
Selamat. Membaca š¤
šāØāØāØāØš
"Apa benar kau jatuh, Mas?"Tanya Rana yang tidak percaya dengan alasan Seno.
Saat ini mereka tengah berada dalam mobil.
Seno menggeleng.
"Lalu kenapa bisa sampai seperti ini? Apa kau habis di rampok?"
"Tidak, ini kenang-kenangan dari perjuanganku."
"Kenang-kenangan?"bingung Rana.
"Aku akan menceritakannya setelah Kita sampai."
"Baiklah! Tapi tepikan mobilnya dulu Mas, kau harus mendapatkan pertolongan pertama untuk luka itu agar tidak terinfeksi."Pinta Rana dan dia sudah membuka tas yang ia bawa dan berisi beberapa obat-obatan.
Seno yang patuh langsung menepikan mobilnya. Dan mereka berhenti di jalanan yang cukup sepi.
Rana membuka sabuk pengamannya begitu juga dengan Seno.
"Pelan-pelan ini sakit."Keluh Seno. Saat Rana akan membersihkan darah di luka wajahnya dengan menggunakan kapas.
"Tadi kau terlihat baik-baik saja."
"Itu tadi, tapi sekarang jadi sakit."Sahut Seno dengan suara yang ia buat manja layaknya Dino, saat sedang diobati Rana ketika ia mendapatkan luka di kakinya.
Rana tidak menggubrisnya, karena ia lebih memilih untuk langsung membersihkan luka tersebut.
"Ini luka pukulan, kau habis berkelahi , Mas?"
"Iya."
"Kau berkelahi dangan siapa? Apa dengan Dika?"
"Dika tidak akan mungkin membuatku seperti ini."
"Lalu dengan siapa?"tanya Rana dan tidak senaja ia menekan terlalu kuat di bagian lebam Seno saat mengolesi krim.
"Aaww... Sakit!"pekik Seno, padahal dengan berpura-pura karena sebenarnya tidak sesakit itu. Dia hanya teringat kata-kata Dika untuk bisa memanfaatkan situasi agar mendapatkan perhatian pasangan. Dan saat ini Seno memanfaatkan Luka babak belur di wajahnya itu. Untuk mendapatkan perhatian dari sang istri.
"Apa sangat sakit? Maafkan aku Mas, aku akan lebih hati-hati."Sesal Rana.
"Tentu saja sakit, kau menekannya dengan sangat kuat."Ringis Seno. Yang kembali berpura-pura.
"Iya, aku tidak senaja menekannya. Kau juga jangan banyak bergerak."
"Aaawww... Sakiiiiit...!"Seno kembali memekik dan di akhiri dengan ringisan.
"Apa mungkin sesakit itu?"tanya Rana yang melihat Seno terlalu berlebihan.
"Ini sangat sakit."Ringis Seno yang sangat tidak natural.
"Sudah tau akan sakit, tapi kenapa kau malah berkelahi sampai seperti ini. Apa kau tidak merasakan sakit ketika di pukul. Dan malah meringis kesakitan di saat diobati."
"Kenapa kau malah marah-marah? Padahal aku sedang kesakitan."Keluh Seno, yang semakin memasang wajah sedih.
"Sepertinya kali ini Dika salah, bukannya aku di manja dan di perhatikan, Rana malah marah-marah." Batin Seno.
"Aku tidak marah, sudah diam. Jangan banyak bergerak."Kata Rana dan kembali mengobati Seno.
Bukanya diam, Seno malah semakin bertingkah, dia pikir belum melakukannya secara maksimal. Yang malah membuat Rana kesal bukannya perhatian.
Kali ini Seno terus meringis bahkan sampai menghentakkan kakinya menunjukkan bahwa dia sangat kesakitan dengan luka-luka yang sedang diobati.
Rana tidak bereaksi apapun selain fokus mengobati lukanya hingga membuat Seno semakin penasaran. Dia pikirkan akan dimanja di belai dan dipeluk, ketika ia merasa kesakitan sampai meringis.Ya, itulah yang sedang Seno harapkan saat ini.
Hingga ia kembali memberontak dengan menggoyangkan badannya layaknya anak kecil yang menangis kesakitan ketika sedang diobati oleh ibunya.
Pergerakan Seno membuat mobil itu sedikit berguncang dan ketika dilihat dari luar, nampak sangat mencurigakan bagi pengendara yang tengah melintas di sana.
Mereka berpikir itu seperti yang sedang marak akhir-akhir ini, yang sering dijuluki Mobil bergoyang dan posisinya pun berada di tempat yang cukup sepi.
TOK!
__ADS_1
TOK!
Ada seorang pria yang mengetuk kaca mobil Seno, dan melihat dari seragamnya, pria itu petugas polisi yang memang sering berpatroli di area tersebut, dan tentu saja petugas polisi itu merasa curiga dengan mobil yang terparkir di tepi jalan dan juga bergoyang.
Seno dan Rana sama-sama menghentikan kegiatan mereka.
"Sepertinya kita melanggar ketertiban dengan memarkinkan mobil di tepi jalan sini Mas,"kata Rana. Yang menyadari, bahwa yang mengetuk kaca mobilnya adalah seorang petugas dari kepolisian.
"Benarkah! kalau begitu mau tunggu di sini saja, biar aku yang keluar."Kata Seno dan segera membuka pintu mobil lalu turun menghadap sang petugas.
"Selamat. Malam!"sapa petugas kepolisian tersebut.
"Iya, selamat, malam."Sahut Seno.
"Apa yang sedang Anda lakukan di sini?"Tanya polisi, dengan meneliti Seno dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.
"Saya...!"
"Ada siapa di dalam mobil? Anda tidak sendiri kan? Saya rasa tidak, tolong minta seseorang yang ada di dalam mobil untuk keluar."Potong petugas patroli tersebut.
Seno mengangguk dan ia langsung membuka pintu mobil untuk Rana.
Sang polisi menggeleng ketika melihat yang ada di dalam mobil adalah seorang wanita.
"Sudah kuduga."Ucapnya.
Rana dan Seno masih bingung. Seno hanya mengira bahwa mereka sedang melakukan pelanggaran dengan memarkirkan mobil sembarangan.
"Maafkan saya Pak, karena sudah memarkirkan mobil di jalan ini."Ujar Seno.
"Bukan itu masalahnya, tapi kalian memarkirkan mobil di tepi jalan seperti ini dengan tujuan yang tidak tidak-tidak. Itu yang membuat kalian harus ikut saya ke kantor polisi."
"Maksud bapak?"tanya Seno yang masih belum mengerti bahwa ternyata polisi itu sedang mencurigai dirinya tengah berbuat mesum di dalam mobil.
"Apa kalian sepasang kekasih?"Tanya polisi.
"Kekasih! dia istri saya Pak."jawab Seno.
"Istri, jika wanita ini istri Anda kenapa Anda harus melakukan hal-hal yang seharusnya bisa Anda lakukan di dalam rumah. Tidak harus bersembunyi-sembunyi di dalam mobil dan di tempat sepi seperti ini."
Seno masih belum mengerti apa-apa. Sedangkan Rana sudah memahami situasinya bahwa polisi itu tengah salah paham padanya dan Seno.
"Jadi benar kalian ini suami istri?"
Rana mengangguk begitu juga dengan Seno.
"Kalau begitu, tunjukkan buktinya kepada saya, hal seperti ini bukan satu atau dua kali terjadi, malah hampir setiap hari. Mereka kepergok melakukan perbuatan mesum di pinggir jalan. Dan mereka mengaku sebagai pasangan suami istri tapi ketika kami menyelidiki. Mereka ternyata pasangan selingkuh."
"Apa! pasangan selingkuh? berbuat mesum?"kaget Seno,
lalu ia semakin memajukan langkahnya untuk mendekati petugas polisi tersebut dan menjelaskan semuanya.
Bahkan Seno pun menunjukkan berkas-berkas bukti pernikahannya dan Rana yang ternyata selama ini dia simpan di dalam mobilnya, dan hal itu sedikit membuat Rana terkejut sekaligus terharu, ternyata Seno masih menyimpan bahkan membawanya selalu.
"Kalau begitu, saya minta maaf atas kesalahpahaman ini. Silakan lanjutkan perjalanan Anda, jangan lupa untuk pergi ke Rumah Sakit agar mendapatkan pengobatan yang lebih baik."Ujar polisi itu setelah melihat bukti yang Seno tunjukkan.
"Tidak masalah Pak, saya mengerti karena itu sudah menjadi tugas dan kewajiban bapak. Saya minta maaf karena sudah mengganggu. Dan sepertinya saya tidak perlu ke Rumah Sakit karena istri saya ini seorang perawat yang tentu akan jauh lebih baik merawat dan mengobati saya."
"Wah sungguh sangat mengharukan,"sahut polisi tersebut.
"Kalau begitu saya permisi dan terima kasih."Pamit Seno.
"Silahkan, berhati-hatilah."
Seno dan Rana kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan mereka.
*****
"Mas, apa kau selalu membawa berkas berkas itu?"tanya Rana.
"Maksudmu ini?"sahut Seno sambil menunjukkan buku nikah mereka berdua.
"Iya."
"Dari dulu aku memang selalu membawanya kan, ini selalu ada di dalam mobilku. Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
__ADS_1
Jawab Rana, lalu matanya beralih ke kaca jendela dan menyadari bahwa ini bukan menuju jalan pulang ke rumah orang tuanya.
**
"Kita memang bukan pulang ke Rumah Ibu, aku sudah minta izin kepada Ibu, kalau Malam ini kita tidak pulang ke Rumah."Jawab Seno setelah Rana bertanya kenapa bukan jalan menuju ke Rumah.
"Tidak pulang ke Rumah? lalu kita mau pulang ke mana Mas?"
"Ke Hotel."
"Apa! Ke Hotel?"kejut Rana.
Dan Seno mengangguk sambil mengulas senyum.
"Apa-apaan ini. Dia mengajak pergi ke Hotel, padahal baru beberapa menit yang lalu polisi menduga kita pasangan selingkuh. Dan sekarang dia malah menuju Hotel, dia seperti mengiyakan dugaan polisi tadi. Astaga!" Batin Rana.
"Kau kenapa? apa kau tidak mau pergi ke Hotel?"Tanya Seno.
"Tentu saja tidak, kita punya Rumah kan untuk apa kita pergi ke Hotel."
"Di Rumah aku tidak bisa tidur bersamamu, masa aku harus tidur bersama Dika lagi. Sungguh sangat membuat harga diri ku tercemar, pokoknya malam ini kita menginap di Hotel, dan baru akan pulang besok siang."Kata Seno, yang yakin memilih Hotel sebagai tempat agar dia bisa menghabiskan waktu bersama istrinya tanpa harus diganggu oleh siapapun.
***
20 menit kemudian.
Mereka sampai di Hotel terbaik yang ada di kota tersebut, yang sebelumnya sudah Seno cari lewat internet dan ia pun sudah memesan kamar di sana.
"Ini pak kuncinya, silakan. Selamat beristirahat."Ucap seorang petugas Hotel wanita seraya menyerahkan kunci kamar kepada Seno.
"Ayo sayang!"ajak Seno dan langsung menuntun tangan Rana.
"Astaga!"
"Mas, apa kau sudah memesan Hotel ini sebelumnya?"tanya Rana, dan saat ini mereka sedang berada di dalam Lift menuju lantai 4 Hotel tersebut.
"Iya."Jawab Seno dengan sangat jujur.
"Kau ini ada-ada saja mas, sampai memesan Hotel seperti ini. Padahal kita bisa tidur di Rumah."Kata Rana yang sedikit kesal, namun masih bisa mengecilkan suaranya.
"Kan aku sudah bilang, bahwa aku ingin menghabiskan malam bersamamu yang sudah beberapa kali gagal kita lakukan. Jadi aku memutuskan untuk memesan Hotel ini, supaya kita bebas bebas melakukan apapun. Di Rumah aku tidak bisa melakukan apa-apa jangankan untuk tidur bersamamu dan menghabiskan malam bahkan untuk memelukmu saja susah dan aku...!"
Rana mencubit kuat lengan Seno agar lelaki itu berhenti mengoceh.
"Auuww!"pekik Seno yang merasakan ngilu karena Rana mencubitnya cukup kuat.
Rana melakukan itu, tentu mempunyai alasan. Di Lift bukan hanya ada mereka berdua, ada tiga orang lainnya di sana dan tentu saja mendengar perkataan Seno, sampai membuat ketiga orang itu senyum-senyum sendiri.
"Kenapa kau mencubit ku? Ini sakit,"keluh Seno dengan suara dan ekspresi wajah yang semakin membuat Rana malu dan kesal.
Karena orang-orang di sana semakin cekikikan.
**
Rana segera menarik Seno keluar Lift setelah mereka sampai di lantai tujuan.
"Mas, lain kali jangan bicara sembarangan di depan umum."
"Memangnya aku bicara apa, aku tidak merasa bicara sembarangan?"Seno yang merasa tidak melakukan kesalahan.
"Sudahlah, sekarang cepat di mana kamarnya."Kesal Rana.
Seno kembali mengukir senyum penuh arti.
"Sepertinya kau sudah sangat tidak sabar, hingga kau ingin terburu-buru masuk ke dalam kamar. Baiklah sayang. Ayo kita ke kamar sekarang."Kata Seno dengan suara cukup nyaring sampai kembali membuat orang-orang yang keluar Lift bersama mereka tadi mendengarnya.
Rana menggerang sambil mengepalkan tangannya, merasa malu. Karena ke tiga orang tadi terus memperhatikannya, bahkan di saat mereka berjalan menjauh pun mereka sempat menoleh ke belakang kembali melihat Rana sambil mengukir senyum, yang entah apa maksud dari senyum itu.
Bersambung...
šāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø