4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Menemui Gadis Pilihan Ibu


__ADS_3

Selamat membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØšŸ


"Dika apa kau sudah siap?"tanya Ana pada putranya.


"Sudah Bu, apa ibu tidak lihat penampilan ku yang seperti ini?"sahut Dika sambil mencondongkan tubuhnya di hadapan Ana.


Ana meneliti putranya itu.


"Apa tidak ada pakaian yang lain?"


"Memangnya kenapa dengan pakaian ku ini?"


"Kau seperti ingin pergi ke Pemakaman Dika, dengan menggunakan pakaian serba hitam seperti ini, dan apa itu! Kau menggunakan topi dan kacamata hitam di malam hari seperti ini?"Kata Ana tidak percaya dengan penampilan Random anaknya.


"Ini Fashion terbaru di tahun ini Bu, ibu tidak akan mengerti jika aku menjelaskannya. Sudahlah ayo kita berangkat jangan sampai membuat mereka lama menunggu kedatangan kita."Ujar Dika dan langsung melenggang menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya.


Ana bingung dengan antusias tiba-tiba Dika, begitu juga dengan penampilan anaknya yang terlihat horor. Tapi tidak perduli dengan semua itu yang terpenting bagi Ana, Dika bersedia menemui Olivia.


****


20 menit menempuh perjalanan, Dika dan kedua orangtuanya sampai di sebuah Restoran yang cukup terkenal di kota itu.


Dan ketika mereka memasuki Restoran, sudah ada 2 orang yang tengah menunggu kedatangan mereka.


Itu adalah keluarga dari gadis yang bernama Olivia.


"Selamat, malam jeng! Maaf aku terlambat, jalan sungguh macet,"kata Ana langsung berhambur melakukan cipika-cipiki dengan Vera orang tua Olivia.


"Tidak apa-apa jeng, kau hanya telat 18 detik saja ko."Sahut Vera.


Seketika Dika mengerutkan keningnya.


"18 detik! Saja di hitung,"gumamnya dalam hati.


Setelah menguraikan pelukannya, Vere langsung terpanah dengan sosok serba hitam yang menjulang di hadapannya.


"Ana! Apa ini Putramu yang kau ceritakan padaku?"


"Benar, dia Putra ke 2 ku, Andika Perkasa, bagaimana? dia tampan kan?"sahut Ana, dan bertanya .


"Aku tidak bisa melihat wajahnya."Jawab Vera.


"Oooh.. Astaga! Maaf Jeng, sebentar ya."


Ana langsung menarik kacamata hitam dan membuka topi yang menutupi lebih dari sebagai wajah Dika.


"Ibu apa-apaan!"


"Sudah diam, calon mertuamu ingin melihat wajahmu."


"Jangan Bu, aku sedang sakit mata. Bagaimana jika teman ibu tertular, dan kepalaku sedang di penuhi bisul. Aku malu Bu,"kata Dika dengan senaja, agar membuat calon besan ibunya ilfil.


"Bisul! Sejak kapan kau bisulan, jangan banyak alasan,"bisik Ana dengan marah.


Dan Dika semakin mengeraskan volume suaranya.


"Aah, masa ibu lupa, aku memang sering bisulan kan. Bukan cuma di kepala, tapi di bagian yang lain juga di tumbuhi bisul. Termasuk di bagian....!"

__ADS_1


"Jangan!"pekik Vera yang tidak mau mendengar lanjutan ucapan Dika, karena arah mata lelaki itu tertuju di area pribadinya.


"Ada apa Jeng!"kaget Ana.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja Dika tidak perlu menjelaskan secara detail dimana saja letak bisulnya."


Ana panik.


"Anak ku ini bercanda Jeng, dia bersih, sejak kecil aku selalu menjaga kebersihannya, dan hingga dewasa seperti ini Dika selalu taat dengan kebersihan yang sering aku ajarkan padanya. Oleh sebab itu kulit tubuhnya bersih, tidak ada yang namanya bisul di sana."Kata Ana menjelaskan, sambil mencubit lengan Dika.


"Haha, tentu saja aku percaya itu. Ternyata anakmu ini berbakat di bidang lawak,"timpal Vera sambil tertawa dan di sahut dengan yang lainnya.


Dan mereka semua malah merasa terhibur.


Merasa trik pertama gagal, Dika mencoba trik ke 2.


"Apa Tante ingin melihatnya, saya bisa menunjukkan!"Ujar Dika.


Dan Vera sampai membelalakkan matanya.


Sementara Ana, semakin kuat mencubit Dika. Sampai membuat lelaki itu memekik.


"Tidak Jeng, jangan dengarkan dia. Dika memang sangat hobi bercanda."Ujar Ana.


**


Setelah tenang, karena Ana bisa mengendalikan Dika. Mereka mulai berbincang ringan sambil menunggu menu yang mereka pesan.


"Lalu, di mana Olivia? Kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya?"tanya Ana yang baru menyadari jika calon menantunya justru tidak ada di sana.


"Oh, maaf Jeng. Olivia masih dalam perjalanan, tolong tunggu sebentar lagi dia pasti akan segera sampai."Kata Vera.


Beberapa menit kemudian.


Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang.


Olivia, gadis manis, Cantik dengan rambut panjang tergerai. Datang menghampiri mereka semua.


"Maaf Mah, Pah, aku terlambat. Tadi ada sesuatu yang harus aku kerjakan terlebih dahulu."Kata Olivia seraya menundukkan kepalanya.


"Sayang! kau ini bagaimana sih, kau sudah telat 30 menit loh, tante Ana menunggumu sejak tadi."Kata Vera.


"Tidak! tidak terlalu lama, Tante baru saja datang, sudah tidak usah di bahas, yang penting sekarang kau datang ke sini,"sahut Ana.


"Terima kasih, Tante Ana!"


Kata Olivia, yang memang sudah mengenal Ana sejak lama karena wanita itu menjadi teman nongkrong Vera, ibunya.


Dan tibalah di momen yang mereka nanti-nantikan. Memperkenalkan Olivia dan Dika.


"Dika, ini Olivia gadis baik yang Ibu ceritakan padamu?"Ujar Ana.


Dan Vera pun menimpalinya dengan memperkenalkan Dika pada putrinya.


"Via, ini Dika, pemuda dari Tim SAR yang ibu sering ceritakan padamu."


Olivia tersenyum, seraya mengulurkan tangannya pada Dika.


"Hai, aku Olivia. Senang bertemu denganmu."

__ADS_1


Sementara Dika malah bengong menatap Olivia, dalam hatinya berkata.


'Kenapa berbeda? Dia sama sekali tidak terlihat seperti yang di foto, apa Ibu memberikan foto yang berbeda. Tapi dia mirip! Ya, orang yang sama dengan penampilan yang berbeda.'


"Dika!"Ana menyentuh lengan Dika, dan lelaki itu langsung tersadar dari lamunannya.


"Eh, saya Dika. Senang juga bisa berkenalan dengan mu."


Ana dan Vera saling lirik dan mengulas senyum, mereka fikir Dika dan Olivia langsung terpesona dengan pertemuan pertama ini. Dan pasti semuanya akan berjalan dengan lancar.


"Sekarang, ayo duduklah. Kita makan malam Dulu."Kata Tino Ayah Dika.


Semua mengagguk dan langsung duduk di posisi masing-masing.


***


Setelah beberapa menit, mereka menyelesaikan makan malam. Dika meminta izin untuk bicara berdua saja dengan Olivia.


Mendengar izin yang dilontarkan Dika membuat Vera dan Ana kembali mengulas senyum, mereka mengira jika Dika benar-benar suka dan tertarik dengan Olivia, hingga ia ingin berdua saja untuk membicarakan hal yang lebih jauh atas perjodohan ini.


Setelah mendapatkan ijin dari Orang tua Olivia, Dika mengajak Gadis itu ke tempat yang sedikit jauh dari para orang tuanya.


**


"Ada apa? Kenapa sampai membawaku kesini, hanya untuk bicara saja?"tanya Olivia. Setelah mereka sampai di taman yang tersedia di Restoran itu.


"Begini, eeemm.. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu."Kata Dika, yang sedikit ragu-ragu.


"Katakan, aku akan mendengarkannya."


"Ini soal perjodohan yang di lakukan oleh orang tua kita."


Olivia mengangguk, masih menunggu lanjutan ucapan yang akan Dika sampaikan.


"Olivia, maaf aku tidak bisa menerima perjodohan ini."Kata Dika dengan yakin, dan tanpa basa-basi lagi.


Olivia langsung mengangkat wajahnya, menatap serius ke arah Dika.


"Kenapa?"


"Saat ini, aku masih belum bisa membuka hatiku untuk siapapun. Karena...!"


"Karena kau menyukai gadis lain!"potong Olivia.


Karena sudah terlanjur, Dika pun mengangguk. Membenarkan perkataan Olivia.


Olivia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembusnya dengan perlahan. Setelah itu dia kembali menatap Dika, dengan mengulas senyum lalu berkata.


"Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf padaku. Aku memang menerima perjodohan ini, dan aku menerima lelaki seperti apapun yang di pilihkan Mama. Tapi jika lelaki yang ingin di jodohkan denganku tidak menyukai ku, apa lagi dia mencintai wanita lain, tentu akupun akan menolak perjodohan yang orang tua kita sepakati. Kau jangan khawatir aku akan bicara dengan Mama dan Mama pasti bisa memberi pengertian pada Tante Ana."Ujar Olivia.


Bersambung..


šŸāœØšŸšŸšŸšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø


__ADS_2