
Selamat, membaca š¤
šāØāØāØš
"Membungkusnya?"Ardi terkekeh mendengar kata itu.
"Kenapa kau tertawa, apa kau kira aku ini pelawak,"sahut Dika dengan ketus.
"Iya, kenapa kak Ardi tertawa, bukankah itu bagus, kak Dika membungkus makanan yang tidak habis untuk di bawa pulang dari pada di buang begitu saja,"dan tiba-tiba Cilla membela Dika.
"Iya, kakak Minta maaf. Tapi bukankah akan lebih baik jika dihabiskan di sini saja, lagi pula siapa yang mau makan makanan sisa dia."
Dika sudah menajamkan Matanya melotot pada Ardi, begitu juga dengan Ardi, yang membalas tatapan ngeri dari seorang Dika.
Ya, sampai sini Ardi pun sudah menyadari jika Dika saingannya, dan mulai detik ini juga. Dua lelaki berbeda Hobi, Selera dan kelakuan itu menabuh genderang perang.
***
Mau tidak mau, Dika tetap bertahan di sana dan menghabiskan semua makanan yang tadi dia pesan, dari pada harus pulang lebih dulu dan membiarkan Aurel bersama Ardi, karena Aurel memilih untuk tetap di sana, sedangkan Ardi dan Cilla hanya memesan makanan ringan saja.
Mereka ber 4 duduk di satu meja yang sama. Dan Dika terus berusaha menghalang-halangi Ardi yang ingin lebih dekat dengan Aurel.
TING!
Satu pesan dadakan masuk di ponsel Dika.
(Hai Dika, bagaimana dengan kabarmu hari ini apa baik-baik saja? Aku rasa, saat ini kau sedang tidak baik-baik saja, hahaha Benarkan?... Oya aku mengirim mu pesan seperti ini karena aku ingin menyampaikan sekaligus mengingatkan dirimu, aku pernah bilang jika sebentar lagi aku akan menikah dengan seorang gadis cantik nan jelita. Kau tahu gadis itu siapa? dia adalah gadis yang saat ini sedang duduk di hadapanmu. Jadi menyingkir lah dari bangku itu, jaga jarakmu dengan gadisku.)
Itu bunyi pesan dari Ardi, dia memilih mengirimkan pesan dari pada bicara langsung karena di sana ada Aurel dan Cilla.
Dika yang sudah membaca pesan itu. Langsung menyimpan kembali ponselnya, tapi sebelum itu dia lebih dulu membalas pesan Ardi.
(Haahaa. Kau pede sekali, dasar Laron)
**
"Apa semua makanan ini pesanan kak Dika?"tanya Cilla yang sejak tadi melihat hanya Dika saja yang makan.
Dika mengangguk, tapi matanya tertuju pada Ardi, yang juga tengah menatap dirinya, setelah berkirim pesan, dua lelaki itu menyalurkan energi peperangan yang sengit lewat tatapan mata dan batin.
"Iya, Dika yang memesan semua makanan ini,"sahut Aurel yang menjawab pertanyaan Cilla.
"Waaaah.. Kak Dika hebat sekali, aku sangat suka dengan lelaki yang banyak makan karena aku suka memasak,"seru Cilla yang terkagum-kagum melihat kehebatan Dika yang menghabiskan beberapa menu yang terpapar di meja.
__ADS_1
"Waaaah, ternyata Cilla hobi memasak!"Timpal Aurel.
"Benar kak, dan cita-citaku ingin menjadi Koki, oleh sebab itu aku sangat menyukai lelaki yang Hobi dan banyak makan,"sahut Cilla sambil melirik Dika yang masih tidak mengalihkan pandangannya matanya dari Ardi.
Sepertinya. Jurus Dika yang satu ini justru mengenai Cilla, karena gadis itulah yang terlihat tertarik dengan Dika.
***
Beberapa menit kemudian.
Dika mulai merasakan tidak nyaman di perutnya. Akibat dari ledekan dan hasutan Ardi, Dika benar-benar menghabiskan semua makanan sampai tidak bersisa sedikitpun.
"Kenapa perutku sakit! Ini gara-gara si Laron sialan ini. Awas kau, aku akan mengadukan ini pada Seno,"Batin Dika, sambil menatap Ardi.
"Hahaha. Aku tahu apa yang kau pikirkan Dika, tapi sebelum kau mengadu pada Seno. Sepertinya kau harus pergi ke Rumah Sakit terlebih dahulu, dan bertemulah dengan ku di sana, aku akan memberikan obat yang akan membuat perutmu lega," Batin Ardi yang seperti mendengar suara hati Dika.
"Ini sudah, malam. Aku harus pulang,"ujar Aurel.
"Benar, ayo kita pulang."Sahut Dika. Namun dia berkata sambil meringis karena mulai merasakan sakit di perutnya yang begah.
"Dika, Sepertinya kau sedang tidak baik! Lebih baik kau segera pulang saja dan beristirahat, biar aku yang mengantarkan Aurel pulang."Ujar Ardi, yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Aurel memperhatikan Dika.
"Dika, kau baik-baik saja?"
"Tapi, dengan keadaan seperti ini apa bisa Dika pulang sendiri?"tanya Aurel.
"Tentu saja tidak!"sahut Dika cepat.
"Kalau begitu, biar aku saja yang mengantarkan kak Dika pulang, aku bisa bawa Mobil ko. Benarkan kak Ardi,"sahut Cilla yang tentu saja membuat semua terkejut. Apalagi Dika dan Ardi yang langsung menolak tawaran adiknya.
"Tidak!"sahut Ardi dan Dika secara bersamaan.
Namun Cilla tetap bersikeras ingin mengantarkan Dika pulang.
Dika yang benar-benar merasa sakit dan mulai pusing juga, tidak ikut berdiskusi.
"Kalau begitu, kita antar Dika pulang dulu, setelah itu kita antar Kak Aurel pulang,"ujar Ardi pada Adiknya.
"Tidak perlu Ar, ini sudah sangat malam. Jika kau mengantar Dika pulang ke Rumah Tante Lina terlebih dahulu lalu mengantarku, pasti akan sengat jauh dan lama. Biar aku saja yang mengantarkan Dika kembali ke Rumah Tante Lina, kau dan Cilla bisa langsung pulang saja."Kata Aurel, yang tidak tega jika harus meninggalkan Dika.
"Lalu, kau pulang dengan siapa nanti? Biar aku saja yang akan mengantarkan mu, atau kau langsung pulang saja biar Dika bersamaku."Sahut Ardi.
__ADS_1
"Tidak Ardi, terima kasih. Aku datangi kesini bersama Dika, dan Tante Lina yang meminta Dika untuk mengantar aku pulang, jadi aku rasa aku memang harus keluar dari sini pun bersama Dika."
Ardi mengangguk mengerti.
"Baiklah, tapi berhati-hatilah. Jika tidak ada yang menjemputmu nanti, kau bisa hubungi aku. Aku akan siap siaga selama 24 jam penuh jika kau butuhkan aku."
Aurel mengulas senyum.
"Terima kasih Ardi."
Sementara Dika semakin merasakan sakit perut mendengar ucapan Ardi tadi, tapi dalam hatinya Happy. Karena Aurel lebih memilih bersamanya di banding pulang dengan Ardi.
"Dika, beristirahatlah dengan baik. Lain kali jangan seperti ini, yang berlebihan itu pasti tidak akan baik. Segera hubungi aku jika sakit mu semakin parah dan membutuhkan rujukan sampai ke negara tetangga, aku akan siap membantu mu."Ucap Ardi seraya menepuk pundak Dika.
"Sial! Apa kau sedang menyumpahi ku?"geram Dika, dengan suara pelan yang hanya terdengar Ardi saja.
"Hehehe.. Tidak Dika, kau ini sensitif sekali seperti gadis yang sedang datang bulan. Sejak tadi marah-marah terus."
"Sudah! Cepat pergi sana,"usir Dika yang semakin kesal dengan Ardi.
*******
"Dika, kau yakin baik-baik saja. Apa tidak sebaiknya kita ke Rumah Sakit dulu. Wajahmu terlihat pucat sekali,"kata Aurel yang khawatir.
Saat ini mereka sedang berada di dalam Mobil, menuju Rumah Lina
Aurel memutuskan putar balik , dan saat ini malah Aurel yang mengantarkan Dika pulang.
Sungguh merepotkan.
"Perutku sakit,"rengek Dika. Seperti anak kecil yang kesakitan.
"Apa aku hubungi dokter Ardi saja?"
"Tidak, jangan hubungi dia!"Sahut Dika dengan cepat dan suara kencang. Membuat Aurel terkejut, karena beberapa saat yang lalu Dika terlihat lesu tapi kenapa tiba-tiba menjadi gesit ketika mendengar nama Ardi.
Bersambung..
šāØāØāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø