
Selamat, membaca š¤
šāØāØāØāØš
Windy mematung, dia seperti terkena Stroke mendadak hingga membuat sekujur tubuhnya tidak bisa bergerak.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan, apa yang sudah aku katakan pada Rana!"Batin Windy.
"Windy, aku mengerti apa yang kau alami 6 tahun yang lalu, aku sendiri mungkin tidak akan sekuat dirimu jika aku yang mengalami kejadian seperti itu. Tapi jangan jadikan musibah itu alasan untuk dirimu menjadi seperti ini. Sekali lagi aku ingatkan, aku akan tetap mempertahankan rumah tanggaku dengan cara apapun, aku baru akan menyerah jika Mas Seno sudah tidak lagi mencintaiku. Maka dari itu, temui lah Mas Seno katakan apa yang ingin kau katakan padanya dan mintalah dia untuk kembali padamu. Jangan pernah memohon padaku lagi, karena dengan cara apapun kau memohon, aku tidak akan pernah mengabulkannya."Kata Rana, pada Windy yang masih membisu.
"Apa yang kau lakukan pada Windy!"sentak seorang wanita yang menjadi rekan kerja Windy selama di sana. Dengan gerakan tergesa-gesa wanita itu menghampiri Rana dan Windy, "Kenapa kau menamparnya? Apa salah Windy sampai kau tega melakukan kekerasan padanya?"marah Wanita itu pada Rana, setelah dia melihat pipi Windy yang masih memerah.
"Kau tanyakan saja pada dokter Windy, kenapa aku sampai melakukan itu."Sahut Rana. Tidak ingin membuang-buang energi lagi, karena energi dan emosinya sudah terkuras oleh Windy, Rana pergi dari sana diiringi pandangan sinis dari orang yang menatap dirinya. Namun Rana tidak memperdulikan itu semua.
"Kau tidak apa-apa Windy! Wajahmu sampai merah seperti ini. Apa kau mengenal wanita itu? Dia sungguh jahat, sudah melukaimu seperti ini bukannya minta maaf tapi malah pergi seperti itu, seperti tidak mempunyai rasa bersalah."Umpat wanita yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.
"Aku tidak apa-apa. Ini hanya salah faham saja,"sahut Windy. Dan ia beranjak dari sana tanpa berniat memberi penjelasan apapun pada temannya.
Semoga dengan peristiwa ini, Windy bisa kembali ke jalan yang benar.
***
Keesokan harinya.
Seperti apa yang sudah di sepakati. Seno, Rana dan Windy akan pergi menuju rumah wanita hamil yang di bicarakan dokter Ivan. Tapi mereka tidak bertiga karena Dokter Ardi dan beberapa Tim penyelamat pun ikut serta terkecuali Dika yang harus menggantikan posisi Seno memimpin rekan-rekannya. Saat ini mereka sedang bersiap-siap.
"Kalian berhati-hatilah, Keluarga yang akan kalian evakuasi ini memiliki tempramen yang sangat buruk. Terutama Suami dan mertua dari wanita hamil itu. Mereka tidak akan segan-segan melukai siapapun yang mereka rasa menganggu keluarganya, di sana juga ada dua lansia yang dalam kondisi sakit,"ujar salah satu relawan yang sebelumnya di utus untuk mengevakuasi korban yang masih bertahan di rumahnya yang sudah sangat tidak aman itu. Namun gagal.
"Baik, kami akan berhati-hati."Sahut Seno.
"Kalau begitu saya permisi, selamat berjuang!"
Seno mengangguk
Dan secara bersamaan, Ardi datang.
"Ingat Seno, disini kita sedang bekerja. Jangan melakukan sesuatu hal yang membuat kita panas karena cemburu dengan kemesraan mu dan Rana. Tahanlah sebentar,"ujar Ardi memperingati teman sekaligus pasiennya itu.
"Kau ini cerewet sekali, aku tau apa yang harus aku lakukan."Sahut Seno tanpa melihat karena dia sedang mempersiapkan apa yang harus dia bawa.
"Aku hanya mengingatkan saja. Karena akhir-akhir, aku perhatikan kau terlihat seperti Bayi jika bersama istrimu."
"Sudah diam. Sepertinya kau harus segera menikah agar tidak cerewet seperti ini."
__ADS_1
"Apa hubungannya?"
"Kau tanyakan saja pada Dika, dia ahli dalam menjawab,"sahut Seno seraya melirik Dika yang ada di sebelahnya. Dan Dika langsung menyombongkan diri dengan membusungkan dadanya.
"Tidak perlu, aku tidak perlu jawaban darinya. Karena secepatnya aku akan mengirimkan kartu undangan pada kalian berdua."Sahut Ardi dengan percaya diri.
"Kartu undangan!"kejut Dika,"Apa itu undangan Khitanan mu?"sambungnya di akhiri dengan tawa terbahak-bahak.
"Lihatlah Seno, sepertinya dokter pribadimu ini kurang puas dengan Khitanan masa kecilnya dulu, hingga ingin mengulanginya lagi. Hahaha..."
Dan Seno pun ikut tertawa mendengar lelucon Dika.
"Ais! Apa hanya undangan Khitanan saja yang selama ini kalian terima? Kasihan sekali. Tapi tenang, aku akan mengirimkan undangan pernikahanku pada kalian,"timpal Ardi.
Seno dan Dika saling pandang.
Lalu Dika kembali berkata.
"Apa kau sedang bermimpi? Ini sudah pagi Ardi, bangunlah sebentar lagi kita bertugas."
Melihat reaksi Dika yang sepertinya masih meremehkan dan tidak mempercayai dirinya membuat Ardi geleng-geleng kepala.
"Sepertinya, aku benar-benar harus bergerak cepat melamar dia, dan membuat dua lelaki yang seperti pasangan ini terbelalak dan terpesona di saat aku berdiri di pelaminan."
"Benarkah! Siapa gadis yang mau menikah denganmu itu?"sahut Dika, yang masih menganggap Ardi bergurau.
Dika yang tidak terima langsung menimpali Ardi.
"Seno, katakan pada temanmu ini, jika aku pun sebentar lagi akan menikah!"
Ardi mendelik.
"Benarkah! Tapi kenapa aku tidak percaya, Haha."
Kedua lelaki itu terus berdebat dengan lelucon masing-masing, tanpa ada yang mau mengalah terlebih dahulu.
Ardi dan Dika sudah saling mengenal, dan mereka saling mengenal semenjak Ardi menjadi dokter yang merawat Seno di kala lelaki itu koma dan menjalani beberapa terapi.
Ardi dan Dika memang sedikit tidak akur, mereka sering terlibat cekcok. Namun bukan cekcok yang berakhir dengan baku hantam. Karena mereka lebih sering terlihat konyol.
**
"Sepakat! Siapa yang menikah terlebih dahulu di antara kita, akan menerima kado pernikahan apapun yang di inginkan!"ujar Dika dengan yakin, di akhir percekcokannya dengan Ardi.
__ADS_1
"Setuju! Bersiap-siaplah Dika, aku akan membuatmu bangkrut dengan permintaanku."Sahut Ardi yang tak kalah yakin dengan apa yang dia katakan.
"Kau tidak akan tahu, jika kekayaanku tidak akan habis sampai sembilan turunan."Timpal Dika.
**
Seno yang sama sekali tidak nimbrung dengan perdebatan Dika dan Ardi perkara siapa yang menikah terlebih dahulu. Memilih untuk meninggalkan mereka, karena dia harus menjemput sang istri.
"Seno kau mau kemana? Beberapa menit lagi kita akan berangkat!"Teriak Ardi.
"Menjemput istriku, kalian lanjutkan saja perdebatan membahas pernikahan dengan gadis idaman kalian, yang belum tentu bersedia menikah dengan kalian."Sahut Seno, dan dia langsung pergi dari sana menuju tenda medis tempat istrinya berada.
"Lihatlah dia, sepertinya dia meremehkan kita,"kata Ardi seraya menepuk pundak Dika.
"Benar, kita harus tunjukkan padanya bahwa kita akan segera menikah,"Sahut Dika.
Ardi mengangguk.
Seketika mereka langsung akur, dan saling memberi support satu sama lain.
****
"Sayang! Kenapa kau terlihat lelah? Apa semalam kau tidak tidur dengan baik?"Seno menangkup wajah istrinya, yang memang terlihat lesu seperti kurang tidur.
"Aku tidak apa-apa Mas, aku juga beristirahat dengan baik semalam. Kita harus ke titik kumpul sekarang Mas, apa kau sudah mempersiapkan semuanya?"
"Sudah. Selama di sana, jangan jauh-jauh dariku."Pesan Seno.
Rana mengangguk.
Dan merekapun bergegas menuju titik kumpul.
Windy dan Rana di pasangkan sebagai dokter dan perawat yang akan memeriksa dan memastikan keadaan wanita hamil yang menjadi target penyelamatan. Dan dokter Ardi akan memeriksa dan memastikan kesehatan anggota keluarga yang sudah lanjut usia di rumah tersebut. Sedangkan Seno yang akan Membujuk kepala keluarga, agar bersedia untuk di evakuasi ke tempat yang lebih aman.
Demi misi penyelamatan agar berjalan dengan baik dan sesuai yang mereka harapkan, Rana dan Windy melupakan sejenak kejadian semalam.
Bersambung..
āØšššāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø