
Selamat, membaca š¤
šāØāØāØš
"Tidak tahan? Apa kau lelah, Mas?"tanya Rana.
"Iya, aku lelah karena tidak kuat menahannya."
"Menahan apa? Kalau bicara yang jelas mas."
Rana di buat bingung dengan kata-kata Seno.
"Bersabarlah, nanti juga kau tahu."
Seno langsung membelokan mobilnya ketika melihat bangunan tinggi yang bertuliskan HOTEL SUPER.
***
"Apa kita benar-benar ke sini?"Rana kembali bertanya di saat mobil Seno memasuki area parkir Hotel Super tersebut.
"Tentu,"sahut Seno dan dia langsung membuka sabuk pengaman lalu turun dari mobil.
"Kenapa harus memilih Hotel hanya untuk beristirahat, yang mungkin beberapa menit saja,"gumam Rana sambil membuka sabuk pengamannya.
Seno membuka pintu mobil untuk istrinya, dan ia mengulurkan tangannya membantu Rana untuk keluar.
Tak...
Tak...
Tak....
Suara langkah sepatu, dari kedua manusia ini memasuki Hotel dan Seno segera memesan kamar terbaik di sana.
"Ini kuncinya Pak, selamat beristirahat, jika ada sesuatu yang Anda butuhkan bisa segera menghubungi petugas kami."Ucap seorang wanita seraya menyerahkan kunci kamar pada Seno
"Terima kasih,"sahut Seno dan ia kembali mengandeng Rana memasuk Lift menuju kamar mereka.
**
"Mas, kau meminta istirahat kerena merasa lelah, tapi kenapa kamu terlihat bersemangat seperti ini?"tanya Rana. Yang menyadari bahwa ada semangat juang 45 pada diri Seno.
"Tentu saja sekarang aku harus semangat,"sahut Seno sambil senyum-senyum.
Ting!
Pintu Lift terbuka dan mereka sudah sampai di lantai 5 Hotel tersebut. Setelah berjalan selama beberapa detik mereka sampai di kamar.
Seno langsung menarik tangan Rana untuk masuk kedalam, dan tak lupa ia mengunci kembali pintunya.
Seno segera membuka jaket dan sepatunya. Lalu ia beralih pada Rana.
"Sini, aku bantu buka,"ujar Seno dan ia langsung menarik resleting jaket abu-abu yang di pakai Rana.
"Kita hanya beristirahat untuk beberapa menit saja karena, Mas? Tapi kenapa harus menyewa Hotel dengan kamar yang seperti ini?"tanya Rana dengan bingung setelah melihat isi kamar Hotel yang cukup mewah.
"Beberapa menit?"Seno membelalakkan matanya.
"Iya."
"Apa cukup waktu beberapa menit?"
"Tentu saja cukup, sampai kau tidak merasa lelah lagi dan kita kembali melanjutkan perjalanan. Mungkin 30 menit sudah cukup kan untuk kau melepas penat, Mas?"
Mendengar waktu 30 menit, dengan cepat Seno menggelengkan kepalanya secara berulang-ulang.
"Tentu saja tidak, waktu 30 menit itu untuk pemanasan saja kurang. Setidaknya kita membutuhkan waktu 3 sampai 4 jam di sini,"sahut Seno.
__ADS_1
"Apa! 3 sampai 4 jam!"Kejut Rana,"Apa kau tidak salah Mas, seharusnya kita sudah sampai di Rumah dengan waktu selama itu,"sambunganya dengan sedikit kesal.
"Apa kau ingin di Rumah saja?"
"Tentu saja, bukankah akan lebih nyaman jika kita berada di Rumah."
"Baiklah, kita akan melakukannya lagi di Rumah. Tapi untuk beberapa jam ke depan, kita di sini saja karena seperti yang aku bilang tadi. Aku sudah tidak kuat."
Seno mencium pipi Rana.
"Aku ke kamar mandi dulu ya."
Katanya, dan dengan bersiul lelaki itu memasuki kamar mandi.
"Ada apa dengannya? Kenapa jadi aneh seperti itu,"gumam Rana.
**
"Sayang! Apa kau tak ikut mandi!"teriak Seno dari dalam kamar mandi.
"Tidak Mas, aku mandi di Rumah saja."
CKLEK.
Suara pintu kamar mandi terbuka, dan di sana Seno keluar dengan penampilan seperti bayi yang baru lahir. Polos, tanpa sehelai kain pun yang menutupi badannya.
Rana yang tengah membuka gorden jendela kaca Kamar, seketika terkejut dengan sosok seperti tuyul yang tengah berjalan ke arahnya.
"Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan Mas!"
Rana kembali menutup gorden yang baru beberapa menit lalu ia buka. Takut kalau ada mata yang melihat badan polos itu. Terutama sesuatu yang menggelantung di sana.
"Apa, aku hanya ingin mengajakmu mandi,"sahut Seno dengan enteng seperti tanpa dosa. Padahal ia sudah membuat Rana terkejut sampai hampir pingsan, karena melihat kelakuannya.
"Aku kan sudah bilang, kalau aku mandi di Rumah saja."
"Ini untuk apa?"tanya Seno dengan mengangkat tinggi-tinggi selimut yang baru saja Rana berikan.
"Tutupi badan mu Mas, kenapa harus berte****ng seperti ini?"
"Memangnya kenapa? di sini tidak ada orang lain kan?"
Rana menghela nafas. Meskipun lelaki itu suaminya dan tentu saja ini bukan pemandangan yang baru pertama kali Rana lihat. Tapi tetap saja dia merasa canggung, gugup, dan serba salah harus bereaksi apa ketika melihat Seno dengan wujud seperti itu.
"Di sini memang tidak ada siapa-siapa Mas, tapi tidak seharusnya kan kau berkeliaran dengan penampilan seperti ini. Ayo cepat tutup,"pinta Rana.
Seno mengukir senyum di sudut bibirnya, dan bukannya ia menggunakan selimut yang diberikan Rana untuk menutupi tubuhnya, lelaki itu malah melemparnya.
"Kenapa? apa kau tidak tergoda dengan ini?"tanya Seno, sambil menepuk-nepuk dadanya.
Rana membulatkan kedua bola matanya. Ia sungguh terkejut dengan kelakuan Seno saat ini, ini benar-benar bukan seperti Seno yang ia kenal dulu. Apakah waktu 4 tahun sudah merubah karakter Seno, karena selama ini dia selalu bersama Dika. Dan mungkin saja Dika sudah menghasut otak Seno untuk melakukan sesuatu yang di luar nurul eh naral.
"Mas!"
"Iya sayang! Kenapa wajahmu memerah seperti itu? Apa kau sangat terpukau dengan ku?"
Rana langsung menyetuh pipinya.
"Aku bukan terpukau, tapi aku heran kenapa kau jadi seperti orang mesum seperti ini." Batin Rana.
"Mas, kau mau mandi kan? cepatlah mandi, kau bisa masuk angin jika berlama-lama seperti ini,"sahut Rana, berharap Seno segera mengakhiri kelakukan mesumnya.
"Tentu saja, tapi aku ingin mandi bersamamu,"sahut Seno dengan suara manja.
"Kau jangan yang aneh-aneh, Mas?"
"Tidak ada yang aneh, karena aku meminta mandi bersama istriku."
__ADS_1
Rana semakin di buat gugup.
"Tapi, Mas.... apa yang kau lakukan! Cepat turunkan aku!"teriak Rana yang terkejut, karena tiba-tiba Seno mengangkat badannya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Apa yang akan mereka lakukan di kamar mandi?
Apa lagi, tentu saja mandi kan!
***
Setelah 60 menit.
Mereka keluar.
Tapi posisi mereka sangat menganggu otak Otor, mereka keluar dengan posisi yang masih saling berpelukan lengkap dengan ciuman yang merekakat seperti tidak bisa di lepas.
Secara perlahan dan tanpa melepaskan ciumannya, Seno membaringkan tubuh istrinya di atas kasur, begitu juga dengan dirinya yang sudah berada di posisi yang seharusnya.
"Kita lanjutkan kembali di sini,"bisik Seno di telinga Rana, setelah beberapa detik ia melepaskan ciumannya. Dan melanjutkan dengan aksi lainnya, yang kembali tidak bisa Otor jelaskan secara terperinci.
******
*****
*****
Karena adanya Drama istirahat di Kamar Hotel.
Seno dan Rana, sampai di Kota dini hari.
Karena jarak rumah Sarah lebih dekat dari rumah mereka, Rana pun meminta Seno untuk singgah di Rumah Sarah terlebih dahulu. Sekaligus ingin menanyakan, apa yang menjadi kegelisahan Ibunya.
Meskipun waktu sudah menunjukkan dini hari, tapi kedatangan mereka disambut baik oleh Bima.
**
"Kakakmu sudah tidur, lebih baik kalian beristirahat dulu di sini. Besok baru kembali ke Rumah kalian,"ujar Bima.
"Baik, Mas. Maaf sudah merepotkan Mas,"ujar Rana.
"Tentu saja tidak, Mas senang karena kalian langsung ke sini. Sekarang beristirahatlah."
Seno dan Rana pun memutuskan untuk beristirahat di rumah Sarah dan Bima sampai pagi. Karena Rana harus ia harus bicara dengan Sarah besok pagi.
***
"Ada apa sebenarnya dengan kak Sarah? Sepertinya dia tidak menyukai jika kau kembali padaku? Dan aku melihat kebencian dari mata kak Sarah, ketika dia melihatku,"kata Seno yang menyadari keanehan Sarah.
"Aku juga tidak tau Mas, tapi Ibu bilang, ada sesuatu yang kak Sarah tutupi dan aku harus tau itu, kak Sarah tidak membencimu, mungkin dia masih merasa kecewa saja padamu,"sahut Rana.
"Semoga saja seperti itu, dia membenciku bukan karena hal lain."
"Jangan pikirkan itu Mas, dengan kau menjalin kedekatan baik dengan kak Sarah, dia pasti akan kembali menerimamu."
Seno mengangguk.
Bersambung..
šāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1