4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Gelar Dan Panggilan


__ADS_3

"Hamil!"


"Iya Bu, Rana Hamil,"kata Seno masih dengan wajah yang berbinar-binar.


Sambil berkaca-kaca, Kartika langsung memeluk Putrinya.


**


Kabar dadakan yang sangat membahagiakan ini tentu langsung Seno sampaikan pada Lina, ibunya yang sangat mendambakan kehadiran cucu pasti akan jauh lebih bahagia ketika mendengarnya.


("Seno, tolong ulang sekali lagi apa yang kau katakan tadi.")kata Lina, di saat Seno menyampaikan kabar bahagia Lewa sambungan telepon.


"Rana hamil Bu."


Terdengar suara nafas yang memburu dan Isak tangis.


"Ibu kenapa? Ibu baik-baik saja kan? Apa ibu sedang menangis?"tanya Seno dengan khawatir.


("Ibu baik-baik saja, ya ibu sedang menangis, tapi ibu tidak sedang merasakan sedih, Ibu menangis karena kabar yang kau bawa untuk ibu.")


Seno mengerti, karena diapun sampai bereaksi sama seperti Lina di saat mendengar kabar dari Dokter jika Istrinya tengah hamil.


("Seno, sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ayah, kau harus lebih berhati-hati dalam menjaga istrimu. Jangan sampai membuat Rana sedih dan kesal karena itu akan mempengaruhi kehamilannya. Apa kau mengerti?")


"Iya, aku mengerti Bu, ibu tidak perlu khawatir untuk itu. Karena aku akan siaga menjaga dan akan selalu membahagiakan Rana."


("Ibu percaya padamu, Seno selamat, Nak. Sebentar lagi kau akan di panggil Ayah.")


Seno tersenyum.


"Terima kasih Bu, selamat juga untuk Ibu, karena sebentar lagi akan menjadi dan di panggil Nenek."


Anak dan ibu ini, sama-sama terharu dengan gelar dan panggilan yang sebentar lagi akan mereka peroleh.


**


Usai melakukan panggilan dengan Lina, Seno tidak berhenti menyungging senyum di kedua sudut bibirnya (Menjadi Ayah, di panggil Ayah) kata-kata inilah yang terus terngiang-ngiang di telinga dan otak Seno, hingga membuat barisan gigi putih lelaki itu menjadi kering karena terus tersenyum.


"Aaaaah, bahagianya aku. Aku harus menyampaikan kabar ini pada Dika,"gumamnya. Dan tanpa berlama-lama, Seno langsung menghubungi temannya itu.


("Apakah ini benar-benar Pak Seno! Aa, saya pikir Anda sudah pindah ke Pelanat Pluto, hingga lupa mengabari saya. Seno, apa kau tau jika temanmu yang bernama Dika Perkasa tengah merana dan tertimpa masalah!) Ucap Dika yang kesal, karena Seno baru menghubunginya setelah satu Minggu.


"Aku tidak perduli dengan masalahmu, yang jelas saat ini aku ingin menyampaikan kabar yang


membahagiakan."Sahut Seno.


("Sial! kabar apa yang kau bawa? Cepat katakan, jangan tambah membuatku kesal hingga timbul hasrat ingin mengacak-acak Apartemen yang sudah dengan susah payah aku rapihkan.")


"Hahaha.. Akhir-akhir ini kau jadi pemarah, wajahmu akan semakin terlihat Tua jika terus seperti ini."

__ADS_1


(Cepat katakan!) Dika yang semakin kesal.


"Baiklah, Dika aku ingin menyampaikan jika saat ini aku sedang bahagiaaa.. Karena sebentar lagi aku alan menjadi dan di panggil Ayah."Kata Seno, dengan girang menyampaikan gelar dan panggilan baru yang akan dia peroleh.


("Ayah! Maksudmu!)


"Kau ini dangkal sekali, masa begitu saja tidak mengerti. Aku sebentar lagi menjadi seorang Ayah, karena Rana dinyatakan Hamil. Bagaimana. Bukankah aku hebat!"


("Istrimu hamil, dan kau akan menjadi seorang Ayah. Itu artinya.. akupun akan menjadi seorang paman. Waaaah itu sangat hebat!")


"Paman! tidak bisa, kau bukan pamannya."Seno protes.


("Tidak bisa bagaimana, tentu saja aku akan menjadi pamannya.")Dika yang juga melayangkan protes.


"Tapi dia bukan keponakan mu."


("Seno, kau ini bagaimana. Tentu saja dia keponakan ku, bukankah selama ini kau menganggapku sebagai adik mu")


"Apa! Sejak kapan aku bilang begitu, perbedaan usia hanya 3 bulan 5 hari, bagaimana bisa di sebut adik."


("Tentu saja bisa, itu terjadi karena kau menikah terlebih dahulu dari pada aku. Kau harus terima Seno, jika aku akan menjadi paman untuk anakmu. Dan aku akan mempersiapkan panggilan khusus antara aku dan anakmu nanti.")


***


Hingga satu jam lamanya, kedua manusia ini terus saja berdebat lewat sambungan telepon. Tanpa ada yang mau mengalah.


šŸšŸ


Satu Minggu kemudian. Karena kondisi Rana yang sudah membaik dan diapun sudah tidak lagi mengalami mual-mual dan muntah. Rana dan Seno memutuskan untuk kembali ke Kota.


***


Seno bergegas menuju ke kamar mandi, ketika perutnya merasa mual di saat bangun tidur.


"Mas, kau baik-baik saja!"ujar Rana sambil mengusap punggung Seno.


"Aku baik-baik saja, kau jangan khawatir."Sahut Seno.


Rana memang sudah tidak lagi mengalami Morning Sickness. Tapi, Morning Sickness itu menerpa Seno, hingga setiap pagi hari Lelaki itu akan mengalami mual-mual dan muntah.


"Aku akan buatkan teh hangat untukmu."


"Terima kasih, sayang."


**


"Ibu akan datang kesini untuk menemani mu. Ingat, jangan melakukan apapun yang membuatmu lelah. Dan tunggu aku pulang."Kata Seno, sebelum dia berangkat bekerja. Ya, meskipun Seno kerap kali mengalami... tapi dia harus tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang Tim SAR.


"Iya Mas, kau berhati-hatilah."

__ADS_1


Seno mencium kening istrinya.


"Sayang, apa ada yang ingin aku bawakan pulang nanti?"tanya Seno.


"Tidak Mas, aku sedang tidak menginginkan apapun."


"Baiklah, aku berangkat. Jika ada sesuatu yang kau inginkan cepat hubungi aku. Dan selalu mengabari aku setiap 30 menit."


"Iya, Mas. Sudah cepat berangkat. Ini sudah siang."


Seno berjongkok, dia mengelus dan mencium perut Rana yang masih terlihat rata.


"Ingat! Jaga ibumu baik-baik,"ujarnya pada si jabang bayinya.


Setelah melewati beberapa Drama pagi yang rutin Seno lakukan, Lelaki itu bergegas menuju Kantor SAR.


***


Sementara di tempat lain. Dika yang masih penasaran dengan Olivia yang mengapa harus tinggal di Apartemen dan berbohong pada Mamahnya, menjadi semakin Kepo.


Karena jiwa penasarannya inilah yang membawa Dika tinggal di Apartemennya selama satu Minggu ini.


Dia akan mendapati Olivia di sore hari. Olivia tidak pernah menginap di Apartemen itu. Dia hanya datang untuk beberapa jam saja lalu kembali pergi. Entah apa yang di lakukan gadis itu di sana.


Pagi ini, seperti biasa. Dika tengah bersiap-siap menuju ke Kantor SAR. Tapi saat dia keluar pintu Apartemen, dia di kejutkan dengan kehadiran seorang lelaki.


"Selamat, pagi!"sapa lelaki itu.


"Pagi,"sahut Dika.


"Apa Anda tau siapa yang tinggal di unit Apartemen ini?"tanya lelaki itu sambil menunjuk Unit milik Olivia.


Dika tidak langsung menjawab pertanyaan si lelaki, Dika memperhatikan dan meneliti lelaki yang masih muda dan tampan itu.


"Saya tidak kenal siapa yang tinggal di sana,"tanpa sadar Dika mengatakan ini.


"Tapi, apakah Anda pernah melihat seorang wanita di sana?"tanya lelaki itu kembali.


"Tidak!"Dika di dorong oleh suara hatinya untuk berbohong pada lelaki itu.


"Baiklah, terima kasih."Ujar lelaki itu, dan segera pergi dari sana.


Bersambung..


šŸšŸšŸšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2