4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Dika Tertarik Pada Aurel.


__ADS_3

Selamat. Membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Meskipun enggan, Wahyu tetap mengantarkan Windy menuju rumah orang tua Rana.


šŸāœØšŸ


"Aurel, apa kau sedang sibuk?"tanya Kartika. Yang melihat Aurel sudah beberapa jam lamanya berkutat dengan Laptop.


"Sudah tidak bu, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku. Apa ada sesuatu yang ibu butuhkan?"


"Tidak, Ibu ingin merapihkan taman. Bisa Aurel temani ibu? Ayah Ridwan sedang tidur, sepertinya bunga-bunga di sana sedikit rusak."Pinta Kartika.


"Tentu bisa."Sahut Aurel.


"Kalau begitu, ibu tunggu di taman."


"Iya Bu."


Aure langsung berdiri dan menuju kamar untuk menyimpan barang-barang miliknya.


***


"Hai!"Sapa Dika, saat ia melihat Aurel, dengan senyum merekah.


Aurel diam. Dia melihat Dika dengan seksama.


"Apa kau teman Seno?"Tanya Aurel.


Dika yang tadi sedang duduk bersama Dino segera bangkit mendekati Aurel.


"Benar, nama ku Andika. Lebih lengkapnya Andika Perkasa, sesuai dengan nama belakangku. Perkasa. Aku adalah lelaki yang sangat Perkasa."Ujar Dika memperkenalkan diri.


Aurel mengaguk.


"Ternyata dia bangun juga, setelah tidur seperti orang mati."Gumamnya, namun gumaman itu bisa terdengar oleh Dika.


"Apa tadi kau bicara sesuatu?"


"Tidak!"Sahut Aurel cepat.


"Kalau begitu, bolehkah aku tahu siapa namamu?"tanya Dika.


"Om ini bagaimana? Tadi kan aku sudah kasih tau Om, namanya Tante Aurel."Sahut Dino. Yang langsung membuat Dika mengepalkan tangannya.


"Aaah..! Benarkah! kenapa tiba-tiba Om menjadi lupa ya,"kata Dika dengan senyum yang dipaksakan.


"Sekarang kau sudah ingat kan! kalau begitu aku permisi."Ucap Aurel dan segera berlalu dari sana.


**


"Dino, seharusnya kau jangan bilang kalau kau sudah memberitahu Om siapa nama Tante itu."Ujar Dika.


"Kenapa? Om memang sudah taukan? kenapa harus bertanya lagi? Om ini aneh sekali."Dino yang tidak tahu maksud dari Dika hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Baiklah! Dino benar dan Om salah."Kesal Dika, yang gagal melakukan pendekatan pada Aurel dengan perkenalan.


Pertama kali melihat Aurel, Dika langsung terkesan. Sebenarnya bukan hanya pada Aurel saja, karena Dika memang gampang sekali terkesan dengan para gadis apalagi yang memiliki paras cantik, Auto dia langsung suka dan akan berusaha mengejarnya.


Memiliki pengalaman yang sudah bejibun sampai pengalaman itu dia Share pada Seno. Tentu Dika tidak akan kesulitan apalagi kehabisan akal untuk mendekati Aurel. Dia mempunyai ribuan cara untuk itu.


Dika menatap dirinya di depan cermin guna merapihkan rambut dan pakaiannya.


"Sempurna!"ucapnya, setelah memastikan penampilannya di depan cermin.


Lalu berjalan keluar rumah.


"Om mau kemana?"tanya Dino.

__ADS_1


"Mau membantu Nenek mu merapihkan taman."


"Membantu Nenek? Apa harus berdandan dulu?"Tanya Dino dengan polosnya.


"Tentu saja, karena dibalik membantu Nenekmu ada misi besar yang sedang Om jalankan."


"Misi apa Om? Apa seperti yang di film-film?"tanya Dino dengan berantusias.


"Benar, menaklukkan sesuatu. Yang sepertinya sangat susah ditaklukkan oleh orang lain."Sahut Dika, sambil menggerakkan tangannya membuat simbol semangat.


"Apa aku boleh ikut?"pinta Dino.


"Jangan."


"Tapi aku mau ikut Om, aku suka menaklukkan rintangan. Aku selalu berhasil dalam menaklukkan suatu rintangan di dalam Game yang sering aku mainkan, jika Om Dika mengajakku pasti Om Dika akan berhasil."Yakin Dino.


"Bisa di pertimbangkan. Tapi untuk saat ini, Dino duduk yang tenang di sini. Jika om Dika membutuhkan bantuan, Om akan langsung menghubungi Dino. Bagaimana?"


"Ok! Dino akan selalu siap membantu Om."


Dika mengacungkan jempolnya.


"Sip!"Dan ia bergegas menuju taman kecil milik Kartika.


***


"Ini seperti di petik dengan paksa Bu, bukan layu apa lagi rontok."Ujar Aurel setelah ia memeriksa taman Kartika yang sedikit berantakan dan gundul.


"Benarkah?"


"Benar Bu, pasti ada seseorang yang mencurinya."


"Kau bicara apa? Mana ada yang mau mencuri bunga-bunga seperti ini Rel. Sudahlah kita rapihkan saja."Sahut Kartika dan mulai menyiram bunga-bunga itu.


"Ehem...! Ada yang bisa aku bantu?"tawar Dika yang tiba-tiba muncul, berdiri dengan tegak lengkap dengan lengkungan senyum di kedua sudut bibirnya.


"Eh, tidak perlu nak Dika. Ini pekerjaan ibu."Sahut Kartika.


"Ibu sudah biasa, tidak perlu di manja seperti ini."Tolak Kartika.


"Tapi wanita memang harus di manja Bu, biar lelaki yang perkasa ini yang mengerjakan tugas berat seperti ini."Sahut Dika, dan dia langsung mengambil alih selang yang di pegang Kartika.


"Baiklah jika Nak Dika memaksa, kau memang anak baik,"ujar Kartika mengalah.


Dika mengulas senyum, dalam hatinya berkata.


'Ini baru tahap pertama. Memberi kesan lelaki Perkasa dan bertanggung jawab, selalu pada wanita. Saat ini, dia pasti sedang terpesona denganku, yang seperti pahlawan ini he he..!"


Dika menuntun Kartika menuju kursi panjang yang ada di taman tersebut.


"Ibu duduk yang tenang di sini, sambil menikmati suasana sore yang cerah ini."


"Terima kasih Nak Dika, Maaf sudah merepotkan mu."


"Tidak! Ibu sama sekali tidak merepotkan ku, justru dengan pekerjaan ini sangat membantu bagiku."


"Membantu Nak Dika? Maksudnya?"


"Tidak apa-apa. Tidak usah Ibu pikirkan."


Setelah memastikan Kartika aman. Dika memutar tubuhnya dan melirik ke arah Aurel.


"Apa tadi dia tidak memperhatikan aksiku? Kenapa dia terlihat biasa-biasa saja?"gumam Dika bertanya pada dirinya sendiri.


Setelah melihat Aurel yang tengah fokus dengan bunga-bunga di sana. Sepertinya Aurel benar-benar tidak memperhatikan Aksi Dika yang berusaha membuat dirinya terkesan dengan memberi perhatian kepada Kartika.


Aurel yang tadi fokus menatap bunga-bunga yang tersisa, kini berdiri tegak dengan bertolak pinggang.


"Benar, ini bunga yang sama."Ujarnya.

__ADS_1


"Ada apa Nak Aurel?"tanya Kartika.


"Bu, aku melihat bunga yang sama di kamar Rana. Dan aku sangat yakin jika bunga itu berasal dari sini," kata Aurel.


"Apa Rana yang memetik bunga?"


"Bukan Bu, tapi Rana bilang, bunga itu dibawa oleh suaminya. Dan aku sangat yakin jika bunga yang dibawa oleh suami Rana itu berasal dari sini,"kata Aurel dan ia beralih kepada Dika dengan menatap laki-laki itu tajam, seraya bertanya,"Benarkan?"


"Apa!"Dika gugup, dia sedang memutar otak untuk menjawab pertanyaan Aurel. Tidak mungkin jika dia mengatakan, bahwa dia yang mencuri bunga-bunga itu dan memberikannya kepada Seno. Kesan bertanggung jawab dan Perkasa akan buyar jika sampai Aurel tahu bahwa dia yang menggunduli Taman Kartika.


"Apa kau mau menutupi kelakuan temanmu itu? Atau justru kau juga terlibat dalam pencurian ini"Aurel kembali bertanya, penuh dengan curiga.


"Sudah Nak Aurel, tidak usah dibahas, biarkan saja nanti juga tumbuh lagi."Sahut Kartika.


"Baiklah, aku tidak akan membahasnya. Tapi aku tetap penasaran siapa yang memetik bunga-bunga tidak berdosa ini, di sebelah sana ada CCTV. Sepertinya CCTV itu mengarah ke taman milik Ibu, aku akan datang ke sana untuk memeriksa rekaman tadi malam."Kata Aurel dengan menatap Dika, entah kenapa Aurel memperbesarkan masalah bunga-bunga itu.


"Jangan!"Sahut Dika dengan cepat,"lalu ia menghadap Kartika.


"Ibu, aku memohon maaf yang sebesar-besarnya. Sebenarnya akulah yang memetik bunga-bunga di taman milik Ibu ini. Tapi sungguh aku terpaksa melakukannya, karena Seno yang memintaku, dia lupa membeli bunga untuk Ia berikan kepada istrinya karena kami terburu-buru. Jadi dia berinisiatif untuk memetik bunga-bunga segar di taman Ibu ini, tapi dia memintaku untuk melakukannya."Jelas Dika, yang menumbalkan Seno.


Tidak ada pilihan lain, sesekali Seno berkorban untuknya daripada dia di Cap sebagai pencuri oleh Aurel, itulah yang ada di pikiran Dika saat ini.


"Ais! kau ini bagaimana? kau mau saja disuruh mencuri?"Kata Aurel.


"Seno adalah kapten di Tim kami, tentu saja aku harus menuruti segala perintah yang dia berikan."Timpal Dika dengan menundukkan kepalanya di depan Kartika. Dia merasa bersalah dan sedih.


"Sudah! tidak perlu dipermasalahkan, biarkan saja Seno mengambil bunga-bunga itu. Nak Aurel, sudahlah kasihan Nak Dika jadi sedih seperti ini."Kata Kartika.


"Baik, aku minta maaf."Ucap Aurel.


Dika tersenyum lega. Tapi dalam hatinya berkata.


'Siap-siap, Seno akan murka kepadamu.'


Tin!


Tin!


Suara klakson mobil yang memasuki halaman Rumah membuyarkan percakapan mereka bertiga.


Kartika, Aurel dan Dika menatap mobil yang semakin mendekati mereka.


Dan setelah mobil itu terparkir, dua manusia keluar dari dalam mobil.


"Windy!"gumam Aurel.


Ya, yang datang adalah Windy bersama Wahyu.


Windy berjalan mendekati mereka.


"Selamat Sore, maaf jika kedatangan saya mengganggu."Sapanya.


Kartika tersenyum.


"Selamat Sore."Sahutnya.


Widya semakin mendekati Kartika.


"Saya Windy, teman Rana."Ujarnya memperkenalkan diri.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2