4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Apa Yang Di Sembunyikan Sarah?


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—


šŸšŸšŸšŸšŸ


Usai, memeriksa diri ke dokter pribadinya, Seno malah pulang ke rumahnya sendiri, padahal. Baik Dika dan Lina sudah mewanti-wanti dirinya agar pulang ke rumah orangtuanya.


Seno berjalan dengan lesu memasuki rumah satu lantai yang ia bangun sebelum menikah dengan Rana. Jika di luar sana ia terlihat gagah dan penuh semangat. Tapi ketika ada di rumah, lelaki itu selalu lemah seperti tidak mempunyai gairah hidup.


Ia akan membiarkan seluruh ruangan di rumah ini gelap, dengan tidak menyalakan lampu dan membuka tirai jendela, hanya satu lilin saja yang selama ini Seno nyalakan untuk mempermudah aktivitasnya di dalam rumah.


Ketika Seno, baru mendudukkan dirinya di sofa tempatnya selama ini tidur, matanya tertuju pada kamar yang dulu ia tempati bersama istrinya. Seno bangkit dan melangkahkan kakinya menuju kamar tersebut.


CKLEK...


TAK!


Suara pintu terbuka di lanjutkan dengan suara saklar lampu, terdengar nyaring di suasana yang sunyi sepi.


Suasana gelap di dalam kamar seketika berubah terang karena Seno mau menyalakan lampu di kamar itu.


Dia melangkah secara perlahan masuk ke dalam kamar dengan memperhatikan setiap sudut yang ada di ruangan itu. Ruangan yang tidak pernah berubah selama 4 tahun ini, karena memang Seno tidak merubahnya sedikitpun, semenjak kepergian Rana, Seno membiarkan kamar seperti semula di saat ada Istrinya, bahkan ia tidak mengganti sprei berwarna pink, sprei yang menutupi kasur, dan yang terakhir kali Rana gunakan sebelum Wanita itu pergi, dan sampai saat ini. Seno tidak pernah menggantinya, selama bertahun, dan selama itu juga Seno tidak pernah menempati kamar ini. Karena ia selalu tidur di sofa. Dia hanya akan masuk sesekali, mengenang apa yang dulu terjadi di kamar itu. Tapi itu tidak bertahan lama karena semakin lama Seno berada di kamar, ia akan semakin merasa bersalah kepada wanita yang sudah dia sia-siakan secara tidak sadar.


Seno mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan menatap foto pernikahannya dengan Rana, yang masih dia simpan di kamar sampai saat ini.


Dan seperti inilah yang Seno lakukan setiap hari, selama 4 tahun.


šŸšŸšŸ


Dan di tempat lain.


Dokter Vir sudah tiba di Kota XXX, ia segera menuju kediaman Wahyu, kerena selama beberapa hari ke depan Vir akan tinggal di rumah Wahyu.


"Maaf, Anda cari siapa?"tanya seorang wanita paruh baya. Yang menjadi Asisten Rumah, orang tua Wahyu.


"Selamat! Malam. Saya Virgoun. Saya ingin bertemu dengan dokter Wahyu, saya rekan kerjanya."


"Kalau begitu, pak dokter silahkan tunggu di dalam, saya akan panggilkan dokter Wahyu, dulu."


"Terima kasih."


Vir Duduk di ruang tamu.


Dan tidak membutuhkan waktu lama, Wahyu datang dengan wajah pucat.


Vir bangun dan segera menghampiri temannya itu.


"Bagaimana dengan keadaanmu? Kau baik-baik saja kan?"tanya Vir, padahal dia sudah tahu hanya dengan melihat wujud Wahyu bahwa lelaki itu tidak baik-baik saja.


"Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Duduklah!"Ujar Wahyu.

__ADS_1


Dan mereka berdua pun duduk bersama, di sini Vir benar-benar memberi semangat kepada Wahyu agar tidak terus-terusan terpuruk karena masalah sebelumnya. Namun sepertinya Wahyu sudah larut dalam rasa bersalahnya yang paling dalam hingga Ia seperti tidak mendengar nasehat dari dokter Vir.


"Semua bukan salahmu, kita sudah melakukan apa yang kita bisa, namun tuhan berkehendak lain. Tidak ada yang bisa mencegah takdir tuhan. Jika kau terus-terusan seperti ini, itu sama saja kau tidak menerima takdir yang Tuhan berikan kepada dirimu, berdamai lah dengan keadaan dan kembalilah pada suatu yang sudah menjadi tugas kita."


"Apa yang di katakan teman mu itu benar,"Sebuah sahutan, mengejutkan Vir dan Wahyu.


Mereka secara bersamaan menoleh ke sumber suara.


Dan pemilik suara tersebut adalah seorang wanita, berwajah teduh dan cantik, dengan rambut panjang terurai.


Vir, menatap kedatangan wanita yang baru pertama kali ia lihat, sedang Wahyu, langsung menundukkan wajahnya ketika tau siapa yang datang.


"Selamat malam! Maaf jika kedatangan saya dirasa tidak sopan, dengan mengganggu kalian."Ucap gadis itu.


"Tidak apa-apa,"Sahut Vir.


"Untuk apa kau datang?"tanya Wahyu, tanya pada si gadis.


"Tentu saja untuk menghibur mu, tapi ternyata sudah ada temanmu yang lebih dahulu datang dan menghiburmu."


Sahut si gadis, seraya berjalan mendekati kedua laki-laki yang masih duduk di sofa.


Dengan ramah gadis cantik ini mengulurkan tangan kepada Vir.


"Perkenalkan, nama saya Windy. Saya sepupu Wahyu."


Vir, segera bangun dari duduknya dan meraih tangan Windy.


Dan beberapa saat kemudian, mereka terlibat perbincangan hangat, perbincangan yang isinya memberi wejangan kepada Wahyu agar ia kembali menjalankan hidupnya.


šŸšŸ


"Apa kau akan lama berada di kota ini? "Tanya dokter Windy yang langsung akrab dengan Vir. Karena ia memiliki kepribadian yang ramah dan mudah bergaul.


Saat ini mereka hanya berdua, karena Wahyu sudah beristirahat di dalam kamarnya.


"Mungkin sampai beberapa hari ke depan, dan selama itu juga aku akan tinggal di sini merepotkan tante Aida dan Wahyu."


Windy tersenyum.


"Jangan bicara seperti itu. Tante Aida pasti akan senang dengan kehadiranmu di sini, karena kamu bisa membujuk dan menemani Wahyu, agar dia tidak terus-terusan terpuruk, aku sangat prihatin mendengar apa yang terjadi di tempat bencana itu, dan sebagai seorang dokter. Tentu Wahyu merasa gagal dalam menjalankan tugasnya. Tapi semua itu sudah takdir, seharusnya dia bisa menerima kenyataan tanpa harus terpuruk seperti ini."Ujar Windy.


"Kamu benar, itu sebabnya kita harus membantu Wahyu agar ia kembali Bangkit."


"Baiklah ini sudah larut malam, aku pulang dulu. Jika kamu ada waktu, berkunjunglah ke rumah sakit tempatku bekerja. Karena aku lebih sering menghabiskan waktu di sana."


"Baiklah, aku akan menyempatkan diri untuk berkunjung sebelum kembali ke kotak XXX."


Windy berpamitan dan pulang dari rumah Wahyu, yang ternyata adalah sepupunya.

__ADS_1


šŸšŸšŸ


Pagi hari.


Rana pun sudah tiba di kota tujuannya dan untuk kali ini, Aurel sudah menunggunya di terminal karena Gadis itu takut kejadian dulu terulang. Ketika Rana diganggu preman di terminal ini.


"Apa kau ingin langsung ke rumah Kak Sarah?atau ingin beristirahat di rumahku dulu?"tanya Aurel yang saat ini sudah berada di dalam mobil dengan Rana yang duduk di sebelahnya.


"Aku mau langsung ke rumah Kak Sarah saja, agar semuanya bisa segera diselesaikan dan aku bisa langsung kembali ke rumah Ibu."


"Baiklah! Tapi apa Kamu akan langsung pulang begitu saja, kau tahu kan aku sangat merindukanmu karena sudah lama kita tidak bertemu, paling tidak beberapa hari lagi lah di sini. Kita habiskan waktu bersama seperti dulu?"ajak Aurel, namun Rana sepertinya enggan untuk berlama-lama di Kota ini.


"Ayolah Rana, aku janji akan membantu semua urusanmu di sini. Dan aku juga akan memastikan si laki-laki yang bernama Seno itu benar-benar enyah dari hidupmu, dia tidak akan mengganggu dan menghantuimu lagi."


"Baiklah, aku akan tinggal di sini selama beberapa hari ke depan."


"Nah, begitu dong. Setidaknya hargailah sahabatmu ini yang sudah lama menunggu kedatanganmu. Semenjak kau pergi dari kota ini, aku jadi kesepian karena tidak ada lagi yang mau berteman denganku."Ujar Aurel dengan wajah yang dibuat sedih.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, hingga beberapa menit kemudian. Rana dan Aurel sampai di kediaman Sarah dan Bima.


kedatangan Rana, tentu saja mengejutkan kakaknya, karena ia sungguh tidak tahu jika adiknya akan datang tiba-tiba seperti ini.


"Sudah puluhan kali aku menghubungi Kakak, memberi kabar kalau aku ingin datang ke sini, tapi Kakak tidak pernah mengangkat teleponku bahkan ponsel Kakak mati tidak dapat dihubungi."Kata Rana melayangkan protes, ketika dia baru memasuki rumah dan di cecar beberapa pertanyaan oleh Sarah, yang mempertanyakan kedatangannya yang mendadak.


"Ponsel Kakak rusak, jadi tidak bisa mengabarimu. Tapi tidak seharusnya kau datang tiba-tiba seperti ini kan. Kamu bisa menunggu Kakak menghubungimu dulu."


Sarah yang terlihat panik, dengan kedatangan adiknya.


"Kenapa?"tanya Rana sambil menesik gerak-gerik Sarah.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa aku harus menunggu kabar dari kakak dulu, kalau aku mau datang ke sini? biasanya aku langsung datang saja kan."


Sarah terlihat gugup, dan Rana semakin menetap curiga kakaknya, ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sarah. hingga suasana canggung pun tercipta di sana.


Namun, suasana canggung ini segera dicairkan oleh Aurel, yang mengatakan jika ia haus dan lapar.


"Astaga !aku sampai melupakan kehadiranmu Rel. Ayo masuk ke dalam, kebetulan Kakak sudah memasak, dan kau bisa makan bersama kami di sini."Kata Sarah, dan segera menggandeng Aurel menuju ke meja makan.


Bersambung..


šŸšŸšŸšŸšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™

__ADS_1


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2