4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Dika Galau


__ADS_3

Selamat membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Aurel menuruti keinginan Dika dengan tidak menghubungi Ardi. Dan langsung membawa lelaki itu kembali pulang ke rumah Lina.


Dan hal ini tentu saja mengagetkan Lina, dia meminta Dika untuk mengantarkan Aurel pulang tapi malah Aurel yang mengantarkan Dika pulang.


***


''Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya Tante. Ini sudah malam.''


''Biar pak sopir yang akan mengantarmu pulang,''sahut Lina.


Karena sudah malam dan tidak mungkin jika dia pulang sendiri Aurel pun menerima tawaran dari Lina.


*****


''Dika, kenapa bisa seperti ini? apa kau baik-baik saja?''tanya Lina yang khawatir melihat Dika yang meringkuk sambil memegangi perutnya.


''Aku tidak apa-apa bu, justru sakit yang aku rasakan saat ini adalah hatiku.''


''Kau ini bicara apa Dika?''


Di tanya seperti itu, membuat Dika langsung beranjak dan merengek, mengadu pada Lina, tentang apa yang sedang hatinya rasakan saat ini.


***


"Dika, bersabarlah, biarkan semua berjalan apa adanya, jangan pernah memaksakan sesuatu. Jika Aurel sudah menjadi jodohmu, rintangan apapun yang datang tidak akan menghalangi jalanmu bersama Aurel. Tapi, jika Aurel memang menyukai dan Mencintai Ardi dan begitu juga sebaliknya, bukankah akan lebih baik jika kau merelakan mereka bersama dan bahagia. Kau pasti akan menemukan gadis baik sama seperti Aurel."Ujar Lina, setelah dia mendengar semua cerita Dika.


"Apa aku harus menyerah! Tapi aku belum berjuang Bu?"


"Itu hanya saran dari Ibu, jika Aurel dan Ardi memang saling mencintai. Untuk apa kau berjuang lagi. Tapi jika kau masih ingin tetap memperjuangkan perasaanmu. Ya tidak apa-apa. Tapi kau harus terima resikonya, biasanya seorang wanita akan merasa tidak nyaman jika lelaki yang selama ini cukup dekat dan ia anggap sebagai teman mengutarakan cintanya. Dia akan lebih menjaga jarak darimu nanti, dia tambah lagi kau dan Ardi berteman baik, pasti semuanya akan terasa canggung."


"Aku tidak berteman baik dengan Ardi, siapa yang mau berteman dengannya, dan Aurel juga tidak menganggap aku teman. Tapi, sepertinya yang dikatakan ibu benar. Jadi, apa aku harus menyerah. Dan kembali mencari gadis pujaan lain?"


"Semua terserah padamu Dika, kau tau mana yang terbaik untukmu, dan selama ini yang ibu tau kau adalah lelaki yang sangat bijak dalam menghadapi situasi dan masalah apapun."


Dika terdiam sejenak, dia memang sangat pandai memberi wejangan dan nasihat serta siasat untuk Seno. Tapi sepertinya dia tidak bisa jika untuk dirinya sendiri. Buktinya Dika memerlukan saran dari Lina.


"Terima kasih Bu, aku mempertimbangkan ini semua."Ujar Dika.


Lina mengangguk.


"Kalau begitu berbaringlah, ibu akan buatkan sesuatu yang bisa mengurangi sakit perut mu."


Lina beranjak, dari kamar Dika yang merupakan kamar tamu di rumah itu.


"Kenapa dengan Dika?"tanya Kekek Arif yang melihat Lina keluar dari kamar lelaki itu.


"Dia sedang patah hati."Sahut Lina.


"Patah Hati, bukankah sudah biasa anak itu patah hati."


"Tapi kali ini berbeda, Dika sepertinya berada di tahap patah hati tingkat tinggi."

__ADS_1


"Ada-ada saja, biar Ayah yang akan menasehatinya. Jangan jadi lemah karena patah hati, apa lagi sampai sakit seperti ini."Ujar kakek Arif, dan lelaki tua itu langsung beranjak memasuki kamar Dika.


***


Beberapa hari berlalu. Dan atas pertimbangan yang membutuhkan waktu berhari-hari dan menguras emosi, Dika memutuskan untuk tidak lagi berharap pada Aurel. Dia akan menjaga jarak dengan gadis itu dan tidak akan lagi menghubunginya, mungkin Dika menyerah karena Dika pun menyadari bahwa Aurel sepertinya sangat serius dengan Ardi begitu juga sebaliknya.


Meskipun berat, tapi Dika rela demi kebahagiaan pujaan hatinya.


**


"Kau sudah mengambil keputusan yang baik Dika, biarkan gadis itu bahagia dengan lelaki yang dia sukai. Bukankah sudah biasa bagimu, di tolak wanita dan kalah saing dengan lelaki lain. Jadi, bangkitlah masih banyak gadis-gadis cantik di luar sana,"ujar teman Dika yang saat ini sedang menghibur lelaki yang tengah galau itu.


"Tidak semudah membalikkan telapak tangan, untuk melupakan seseorang. Aku bahkan sampai tidak nafsu makan dan tidak tidur nyenyak karena memikirkan ini, sepertinya bulan depan berat badanku akan turun drastis,"sahut Dika, yang sedang menyandarkan kepalanya di dinding.


"Sudahlah Dika, jangan terus-terusan bersedih seperti ini. Bersemangat lah. Dan ayo kita latihan."Ujar satu temannya lagi, yang mungkin sudah jengah dengan kegalauan Dika yang selama berhari-hari terus saja seperti ini.


"Bagaimana, setelah latihan nanti kita pergi ke suatu tempat untuk menghibur Dika?"usul satu temannya lagi.


"Aku setuju!"


Sahut yang lain secara bersamaan.


"Tapi di mana kira-kira tempat yang cocok untuk menghibur Dika?"


Mereka berpikir sejenak.


"Aku tahu!"sahut salah seorang setelah otaknya menangkap ide yang menurutnya sangat berlian.


"Dimana?"


PLAK!


Mendengar usulan itu, salah satu teman Dika melemparkan topi ke arahnya.


"Kenapa? Bukankah itu tempat yang bagus, aku sangat yakin jika Dika di pertemukan dengan pak Seno, akan merasa terhibur dan bahagia."


"Selain Dika yang merasa terhibur, kita juga akan di buang di lautan lepas oleh Pak Seno, karena berani datang ke sana dan menggangunya."Sahut temanya dangan kesal.


"Lalu kita pergi kemana?"


Mereka semua melirik ke arah Dika, dan lelaki itu tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Ah sudahlah! bukankah dia sudah biasa seperti ini, jadi kita tidak perlu menghiburnya sampai membawa ke suatu tempat apalagi sampai membawanya ke tempat di mana Pak Seno berada."


"Itu benar, selain Pak Seno akan marah. Aku juga tidak punya cukup uang untuk pergi ke sana."


"Itu benar, lebih baik kita belikan saja makanan favoritnya."


"Tapi, dia tadi bilang jika sudah beberapa hari tidak nafsu makan."


"Kalau begitu, kita biarkan saja dia seperti ini. Ayo kita latihan."Sahut satu temannya yang memilih menyerah untuk membujuk Dika karena mereka pikir dalam beberapa jam lagi pun Dika akan kembali normal seperti sedia kala.


***


"Kau lihatlah dia, sudah 2 jam lebih Dika masih dengan posisi seperti itu. Aku takut sesuatu terjadi padanya?"ujar teman Dika yang melihat Dika masih bersandar di tembok tak beranjak kemanapun.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Bagaimana kalau Dika merasa putus asa, dan tiba-tiba ada bisikan-bisikan jahat yang mengelilingi rongga telinganya hingga Dika melakukan sesuatu yang mengerikan."


"Kau tenang saja, itu tidak akan terjadi. Biarkan saja dia seperti itu untuk menuangkan kesedihannya, aku yakin, setelah itu pasti Dika akan kembali seperti semula."


Satu rekan mereka datang dengan membawa beberapa kantong plastik berisi makan siang.


Seperti biasa, mereka makan secara bersama-sama. Namun kali ini tidak lengkap karena salah satu dari anggota mereka Tengah gundah gulana karena gadis pujaan hatinya berpaling.


"Kasihan sekali Dika, dia sering sekali ditolak dengan gadis- gadis yang dia sukai, semoga saja dia bisa menemukan seorang gadis yang tidak akan menolaknya."


"Mungkin itu bukan jodohnya. Kita doakan saja yang terbaik untuk Dika, sekarang aku ingin memberi dia makan terlebih dahulu karena aku tidak mau kalau dia sakit."


Lelaki yang bertubuh besar dan kekar itu berjalan menghampiri nikah dengan membawakan piring berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya.


"Dika, makanlah dahu. Sudah berapa lama kau menyandar di sini, apa lehermu tidak pegal dan apa pinggangmu tidak kebas?"


Dika diam 1000 bahasa, lelaki ini sedang menghayati kesedihan dan patah hatinya.


"Ayolah Dika, makan sedikit saja kau bisa sakit jika tidak makan apapun. Bukankah petugas seperti kita harus memiliki fisik yang kuat dan stamina yang bagus! bahkan kita tidak diizinkan untuk sakit, oleh karena itu kita harus menjaga stamina dan kesehatan kita."Bujuk temannya, namun bujukannya itu sepertinya tidak mempan karena Dika masih saja diam seperti patung.


"Apa kau mau aku menyuapi mu?"


Dika masih diam.


"Baiklah, aku menganggap diam mu ini sebagai tanda iya."


Lelaki itu duduk menyeimbangi Dika dan dia mulai mengangkat piring dan menggerakkan sendok untuk mengumpulkan nasi dan lauk agar tersusun di satu sendok, lalu dia menyuapinya kepada Dika.


Dika yang masih tidak berekspresi dan merubah posisi. Tapi dia masih bisa untuk membuka mulutnya untuk menyambut suapan dari sang teman.


"Satu lagi ya, seperti ini kan bagus. jadi perutmu tidak terlalu kosong,"kata temannya Setelah dia berhasil memasukkan 2 sendok nasi dan beberapa lauk ke dalam mulut tiga.


Mengira jika Dika benar-benar tidak memiliki nafsu makan, lelaki itu memutuskan menyudahi suapan terakhirnya yang ketiga.


GREB!


Dika mengambil alih piring yang ada di tangan temannya.


"Kenapa?"tanya temannya dengan bingung.


"Tidak boleh menyisakan makanan, aku harus menghabiskannya agar tidak mubazir."Sahut Dika. Dan langsung menyantap makanan itu dengan sangat lahap.


"Apa seperti ini yang dikatakan tidak nafsu makan!"ujar temannya sambil menggelengkan kepala.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ¤—

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2