4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Semoga Windy Sadar.


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Meskipun Windy merasa tidak nyaman karena cemburu, tapi saat ini ia mencoba untuk tidak memperlihatkan ketidak sukaanya pada Rana. Namun dalam hatinya memaki dan mengumpat Rana yang tiba-tiba datang di lokasi tersebut, lokasi yang Windy kira akan menjadi jembatan bagi dirinya untuk kembali berjalan memasuki hati Seno.


Entah dalam ke adaan sadar atau tidak, tapi Windy mengakui hatinya yang benar-benar ingin kembali memiliki Seno.


Semoga saja ini hanya reaksi sementara Windy yang merasa cemburu karena dia sesungguhnya masih mencintai Seno. Dan dengan melihat kenyataan bahwa Seno benar-benar sangat menyayangi Rana dan mereka hidup bahagia, Windy bisa kembali ke sifatnya yang dulu sebagai wanita terhormat yang tidak akan pernah mengharapkan dan berniat memiliki sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain.


Windy menimpali kata-kata Rana dengan mengulas senyum.


"Sayang kau baru sampai kan! Pasti lelah, ayo beristirahat."Ajak Seno, yang tentu tidak menghiraukan gadis yang kini sedang memandangi dirinya.


"Iya Mas,"sahut Rana dan dia kembali beralih pada Windy.


"Windy, aku permisi dulu. Selamat malam."


"Tunggu!"cegah Windy pada pasangan suami istri yang sudah melangkah kakinya ingin menuju tenda yang Seno tempati.


"Ada apa?"tanya Rana seraya membalikkan badannya.


"Rana, bukankah kau harus tinggal di tenda medis yang sudah di sediakan? Aku rasa tidak pantas jika kau bermalam di tenda Tim SAR."


Mendengar kata-kata Windy seketika emosi Seno meningkatkan. Ia harus memberi peringatan pada gadis itu untuk tidak mencampuri urusan nya, melihat suasana yang sepi karena tidak ada siapapun di sana selain dirinya dan Rana, sedangkan Dika sudah pergi terlebih dahulu membuat Seno akan lebih leluasa berkata keras pada gadis itu.


"Mas!"Namun Rana menahan Seno, ketika lelaki itu sudah maju beberapa langkah ingin mendekati Windy dengan wajah yang sudah memerah,"Biar aku yang bicara pada dokter Windy,"sambung Rana, lalu ia berdiri tegak di hadapan Windy.


"Terima kasih kau sudah mengingatkan aku dokter Windy, aku tahu jika tenda tempat ku untuk beristirahat berada di tenda yang sama denganmu yaitu tenda medis. Tapi, karena sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan Mas Seno, aku ingin bersama suamiku untuk beberapa saat sebelum kembali ke tenda ku,"Rana kembali bergelayut pada Seno,"Mas, apa kau merindukan aku setelah beberapa hari kita tidak bertemu?"


Seno sebenarnya heran dengan tingkah manja Rana yang tiba-tiba. Tapi dia sangat senang dengan kemanjaan istrinya yang terlihat semakin manis dan menggemaskan di matanya, dengan gerakan lembut, Seno memutar istrinya agar menghadap ke arahnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? tentu saja aku sangat merindukanmu, bahkan sudah beberapa hari ini aku tidak bisa tidur nyenyak karena tidak memeluk di saat tidur, aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu."Ucap Seno dengan nada suara yang sangat sensasional.


Membuat kuping Windy serasa ingin terbakar mendengar suara yang sangat ia inginkan itu.


"Tapi, sepertinya malam ini tidak bisa Mas, kau harus bersabar untuk beberapa hari ke depan, karena aku harus kembali ke tenda yang sudah di sediakan untukku. Karena rasanya tidak pantas jika aku berada di dalam tenda mu,"ucap Rana seraya melirik Windy, yang wajahnya terlihat sudah sangat memerah.


Seno mengusap wajah Rana dengan lembut.


"Tidak ada satu orangpun yang bisa melarang atau mencegah aku untuk membawamu ke tendaku, kita suami istri. Di mana letak tidak pantasnya?"


Sepertinya Seno benar-benar tidak menganggap Windy ada di sana, karena fokus dan perhatiannya dicurahkan untuk Rana ditambah lagi dengan istrinya yang tiba-tiba bersikap manja membuat Seno semakin bersemangat dengan istrinya tanpa memperdulikan yang ada di sekelilingnya, bahkan wanita yang tengah menatapnya dengan mimik wajah yang bercampur aduk.


Rana kembali melirik ke arah Windy sambil mengukir senyum di kedua sudut bibirnya, senyum yang penuh arti untuk Windy.


"Jadi, apa aku harus tetap ikut ke tendamu?"


"Tentu saja, apa perlu aku menggendong mu untuk sampai ke tenda?"ujar Seno menggoda Rana.

__ADS_1


"Kau ini Mas, aku bisa jalan sendiri."


"Kalau begitu ayolah! Aku sudah tidak bisa menahannya lagi,"bisik Seno di telinga Rana, namun bisikan yang keluar dari mulut lelaki itu mampu menembus sampai ke telinga Windy.


"Mas Seno, kenapa berbisik dengan suara kencang seperti ini. Aaaah, Sepertinya aku sudah membangunkan jiwa mesum Mas Seno secara tidak senaja."


Windy melebarkan matanya dengan tajam ketika menatap Rana. Dengan tangan yang mengepal.


"Maafkan aku Windy, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Tapi aku rasa, kau memang harus tahu ini. Kau yang memulainya terlebih dahulu, jadi aku hanya ingin mengimbangi permainanmu."


"Windy kamu dengar sendiri kan apa yang suamiku katakan, jadi aku tidak bisa ke tenda medis untuk saat ini karena aku harus ikut bersama suamiku terlebih dahulu."Ucap Rana.


"Sudahlah sayang! jangan pedulikan hal yang lain, ini sudah malam kau pasti sangat kedinginan. Ayo kita ke tenda."


Tanpa memperdulikan Windy yang dadanya sudah berkobar-kobar, namun dia tidak bisa berkata dan melakukan apapun selain diam dan menahan marah di dalam hatinya.


Seno menggandeng tangan Rana melewati Windy begitu saja menuju ke tenda.


****


BRAK!


Windy melemparkan ponselnya ke sembarang arah setelah dia sampai di tendanya dengan perasaan yang hancur berkeping-keping, setelah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kemesraan Seno dan Rana.


"Windy kau kenapa?"tanya temannya yang melihat Windy dengan nafas yang memburu wajahmu merah serta jari tangan yang mengepal kuat.


"Apa kau baik-baik saja? kenapa kau terlihat kesal seperti ini?"


Dengan menahan amarah serta mengumpulkan kesabarannya yang seluas samudra, Windy memasang senyum terbaik yang selalu ia tunjukkan kepada orang-orang di luar sana.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya kesal pada diriku sendiri yang ceroboh menjatuhkan ponselku yang sangat berharga itu."


"Yasudah, lain kali kau lebih berhati-hati lagi. Jika memang benda itu sangat berharga untukmu. Kau harus jaga baik-baik jangan sampai rusak apalagi lepas dari tanganmu, karena sesuatu yang sudah lepas akan sulit untuk kita dapatkan kembali."


Windy menatap temannya itu.


"Menurutmu. Jika sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita lepas dan sudah dimiliki orang lain, apa bisa kita memiliki beni itu kembali?"


"Apakah benda itu satu-satunya dan tidak ada lagi di luar sana?"Tanya teman Windy yang tentu saja tidak menyadari maksud dari pertanyaan Windy.


"Tidak ada, benda itulah satu-satunya yang tidak akan pernah bisa aku dapatkan di tempat lain."


"Mungkin kau bisa memiliki benda itu lagi dengan meminta secara baik-baik kepada si pemilik baru benda itu. Mungkin jika kau menceritakan betapa kau sangat membutuhkan benda itu dan sebepa berharganya benda itu untukmu, si pemilik akan dengan suka rela memberikannya kembali kepadamu."


Seketika Windy terdiam, meresapi setiap kata-kata yang baru saja temannya katakan.


***


Di tempat lain Seno meminta beberapa rekannya untuk meninggalkan tenda karena ia ingin membawa masuk istrinya, tanpa ada protes sedikitpun mereka keluar dari tenda berikut dengan Dika, yang justru Tengah galau karena Aurel sejak tadi tidak membalas pesannya dan menjawab panggilnya.

__ADS_1


"Lebih baik kita tidur di tenda lain atau bahkan di luar daripada kita melihat Pak Seno uring-uringan,"ucap salah anggota Seno.


"Itu benar."Sahut temanya.


"Tapi sepertinya masih ada yang uring-uringan,"timpal satu temannya lagi seraya melirik ke arah Dika.


"Aah, biarkan saja dia. Dia sedang berjuang untuk gadis pujaan hatinya yang ternyata memiliki lelaki idaman lain."


"Benarkah! Lalu bagaimana dengan Dika, bukankah dia selalu mengatakan jika sudah berkencan dengan gadis itu?"


"Aku tidak tahu, jika dia sudah berkencan dengan gadis itu, mana mungkin Gadis itu mempunyai pria idaman lain."


"Benar juga. Mungkin saja pria itu lebih tampan dan gagah dari Dika."


"Itu sudah pasti."


Mendengar beberapa temannya tengah membicarakan dia secara blak-brakan, membuat Dika tersungging eh tersinggung.


"Eeheeeem .. Apa kalian tengah meledekku?"


"Tidak! kami hanya tengah menjadikanmu topik pembicaraan kami saja, masa kau tersinggung. Dan menganggap kami meledekmu."


"Dika, bukankah kamu memiliki ratusan bahkan ribuan cara untuk melakukan seorang gadis, ayolah tunjukkan semua aksimu itu. Buat gadis itu tau, siapa Dika sebenarnya."


Mendengar ada satu manusia yang mendukung dan memperhatikannya membuat Dika tersenyum lebar dan kembali positif thinking untuk perjuangan menaklukkan Aurel.


***


"Mas, aku ke tenda medis ya, karena memang tempatku di sana, aku tidak enak dan tidak tega jika kau sampai meminta teman-temanmu pindah ke tenda lain,"ujar Rana.


"Aku tidak suka jika kamu memperdulikan laki-laki lain, sekalipun itu teman-temanku, mereka sendiri yang mau pindah. Dan bukankah kau sendiri yang bilang ingin bersamaku, dan kita sudah sepakat kan, akan menghabiskan waktu bersama malam ini,"sahut Seno dengan Senyum yang biasa ia pasang di saat sedang On.


Ya, memang Rana yang terlebih dahulu membangkitkan jiwa yang terpendam dalam diri suaminya.


"Tapi Mas, bukan berati kita harus melakukan itu di tempat ini kan?"


"Melakukan apa? Aku tidak mengerti dengan kata-kata itu,"sahut Seno yang semakin tersenyum mencurigakan seraya berjalan mendekati Rana, dengan gerakan yang ia ciptakan dan pelajari untuk merayu dan menggoda istrinya.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2