4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Tindakan Mayang


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Whuuuuussss.....


Seno menyingkap, menarik dan melayangkan selimut yang menutupi tubuh mereka, hingga selimut yang tidak berdosa itu terhempas begitu saja dan berserak di lantai.


Lelaki yang sudah ON sejak beberapa menit yang lalu itu langsung mengambil posisi terbaiknya.


"Kita mulai sekarang,"bisiknya di telinga Rana. Dan ia langsung melakukan gerakan yang memancing sang wanita.


Sura lenguhan kembali terdengar dari kamar tersebut. Hingga beberapa menit kemudian terjadilah sesuatu yang memang harus terjadi.


Huufff... Padahal di pagi hari seperti ini hampir semua penduduk bumi tengah di sibukkan dengan rutinitas pagi, yang ingin pergi ke sekolah, bekerja, berdagang dan yang lainya. Tapi mereka malah main kuda-kudaan.


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


"Kenapa mereka belum kembali?"Tanya Aurel pada dirinya sendiri yang tengah mondar-mandir di depan rumah Kartika. Menunggu kepulangan Rana, yang katanya akan pulang pagi.


"Biarkan saja, mereka pasti sedang berbulan madu. Waktu satu malam tentu tidak akan cukup untuk menebus waktu 4 tahun,"sahut Dika yang tiba-tiba muncul dari dalam dan berjalan menghampiri Aurel.


"Kau ini bicara apa?"


Dika tersenyum.


"Apa aku harus mengulangi ucapan ku tadi?"


"Tidak! Lupakan saja,"sahut Aurel cepat.


Aurel hari ini harus kembali ke Kota, tapi ia ingin menunggu Rana terlebih dahulu. Gadis itu kembali melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan dan mesin itu sudah berada di angka 3. Ya, ini sudah jam 3 sore, tapi Seno dan Rana masih belum pulang juga. Mungkinkah mereka masih bergelut? Hanya Seno dan Rana yang tau.


"Jika kau terburu-buru ingin cepat pulang, aku bisa mengantarkan mu,"tawar Dika tentu dengan maksud tertentu.


"Tidak, terima kasih. Lagipula kau datang ke sini bersama Seno kan? Jadi kau juga harus kembali bersamanya."


"Tapi, sepertinya aku tidak akan di ijinkan ikut bersamanya,"keluh Dika.


"Kenapa?"tanya Aurel.


"Aku tidak bisa mengatakannya, karena kau tidak akan mengerti," sahut Dika dengan memasang wajah sedih seperti seseorang yang sedang tertindas, ini dia lakukan agar mendapat simpati Aurel dan ia bisa kembali ke Kota bersama gadis itu.


Aurel menatap Dika lekat.


"Aneh sekali dia," batin Aurel, dan ia mengabaikan Dika begitu saja, tanpa menawarinya tumpangan untuk kembali ke Kota.


šŸāœØāœØāœØšŸ


Selepas kepergian Vir, Mayang yang merasa menang. Bergegas menuju Rumah Sakit miliknya.

__ADS_1


***


"Cepat! bikin surat pemecatan untuk perawatan yang bernama Rana,"titah Mayang dengan angkuh,pada pria tua yang Mayang percayakan untuk mengurus Rumah Sakit miliknya.


"Tapi Nyonya? Apa salah perawat Rana hingga Anda ingin memecatnya? Selama lebih dari 2 tahun, Rana bekerja dengan sangat baik di Rumah Sakit ini. Bahkan dialah yang selalu ada dan siap dalam segala hal. Jadi, sepertinya kita tidak mempunyai alasan untuk mengeluarkan Perawat Rana dari Rumah Sakit ini,"ujar Pria itu memberi penjelasan pada Mayang.


Mayang memicingkan matanya. Tentu dia tidak terima dengan ucapan pria yang terdengar membela Rana itu.


"Apa kau tau posisi mu di sini,"sentak Mayang.


Dan pria tua itu langsung menunduk.


Mayang mendesis, tidak ada satupun perintahnya yang bisa di bantah.


"Kau hanya tinggal menuruti perintah saya saja, tanpa perlu banyak bicara."


"Baik Nyonya, maaf atas kelancanga saya."


Pria itu menundukan kepalanya berulang-ulang.


"Bagus! Sekarang, cepat lakukan."


"Tapi Nyonya, bagaimana jika Dokter Vir tau, selama ini Perawat Rana yang spesial bagi Dokter Vir."


"Tutup mulutmu mu yang lancang itu,"marah Mayang dengan menunjuk wajah pria yang ada di hadapannya,"Jika sekali lagi saya mendengar kau mengatakan perawat tidak jelas itu orang yang sepesial bagi Vir, saya tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan mu dari Rumah Saki ini dengan cara tidak hormat,"ancam Mayang dengan sangat murka.


Mayang mengeraskan rahang dan mengepalkan kedua tangannya, sungguh wanita glamor ini sangat mudah terpancing emosi dan gampang murka. Jika tidak sedang menjaga Image nya yang terkenal Anggun dan berkelas, tentu Mayang sudah berteriak memaki Pria itu.


"Cepat lakukan, besok saya sudah tidak mau lagi melihat wanita itu ada di Rumah Sakit ini. Dan jangan pernah mengatakan apapun pada Vir. Kau mengerti?"


"Mengerti Nyonya, akan segera saya lakukan perintah Anda."


Mayang mengusir Pria itu dari ruangan pribadi nya dengan menggunakan satu tangan.


Lalu ia mendudukkan diri dan menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.


Entah kenapa Mayang begitu membenci Rana, padahal Vir sudah mengalah untuk tidak akan lagi mengejar Rana demi kebahagiaan wanita pujaan hatinya. Tapi rasanya Mayang masih belum puas dengan itu.


Tapi Mayang mengatakan ini sebagai alasannya.


"Keluarga ku keluarga terhormat, tidak ada celah keburukan sedikitpu, begitu juga dengan Rumah Sakit ini. Aku tidak mau menerima wanita dengan status tidak jelas seperti Rana, bukan hanya dalam kehidupan putraku tapi juga di Rumah Sakit ini, sudah mempunyai suami masih saja menggoda lelaki lain."


šŸāœØāœØāœØšŸ


"Ini sudah jam berapa, Mas?"tanya Rana dengan suara parau serta mata yang masih terpejam.


Lima belas menit yang lalu mereka baru usai menuntaskan tugas wajib.


"Jam tiga Sore,"sahut Seno.

__ADS_1


"Apa! jam tiga sore!"kejut Rana dan langsung beranjak dari kasur.


"Kenapa kau kaget seperti itu, ini masih siang, kita masih mempunyai waktu beberapa jam lagi."Kata Seno dengan menahan kembali Rana agar tetap berada di atas ranjang.


"Jam tiga sore bukan siang Mas, aku harus ke Rumah Sakit."


"Untuk apa?"


"Mas, kau tidak lupakan dengan pekerjaanku kan?"


"Tidak, tapi...!"Seno pun beranjak dan duduk di sebelah Rana.


"Ada apa?"tanya Rana.


"Aku ingin mengajakmu, untuk pulang kembali ke rumah kita hari ini?"


Rana berpikir sejenak.


"Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku di sini Mas?"


Seno diam, dia juga tidak mungkin memaksa Rana untuk meninggalkan pekerjaannya yang juga menjadi cita-citanya sejak dulu, bahkan Rana sempat menunda cita-citanya ini demi menikah dan mengabdikan diri sebagai istri yang baik untuknya.


Inilah yang kembali membuat mereka bingung. Kedua orang ini sama-sama memiliki tanggung jawab di tempat masing-masing dan tentu saja mereka tidak bisa mengabaikan tanggung jawab mereka hanya karena kepentingan pribadi sesuai dengan sumpah yang mereka lakukan pada pekerjaan yang sedang mereka jalani saat ini.


Tapi, mereka juga tidak tahu kalau salah satu dari mereka sudah di Pecat, karena Otor belum memberi tahu mereka.


TING!


Notifikasi pesan membuyarkan lamunan mereka berdua.


(Kau ada di mana? apa kau baik-baik saja? sudah semalaman aku menghubungimu dan mengirimkan pesan padamu tapi kenapa kau tidak membalasnya dan mengangkat teleponku? Ibu dan Ayah mu sangat mengkhawatirkanmu.)


Dan itu adalah pesan dari Aurel yang mengkhawatirkannya karena sudah sore hari seperti ini tak kunjung pulang bahkan memberi kabar.


"Astaga, aku lupa mengabari Aurel,"ucap Rana dan ia segera membalas pesan sahabatnya itu.


"Kalau begitu, kau makanlah dulu, setelah itu kita akan segera pulang,"sahut Seno.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2