
Selamat membaca š¤
ššš
Setelah memastikan Rega benar-benar menjauh dan tidak terlihat lagi, Olivia yang berpura-pura berjalan menuju gerbang Rumah orang Tuanya malahan memutar arah. Dia tidak menuju pulang. Olivia berjalan sambil terus melirik kebelakang, takut jika penjaga Rumah Ibunya mengetahui keberadaannya.
Sampai di jalan utama, Olivia segera memesan Taksi Online. Dan tidak butuh waktu lama, taksi yang Olivia pesan sudah tiba dan segera membawanya ke suatu tempat yang ingin gadis itu tuju.
**
"Di depan Gang sempit, lampu merah yang itu ya Mbak?"tanya Sopir taksi, sambil menunjuk tempat yang baru saja dia sebutkan.
"Iya Pak,"sahut Olivia.
Taksi online menepi di depan Gang sempit. Dan Olivia segera turun dari Taksi itu setelah melakukan pembayaran secara tunai.
"Terima kasih, Pak."
"Iya Mbak, sama-sama."
Dengan tergesa-gesa, Olivia langsung berjalan cepat memasuki gang sempit di sana dan lagi-lagi Olivia kecolongan. Karena ternyata aksinya itu sedang diintai oleh Dika yang memang sejak tadi membuntutinya dari semenjak berada di Cempaka Resto.
Dika yang berada di dalam Mobil, memperhatikan tempat yang ada di sekelilingnya. Dika ingat betul dengan Gang itu.
"Sepertinya dugaan ku tidak salah,"gumam Dika. Dan tidak lama kemudian, Dika melihat Cilla yang turun dari sebuah Taksi. Gadis itu juga memasuki Gang yang sama seperti Olivia. Dan hal ini semakin memperkuat dugaan Dika.
Setelah yakin dengan apa yang Dika duga, lelaki itu memutuskan untuk pergi dari sana. Dia terpaksa memanfaatkan situasi ini untuk menyelamatkannya dari ancaman sang ibu.
***
Keesokan , semua orang melakukan aktivitas masing-masing seperti biasa. Dan selepas pulang bekerja, Dika selalu mengantar Seno ke tempat kursus memasak. Seno semakin paham karena di sana dia belajar dengan bersungguh-sungguh.
**
"Bagaimana, kau juga tidak merasa asing kan dengan calon menantu pak Kusuma itu?"tanya Cilla pada Mawar yang sedang fokus mencatat perkembangan para peserta Kursus.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak pernah melihat orang itu,"sahut Mawar.
"Kau hanya melihatnya dari foto, coba jika kau bertemu secara langsung dengan Wanita yang bernama Olivia itu. Pasti kau juga tidak akan merasa asing dengan wajahnya. Andai saja malam itu kau tidak pulang duluan."
"Sudahlah, tidak usah memikirkan hal itu, lebih baik kita fokus bekerja saja. Dan jangan pernah membicarakan calon menantu Pak Kusuma, kau tau sendiri kan beliau tidak suka jika ada yang membicarakannya."Kata Mawar.
"Iya, aku minta maaf. Aku hanya merasa penasaran saja dengan wanita itu yang wajahnya tidak asing bagiku, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi aku lupa di mana itu, tapi ya sudahlah! aku tidak akan lagi memikirkan dan mengingat calon menantu Pak Kusuma itu."
"Itu keputusan yang tepat,"ujar Mawar.
**
Sebelum senja, Kursus berakhir dan Seno langsung meluncur pulang ke Rumahnya. Meninggalkan Dika yang masih ingin berada di Galeri Kursus Cempaka, karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan di sana
"Ehem..!"Dika berdehem saat melihat Mawar keluar dari Galeri.
Mawar mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang sedang disapa Dika dengan cara berdehem. Namun Mawar tidak menemukan siapapun di sana selama dirinya.
"Bisa kita bicara sebentar."Kata Dika.
"Iya, siapa lagi. Di sini tidak ada orang lain kan."Sahut Dika.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Apa soal perkembangan temanmu yang bernama Seno? Jika iya, Cilla yang akan menjelaskannya padamu karena....!"
"Bukan!"potong Dika, sebelum gadis itu melanjutkan ucapannya,"Aku tidak ingin bertanya soal itu, karena aku sudah sangat yakin seyakin-yakinnya kalau Seno pasti unggul dari peserta yang lainnya."
"Lalu, kau ingin bicara apa? Ini sudah hampir malam. Saya harus segera pulang, jadi lebih baik bicarakan apa yang ingin kau bicarakan."Ujar Mawar yang sudah tidak mau berlama-lama berdialog dengan Dika.
"Aku akan segera bicara, tapi tidak di sini. Ikutlah aku,"ajak Dika.
Mendengar ajakan dari lelaki itu tentu saja Mawar menolaknya dengan mentah-mentah.
"Tidak bisa, saya memiliki banyak urusan dan harus segera pulang, jika ada yang ingin kau bicarakan lebih baik besok saja. Kalau tidak kau bisa bicara dengan Cilla."Kata Mawar dan sudah ingin beranjak dari sana.
"Apa kau mengenal Olivia?"
__ADS_1
Langkah kaki Mawar seketika terhenti di saat Dika menyebut nama Olivia. Mawar berbalik melihat Dika.
"Olivia?"
Dika tersenyum penuh arti.
"Iya, Olivia, apa kau mengenalnya?"
"Tidak!"Sahut Olivia dengan cepat, namun wajahnya terlihat seperti tidak nyaman dan gelisah.
"Benarkah kau tidak mengenali Olivia, calon menantu Pak Kusuma pemilik Restoran tempatmu bekerja selama ini."
Karena kesal, Mawar maju. Semakin mendekati Dika.
"Kenapa kau memaksa saya untuk mengenali Olivia?"
"Bukan memaksa, aku hanya ingin bertanya saja. Karena Olivia itu tetangga Apartemenku. Tapi... sepertinya.. Olivia tidak hanya tinggal di Apartemen dia juga tinggal di sebuah tempat, tidak jauh dari sini."Kata Dika.
Mawar melihat wajah Dika yang sangat mencurigakan, apalagi senyumnya yang seperti sebuah belati.
"Di mana kita harus bicara?"
Dan pada akhirnya Mawar menyerah, mengikuti apa yang di inginkan Dika untuk tidak berbicara di tempat tersebut.
Bersambung..
ššš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø
__ADS_1