
Selamat, Membaca š¤
āØšššāØ
"Angker! Tapi itukan menurut mereka."Ujar Seno.
Lina sudah tidak mau berkata apapun lagi, dan dia meminta Rana untuk menjelaskan pada Seno tentang keangkeran dan cerita tragis dari Hutan tersebut.
***
"Bagaimana? Apa kau masih mau mengajak Rana ke sana?"tanya Lina. Di saat Seno terdiam setelah mendengar penjelasan dari Rana.
Seno menggeleng.
"Sayang sekali, tempat sebagus itu menjadi tempat angker."
"Kalau begitu, biar Ibu yang akan mencarikan tempat untuk kalian berbulan madu, dan ibu juga yang akan mempersiapkan semua keperluan kalian selama berada di sana."
"Ibu tidak perlu repot-repot, aku bisa melakukannya sendiri,"sahut Rana. Yang tidak ingin merepotkan ibu mertuanya.
"Tidak, sayang. Biar Ibu yang akan mempersiapkan semua, ibu sangat berharap setelah kalian berbulan madu, ibu akan mendapatkan kabar gembira."
Rana masih belum paham, kabar gembira yang Lina maksud. Tapi dia tidak mau mempertanyakan itu.
"Bagaimana dengan Ibu, jika aku dan Mas Seno pergi?"
"Tidak usah memikirkan Ibu. Seperti biasa, ibu dan kakek akan baik-baik saja di sini, kau hangan mengkhawatirkan dan memikirkan apapun selama di sana. Fokuslah pada bulan madu kalian dan nikmati semuanya,"ujar Lina dengan semangat.
Rana mengangguk.
"Iya Bu. Terima kasih."
"Sayang! Kita pergi ke sini saja,"ujar Seno dan kembali menunjuk sebuah foto pada istrinya. Sepertinya lelaki ini masih belum menyerah untuk mencari tempat bulan madunya sendiri.
Namun dengan cepat Lina, meliriknya.
"Seno, Rana sudah menyerahkan pemilihan tempat mana yang akan kalian kunjungi pada Ibu, jadi biar ibu saja yang mencarinya."
"Tapi, ibu selalu memilih tempat yang ramai aku tidak suka."
"Tempat ramai lebih aman Seno, dari pada tempat yang sepi dan sunyi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada kalian? Siapa yang akan menolong kalian jika kau memilih tempat yang terpencil?""
"Ibu jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa dengan ku dan Rana."
"Tidak! pokoknya ibu yang harus memilih tempat untuk kalian."
Ibu dan anak ini masih terus berdebat, Perkara tempat untuk bulan madu. Lina yang konsisten dengan pilihan tempat yang lebih mengutamakan keamanan dan bertema romantis, dan berada di lokasi strategis dan banyak pengunjung.
Sedangkan Seno, meminta untuk pergi ke tempat yang lebih sunyi. Bila perlu tidak ada orang sama sekali, agar tidak ada yang mengganggu bulan madunya.
Rana hanya bisa mengulas senyum, melihat Seno dan Lina yang berdebat seperti itu, karena yang Rana tangkap dari perdebatan mereka justru kebersamaan yang jarang terjadi antara Seno dan Lina. Seno yang terkenal Dingin dan kaku terkesan menjaga jarak pada ibunya, namun sesungguhnya Seno sangat menyayangi Lina. Dan saat ini Seno seperti tidak membatasi komunikasi dan kedekatannya dengan Lina.
Rana beranjak dari duduknya.
"Sayang. Kau mau kemana?"tanya Seno, seraya menyetuh lengan Rana.
"Ke dapur Mas, aku akan memasak untuk makan malam kita."
"Tidak Nak, biar ibu saja. Kau tidak boleh Lelah, karena besok kau akan berangkat dengan Seno,"cegah Lina.
__ADS_1
"Tidak apa Bu, biar aku saja. Ibu beristirahatlah di sini bersama Mas Seno,"sahut Rana yang tidak mau menghentikan diskusi antara Seno dan Lina.
"Kalau begitu, ibu yang akan membantumu."
"Tidak Bu, ibu tetep di sini, dan tolong pilihkan aku dan Mas Seno tempat yang bagus, aku sangat yakin jika pilihan ibu akan sesuai denganku."
"Tentu saja ibu akan pilihkan."Sahut, Lina berantusias, dan melupakan niatnya yang ingin pergi ke dapur.
"Aku bisa memilihnya sendiri sayang,"sahut Seno.
"Tidak! Ibu yang akan memilihnya."
Dan mereka berdua pun kembali fokus memilih tempat bulan madu, dengan sangat dramatis.
Sedangkan Rana melanjutkan niatnya yang ingin memasak menu untuk makan malam mereka.
***
"Meskipun banyak orang, mereka juga tidak akan menggangu mu Seno, sama sepertimu mereka juga ingin menikmati hari bahagia dengan pasangannya, tidak akan ada waktu dan tidak masuk akal jika mereka menggangu kebersamaan mu dan Rana."Ujar Lina.
"Tapi Bu?"
"Tidak ada tapi-tapian. Kau dan Rana harus pergi ketempat ini. Ibu yang akan memesan tiket pesawat untuk kalian berdua."Lina memberi keputusan final, dan Seno sudah tidak bisa bernegosiasi lagi, karena istrinya pun setuju dengan tempat yang di tunjuk Lina.
****
"Kalian menginap lah di sini,"pinta Lina, sesaat setelah mereka menghabiskan makan malam.
"Iya, kalian menginaplah di sini, jam berapa kalian berangkat?"timpal kakek Arif.
"Jam 10:00 pagi, Kek."
"Berhati-hatilah."
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 22:00.
"Ibu harus istirahat, ini sudah sangat malam. Tidak baik jika ibu tidur terlalu larut,"ujar Seno, yang mendapati Ibunya masih belum tidur dan berada di sofa ruang keluarga, tengah memandang layar ponselnya sambil senyum-senyum.
"Sebentar lagi Seno, lalu di mana Rana? Apa dia sudah tidur?"
"Belum, dia sedang mengemasi beberapa barang yang akan dibawa besok."
Lina langsung meletakkan ponselnya.
"Kenapa kau malah di sini? Cepat bantu Rana, jangan sampai dia kelelahan."
"Tidak Bu, aku yang menyelesaikan semua keperluan kami. Rana hanya mengemasi barang-barang pribadinya."
Lina terlihat lega, lalu dia meminta Seno untuk duduk di sebelahnya.
"Kau lihat ini Seno!" Lina menunjukkan Layar ponsel di wajah Seno.
Layar yang menunjukkan foto bayi mungil dengan pipi yang gembul.
"Bukankah ini sangat lucu?"tanya Lina.
Seno mengagguk.
__ADS_1
"Seno, apa kau tidak ingin mempunyai mahkluk lucu dan menggemaskan ini?"tanya Lina kembali.
Seno menatap Lina.
"Tentu saja mau,"sahut Seno. Lalu dia menundukkan wajahnya.
"Kau kenapa?"Tanya Lina seraya menyetuh rambut Seno.
Dan dengan penuh sesal, Seno menceritakan, kebodohan masalalunya yang meminta Rana untuk menunda kehamilan. Dan hal ini baru Lina ketahui karena dulu, Rana tidak pernah menceritakan soal ini padanya.
"Tolong jangan marah Bu, aku tau aku salah, aku mempunyai alasan tersendiri saat itu. Tapi sekarang aku menyesal dan karena kesalahanaku, aku takut jika Rana yang akan menolak untuk mempunyai anak dariku."Ujar Seno sambil mencium punggung tangan Lina.
Lina kembali mengusap rambut Seno.
"Ibu tidak akan Marah nak, ibu mengerti posisi Kamu saat itu, meskipun itu sangat di sayangkan tapi sudah tidak ada gunanya di sesalkan. Yang terpenting sekarang, kau sudah memperbaiki semuanya dan bertanggung jawab atas semuanya, bicaralah pelan-pelan pada Rana. Ibu sangat yaki jika Rana pun mengharapkan anak dari pernikahan kalian ini.
"Terima kasih Bu."Seno kembali mencium punggung tangan Lina.
***
"Sayang! Apa kau sudah selesai?"tanya Seno sesaat setelah dia masuk kedalam kamar.
"Sudah Mas, apa ibu Lina sudah tidur?"tanya Rana balik.
"Sudah."
Seno berjalan semakin mendekati istrinya, lalu dia memeluk Rana dari belakang.
"Sayang!"panggil Seno di teruskan dengan gumamannya yang hanya terdengar oleh telinga Rana.
"Mas, jangan begini,"Rana yang merasa geli karena Seno menggesek-gesekkan hidungnya di leher Rana. Namun lelaki itu malah semakin menjadi dengan mengigit lembut leher jenjang nan putih tersebut.
Seno membalikkan tubuh Rana, agar menghadap kearahnya, lelaki ini langsung mendaratkan beberapa kecupan lembut di seluruh wajah Rana dan setelah dia puas, Seno berkata.
"Kirana, aku sangat mencintaimu lebih dari apapun, dan aku sangat menyayangimu. Tolong lahirkan putra dan putri untukku."
Seno berucap dengan suara parau dan bergetar.
Rana mengusap wajah Seno lalu menciumnya.
Seno tersenyum.
"Apa ini artinya, kau bersedia melahirkan anak untukku?"
Rana mengangguk, seraya mengulas senyum.
Seno semakin tersenyum lebar, dan tanpa Ba Bi Bu Be Bo lagi, Seno mengangkat istrinya lalu dia baringkan ke atas ranjang.
"Terima kasih sayang, kita akan mulai produksi dengan rutin, dan itu dimulai dari malam ini."
Seno langsung menyerang, tanpa aba-aba dari lawan terlebih dahulu. Hingga terjadilah pertemuan panas penuh dengan erangan, lenguhan, teriakan. Dan cucuran keringat di kamar yang temaram itu.
Bersambung..
šāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya.