
Selamat! Membaca š¤
šāØšāØšāØš
Dika yang berada di luar jangkauan sana semakin geram dengan kebodohan Seno, tapi ia harus tetap bersabar agar lelaki itu memberikannya waktu luang di hari Minggu nanti agar ia bisa mendekati gadis incarannya selama berbulan-bulan ini.
(Sebenarnya pertanyaan ini seharusnya pantas aku ajukan kepada dirimu yang sudah menikah. Tapi apalah daya meskipun kau sudah menikah tapi otakmu itu hanya secuil saja dari kepintaranku perkara ini. Aku tidak akan berbasa-basi padamu, aku hanya akan mengatakan jika yang biasanya pasangan lakukan ketika mereka memutuskan untuk menghabiskan malam bersama, tentu saja mereka melakukan adegan seperti yang di film-film. Kau paham kan? Tapi bukan film perang atau kriminal yang sering kau tonton, tapi film romantis yang dibumbui dengan adegan dewasa aaah! Kau pasti mengerti sendiri, lagi pula kau ini sudah menikah Seno. Kenapa masih harus aku jelaskan dalam masalah ini. Ya Tuhan sebenarnya apa saja yang dulu kau lakukan dengan Rana selama 2 tahun menikah) tulisan panjang lebar yang dikirim oleh Dika membuat Seno mengerutkan keningnya.
(Memangnya kau pikir aku sebodoh itu aku hanya mengetes dirimu saja karena sebenarnya aku sudah tahu semuanya) balas Seno.
(Terserah padamu saja, lakukan apa yang ingin kau lakukan kepada istrimu itu jangan bertanya lagi padaku, Kau sungguh tidak menghargai perasaanku yang belum menikah ini, kau selalu bertanya perkara apa yang dilakukan pasangan suami istri di malam hari, membuatku jengkel saja) balas Dika yang bernada emosi.
"Bukankah dia sendiri yang membuka jasa seperti ini? Tapi kenapa malah marah-marah."Gumam Seno. Bukan Seno tidak mengerti apa yang harus ia lakukan, lelaki ini hanya merasa tegang dan gugup hingga ia ingin sedikit bergurau dengan Dika. Karena lelaki itulah yang selama ini menjadi teman dekat Seno meskipun mereka seringkali berdebat.
Seno menarik nafasnya dalam-dalam setelah cukup rileks, ia meletakkan ponselnya tidak mau lagi bertanya dan menghubungi Dika lalu melangkah melanjutkan niatnya yang ingin membersihkan diri. Karena pikirnya malam ini ia akan benar-benar menghabiskan malam bersama istrinya yang selama 4 tahun lebih tidak pernah mereka lakukan lagi.
***
Di dapur, setelah mencuci cuci piring dan membersihkan meja Rana tiba-tiba merasakan sakit perut. Dan ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang berada di ujung dapur.
Setelah 1 menit lamanya, Rana keluar dengan senyum yang mengembang.
"Sepertinya hari ini Tuhan berpihak padaku."
Rana tidak langsung masuk ke dalam kamar ia memilih duduk di ruangan yang terdapat bangku panjang, Ia membuka ponsel yang sudah seharian tidak dia aktifkan. Begitu banyak pesan yang masuk mulai dari Sarah, Aurel dan Vir yang tentu saja menanyakan keberadaannya saat ini.
Dengan cepat Rana membalas pesan itu satu-satu terutama pesan dari Sarah yang memintanya untuk pulang. Begitu juga dengan Aurel yang menanyakan di mana dan apa yang ia lakukan bersama-sama Seno.
"Kau masih di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam kamar. Aku sudah menunggumu sejak tadi?"tiba-tiba Seno datang mengejutkan Rana.
Rana segera bangun dari duduknya dan menyahuti Seno.
"Aku tengah membalas pesan dari Kak Sarah Mas. Dia memintaku untuk segera pulang."
"Besok aku akan mengantarmu ke rumah ka Sarah, aku pun ingin bertemu dengannya. Sekarang, ayolah masuk ke dalam kamar apa kau akan membuang waktu dengan duduk di sini?"
__ADS_1
Rana semakin dag, dig, dug.
"Mas, lebih baik kau saja yang tidur di dalam kamar. Biar aku tidur di sini."
"Tidak! Kau harus tidur di dalam, bangku ini tidak bisa untuk dijadikan alas tidur."
Tidak perlu menunggu sahutan dari Rana Seno segera menarik tangan istrinya untuk memasuki kamar dan hal ini semakin membuat jantung Rana serasa ingin copot.
Setelah menutup pintu kamar secara perlahan Seno mendekati Rana yang berdiri mematung memperhatikan gerak-geriknya.
"Mas, Kenapa pintunya harus ditutup? bukankah lebih baik dibuka saja agar tidak merasa gerah?"kata Rana yang dirasa aneh di telinga Seno.
"Apa kau merasa kepanasan?"
"Iya, tiba-tiba aku merasa gerah dan kepanasan itu sebabnya aku memintamu untuk tidak menutup pintunya."
Seno berjalan semakin mendekati Rana.
lalu ia mengulurkan tangan ingin membuka sweater yang membalut tubuh Rana, entah kenapa Rana yang sudah memakai baju tidur tebal iya masih melapisinya dengan sweater pula.
"Bukankah kau merasa kepanasan? aku rasa inilah penyebab tubuhmu merasa gerah, kamu makai baju sebanyak ini. Biar aku bantu membukanya."
"Tidak perlu Mas, biar aku begini saja aku tidak jadi merasa gerah."Rana kembali menurunkan tangan Seno. Dia berbalik menghadap kasur.
"Sekarang tidurlah Mas, ini sudah malam."Ujar Rana yang sudah melangkahkan kaki ingin menaiki kasur, namun sebelum ia sampai di tempat peristirahatan itu. Seno sudah lebih dulu menarik tangannya dan membawa Gadis itu dalam pelukan.
Di saat seperti ini jantung Rana seperti ingin meledak, Seno memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya di pundak Rana. bukan hanya itu tapi tangan kokoh lelaki itu melingkar di perutnya.
"Tahan Rana, tahan. Kau pasti bisa melewati ini semua. Kuatkan hatimu, tidak akan terjadi apa-apa malam ini." Batin Rana.
"Mas. Apa yang kau lakukan! bisa tolong lepaskan aku. Aku sudah pernah meminta padamu untuk tidak menyentuhku?"
"Aku merindukanmu, apakah aku harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu hanya untuk memeluk istriku seperti ini! aku benar-benar sangat merindukanmu, biarkan aku seperti ini untuk beberapa menit ke depan."Pinta Seno dengan suara yang sangat lirih di telinga Rana.
Dan Rana pun sedikit berbaik hati membiarkan lelaki itu melakukan apa yang ingin ia lakukan sampai beberapa menit ke depan.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja selama kau pergi dariku?"Entah kenapa tiba-tiba Seno bertanya seperti ini,"Tentu saja tidak kan! Kau pasti tidak baik-baik saja, maafkan aku. Tolong maafkan apa yang pernah aku lakukan padamu, aku tahu kau sangat membenciku bahkan sampai sekarang aku masih melihat kebencian di matamu, tapi tolong izinkan aku untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu dengan tulus saat ini dan seterusnya. Beri aku kesempatan untuk menjadi suamimu kembali, menjadi suami yang bisa kau andalkan dan kau banggakan. Yang akan terus menyayangi dan mencintaimu dalam keadaan apapun."Sambung Seno yang masih memeluk Rana.
Rana diam, karena ia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut Seno, kata-kata yang ia dengar begitu tulus, namun entah kenapa Rana sulit sekali untuk mengatakan iya padahal hatinya masih menyimpan nama Seno bahkan selama ini dia belum sepenuhnya melupakan lelaki itu dalam hidupnya.
"Tolong berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu, meskipun aku tahu aku tidak bisa membahagiakanmu seperti lelaki lain pada umumnya. Tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukku."Ucap Seno kembali.
Seno membalikkan tubuh Rana dan sedetik kemudian mereka saling berhadapan.
Lelaki itu membelai lembut wajah Rana ia menyingkirkan beberapa rambut yang menghalangi pandangannya di wajah yang sekian tahun Ia rindukan.
Rana yang benar-benar merasa grogi menundukkan wajahnya, lalu sedetik itu juga Seno mengangkat kembali dagunya sampai wanita itu mendongak menatapnya.
Pandangan mereka saling bertemu. Hati Rana kembali terguncang dengan tatapan Seno yang langsung menembus jantungnya. Tidak pernah ia melihat Seno menatapnya seperti ini, malah Seno selalu membuang pandangannya ketika sedang berhadapan dengannya. Tapi itu dulu.
"Aku Mencintaimu!"ucap Seno yang masih menatap mata Rana.
Setelah mengatakan kata Aku Mencintaimu.
Seno menundukkan kepalanya mendekati wajah Rana..
Jedag! Jedug! Jedag! Jedug!
Itulah Suara hati kedua manusia yang tengah bertatapan hanya dengan jarak 5 cm saja.
Bersambung..
šāØšāØšāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1