengejutkan Seno dan dia langsung beranjak dari baringnya.


"Iya sayang!"kaget Seno yang tidak mengetahui jika yang masuk adalah Kartika, pikirannya sedang dipenuhi Rana hingga dia mengira jika yang berdehem dan masuk kamar adalah istrinya.


"Maaf Bu, aku kira tadi Rana yang masuk."Kata Seno, malu.


Kartika mengulas semua lalu ia pun meminta Seno untuk kembali ke kamarnya.


"Bagaimana dengan Rana, dia bilang ingin tidur bersama ibu?"


"Rana, sudah tidur dan ibu sangat yakin ketika dia terbangun nanti yang dia cari pasti dirimu, sekarang kembalilah ke kamar dan temani Rana tidur."Ujar Kartika.


Dengan semangat 45, Seno mengangguk dan langsung berjalan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


***


"Ternyata, takdir memang tidak akan pernah memisahkan kita walau hanya satu malam saja, sayang,"ujar Seno lalu ia menarik selimut dan merebahkan dirinya di samping Rana lalu memeluk istrinya itu dari belakang. Dan malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak dan tenang tanpa harus menghitung domba-domba terlebih dahulu.


****


Tiga hari sudah Seno dan Rana berada di Rumah Kartika dan Ridwan, dan selama 3 Hari inilah mereka berdua menikmati kebahagiaan dengan melakukan beberapa hal yang biasa Rana lakukan sewaktu kecil, berkeliling kampung main di ladang dan sebagainya. Wanita itu seperti tengah mengulangi masa kecilnya dan kali ini di temani laki-laki yang sangat mencintai dan menyayanginya dengan sangat tulus.


"Sayang, ini sudah sore sebaiknya kita segera kembali ke rumah dan kau juga tidak boleh terlalu lelah."Kata Seno, saat ini mereka sedang ada di bukit tidak jauh dari rumah, dan bukit ini sering di jadikan tempat untuk orang-orang yang ingin menikmati pemandangan sejuk di sana.


"Baik Mas."Dan dengan patuh, Rana menuruti kata suaminya untuk pulang ke Rumah.


***


"Rana, kapan kau datang? sudah lama bapak tidak melihatmu ke sini?"sapa seorang bapak-bapak yang tengah merapikan tempat jualannya, yaitu nasi goreng Bucin.


"Sudah tiga hari yang lalu Pak,"Sahut Rana dengan ramah.


"Oh, sudah lama ternyata tapi kenapa Bapak baru melihatmu. Oya, apa kau tidak ingin mencoba nasi goreng Bapak? padahal waktu kecil kau sangat menyukai nasi goreng ini bahkan kau setiap hari datang ke lapak Bapak."Ujar bapak itu, yang kembali mengingatkan masa kecil Rana.


Rana tersenyum.


"Iya pak, lain kali aku akan datang ke sini untuk mencoba nasi goreng spesial bapak yang enak ini."


Rana mengangguk dan dia pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju pulang.


***


Malam hari, tidak! Tepatnya dini hari. karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 02:00


Rana dan Seno baru saja menyelesaikan tugas wajib malam mereka. Masih bergulung dengan selimut tebal yang sama, Rana yang tengah menyandarkan kepalanya di dada Seno tiba-tiba berkata.


"Mas, aku lapar!"


"Lapar!"sahut Seno.


Rana mengangguk.


"Aku akan ambilkan makanan di dapur, kau tunggu di sini."Kata Seno.

__ADS_1


"Tapi Mas, aku tidak ingin makan makanan yang ada di dapur."


"Kau mau makan apa sayang?"tanya Seno sambil mengusap lembut rambut istrinya.


"Mas ingatkan, ketika kita jalan arah pulang dari bukit, lalu kita melewati lapak nasi goreng yang penjualnya itu menyapaku,"kata Rana.


Karena itu terjadi sore tadi, Seno langsung mengingatnya.


"Ingat, memangnya kenapa dengan Bapak nasi goreng itu?"Tanya Seno, masih dengan mengusap rambut Rana.


"Bukan Bapak penjual nasi gorengnya Mas, tapi aku ingin makan nasi goreng yang dijual Bapak itu."Sahut Rana.


"Baiklah! besok kita akan membeli nasi goreng itu."Timpal Seno, sambil mencium puncak kepala Rana.


"Mas, aku kan sudah bilang jika saat ini aku sedang lapar masa Mas mau membelikan nasi gorengnya besok?"protes Rana yang membuat Seno bingung karena tidak biasanya Rana bersikap seperti ini.


"Apa sekarang?"tanya Seno dengan was-was.


"Iya."Sahut Rana cepat.


"Tapi sayang, ini sudah jam 02.00 malam, apakah itu masih buka! bagaimana kalau aku saja yang membuatkan nasi goreng spesial untukmu?"tawar Seno, berharap jika istrinya itu lebih memilih nasi goreng buatannya daripada bapak-bapak yang mereka temui sore tadi.


"Tidak Mas, aku tetap ingin nasi goreng di sana, dan nasi goreng itu buka sampai pagi Mas. Jam segini belum tutup."


"Jadi benar sekarang!"Seno memastikan.


"Iya, apa Mas, tidak mau membelikan nya?"Rana memasang wajah sedih.


"Tentu saja mau!"sahut Seno cepat, secepat menghabiskan uang gaji bulanan.


Karena dia sudah melihat wajah cemberut istrinya, dan tidak mau jika wanita kesayangannya itu merajuk.


Bersambung...


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2