
Selamat, membaca š¤
šāØāØāØš
Setelah Dika mengambil apa yang dia butuhkan, lelaki itu segera mengajak Rana ke tempat di mana Seno berada.
**
Sementara di tenda tersebut. Seno yang masih harus berbincang karena beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter yang menjadi rekan Windy membuat Seno tertahan.
"Apa ada yang ingin dokter kembali tanyakan?"
"Tidak ada, saya rasa itu sudah cukup. Maaf jika mengganggu waktu Anda."
"Tidak masalah, kalau begitu saya permisi karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan."
"Oya, pak Seno. Bisakah saya meminta tolong kepada Anda, tapi bukan sekarang ini untuk besok pagi."Ucap dokter itu kembali menghentikan Seno.
"Katakan saja dok jika saya bisa .Tentu saya akan melakukannya."
..."Sore tadi saya mendapatkan laporan, bahwa ada satu keluarga yang menolak dievakuasi ke posko. Dan di keluarga itu ada seorang ibu muda yang tengah hamil besar dan diperkirakan akan melahirkan dalam hitungan hari, tentu saja hal ini sangat membuat kami khawatir dengan keadaan ibu tersebut jika masih berada di rumah yang dalam kondisi dan keadaan yang tidak layak, bahkan untuk mendapatkan air bersih dan makanan yang baik pun mereka tidak bisa, tapi mereka juga tidak mau dievakuasi ke posko dengan alasan mereka ingin bertahan di rumah mereka. Dari pihak relawan juga sudah banyak yang menuju ke lokasi untuk membujuk mereka agar bersedia dievakuasi ke pengungsian namun mereka tetap menolak, bahkan dengan cara paksa pun tidak bisa karena keluarga dari ibu yang sedang hamil besar ini sungguh sangat agresif bahkan mereka sampai melukai relawan yang datang untuk mengevakuasi mereka."...
Seno yang memang belum mendengar masalah ini hanya bisa mengangguk dan dia berpikir mungkin dokter itu meminta timnya untuk mengevakuasi keluarga tersebut ke tempat yang lebih aman.
Tapi salah, karena beberapa Tim relawan pun sudah membujuk keluarga itu, namun gagal. Mereka tetap bertahan di rumah mereka meskipun dengan kondisi yang sudah tidak layak. Dokter itu meminta Seno untuk menemani Windy ke tempat tersebut guna memastikan keadaan ibu hamil yang ada di sana yang diperkirakan akan melahirkan dalam beberapa hari ke depan dalam kondisi baik-baik saja.
"Bagaimana, apa Anda bisa menemani Dokter Windy untuk ke lokasi tersebut, sebenarnya dokter Windy bisa pergi dengan perawat lainnya dan beberapa tim relawan. Tapi saya rasa Anda lah yang paling bisa kami andalkan untuk menemani dokter Windy ke sana karena dengan begitu saya merasa tenang jika dokter Windy pergi ke sana bersama Anda yang sudah pasti akan menjamin keselamatan dokter Windy dan perawat lain yang akan kami kirim ke rumah tersebut."
Seno terdiam sejenak sebenarnya dia cukup terkejut dengan permintaan dokter itu dia juga ingin menolak karena tidak mungkin jika dia pergi bersama Windy.
"Anda, tidak mungkin menolak untuk ini kan? karena di sini misi kita sama, yaitu menyelamatkan para korban dan kita melakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan mereka,"sambung dokter tersebut seolah memberi penegasan kepada Seno agar ia tidak menolak.
"Tentu saja itu benar, dan kami sebagai tim SAR, tentu siap mengantar dokter Anda ke rumah tersebut. Saya akan meminta salah satu atau bahkan beberapa anggota dari tim saya untuk mengantar dokter Windy dan perawat ke rumah tersebut. Dan mungkin kami akan membantu keluarga tersebut agar bersedia mengungsi di posko."
"Rekan Anda?"
"Benar, Anda jangan khawatir, rekan tim saya tentu bisa diandalkan karena kita memiliki misi yang sama."Sahut Seno meyakinkan.
"Kenapa tidak Anda dl saja? Saya dengar Anda sudah mengenal baik dokter Windy Jadi mungkin Anda bisa bekerjasama dengan baik di sana."
"Seperti yang Anda katakan, kita di sini memiliki misi yang sama, tidak peduli. sebelumnya kita saling mengenal atau tidak yang jelas dan yang terpenting di sini kita sama-sama menolong para korban jadi tidak ada salahnya dan apa salahnya jika rekan saya yang datang ke sana."
"Tapi, Saya sangat berharap jika Anda yang turun langsung. Tapi jika memang Anda tidak bisa tidak apa-apa saya bisa memaklumi itu dokter Windy bisa pergi dengan tim SAR yang anda tunjuk."
Windy yang tadinya memasang wajah senang kembali ditekuk karena dokter itu memilih untuk menyetujui ucapan Seno yang akan mengirim rekannya untuk menemani dirinya ke rumah korban tersebut.
"Seno, tidak bisakah kau saja yang menemaniku ke sana?"dan pada akhirnya Windy memberanikan diri untuk meminta lelaki itu yang menemaninya di sana.
Dan hal ini tentu membuat Seno dan dokter lelaki tadi terkejut.
__ADS_1
"Maaf Seno, bukan aku bermaksud menolak seseorang yang kau tunjuk untuk menemaniku nanti. Tapi aku rasa kita bisa bekerja sama di sana dengan baik, bukankah kau pemimpin yang bertanggung jawab dan kau tidak pernah melemparkan tugas yang sebenarnya ditunjuk padamu kepada orang lain?"
Seno sudah mengeraskan rahangnya, rasanya ingin sekali dia membentak Windy dan memakinya namun itu masih bisa Seno tahan karena dia tidak mungkin melakukan itu di depan dokter laki-laki yang masih ada di sebelahnya.
Setelah menetralkan emosinya, Seno mulai bicara pada gadis itu.
"Dokter Windy...!"
"Anda tenang saja dokter Windy, Mas Seno tentu tidak akan melemparkan tugas yang sesungguhnya untuk dirinya kepada orang lain. Dia akan pergi ke tempat itu."
Satu suara yang tiba-tiba masuk ke dalam tenda memotong ucapan Seno, dan tentu saja membuat semua terkejut dengan kehadiran si pemilik suara tersebut.
"Ra..Rana."Bibir Windy bergetar disaat menyebut nama si pemilik suara yang ternyata adalah Rana, dia sampai kaku tidak bisa berkata apapun lagi karena kehadiran Rana yang tentu saja tidak ia duga sebelumnya.
Sementara Seno masih terdiam di tempat dengan keterkejutannya, matanya menatap lekat Rana untuk memastikan jika itu benar-benar istrinya. Tapi dia sedikit tidak percaya dan dia menganggap bahwa itu halusinasinya saja karena dia sangat merindukan istrinya.
"Selamat malam! maaf jika kami mengganggu kalian, saya datang ke sini hanya untuk mengantar Ibu Rana yang ingin bertemu dengan Pak Seno,"ucap Dika yang ada di belakang Rana, dan setelah Dika mengatakan kata-kata itu membuat Seno tersadar bahwa yang ia lihat bukan halusinasi, mimpi atau khayalan saja. Itu benar-benar Rana.
"Rana! Sayang, aku tidak salah lihat kan? apa ini benar-benar kau?"tanya Seno untuk memastikan, dia takut jika Dika pun memiliki halusinasi sepertinya. Yang menganggap sosok yang ada di depan mereka adalah Rana.
"Ini bener istrimu. Kenapa kau masih bertanya seperti itu apa kau kira kau sedang bermimpi."Sahut Dika.
Seno segera mendekat dengan sedikit berlari.
"Aku tidak sedang bermimpi, ini benar-benar kau!"ucap Seno sambil menangkup wajah Rana dengan kedua tangannya.
Dan
Seno langsung memeluk istrinya.
"Kau sungguh membuatku terkejut, tapi aku sengat bahagia. Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau bertugas di sini, aku bisa menjemputmu. Apa kau senaja ingin membuatku memiliki penyakit jantung karena terkejut?"
"Maaf Mas, kakek Arif yang memintaku untuk tidak mengatakannya padamu karena dia ingin memberi kejutan untukmu."
"Aah, si tua bangka itu benar-benar membuatku terkejut. Tapi aku sungguh sangat bahagia dengan kejutan ini."Seno masih memeluk Rana dengan sangat erat tanpa merasa malu meskipun disaksikan dengan Dokter laki-laki tadi dan Windy, kalau Dika tidak usah dihitung karena dia sudah terbiasa menganggap laki-laki itu sebagai manekin.
Windy membuang pandangannya ketika Seno mencium kening dan kedua pipi Rana, sungguh dia tidak mau melihat adegan tersebut. Adegan yang seharusnya di perankan oleh dirinya.
Ehemm....
Si Dokter laki-laki tadi berdehem dan membuat Seno menyadari bahwa dia sedang diperhatikan oleh orang lain dan Rana pun langsung mendorong Seno untuk melepaskan pelukannya.
"Apa dia istri Anda?"Tanya dokter tersebut.
Seno berbalik menghadap dokter itu, tapi dia masih melingkarkan tangannya di pinggang Rana.
"Iya, ini istri saya, wanita yang paling cantik dan tulus yang sangat saya sayangi dan cintai setelah ibu saya. Namanya Kirana, perawat dari Rumah Sakit Bakti, istri dari Senopati,"ujar Seno memperkenalkan istrinya dengan penuh bangga pada dokter itu dan itu dia lakukan di hadapan Windy.
"Waaaah. Saya baru tahu jika istri Pak Seno seorang perawat, dan juga sangat cantik, senang bertemu dengan Anda. Perkenalkan Saya Dokter Ivan."Sahut Dokter itu.
__ADS_1
"Terima kasih, saya juga senang bertemu dengan Anda,"timpal Rana.
Seno yang tadi memasang senyum sejuta Waat, tiba-tiba cemberut karena dokter laki-laki yang ternyata bernama Ivan itu memuji istrinya dengan sebutan cantik membuat dia seketika terbakar api cemburu.
"Jadi bagaimana, apa Pak Seno besok bisa pergi ke Rumah korban yang sedang membutuhkan penanganan itu?"tanya dokter Ivan.
Seno melirik Rana. Dan Rana segera meyakinkan mereka.
"Tentu saja, suami saya tidak pernah melempar tanggung jawabnya pada orang lain. Jadi dia pasti akan pergi."Ujar Rana, dengan melirik Windy di akhir katanya.
Sementara Windy yang hatinya merasa kacau balau dan panas, hanya bisa terdiam menyaksikan pemandangan yang sungguh tidak ia pikirkan akan terjadi di depan matanya secara Live.
"Saya banyak mendengar tentang Pak Seno yang sangat bertanggung jawab dengan semua pekerjaannya. Jadi terima atas keputusan ini,"sahut Dokter Ivan.
Sementara Seno gelisah, karena sebenarnya dia tidak mau pergi ke lokasi itu bukan karena dia ingin melemparkan tanggung jawabnya kepada orang lain tapi dia ingin menghindari pergi bersama Windy untuk menjaga perasaan Rana. Ditambah lagi, istrinya berada di lokasi tersebut, tapi malah Rana sendiri yang memintanya untuk tetap pergi.
Rana melakukan itu karena dia tidak mau jika Seno di anggap sebagai pemimpin yang tidak bertanggung jawab, di tambah lagi Rana mendengar secara langsung, Windy mempertanyakan tanggung jawab Seno sebagai pemimpin. Dan Rana sangat tahu kenapa Windy mengatakan itu, dia tidak boleh kalah dengan Windy yang mulai mencoba menarik perhatian Seno dia harus berbuat sesuatu untuk menyadarkan gadis itu.
Dan Dika, yang sudah memahami situasi langsung memberi usul
"Begini saja. Bagaimana kalau perawat Rana ikut bersama dengan mereka, saya rasa kehadiran perawat Rana sangat membantu di sana."
Dokter Ivan mengangguk dan langsung menyetujui usul dari Dika.
**
"Kita sudah mendapatkan kesepakatan, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Dokter Ivan, dan dia segera berlalu dari sana.
Setelah kepergian dokter Ivan mereka pun keluar dari tenda.
"Rana, bagaimana dengan kabarmu aku senang kau bertugas di sini jadi kita bisa bekerja sama."Sapa Windy yang mencoba menguatkan hatinya. Dengan bersikap seperti biasa kepada Rana.
Rana yang sudah menyadari kemauan Windy, ikut bersikap biasa saja walaupun ia sangat waspada kepada wanita ini.
"Aku baik, ku juga senang bisa satu tempat denganmu karena kita bisa bekerja sama. Dan yang paling membuatku senang saat ini aku bisa satu lokasi dengan Mas Seno,"sahut Rana dengan melingkarkan tangannya di lengan Seno, sambil menyandarkan kepalanya, membuat Windy seketika membuang wajahnya karena dia tidak tahan melihat kemesraan itu.
Jika dulu Rana terlihat seperti enggan menunjukkan kedekatan dan kemesraannya dengan Seno di depan Windy demi menjaga perasaan wanita itu. Tapi sekarang, Rana tidak lagi mau memikirkan perasaan Windy setelah dia mendengar secara langsung kata-kata Windy yang menyudutkan Seno agar bisa pergi bersamanya.
Bersambung..
šāØāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø
__ADS_1