4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Jangan Pernah Mengharapkan Istri Orang.


__ADS_3

Selamat. Membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Aurel beralih kepada Dika, dia kembali meneliti lelaki itu.


"Dia seperti benar-benar tidak bernafas? apa dia memang mati? Ah, terserahlah! untuk apa aku peduli padanya! temannya saja tidak peduli dengannya. Kenapa aku harus repot-repot seperti ini."Ujar Aurel dengan kesal lalu ia pergi meninggalkan Dika menuju ruang depan untuk mengerjakan pekerjaannya.


šŸāœØāœØšŸ


Sampai di posko.


"Kau bisa menungguku di tenda, atau kau pulang saja ke rumah, Ma. Mungkin aku akan pulang malam."Kata Rana sebelum dia turun dari mobil.


"Aku ikut denganmu saja."Sahut Seno, yang langsung membuka sabuk pengamannya.


"Aku sedang bekerja Mas, kau tidak boleh mengikuti ku."


"Aku bisa membantumu di sana agar pekerjaanmu cepat selesai, karena setelah itu aku ingin bicara sesuatu padamu."Sahut Seno dan saat ini dia bergerak untuk membuka sabuk pengaman Rana.


"Terserah kau saja Mas."Gumam Rana.


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Di tempat lain.


BRAK!


Vir mendorong pintu kamar ibunya dengan sangat kuat, sampai membuat wanita yang tengah merias diri, terlonjak karena terkejut.


"Vir. Apa yang kau lakukan! apa Ibu tidak pernah mengajarimu sopan santun? Dan mengetuk pintu terlebih dahulu ketika kamu memasuki kamar orang lain!"marah Mayang.


Namun Vir yang seperti berada di puncak kemarahan tidak memperdulikan marahnya Mayang. Dia berjalan dengan menghentakkan kaki, semakin mendekati ibunya yang masih duduk di depan meja rias.


Mayang meneliti anaknya, dia sudah tahu jika saat ini emosi Vir sedang tidak terkendali.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti ini? dan kenapa kau menghadap Mama dengan wajah yang seperti ini?"tanya Mayang yang masih duduk di kursinya.


Dengan menahan geram dan wajah yang memerah, Vir pun bertanya.


"Apa benar Mama menemui Rana?"


Mayang terkekeh.


"Jadi karena wanita itu kau sampai datang menghadap Mamamu dengan wajah yang tidak sopan seperti ini?"

__ADS_1


"Mah, tolong jawab pertanyaanku. Apa benar Mama menemui Rana?"tanya Vir yang masih mencoba mengendalikan amarahnya.


Mayang kembali membalikkan badannya menatap cermin. Dan dia mengambil foundation lalu mengaplikasikan di wajahnya, dan hal itu semakin membuat Vir geram karena merasa diabaikan oleh Mamanya.


"Mah! Aku...!"


"Vir, apa kau sampai harus mengganggu Mama seperti ini hanya untuk menanyakan soal wanita itu?"Potong Mayang.


Vir menarik nafasnya dalam-dalam dia mencoba bersabar untuk menghadapi Mayang yang sedang menguji kesabarannya.


"Mah!"


"Benar! Mama telah menemui wanita yang kau sukai itu, bukan hanya menemui dia tapi Mama juga sudah menemui orang tuanya. Ternyata benar sekali dugaan Mama bahwa dia bukan berasal dari kalangan tinggi seperti kita."Sahut, Mayang tanpa merubah posisi dan aktivitasnya yang tengah melukis wajahnya dengan berbagai warna makeup yang tersusun rapi di meja riasnya.


"Apa! Mama menemui orang tua Rana?"Vir semakin tidak karuan.


"Benar kenapa kau terlihat panik seperti ini Vir?"


"Apa yang mama katakan kepada Rana? apa juga yang Mama katakan kepada orang tua Rana, kenapa Mama harus menemui mereka?"Tanya Vir dengan sedikit membentak.


Mendengar Vir yang membentaknya, Mayang jadi terpancing emosi, dia menunda aktivitasnya lalu bangun menghadap Vir yang tengah menatapnya dengan mata merah.


"Tentu saja Mama harus menemui mereka, karena Mama harus memastikan dari mana asal usul wanita yang kau sukai itu Vir. Dan ternyata! Mama menemukan fakta yang benar-benar di luar dugaan Mama, sampai Mama berfikir bahwa kau ini sudah tidak waras."Bentak Mayang.


"Apa yang Mama ketahui tentang Rana?"


"Mah. Mama jangan bicara sembarangan seperti ini tentang Rana? Mama tidak tahu apa-apa tentang masalah yang sedang dihadapi oleh Rana."


"Astaga Vir, jadi benar kalau kau mengetahui tentang status Rana yang masih suami orang lalu kau masih bersedia didekati dengan wanita laklak itu!"teriak Mayang tepat di wajah Vir.


"Cukup mah, aku bisa menjelaskan semuanya pada Mama. Dan beri aku waktu untuk membereskan semuanya."


Mayang menggelengkan kepalanya.


"Membereskan semuanya? Membereskan seperti apa yang kau maksud, Vir? kau benar-benar sudah tidak waras. Pokoknya apapun yang kau lakukan Mama tidak akan pernah menyukai apalagi menyetujui hubunganmu dengan wanita itu, jaga baik-baik nama besar keluarga kita Vir, keluarga yang terhormat dan terpandang apa jadinya jika kau menikah dengan seorang wanita yang masih istri orang lain? itu sama saja kau membuat malu dengan menorehkan aib di wajah Mama dan Papa."Tegas Mayang.


"Tapi Mah?"


"Cukup Vir, tidak ada negosiasi apapun. Sekali Mama bilang tidak tetap tidak! lupakan saja wanita itu, masih banyak wanita lain yang jauh lebih pantas denganmu Vir, jangan mengharapkan istri orang lain."


Untuk beberapa saat Mayang menetralkan dadanya yang menggebu-gebu karena kesal dan marah pada Putra semata wayangnya itu.


Setelah mulai tenang ia kembali berkata.


"Pikirkan masa depanmu Vir, mama hanya ingin kau bahagia dengan pasangan yang tepat untukmu, tolong mengertilah Mama. Dan berhentilah mengharapkan Mama merestui hubungan kau dengan gadis yang bernama Rana itu karena sampai kapanpun Mama tidak akan pernah merestuinya. Ingat itu baik-baik."Ujar Mayang dan setelah mengatakan itu ia keluar dari kamarnya meninggalkan Vir sendiri yang masih berdiri mematung meratapi nasib cintanya yang ditentang mentah-mentah oleh orang tuanya sendiri.

__ADS_1


Aaaakkkkhhh....!


Vir berteriak dengan kencang sambil melayangkan beberapa pukulan ke udara.


Apakah sampai sini Vir akan menyerah dan merelakan Rana begitu saja?


Atau justru dia tambah bernafsu untuk berjuang demi mendapatkan restu dari ibunya agar dia bisa hidup bersama Rana, dan menghalalkan segala cara untuk bersama wanita yang sudah ia cintai lebih dari 2 tahun lalu.


Dreeettt...


Di saat hatinya sedang kacau, ponsel Vir malah bergetar. Tapi getaran ponsel itu membuat Vir sadar dari emosinya dan dia mengangkat panggilan yang membuat ponselnya bergetar tadi.


"Ada apa?"tanya Vir memulai pembicaraan lewat sambungan telepon.


(.....)


"Baik, saya akan segera pergi ke sana. Kau tangani saja dulu semuanya, secepatnya saya akan tiba."Ujar Vir dan ia mematikan sambungan telepon lalu bergegas keluar dari rumah menuju posko bencana.


šŸāœØāœØāœØšŸ


"Apa kau yakin ingin menemui Rana?"tanya Wahyu memastikan sepupunya yang ingin bertemu dengan Rana hari itu juga.


"Tentu saja aku yakin Wahyu, tujuanku datang ke sini untuk bertemu dan meminta maaf kepada Rana secara langsung atas apa yang sudah Mama katakan padanya, apa ada alasan yang membuat ku untuk tidak yakin?"


"Terserah kau saja, tapi sudah bisa dipastikan jika di sana ada Seno bersiap-siaplah untuk itu."Sahut Wahyu, dan ia bergegas keluar dari rumah untuk memanaskan mobil. Karena dia akan mengantar Windy bertemu dengan Rana.


"Kenapa Wahyu terus-terusan seperti ini, memangnya kenapa kalau ada Seno, dia seperti menghalangiku untuk bertemu dengan Rana."Gumam Windy.


***


"Kau tahu di mana rumah orang tua Rana?"tanya Windy kepada Wahyu yang sedang mengemudi.


Dan lelaki itu menyahutinya dengan sebuah anggukan menandakan jika dia memang mengetahui rumah orang tua Rana.


"Tolong antarkan aku ke sana saja."Pinta Windy.


Bersambung.


šŸāœØāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2