
Selamat! Membaca š¤
āØšāØšāØšāØ
Bukan hanya Seno yang terkejut melihat kehadiran Windy di sana, tapi gadis itupun sama terkejutnya karena tidak menyangka akan bertemu Seno di tempat itu.
Tidak mau berlama-lama terkejut, Seno segera berjalan menuju Rana dengan melewati Windy begitu saja, tanpa tersenyum atau menyapanya.
Sementara Vir, langkah kakinya harus tertahan ketika Aurel menghentikannya yang ingin menyusul Seno.
Dan Wahyu terlihat kebingungan karena tidak mengerti apa-apa.
"Mas, untuk apa kau datang ke sini?"tanya Rana, sesaat setelah Seno berdiri tepat di hadapannya.
"Aku ingin mengajakmu makan siang."Sahut Seno.
"Maaf Mas, tapi aku sudah makan siang, lebih baik kau kembali ke tempat kerjamu, jangan membuang-buang waktu hanya untuk datang kesini."Tolak Rana.
"Tidak masalah kalau kau sudah makan siang, kau bisa temani aku makan."Timpal Seno.
"Tidak, Mas. Aku....!"
"Seno?"panggil Windy. Yang tentu saja panggilan itu menghentikan ucapan Rana.
Rana menoleh ke arah Windy, di sini Rana merasa heran kenapa Windy bisa mengenali Seno padahal tadi mereka belum sempat berkenalan.
Seno melirik pada Windy.
"Ada apa?"sahutnya singkat.
Windy tersenyum, di balik senyum gadis ini menyimpan banyak pertanyaan yang saat itu ingin segera ia lontarkan pada Seno.
Kenapa kau mengenal Rana?
Kenapa kalian seperti mengenal sejak lama?
Kenapa Rana memanggilmu dengan sebutan, Mas?
Dan kenapa, kau dengan ramah mengajak Rana makan siang?Itulah beberapa pertanyaan yang saat ini ada di benak Windy.
Namun ia masih cukup sadar untuk tidak menanyakan itu semua secara langsung di sini, karena Windy lebih memilih untuk berkata."Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu kembali di sini."
Seno hanya mengangguk tidak berniat menimpali perkataan mantan kekasihnya itu.
Di sini Rana yang juga terheran meneliti Windy dan Seno secara bergantian, ketika pandangan Rana tertuju pada kedua netral Windy, ia sudah bisa menduga jika Seno orang yang sepesial untuk gadis itu. Karena tatapan Windy sungguh sangat berbeda pada Seno.
"Ada apa? Kenapa mata Windy terlihat berbinar melihat Mas Seno? "
Seno yang tidak mau berlama-lama, menarik tangan Rana.
"Ikut, aku."Ucapnya.
"Seno tunggu!"panggil Windy kembali.
Seno dan Rana sama-sama menolah.
"Kau mengenal Rana?"tanya Windy, yang pada akhirnya memilih untuk bertanya langsung pada lelaki itu.
"Dia istri ku."
DUUUAAAR....
__ADS_1
Sebuah jawaban. Yang singkat padat dan jelas, bagai suara petir di siang hari yang panas, menggelegar di telinga dan hati Windy.
"Iii...istri?"Windy yang terbata-bata dengan pertanyaan. Windy berharap, jika yang tadi ia dengar salah.
"Iya. Rana, istriku."Sahut Seno, dengan suara mantap.
Windy segera menetralkan hatinya dan kembali berucap.
"Jadi istrimu, Rana? Tapi bukankah kau dan istrimu...!"Windy tidak melanjutkan ucapannya, karena ia merasa tidak pantas untuk menanyakan urusan pribadi mereka,"Maksudku. Aku senang, akhirnya bisa bertemu bahkan mengenal istrimu yang ternyata temanku saat ini,"ujar Windy, sambil menahan sesuatu yang ingin meledak di hatinya,lalu ia beralih pada Rana,"Rana, kenapa kau tidak bilang jika suamimu Seno?"
"Apa! Aku....!"Rana terlihat bingung, karena tiba-tiba Rana merasa ada di ambang kegelisahan yang ia sendiri tidak tahu. Yang jelas dalam hatinya bertanya-tanya. Ada hubungan apa Mas Seno dan Windy, kenapa Windy terlihat begitu mengharapkan Seno, sedangkan Seno terlihat tidak perduli dengan kehadiran gadis itu. Tapi sedetik kemudian, Rana sudah bisa memudarkan kebingungannya.
"Ah, kau tidak pernah menanyakannya, jadi aku rasa tidak harus mengatakannya kan?"sambung Rana.
"Iya, kau benar juga,"sahut Windy dengan tertawa kecil penuh dengan kecanggungan.
"Kami harus pergi, permisi."Sahut Seno yang menyudahi percakapan Istri dan mantan kekasihnya.
Dan entah kenapa, tiba-tiba Rana menjadi patuh mengikuti setiap langkah Seno yang sejak tadi tidak melepaskan tangannya, menuju mobil.
"Masuklah!"ucap Seno, setelah membukakan pintu mobil untuk Rana.
Tanpa berpamitan lagi pada ke tiga manusia yang di liputi rasa penasaran, Seno pergi dari sana dengan membawa Rana.
Windy mematung, menatap mobil Seno yang semakin menjauh dari pandangannya.
Sedangkan Vir tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan Rana pergi bersama Seno.
Aurel yang penasaran, segera menghampiri Windy.
"Windy, kau mengenal Seno?"
Windy mengangguk.
"Kau sudah lama mengenalnya?"tanya Aurel kembali.
"Apa dia, lelaki yang dulu sering kau ceritakan padaku?"sahut Wahyu. Yang membuat Aurel dan Vir menatapnya, semakin di liputi rasa penasaran.
Windy diam, dia terlihat seperti menahan tangis.
Dan Wahyu kembali berkata.
"Jadi benar, lelaki itu yang dulu sering kau ceritakan padaku dengan sejuta kebanggaan."
"Wahyu, itu masa lalu. Tolong jangan bahas itu lagi."Ujar Windy, yang tidak mau membahas masa lalunya dengan Seno di depan Vir dan Aurel.
"Tapi sampai detik ini, kau masih mencintai dan mengharapkan lelaki itu kan?"
Ucapan Wahyu, sontak membuat bola mata Aurel ingin lepas saking terkejutnya.
Begitu juga dengan Vir, tapi tidak sampai melotot seperti Aurel.
Dengan ragu-ragu, Aurel bertanya.
"Ja.. Jadi... Kau dan Seno...!"
"Dulu mereka pasangan yang saling mencintai, dan sampai sekarang Windy masih mencintai Seno."Potong Wahyu.
Aurel dan Vir sampai tidak bisa berkata apapun lagi, mendapati kenyataan ini.
āØšāØšāØšāØ
__ADS_1
Kita tengok dulu Seno dan Rana.
***
Rana yang masih diliputi rasa penasaran karena pertanyaan yang menumpuk di benaknya, membuat ia terdiam di dalam mobil.
"Apa kau ingin menanyakan perihal Windy?"tanya Seno yang memecahkan keheningan.
"Tidak! Aku tidak mau tahu apapun."Sahut Rana tak peduli. Padahal banyak pertanyaan yang ingi ia tahu tentang Windy.
"Baiklah, jika kau tidak mau tahu aku tidak akan memberitahunya, dan aku juga tidak akan bertanya kenapa kau bisa mengenal Windy, karena itu juga tidak penting. Tapi dari mana kalian, kenapa dokter Wahyu bisa bersama kalian?"
"Aku tidak harus memberi tahumu kan?"
"Tentu saja harus. Kau pergi dengan seorang lelaki tanpa izin dari ku."Sahut Seno.
"Pergi dengan seorang laki-laki? aku pergi bersama Aurel, Mas, dan secara tidak sengaja bertemu dokter Wahyu dan dokter Windy. Windy temanku dan Wahyu sepupunya, jadi apa salahnya jika kita pergi bersama."
"Mulai sekarang, aku tidak mengizinkanmu pergi dengan lelaki, walaupun ada Aurel di sana."
Rana membelalakkan matanya.
"Kau tidak bisa mengatur ku seperti ini Mas, dan sejak kapan kau peduli padaku, saat aku mau pergi dengan siapa?"
Seno terdiam. Kata-kata Rana mengingatkan kelakuannya dulu yang benar-benar tidak mau tahu dan perduli, Istrinya pergi kemana bersama siapa.
"Maafkan aku."Lirih Seno.
"Aku turun di sini, Mas."Pinta Rana, yang sudah menyadari jika ia tidak boleh kembali dekat dengan Seno agar perpisahan mereka berjalan dengan mudah.
"Kita belum sampai."Sahut Seno yang tetap melajukan mobilnya.
Rana sedikit menyesal kenapa tadi ia mengikuti Seno masuk ke dalam mobil, padahal dia tahu pasti akan sulit lepas dari lelaki ini jika ia sudah bersamanya.
"Kita mau kemana, Mas? kau tidak mungkin melanjutkan niatmu yang ingin mengajakku makan siang kan, karena jam istirahatmu sudah habis. Lebih baik, Mas turunkan aku di sini dan kau bisa langsung ke tempat kerjamu."Pinta Rana, dia tahu jika Seno orang yang sangat disiplin dalam pekerjaan, Seno tidak mungkin masih berada di luar ketika jam istirahat usai.
Seno tidak mengindahkan permintaan Rana karena ia tetap melajukkan mobilnya sampai ke tempat yang ia tuju.
Yaitu Kantor SAR.
"Kenapa ke sini, Mas? seharusnya kau turunkan aku di jalan, dari pada menurunkan aku di sini."Protes Rana, karena merasa lebih jauh kembali ke tempat Aurel dari kantor ini dibanding di jalan tadi.
"Siapa yang mau menurunkanmu di sini,"sahut Seno, dan dia membuka sabuk pengaman dirinya. Dan kembali berkata,"Kau tetep di sini, aku turun sebentar."
"Tidak! Aku ikut turun."Tolak Rana, dan segera membuka sabuk pengamannya juga. Ia tidak mau jika harus di kurung di dalam mobil, lebih baik turun karena bisa mencari cara untuk pergi dari sana.
**
Dika yang menyadari kedatangan Seno, keluar dengan penuh semangat untuk menyambut dan mendengar cerita lelaki yang sudah ia berikan Tips dan wejangan itu.
"Rana?"kejut Dika, melihat Seno kembali tidak sendiri.
"Luar biasa, aku bukan hanya berhasil membuat Seno makan siang bersama Rana, tapi dia juga berhasil membawa wanita itu ke sini. Kau sungguh luar biasa Dika, sepertinya kau memiliki skill yang lain selain menyelamatkan masyarakat. Kau harus mengembangkan bakatmu ini." Batin Dika, berbangga diri.
Bersambung..
āØšāØšāØšāØšāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø