
Selamat, membaca š¤
šāØāØāØāØš
("Mas, maafkan aku. Aku harus meninggalkan ibu di rumah, karena ada tugas yang harus aku lakukan.")
Rana menghubungi Seno lewat Video Call.
"Tugas, apa dari Rumah sakit?"
("Tentu saja memangnya dari mana lagi?")sahut Kakek Arif. Yang ikut nimbrung.
"Kakek mengagetkan aku saja, sudah sana. Untuk apa Kakek ada di situ. Menyingkirlah."Usir Seno, yang merasa terganggu dengan wajah kakek Arif yang memenuhi Layar ponselnya.
("Kau berani mengusir kakek?")
"Tidak!"
("Seno, istri mu ingin bertugas, sama sepertimu.")
"Aku tahu itu, tapi kenapa Kakek masih di sana, biarkan Rana yang bicara denganku. Kakek mengganggu saja."
("Baiklah! Kakek akan menyingkir, tidak akan menghalang pandanganmu.")
Seno kembali tersenyum setelah wajah Rana yang kembali memenuhi Layar ponselnya.
Dan Rana pun kembali meminta izin.
"Baik aku mengijinkan mu, berapa lama kau di sana? Dan di mana lokasinya?"tanya Seno.
Di saat Rana ingin memberi tahu, Kakek Arif kembali menyahut.
("Lokasinya tidak jauh, masih di Kota yang sama, tapi Rana bertugas di sana selama 2 Minggu.")
"Apa, dua Minggu! Kenapa lama sekali? Aku akan pulang Minggu depan,"protes Seno
("2 Minggu tidak lama, hanya 14 hari hari saja, bersabarlah.") Sahut Kakek Arif yang senaja tidak memberi tahu Seno jika Rana bertugas di tempat yang sama dengannya. Dengan maksud ingin memberi kejutan.
"Padahal satu hari saja seperti satu tahun,"gumam Seno.
***
Setelah proses berpamitan, dan meyakinkan Seno jika Rana dan ibunya akan baik-baik saja.
Rana berkemas, sambil menunggu Aurel yang akan mengantarnya ke Rumah Sakit, karena Rana berangkat bersama dengan dokter Ardi dan beberapa perawat lainnya.
**
"Bu, aku pamit ya. Aku akan sering-sering menghubungi ibu, dan jika ada sesuatu yang terjadi segera hubungi aku atau Aurel terlebih dahulu. Aku juga sudah berpamitan pada kak Sarah, dia akan sering kesini untuk menjenguk ibu selama aku dan Mas Seno belum kembali."
"Iya nak, terima kasih atas perhatian mu pada ibu. Kau baik-baik di sana jangan terlalu lelah dan jaga selalu kesehatanmu, Seno akan menjagamu dengan baik di sana."
"Iya Bu terima kasih."
****
"Seandainya aku bisa ikut bersamamu, mungkin jalan kebersamaan ku dan Ardi akan lebih mudah dan cepat,"ujar Aurel yang saat ini sedang berada di belakang kemudi.
"Apa kau sudah menghubungi Dokter Ardi?"tanya Rana.
"Belum."
"Kenapa?"
"Aku, masih mengulur waktu untuk membuat lelaki itu penasaran dan dia yang akan menghubungiku terlebih dahulu."
"Mana mungkin, dokter Ardi tidak mengetahui nomor ponselmu."
__ADS_1
"Jika dia sudah diliputi rasa penasaran, dia pasti akan meminta nomor ponselku kepadamu dan jika saatnya itu tiba jangan ragu-ragu untuk memberikannya."
"Apa kau serius dengan dokter Ardi? jika itu benar aku sungguh tidak tega dengan Dika."
"Kenapa kau Masih memikirkan lelaki aneh itu? dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya padaku, jadi apa yang membuatmu tidak tega. Dia tidak serius mendekatiku Rana. Sudahlah jangan bahasa Dika lagi, aku masih tetap berteman dengannya dan dia juga masih sering menghubungiku, jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan."
'Aku tahu kalau Dika serius, hanya dia memiliki cara berbeda dan terlihat aneh untuk mengungkapkan perasannya,'batin Rana, dengan yakin setelah ia mendengar cerita dari Seno tentang keseriusan Dika pada Aurel.
šāØāØāØš
"Pak Seno, sepertinya hujan akan kembali turun. Apa kita kembali menghentikan pencarian lebih awal?"tanya salah satu anggota Tim SAR dari Seno.
"Kita lihat kondisi hujannya dulu, jika hanya hujan ringan kita masih bisa melanjutkan pencarian sampai waktu yang ditentukan. Tapi jika terjadi badai seperti kemarin terpaksa kita harus menghentikan pencarian lebih awal. Tetaplah berhati-hati dan utamakan keselamatan kalian."
"Baik Pak."
"Pak Seno, ini untuk Anda."
Seorang lelaki dari tim medis memberikan satu kantong plastik putih berisi makanan dan minuman pada Seno.
"Apa ini?"tanya Seno, sambil menerima bungkusan tersebut.
"Itu titipan dari Dokter Windy, beliau bilang, Anda sangat menyukai minuman bersoda dan ada beberapa makanan kesukaan Anda. Jadi beliau memintaku untuk memberikan itu kepada Anda."
Seno mengela nafas berat.
"Baik, terima kasih."
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya permisi dulu."
Seno mengangguk dan pria tadi pun segera berlalu.
"Waaaah. Sepertinya, ada seseorang yang ingin mengungkit, kenangan kisah lama,"ledek Dika.
"Diam kau, cepat minum ini."Sahut Seno, seraya menyerahkan kantong plastik putih tadi kepada Dika.
"Bener."Sahut Seno yang tidak memungkiri fakta itu.
"Lalu, kenapa kau memberikannya kepadaku apa kau tidak mau meminumnya karena dari gadis itu?"
"Iya. Jadi lebih baik kau minum minuman itu, daripada harus dibuang."
"Waah.... kau sangat berterus terang. Tapi, bagaimana jika dia memberi sesuatu pada minuman ini? contohnya ilmu pelet? aku bisa tergila-gila padanya, jika aku tergila-gila padanya lalu bagaimana dengan Aurel?"
Seno menghentikan aktivitasnya dan menatap Dika.
"Bukankah Aurel sudah menemukan pria idamannya, jadi kau tidak perlu memikirkan dia lagi."
"Pria idaman macam apa itu? terlihat dari punggungnya saja dia bukan lelaki baik-baik, dan aku bisa melihat dari punggung itu bahwa lelaki itu tidak setampan dan perkasa seperti diriku, bisa jadi dia Om-om dengan perut buncit dan memiliki banyak hutang."Sahut Dika, dengan mencemooh lelaki yang dia lihat punggungnya di Status aplikasi hijau Aurel.
Seno menggeleng.
"Sepertinya kau kembali memiliki kelebihan lain, bisa melihat karakter dan wajah seseorang hanya dari punggungnya saja. Sungguh luar biasa."
Dika tersenyum bangga mendengar pujian Seno yang sebenarnya ledekan untuk dirinya.
"Aku juga sungguh kagum dengan kehebatanku. Setiap hari aku selalu menunjukkan kelebihan dan bakat-bakat yang tersembunyi, bagaimana wanita tidak tergila-gila kepadaku. Sungguh kau hebat Dika."ujar Dika membanggakan dirinya sendiri.
"Ya, itu benar."
"Tapi Seno, aku juga bisa memprediksi sesuatu yang lain. Sepertinya Windy, senaja mengingatkan masa-masa kalian berdua, contohnya makanan dan minuman kesukaanmu, ini dia lakukan untuk menarik kembali perhatianmu. Ini bahaya!"Ujar Dika, mengutarakan kecurigaan yang dia tangkap dari sosok Windy akhir-akhir ini
"Bahaya?"
"Iya, jika orang sudah mengungkit dan memutar kembali kenangan masa lalu, itu adalah sebuah kode, apalagi jika kenang-kenangan yang sengaja ia tampilkan adalah kenangan manis. Itu adalah kode keras bahwa dia ingin kembali merasakan hal-hal seperti itu, dan menginginkan kau mengingat masa-masa Indah kalian berdua."
"Biarkan saja,"sahut Seno dengan cuek, karena dia sama sekali tidak peduli mau Windy mengingatkan masalah lunya yang indah ataupun buruk. Karena itu sudah tidak ada artinya lagi untuk Seno.
__ADS_1
"Biarkan bagaimana! ini sebuah kode kuat Seno, kode bahwa wanita itu masih mengharapkan dan menginginkanmu, dia menginginkan kalian kembali mengulang masa-masa Indah kalian berdua. Pertama-tama dia akan mengungkit minuman dan makanan kesukaanmu, setelahnya tempat yang sering kalian kunjungi dulu dan kebiasaan serta hal-hal yang sering kalian lakukan berdua, apa kau merasa nyaman jika wanita itu terus-terusan mengungkitnya?"
"Aku biasa saja, karena aku pun sudah tidak peduli. Aku tidak akan pernah mendengarkan dan menggubris jika dia mengungkit itu di depan ku, bahkan aku tidak akan memberikan dia kesempatan untuk bertemu dengan ku, aku hanya takut jika dia mengungkit itu di depan Rana."
"Itu yang aku maksud bahaya, jika seseorang sudah berambisi kuat dan dia gagal dengan satu usaha, orang itu pasti akan menggunakan cara lain untuk mencapai ambisinya."
Seno terdiam dia mulai berfikir.
"lalu apa yang harus aku lakukan? apakah aku harus menyingkirkan wanita itu?"Tanya Seno.
"Menyingkirkan wanita itu! Kenapa kata-katamu terdengar sangat mengerikan."Sahut Dika.
"Baiklah, aku mengerti apa yang harus aku lakukan."Ujar Seno setelah beberapa saat di berfikir.
Dika. mengacungkan jempolnya.
"Bagus! sepertinya kau sudah banyak perubahan setelah berguru kepadaku, tanpa perlu aku jelaskan dan beritahu kau sudah paham apa yang harus kau lakukan."Puji Dika.
"Tentu, kalau begitu cepat lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik Pak Seno."
šāØāØāØ
Sore berganti dengan malam dan syukur,
hari ini tidak turun hujan meskipun langit sempat mendung dan gelap hingga semua bisa melakukan pekerjaan mereka dengan lancar terutama tim Seno yang melakukan pencarian sesuai waktu yang ditargetkan hingga Mereka pun membuahkan hasilnya cukup maksimal dengan menemukan beberapa korban yang hilang.
Namun sang ketua tim SAR tengah merasa gelisah di dalam tenda karena sejak tadi dia tidak bisa menghubungi ponsel istrinya.
"Seno, apa kau tidak ingin makan?"tanya Dika yang masuk ke dalam tenda, dan dia terheran-heran melihat Seno bundar-mandir seperti setrika.
"Kau duluan saja aku belum lapar."
"Belum lapar? bahkan sejak pagi kau belum makan. Sungguh luar biasa, jika semua orang sepertimu pasti jalan menuju kaya raya semakin cepat,."
"Sejak tadi aku tidak bisa menghubungi ponsel Rana, ponselnya tidak aktif."Sahut Dika.
"Apakah kau sudah menghubungi ibumu? bukankah di jam segini seharusnya Rana sudah tiba."
"Sudah, Ibu pun tidak bisa dihubungi."
"Kalau begitu kau telepon saja Rumah Sakit tempat istrimu itu bekerja, dia pasti tahu apa Rana sudah pulang ataukah masih berada di rumah sakit."Saran Dika.
"Aahh, kenapa aku tidak kepikiran hal itu. Padahal aku bisa menghubungi sejak tadi .
"Itu karena pikiranmu tidak sama dengan ku, berbeda dan jadi denganku."
"Baiklah,"sahut Seno dan dia segera mencari kontak dokter Ardi dan langsung mengirimkan pesan.
**
(Iya, istrimu sedang bersamaku, ada apa) Balas Ardi, setelah beberapa detik yang lalu Seno mengirimnya pesan.
Membaca kalimat balasan yang dikirim oleh Ardi membuat siluman naik dan kedua alisnya.
(Ingat! kau jangan terlalu dekat dengan istriku, jagalah jarakmu tidak kurang dari 2 meter)
(Aku tahu itu, sudahlah sebentar lagi kami sampai. aku akan meminta Rana untuk menghubungimu jika kami sudah sampai, saat ini dia tidak bisa menghubungimu karena baterai ponselnya habis)
Bersambung.
āØššššāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini
Mohon dukungannya š¤.
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø