4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Alasan, 4 Tahun Yang Lalu. Bagian Ke 2


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—


šŸšŸšŸšŸšŸšŸ


Dengan tergesa-gesa dan tanpa mengabari Lina terlebih dahulu, Seno menuju lokasi darurat.


Susana menegangkan sangat terasa di Apartemen itu. Beberapa suara jeritan dan tangis dari para korban penyerangan melengkapi ketegangan. Polisi tengah melakukan negosiasi dengan penyerang yang juga menyandera beberapa penghuni apartemen yang di dominasi anak-anak. Dan Tim SAR. Mengevakuasi korban luka dan meninggal.


"Masih ada, korban di lantai 12. Tapi sulit menuju ke sana, karena akses di blokir penyerang, kita harus ekstra hati-hati, untuk melakukan evakuasi dan negosiasi, karena mereka tidak main-main dengan tindakan brutalnya,"ujar Dika memberikan penjelasan, pada Seno. Karena ia tiba lebih awal datang dan sudah sudah memahami segala situasi di sana.


Negosiasi yang di lakukan polisi sungguh sulit, dan penyerang bersenjata lengkap itu membawa sandera anak-anak di lantai 10. Mereka melakukan intimidasi terhadap anak-anak tidak berdosa di sana.


Setelah 2 jam lamanya. Berkat kerjasama Petugas kepolisian dan tim SAR serta beberapa tim yang membantu. Akhirnya, penyerangan itu dapat di atasi dengan polisi yang berhasil melumpuhkan para penyerang. Namun tidak hanya sampai di sini, salah satu dari penyerang yang membawa anak-anak ke lantai 10 tadi. Melakukan diskon nyawa dengan menembakkan senjata api di kepalanya. Tapi sebelum itu ia lakukan penyerang yang berjenis kelamin laki-laki tersebut membakar lantai 10. Yang masih terdapat anak-anak di sana, tentu saja hal ini membuat semua panik karena api dengan cepat membesar. Semua berjibaku untuk menuju ke lantai 10, menyelamatkan anak-anak yang ada di sana, termasuk tim Seno yang berada di barisan paling depan untuk menyelamatkan mereka.


"Api semakin membesar, tunggu petugas Damkar memadamkan api terlebih dahulu, kita tidak masuk, akan sangat berbahaya."Ujar salah satu rekan Seno.


"Setidaknya, butuh waktu 10 sampai 20 menit untuk menjinakkan api di lantai ini, dan jika menunggu di waktu tersebut, api sudah menguasai seluruh lantai."Sahut Seno.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"tanya Dika. Yang juga merasa serba salah.


"Kalian, minta petugas Damkar untuk Fokus memadamkan api di ruangan yang terdapat anak-anak dan juga beri jalan untuk kita mengevakuasinya."


"Jadi, kita akan tetep menuju ke sana?"


"Tentu saja."Sahut Seno, yakin.


"Tapi?"


"Aku yang akan masuk ke ruangan utama untuk mengeluarkan anak-anak yang ada di sana, dan kalian tunggu di titik yang sudah di amankan dari api oleh tim Damkar. Setelah itu bawa anak-anak ketempat yang aman."Ujar Seno.


"Baik!"semua menyahut serentak.


"Seno, berhati-hatilah."Pesan Dika sebelum temannya itu memasuki satu kamar yang ada lantai 10 Apartemen tersebut. Dan Seno mengangguk.


Tolong...


Tolong...


Tolong...


Suara rintihan dan jerit tangis anak-anak memenuhi ruang yang sudah di penuhi asap tebal. Untung saja Seno dengan mudah membuka pintu ruangan tersebut.


"Tutup hidung dan mulut kalian."Teriak Seno, yang sudah memasuki ruangan tersebut.


"Om. Tolong kami."Teriak satu anak yang menangis ketakutan.

__ADS_1


Dengan susah payah, Seno mengeluarkan anak-anak yang berjumlah 5 orang. Dan Dika serta beberapa temannya membawa anak tersebut ke lantai dasar untuk memberikan pertolongan pertama. Karena ada anak yang sudah tidak sadarkan diri akibat terlalu lama menghirup kepulan asap.


"Om, adik aku masih ada di dalam."Ucap seorang anak laki-laki yang saat ini ada di gendong Seno, yang Seno kira ini anak terakhir yang dia evakuasi.


"Adik?"


"Benar Om. Adik aku masih ada di dalam. Hiks.. hiks..!"tangis anak yang berusia sekitar 7 tahun itu.


"Dika, bawa anak ini turun."Seno memberikan anak itu di gendongan Dika.


"Kau mau kemana?"


"Masih ada satu anak di dalam."


"Tapi Sen...!"


Sebelum Dika menuntaskan omongannya, Seno sudah lebih dulu masuk ke ruangan yang syukurnya api sudah berhasil di padamkan, hanya tersisa asap-asap yang masih mengganggu penglihatan.


Seno mengitari ruangan, mencari anak yang di maksud. Dan ia mendengar tangisan anak tersebut yang ternyata tengah memanjat jendela besar di ruangan tersebut.


"Tetep. Di situ."Pinta Seno, dan meminta anak itu untuk tetep tenang. Pasalnya anak itu sudah benar-benar akan loncat dari jendela. Namun karena pandangan yang tidak jelas dan anak itu sudah di liputi rasa takut dengan nafasnya yang sudah mulai habis, ia jatuh dari jendela. Dan beruntung, Seno masih bisa meraih tangan anak itu.


Dan di saat yang tepat, Dika datang untuk membantunya, ia membantu Seno untuk meraih anak itu.


"Cepat tarik."Pinta Seno.


Dan bukan hanya anak itu yang sudah tidak sadarkan diri, ternyata kakinya juga tersangkut di bawah jendela. Hingga membuat Seno dan Dika semakin kesulitan mengangkat anak tersebut.


"Kau tetap tahan anak ini, aku akan turun."


"Tapi, tidak ada pengaman Sen. Kau tidak boleh keluar dari jendela ini?"


"Jika kita menunggu bantuan tambahan, anak ini akan kehabisan nafas, dan bisa saja dia tidak akan selamat."


Dika diam karena dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Seno.


Secara perlahan dan dengan penuh ke hati-hatian, Seno menuruni jendela yang kurang lebih, setinggi satu setengah meter tersebut.


Dan Dia berhasil, melepaskan kaki anak yang tersangkut. Dengan cepat Dika mengangkat anak itu dan memanggil rekannya untuk membawa si anak ke tempat yang aman.


"Kita berhasil Sen, sekarang cepatlah naik jangan berlama-lama di situ."Kata Dika.


"Memangnya, kau pikir aku mau ber lama-lama bergelantungan di sini."Sahut. Seno.


"Ayo cepat!"Dika mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Namun naas, sebelum Seno meraih tangan sahabatnya itu. Kakinya yang di gunakan untuk menahan, secara tidak senaja tergelincir. Hingga membuat Seno kehilangan keseimbangan dan ia juga melepaskan pegangannya di sisi jendela.


Tidak ada tali pengaman apapun di tubuh lelaki itu, hingga dalam hitungan detik, tubuh Seno terjun bebas dari lantai 10 Apartemen tersebut.


Dika yang masih dengan posisi tangan terulur, merasakan detak jantungnya berhenti. Ketika di melihat temannya jatuh di depan matanya.


BUG!


Suara benturan keras yang berasal dari tubuh Seno yang membentur aspal. Tentu mengejutkan semua orang yang ada di sana.


Ada yang terbengong kerena Shock melihat kejadian naas di depan mereka, ada juga yang berteriak histeris.


Rekan penyelamat segera berhambur menghampiri Seno, yang sudah bergelimang darah.


***


Wiiiw..


Wiiiw... Wiiiw...


Suara Ambulan yang membawa Seno, menerobos keramaian kota, menunju rumah sakit.


Dan dengan cepat Dokter yang ada di IGD segera melakukan pertolongan pertama pada Seno.


**


Kecelakaan kerja yang terjadi pada lelaki itu sungguh mengejutkan semua Orang, terutama Lina yang sampai pingsang ketika mendengar kabar tersebut.


Itulah yang terjadi pada Seno 4 Tahun Yang Lalu. Dan karena kecelakaan itu, Seno mengalami koma selama 9 bulan. Dan ia di Vonis lumpuh sementara karena kakinya mengalami patah tulang yang sangat parah.


Ketika Seno sadar dari koma. Dia ingat bahwa saat itu dia harus menjemput Rana pulang. Namun Sarah terlebih dahulu mendatanginya. Dan meminta Seno untuk tidak menunjukkan diri pada adiknya.


"Lupakan Rana, dan jangan pernah mengagunya."


"Apa, selama aku koma Rana tidak datang?"


"Tidak! dia sudah melupakanmu, dan jangan ganggu Rana lagi. Saya senang kau bisa kembali sadar. Jalani hidupmu dengan baik tanpa mengganggu Rana lagi, dan semoga lekas sembuh."Ujar Sarah dan ia pergi dari rumah sakit. Tempat Seno di rawat.


Bersambung....


šŸšŸšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2