4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Di Keluarkan Dari Rumah Sakit Harapan


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


"Apa! Aku di keluarkan dari Rumah Sakit ini?"tanya Rana yang tidak percaya jika dirinya di pecat secara mendadak.


"Benar Rana, ini surat pemecatan mu."Kata pengurus Rumah Sakit tersebut sambil menyerahkan amplop berwarna coklat di tangan Rana.


Dengan gemetar karena terkejut sekaligus tidak percaya, Rana meraih Amplop tersebut.


"Tapi, apa kesalahan saya Dok. Sampai saya harus di keluarkan dari Rumah Sakit ini?"


"Maafkan Saya Rana, saya tidak bisa menjelaskan secara rinci padamu. Tapi ini adalah keputusan kami. Mohon untuk mengerti, kau perawat terbaik dan teladan pasti banyak Rumah Sakit yang membutuhkan Perawat sepertimu, percayalah itu."


Rana menghela nafas berat. Sungguh ia tidak menduga akan hal ini.


"Dok, apa semua ini karena Nyonya Mayang?"


Pria yang juga sebagai Dokter di Rumah Sakit tersebut hanya bisa diam, sungguh dia merasa tidak pantas dan tega jika harus mengeluarkan Rana dari RS tersebut, setelah sekian tahun Rana mengabdikan dirinya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena yang berkuasa adalah Nyonya Mayang.


Melihat Dokter yang diam, Rana mengulas senyum dan ia berkata.


"Baik Dok, saya akan terima keputusan dan kebijakan dari Rumah Sakit ini. Maaf atas semua kesalahan, selama saya bekerja di Rumah Sakit ini, dan terima kasih atas segala semangat dan bimbingan yang sudah Dokter berikan pada saya."


"Rana, maafkan saya. Sungguh saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan mu di Rumah Sakit ini. Tapi tetaplah untuk menjalani pekerjaan ini, meskipun kau sudah tidak lagi bersama kami di Rumah Sakit ini."


Rana mengangguk. Dan dengan perasaan yang tentu saja sedih, Rana keluar dari ruangan dokter tersebut.


**


"Rana!"panggil Melly, yang menjadi teman Rana selama di RS tersebut.


"Mel!"


Melly langsung memeluk Rana sambil menangis sesenggukan.


"Rana, kenapa? Kenapa kau harus pergi dari Rumah Sakit ini."


"Mel, kenapa kau menangis?"


"Aku mendengar semua percakapanmu dengan Dokter Rudi, kalau kau di keluarkan dari RS ini, tentu saja aku menangis karena tidak bisa bersamamu lagi."


"Melly, ini sudah menjadi keputusan Rumah Sakit, kita masih bisa bertemu di lain tempat dan waktu. Aku memang sudah tidak lagi bekerja di Rumah Sakit ini, tapi bukan berarti kita tidak bisa bertemu lagi kan!"


Rana menguraikan pelukannya.


Dan Melly semakin sesenggukan, ia merasa sedih harus berpisah dengan temannya karena mereka sudah tidak lagi berada di Rumah Sakit yang sama.


****


"Aku pamit ya, maafkan aku jika selama ini selalu merepotkan kalian,"ujar Rana pada rekan-rekan perawatnya. Setelah ia mengemasi semua barang-barangnya yang ada di ruang istirahat khusus perawat.


"Rana, aku juga minta maaf padamu, karena selama ini akulah yang selalu merepotkan mu, jaga dirimu baik-baik. Aku sangat berharap kita bisa bertemu kembali,"ujar salah satu teman Rana.

__ADS_1


"Benar Rana, kau pasti akan sukses dan bahagia di Rumah Sakit yang baru. Tolong jangan lupakan kami,"sahut salah satu rekannya.


"Tapi, apa Dokter Vir sudah mengetahui ini?"tanya Melly, yang tentu tahu seperti apa dokter Vir memperlakukan Rana, dia pasti akan marah dan kecewa jika Rana di keluarkan begitu saja, tanpa sebab dan alasan yang jelas. Tapi Melly juga tidak tahu jika Dokter Vir sudah tidak ada di Rumah Sakit itu.


"Benar juga ya!"sahut temanya.


Rana yang tidak mau berlama-lama, apalagi jika harus membahas Vir, memilih untuk segera pergi dari sana.


"Jaga kesehatan kalian, dan tetaplah semangat,"kata Rana sebelum benar-benar beranjak meninggalkan rekan-rekannya.


\*\*\*\*


Di tempat lain.


Seno yang masih berada di jalan, menuju pulang, kembali memutar arah mobilnya, setelah Rana mengirimkan pesan minta di jemput.


Ia juga bertanya-tanya, ada apa? Namun Rana tidak menjelaskan lewat pesan.


**


Ia kembali memarkirkan mobil di area parkir RS Harapan dan segera turun lalu memasuki Rumah Sakit. Matanya di edarkan untuk mencari sosok istrinya yang beberapa menit lalu minta di jemput.


"Permisi pak,"sapa Seno pada Scurity yang sedang berjaga di dalam Rumah Sakit Harapan.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mencari perawat Rana, kalau..."


"Untuk apa Anda mencari perawat itu, dia sudah tidak ada di Rumah Sakit ini."


Sahutan muncul dari belakang punggung Seno, dan tentu saja itu membuatnya terkejut.


Bunyi sepatu ber-hak tinggi, dengan suara yang begitu nyaring ketika beradu dengan lantai yang begitu mengkilap, menghampiri Seno yang sedang menatap serius setiap langkah pemilik sepatu tersebut.


"Selamat pagi, Nyonya Mayang,"sapa Scurity dengan menundukkan kepalanya, ketika menyadari kedatangan Mayang.


Mayang mengangguk dengan penuh keanggunan, dan dengan suara yang super duper ramah, wanita itu meminta sang Scurity untuk kembali bekerja.


Dan tinggallah ia dan Seno di sana.


Mayang meneliti Seno dari ujung kaki sampai kepala, sambil memicingkan matanya seolah tengah menilai penampilan lelaki yang ada di hadapannya itu.


Seno yang mendapat tatapan yang aneh dari Mayang, semakin menegakkan wajahnya dan menatap tajam wanita paruh baya itu.


Setelah puas meneliti, Mayang tersenyum dengan sangat ramah seperti yang sering dia lakukan pada orang-orang di luar sana.


"Maaf, Anda mencari Rana?"


Seno mengangguk.


"Tapi sayang sekali, Perawat Rana sudah tidak bekerja di sini."


Seno menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Tidak bekerja di sini?"


Mayang mengangguk.


"Benar, dia sudah tidak bekerja di Rumah Sakit ini kerena kebijakan Rumah Sakit yang memutuskan untuk mengeluarkan Rana dari ikatan perawatan di RS ini."Jelas Mayang.


Seno sangat terkejut mendengar penjelasan Mayang, dan di sini ia mulai mengetahui alasan Rana yang minta di jemput.


"Kebijakan apa maksud Anda? Dan kalau boleh tau Anda ini siapa?"tanya Seno.


Dengan kembali tersenyum ramah, Mayang mengulurkan tangannya.


"Perkenalkan, nama saya Mayang Sari. Saya pemilik Rumah Sakit ini."


Melihat keangkuhan yang berbalut keramahan dari Mayang, Seno enggan untuk menjabat tangan wanita itu. Seno hanya menyebutkan namanya dengan ucapan saja.


Mayang kembali menarik tangannya, namun dia tidak marah dengan sikap Seno yang Mayang anggap tidak sopan. Namun seperti biasa, Mayang yang terhormat tanpa celah sedikitpun harus terlihat baik dan sempurna, lalu ia kembali berbicara pada Seno.


"Kami memutuskan untuk mengeluarkan Rana, karena ini sudah menjadi kebijakan dari RS, karena kami tidak mau Rumah Sakit ini tercoreng dengan kelakuan perawat seperti Rana."


Seno mulai terpancing.


"Maksud Anda?"


"Seno, semua orang yang bekerja di RS sudah tau seperti apa kelakuan wanita yang bernama Rana itu, dengan kepolosan dan kecantikan wajahnya, dia mencoba merayu dan menggoda para Dokter di sini. Termasuk Vir, putra saya."


DEG!


Mendengar kata-kata Mayang. Dada Seno terasa panas, di tambah lagi ketika ia mengetahui jika wanita yang ada di depannya orang tua Vir.


"Jadi dengan terpaksa kami harus mengeluarkan Rana, agar para Dokter di sini tetep bekerja dengan nyaman,"Sambung Mayang.


Seno sudah mengepalkan tangannya.


"Sepertinya Anda harus bertanya dulu, siapa yang sedang Anda ajak bicara Nyonya Mayang!"Kata Seno dengan mengeraskan rahangnya.


Mayang baru menyadari itu, dia hanya tau nama dari pria yang ada di hadapannya tanpa tau siapa dia yang datang mencari Rana, dan dengan bodohnya, karena ia sudah di kuasai dengan rasa benci pada sosok yang bernama Rana, Mayang pun berkata.


"Apa kau, salah satu lelaki yang menjadi korban wanita itu?"


Seno menaiki turunkan nafasnya, sungguh ia sedang berada di tingkat emosi yang lumayan tinggi. Tapi dia harus bisa menahan emosi, karena sedang berada di tempat umum.


"Saya Suaminya, suami dari perawat yang bernama Rana."Kata Seno dengan suara yang nyaring.


Yang tentu saja, langsung memancing beberapa pasang mata untuk menatap kearahnya.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2