
Selamat membaca š¤
ššššš
TIN!
TIN!
TIN!
Suara Klakson mobil dan motor saling bersahutan ketika Dika tidak langsung melajukan mobilnya padahal lampu sudah berubah warna menjadi Hijau, membuat beberapa pengendara kesal dengan lelaki yang tengah fokus dengan gadis yang baru saja memasuki Gang itu.
"Iya-iya, bersabarlah sedikit. Tidak sabaran sekali,"grutu Dika dan dia segera melajukan kembali mobilnya.
***
Keesokan harinya.
Di pagi yang cerah dengan suasana sejuk. Di kediaman Kartika.
Tapi suasana sejuk itu tidak serta merta membuat sejuk hati penghuni Rumah tersebut, karena Seno sedang di sibukkan dengan istrinya yang kurang sehat.
"Aku tidak apa-apa Mas, aku hanya masuk angin biasa sebentar lagi juga baikan."Ujar Rana, di saat Seno memintanya untuk memeriksakan diri ke Rumah Sakit.
"Kau terlihat sangat pucat Sayang, mana mungkin baik-baik saja."
"Aku tidak apa-apa Mas, kau jangan khawatir."Rana yang tetap menolak, karena meyakini jika dirinya baik-baik saja.
"Baiklah, jika kau tidak mau pergi ke Rumah Sakit. Kau beristirahat saja dengan baik, aku akan membuatkan minuman hangat untukmu."Seno yang menyerah dalam membujuk istrinya, memilih untuk memberikan istrinya sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya karena sejak tadi Rana terlihat menggigil.
"Terima kasih Mas."
Selain menggigil, Rana juga sedang merasakan tidak enak di seluruh tubuhnya, dia merasa mual dan pusing ketika mencium bau sesuatu yang menurutnya asing. Padahal hari ini seharusnya dia dan Seno kembali ke Kota karena Seno harus kembali bekerja, tapi lelaki itu menunda kepulangannya sampai istrinya benar-benar sehat dan bisa diajak melakukan perjalanan jauh.
Kartika masuk ke dalam kamar Rana.
"Rana, apa kau tidak ingin keluar? di luar cuaca sangat bagus Nak, baik untuk kesehatan, kau terlihat sangat pucat."Ujar Kartika seraya mendudukkan dirinya di samping Rana, Kartika merasa jika anaknya harus terkena sinar matahari pagi karena sejak kemarin sore Rana tidak keluar kamar.
"Aku malas untuk keluar bu, aku tidak tahan dengan aroma yang ada di luar sana."Sahut Rana, yang masih duduk di sisi ranjang, enggan untuk bangkit.
Kartika memperhatikan putrinya dengan lekat, selama tiga hari Rana tinggal di sana anaknya itu menunjukkan sikap-sikap aneh seperti Rana kecil dulu.
"Apa kau merasakan mual, dan tidak enak di perutmu?"tanya Kartika.
Rana mengangguk karena dia benar-benar merasakan itu semua termasuk pusing di kepala dan suasana hati yang tidak menentu.
"Rana, apa kau tidak ingin mencoba memeriksakan pergi ke dokter?"saran Kartika.
"Aku tidak apa-apa Bu, aku hanya masuk angin biasa sebentar lagi pasti akan sembuh. Banyak pasien yang aku rawat dengan gejala seperti ini, dan itu biasanya di karena masuk angin atau gejala Mag."
Kartika mengangguk.
Tapi dalam hatinya berkata.
"Ya Tuhan. Semoga apa yang aku duga benar terjadi kepada putriku ini. Aku sudah sangat bahagia melihat kebahagiaan di mata anakku tapi aku juga tahu jika anakku rapuh dengan diagnosa dokter kepadanya, aku sangat mengharapkan keajaibanmu Tuhan. Tolong berikan kebahagiaan lengkap untuk putri bungsu hamba."
"Sayang, ini aku sudah membuatkan minuman hangat untukmu."Kata Seno yang nyelonong masuk, dia terkejut ketika mendapati Mertuanya ada di sana.
"Maaf Bu, aku tidak tahu jika Ibu ada di sini."Kata Seno.
"Tidak apa nak Seno, Ibu ingin pamit mengantar Ayah kalian ke dokter untuk melakukan kontrol."Ujar Kartika.
"Maaf Bu aku tidak bisa mengantar Ayah, tapi, Mas Seno bisa mengantar Ayah dan Ibu ke Rumah Sakit."Sahut Rana.
"Tidak nak, Seno tetap di sini menemanimu. Ibu dan Ayah bisa pergi bersama Tian, dia yang biasa mengantarkan Ayah Kontrol. Kau istirahatlah yang baik, setelah selesai ibu akan segera pulang. Apa ada sesuatu yang kau inginkan? Ibu bisa membawakannya nanti,"tanya Kartika yang sebenarnya pertanyaan ini untuk meyakinkan hatinya bahwa dugaannya kepada Rana benar.
__ADS_1
Dan seperti dugaan Kartika, Rana begitu antusias dan dia langsung menyebut nama-nama makanan yang hampir semuanya memiliki rasa asam.
Kartika mengulas senyum.
"Ibu akan membawakannya untukmu."
"Terima kasih Bu."
***
"Sayang, kenapa kau meminta ibu untuk membawa makanan itu? bukankah kau tidak suka dengan yang asam-asam?"tanya Seno.
"Itu benar Mas, tapi entah kenapa saat ini aku ingin sekali memakan makanan itu."
"Baiklah! tapi aku takut makanan itu mengganggu kesehatanmu sayang, karena buah-buahan yang kau sebutkan tadi pun semuanya masih mentah."
"Tidak apa-apa Mas, aku menginginkan itu, aku pasti akan baik-baik saja."
Seno mengangguk.
"Tentu kau akan selalu baik-baik saja, tidak akan terjadi sesuatu apapun padamu selama aku masih ada di sini."
"Terima kasih Mas! "Dan tiba-tiba Rana memeluk seno. Tapi, Baru beberapa detik mereka berpelukan Rana melepaskannya.
"Kenapa sayang?" tanya Seno bingung bercampur kecewa.
"Mas, parfum apa yang kau gunakan kenapa baunya seperti ini."Kata Rana, sambil menutupi hidungnya.
Seno segera mendengus lengannya
Namun dia tidak menemukan bau yang aneh.
"Aku menggunakan parfum yang kau pilihkan, sayang."
"Aku tidak mau mencium bau parfum ini lagi, Mas."
"Baunya terlalu menusuk, aku tidak suka."
Meskipun masih diliputi kebingungan, Seno tetap mengangguk.
"Baiklah! Aku tidak akan menggunakannya lagi."
Seno juga melepas pakaiannya, dan saat ini dia memilih bertelanjang dada.
"Sudah tidak ada bau yang aneh lagi kan, sekarang peluklah aku lagi."Kata Seno sambil merentangkan kedua tangannya.
Rana mendekat, memastikan jika bau yang aneh yang membuat kepalanya pusing tadi sudah tidak ada di tubuh suaminya.
Karena lama dan rasa tidak sabar, Seno menarik Rana agar segera jatuh ke dalam pelukannya.
*
"Bagaimana! Apa lebih baik?"tanya Seno, yang masih mendekap istrinya dan Rana menyahuti dengan anggukan.
"Sepertinya tubuhku ini adalah obat yang jauh lebih mujarab dari apapun untuk mengobati mu,"ujar Seno, setelah dia menyadari jika Rana tidak lagi menggigil ketika berada dalam pelukannya.
šššš
"Terima kasih Olivia telah mengantarkan Tante pulang sampai rumah,"kata Ana kepada Olivia, gadis yang gagal menjadi menantunya.
Dia bertemu dengan gadis itu di Supermarket saat sedang berbelanja kebutuhan bulanan. Dan karena satu arah, Olivia pun mengantar Ana untuk pulang ke rumah.
"Sama-sama Tante."
Dan di saat yang bersamaan, Dika keluar dari rumah dan dia berpapasan dengan Olivia.
__ADS_1
"Dika, kamu mau ke mana bukankah hari ini kau libur?"tanya Ana yang mendapati putranya itu sudah sangat rapih.
Dika tidak langsung menjawab karena ia sedang terkejut dengan kehadiran Olivia di sana.
"Dika!"panggil Ana dengan suara yang sedikit ditinggikan agar lelaki itu mendengarnya.
"Iya Bu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan."Sahut Dika namun matanya masih fokus pada Olivia.
"Oya, Tante aku permisi dulu ya."Pamit Olivia. Yang terlihat tidak tenang.
"Kenapa terburu-buru sekali, apa kau tidak ingin mampir dulu?"Sahut Ana.
"Tidak, terima kasih banyak Tante, aku harus segera pergi karena aku mempunyai janji dengan temanku."Tolak Olivia.
"Baiklah kalau begitu, berhati-hatilah di jalan. Sekali lagi Terima kasih sudah mengantarkan Tante."
Olivia mengangguk dan tanpa menyapa Dika, dia pergi dari sana, dengan menggunakan motornya.
"Kenapa kau terbengong, apa kau menyesal karena telah menolak Gadis secantik dan sebalik Olivia."Kata Ana yang masih sedikit kesal dengan putranya itu karena sudah menolak gadis pilihannya yang bernama Olivia, padahal Olivia adalah gadis yang sudah melalui beberapa tahap seleksi sebagai menantu idaman Ana.
"Tidak, aku hanya merasa pernah melihat dia saja."Sahut Dika.
"Tentukan saja, ini pertemuan keduamu dengan Olivia, dan di pertemuan pertama kau memberi kesan buruk dengan menolak Gadis itu secara mentah-mentah tanpa melakukan perkenalan lebih dulu."Sahut Ana, dengan nada yang masih kesal.
"Sudahlah Bu, tolong jangan bahas itu lagi aku sudah mengatakan alasannya kepada Ibu kenapa aku menolak Olivia."
"Ya, mau tidak mau, Ibu harus menerima alasanmu itu. Ya sudah kau pergilah, dan lebih baik, setelah urusanmu selesai kau pulang ke Apartemen mu, pengurus Apartemen menelpon ibu karena kau meninggalkan Apartemen sudah lama dan tidak membersihkannya."
"Baik, jika sempat aku akan ke Apartemen."
***
Malam hari.
Seperti apa yang di inginkan Ana, malam ini Dika tidak pulang ke rumah orang tuanya, karena dia pulang ke Apartemennya yang sudah lama tidak dia tengok dan bersihkan.
"Ais, kenapa ini kotor sekali. Apa seperti ini Apartemen seorang Dika Perkasa, lelaki tampan mapan dan imut ."Kesal Dika, ketika dia melihat Apartemennya yang sudah seperti Kapal pecah. Entah kapan terakhir kali dia datang ke sana dan membersihkannya, padahal jika mau, dia bisa menggunakan jasa orang lain untuk membersihkan Apartemennya namun lelaki itu tidak mau jika Apartemennya dimasuki oleh orang lain, yang bisa masuk di sana hanyalah dia dan Seno.
Dengan gerakan cepat! Dika mengumpulkan bungkus-bungkus makanan ringan, lembaran tisu dan berbagai sampah lainnya yang berserakan di sana. Benar-benar sudah seperti tempat penampungan sampah.
"Kau jorok sekali Dika, apa seperti ini Apartemen Anggota Tim SAR, sungguh sangat memalukan,"Lelaki itu mengumpat pada dirinya sendiri, "Tapi ini juga salah Seno, seharusnya dia juga bertanggung jawab! Tapi bagaimana bisa aku meminta pertanggung jawaban pada begundal yang sedang di mabuk asmara tingkat Planet itu!"Kali ini Dika mengumpat Seno.
Sambil terus mengumpat dan merutuki dirinya sendiri, tangan Diam tetep berjalan dan membersihkan Apartemennya.
Hingga sampailah di bagian balkon Apartemen, Dika membuka pintu menuju ke balkon dan lagi-lagi lelaki itu menggelengkan kepala ketika melihat balkonnya sudah seperti gudang.
"Seno, apa kau tidak ingin membantu temanmu ini. Bahkan sudah beberapa hari ini kamu tidak mengabari ku. Kau tega sekali melupakan sahabatmu ini yang tengah merana. Sudah aku merana karena patah hati sekarang malah disuruh membersihkan Apartemen ini sendirian, aaah.. sungguh malang sekali nasibmu Dika, apa aku harus pindah Planet saja!"keluhnya dengan berteriak.
"Sudahlah! tidak ada gunanya mengeluh karena tetap saja aku yang akan membersihkan ini,"gumamnya setelah menyadari bahwa tidak ada siapapun di sana yang akan mendengar teriakannya dan membantunya.
Dika kembali masuk ke dalam Apartemen untuk mengambil peralatan kebersihan.
Namun, ketika dia ingin kembali keluar, Dika menarik kakinya yang sudah berada di pintu menuju balkon.
Dika melakukan itu karena dia terkejut dengan sosok yang sedang berdiri di Balkon tetangga Apartemennya.
Bersambung.
āØššššāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø