4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Kembali Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Sampai di Rumah, Rana pun menceritakan semuanya pada Kartika dan Ridwan. Seno juga menyampaikan niatnya yang ingin membawa Rana pulang bersamanya.


"Maaf Rana, Ibu dan Ayah tidak bisa ikut bersamamu. Jika kamu sudah yakin ingin kembali ke rumahmu, pulanglah, Ayah dan Ibu hanya bisa mendoakan semoga Tuhan selalu melindungimu, dan berbahagialah di sana, hanya itu yang Ibu dan Ayah harapkan,"kata Ridwan, di saat Rana memintanya untuk ikut pulang ke Kota.


"Kamu, jangan khawatir nak, Ibu dan Ayah akan baik-baik saja di sini. Kamu tidak usah memikirkan apapun,"sahut Kartika meyakinkan Rana karena dia melihat wajah ragu dari Rana jika harus meninggalkan kedua orang tuanya di sana.


"Maafkan aku Bu,"ujar Rana.


"Kenapa harus meminta maaf, tidak ada yang bersalah di sini. Kau memang harus melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri untuk menemani suamimu di manapun dia berada,"Sahut Kartika, dengan mengusap punggung Rana.


***


Keesokan harinya.


Rana dan Seno memutuskan untuk kembali ke Kota pada hari itu juga. Dengan berat hati Rana harus kembali meninggalkan kedua orang tuanya, seperti beberapa tahun silam, di saat Seno mengajaknya untuk tinggal bersama di Kota, Rana duga, Kartika dan Ridwan akan bersedia ikut bersamanya. Namun ternyata Ridwan menolak dengan alasan, ia lebih nyaman tinggal di rumahnya saat ini daripada di kota.


Harapan Kartika dan Ridwan, semoga langkah Rana kali ini benar-benar akan membawanya ke dalam, kebahagiaan. Tidak seperti dulu, dia kembali lagi ke Rumah dengan membawa luka hati yang begitu dalam.


**


"Aku pamit ya Bu, Yah, tolong jaga kesehatan kalian baik-baik, aku akan sering-sering datang mengunjungi kalian. Dan kabari aku jika terjadi sesuatu di sini. Ayah juga jangan lupa untuk kontrol ke Rumah Sakit,"pesan Rana sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan orang tuanya.


"Iya nak, Ibu dan Ayahmu akan baik-baik saja di sini. Jangan pikirkan apapun, kan sudah berulang kali Ibu mengatakan ini, kau pikirkan saja dirimu sendiri agar selalu bahagia."


Rana mengangguk, lalu memeluk kembali ibunya.


"Nak Seno!"Panggil Ridwan pada lelaki yang tengah berdiri dengan raut wajah sedih karena sesungguhnya Seno tidak tega memisahkan Rana dan kedua orang tuanya. Tapi dia juga tidak bisa jika harus meninggalkan Rana di sana.


"Iya, Yah."Seno langsung mendekat pada Ayah mertuanya.


"Tolong jaga Rana baik-baik di sana, kau sudah berjanji untuk itu bukan! Jangan pernah mengecewakan kepercayaan dan kesempatan yang telah kami berikan kepadamu."


Seno mengangguk dengan mantap.

__ADS_1


"Tentu saja, saya akan menepati semua janji saya kepada Ayah dan Ibu, dan tanpa Ayah minta, tentu saja saya akan menjaga Rana dengan sangat baik."


Ridwan mengguguk.


"Ayah percaya padamu."


**


"Ini, kakakmu yang menitipkannya kepada Ibu. Dia bilang ini buku tabungan milikmu dulu,"Kartika memberikan apa yang dititipkan Sarah kemarin kepadanya dan Kartika juga berpesan kepada Rana, untuk menemui Sarah di saat dia sudah sampai.


"Ibu merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh kakakmu, dan itu sangat membuat Ibu khawatir, Rana. Tolong bicara pada kakakmu,"pinta Kartika.


"Baik Bu, aku akan bicara pada kak Sarah nanti. Ibu jangan memikirkan masalah ini."


"Iya, Nak."


***


Setelah semuanya selesai, Seno dan Rana benar-benar meninggalkan Rumah orang tuanya. Dan dalam hitungan menit, mobil yang di kendarai Seno melaju dan semakin menjauh dari pandangannya Kartika serta Ridwan.


"Ibu berharap, apa yang kita lakukan ini sudah benar Yah, dengan melepaskan Rana kembali, pada lelaki yang sama,"ujar Kartika dengan mata yang masih menatap laju mobi Seno yang sebenarnya sudah tidak bisa dia lihat.


"Yah, apa tidak sebaiknya kita pertimbangkan permintaan Rana untuk kita tinggal di sana, Sarah pun mengharapkan itu. Kedua anak kita tinggal di sana t bukankah akan lebih baik jika kita juga tinggal di sana, agar kita bisa mengawasi dan lebih dekat dengan anak-anak kita."


"Bu, mereka sudah dewasa, Rana dan Sarah sudah menikah, mereka sudah mempunyai kehidupannya sendiri yang memang harus mereka jalani tanpa campur tangan kita, biarkan mereka mandiri dengan kehidupan dan tanggung jawabnya, kita sebagai orang tua harus mendukung agar mereka bisa hidup dengan kehidupannya sekarang, dengan kita yang tidak terus merasa khawatir dan mengawasinya. Kita akan tetep tinggal disini. Kerena itu akan lebih baik."


Kartika pasrah, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa jika suaminya sudah memberikan keputusan. Meskipun yang dikatakan Ridwan ada benarnya, tapi yang namanya Ibu, sebesar apapun anak nya, seorang Ibu akan tetep menganggap anaknya seperti bayi yang masih kecil, rentan, lemah dan harus selalu dalam pengawasannya, karena kasih Ibu tidak akan pernah memudar hanya karena usia anaknya yang sudah dewasa.


"Ayo masuk Bu."


ajak Ridwan, dan Kartika pun mengikuti langkah kaki suaminya.


āœØšŸšŸšŸšŸāœØ


Di tengah tempat lain.


Windy sedang diinterogasi oleh Winda. Karena Gadis itu tidak melakukan apapun di saat ia bertemu dengan Seno dan Rana.

__ADS_1


"Memangnya Mama mengharapkan aku harus melakukan apa? kedatanganku ke sana hanya untuk meminta maaf secara langsung kepada Rana dan Seno, meskipun aku belum sempat bertemu dengan Rana. Tapi setidaknya aku sudah meminta maaf kepada Seno dan orang tua Rana."


"Windy, kamu pasti akan menyesal karena tidak mendengarkan apa kata Mama."


"Apa yang harus aku dengarkan Ma? apa aku harus mengikuti keinginan Mama, untuk masuk di tengah-tengah kebahagiaan Rana dan Seno, tidak mah! aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, aku sudah mengikhlaskan Seno bahagia bersama Rana."kata Windy dengan sangat tegas di hadapan Winda.


"Ikhlas? sedikitpun Mama tidak melihat keikhlasan dari wajahmu Windy, Mama ini orang tuamu, selama 9 bulan mama mengandungmu dan selama lebih dari 25 tahun Mama membesarkanmu, jadi Mama tahu apa yang sedang kau rasakan dan kau inginkan. Berterus teranglah pada Mama, Mama akan melakukan apapun yang Mama bisa agar kau bisa mencapai kebahagiaan."


"Cukup! Mah, Tolong jangan menghasutku untuk menjadi orang yang tidak tahu malu, dulu aku sudah meninggalkan Seno begitu saja tanpa penjelasan apapun. Dan sekarang Mama memintaku untuk mendekatinya, merusak kebahagiaannya bersama Rana? tidak mah itu tidak akan pernah aku lakukan."


"Terserah padamu saja, mungkin saat ini kau bisa berbicara seperti ini pada Mama tapi Mama sangat yakin, cepat atau lambat kau akan menyesali semuanya dan kau akan datang kepada Mama dan mengatakan bahwa kau menginginkan lelaki itu,"sahut Winda dan setelah mengatakan itu dia pergi meninggalkan Windy di kamarnya.


"Tidak, aku tidak akan pernah melakukan itu. Meskipun yang dikatakan Mama benar, bahwa aku masih sangat mencintai Seno. Tapi aku tidak akan pernah memasuki kehidupan Seno saat ini, karena itu akan merusak hubungannya dengan Rana,"yakin Windy pada dirinya sendiri.


āœØšŸšŸāœØ


"Apa kau lelah? jika kau lelah kita bisa beristirahat dulu dengan mencari Hotel di sekitar sini bagaimana?"tanya Seno, saat ini mereka sudah berada di tengah perjalanan.


"Tidak, Mas. Kita langsung saja, beberapa jam lagi kita akan sampai, jika kita mampir untuk beristirahat itu akan semakin membuang-buang waktu."Tolak Rana, yang tidak paham dengan ucapan Seno yang mengajaknya untuk beristirahat di Hotel.


"Kita tidak akan membuang-buang waktu, justru kita selalu memanfaatkan waktu yang ada,"sahut Seno sambil mengulas senyum penuh arti.


"Apa?"


"Kita akan tetep beristirahat di Hotel, dan setelah kau tidak merasa lelah lagi, kita akan melanjutkan perjalanan kembali,"ujar Seno.


"Tapi aku tidak lelah, aku masih bisa bertahan sampai Rumah."


"Tapi aku tidak bisa tahan untuk itu."


Bersambung...


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2