
Selamat membaca π€
β¨ππππβ¨
''Apa kau tidak salah jika dia orangnya?''tanya Dika sedikit tidak percaya , di saat Seno mengatakan jika Ardi lah yang menjadi lelaki idaman Aurel.
(''Itu benar, jika kau tidak percaya, kau tanyakan saja langsung pada gadis itu atau kau masih ingin mencari tahu sendiri. Sudahlah, jangan ganggu aku lagi, aku sedang melakukan tugas luar biasa, jika kau terus bertanya itu akan menggangu, aku bisa kehilangan fokusku.'')
''Memangnya tugas apa yang sedang kau lakukan?''
(''Kau tidak akan mengerti, walaupun aku menjelasksnnya dengan detail, kau baru bisa mengerti jika sudah menikah nanti.'')
''Sial!''umpat Dika,''Memangnya kau pikir aku sebodoh itu, aku tau pekerjaan apa yang sedang kau lakukan.''
(''Benarkah! kalau begitu bagus! sudahlah aku ingin melanjutkan tugasku kembali,")ujar Seno.
''Ya, teruskanlah, teruskan apa yang sudah menjadi tugasmu, sampai kau puas.''Sahut Dika dengan kesal, lalu dia mematikan panggilan telponnya.
''Baiklah, jika memang dokter itu yang menjadi pesaingku, mulai dari sekarang kita akan bersaing,''gumama Dika.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan keseriusan Dika yang sedang merancang srtategi untuk bersaing dengan Ardi.
''Ah, siapa yang datang! mengganggu saja,''kesalnya. Tapi meskipun begitu dia tetap beranjak ingin membuka pintu untuk seseorang yang datang di rumah orang tua Seno.
CKLEK!
Setelah Dika membuka pintu, wajah kesal lelaki itu seketika berubah drastis, dari yang tadinya terlihat sangat kucel kini berbinar seperti mendapatkan lotre.
''Dika, kenapa kau bisa ada di sini?''tanya Aurel bingun. Ya, Aurel yang mendatangi rumah Lina, karena Kirana memintanya untuk sering-sering menjenguk Lina selama dia dan Seno pergi.
Dika mengulas senyum, dalam hatinya berkata.
''Sepertinya, dewi cinta berpihak padaku, di saat aku tengah menyusun rencana untuk kembali mengajak bertemu, dia malah datang padaku dengan sendirinya.''
''Kau kenapa senyum-senyum seperti itu?''tanya Aurel.
''Tidak apa, aku hanya senang karena kucing manisku telah kembali. Ayo masuklah, kau pasti ingin bertemu denganku kan?''
''Tidak! siapa yang ingin bertemu denganmu, bahkan aku tidak tau jika kau ada di rumah tante Lina, Rana yang memintaku untuk menjenguk dan memastikan kalau ibu mertuanya baik-baik saja.''
Dika kembali mengulas senyum, dan hatinya kembali bergumam.
''Terima kasih Rana, aku rasa kau tidak seperti suamimu yang menyebalkan itu, yang lebih terlihat mendukung sainganku, kau berpihak padaku Rana dan saat ini kau tengah membantu memuluskaan hubungan aku dangan mengirimkan dia kesini.''
__ADS_1
Aurel kembali bingun melihat Dika yang diam tapi senyum-senyum sendiri.
''Dika, kau kenapa?''
''Tidak apa, aku tidak perduli apa yang membawamu datang kesini, yang jelas aku senang karena kucingku telah kembali. Ayo masuklah, apa kau ingin langsung melihat kamarku di sini?''
Aurel langsung menajamkan matanya.
''Maksudku, apa kau mau langsung ke kamar ibu Lina, karena beliau sedang berada di dalan kamarnya.''Sahut Dika.
''Tidak perlu, aku tunggu di sini saja,''kata Aurel dan dia masuk lalau mendudukan diri di sofa ruang keluarga.
''Baiklah, aku akan panggilkan ibu Lina, agar kau yakin jika beliau dalam keadaan baik-baik saja, aku menjaga dan memperhatikan beliau dengan sangat baik.''
Aurel mengangguk.
''Tapi tunggu, apa kau tinggal di sisni?''tanya Aurel, yang masih penasaran dengan keberadaan Dika di sana.
''Iya, tapi bukan berarti aku tidak punya rumah sehingga aku harus tinggal di sini, aku di sini untuk sementara waktu, menjaga ibu Lina selama Seno dan Rana pergi bulan madu. Aku juga ingin memastikan jika ibu Lina dalam keadaan baik-baik saja.''
Aurel mengulas senyum.
''Kau baik.''
Dapat pujian dari gadis pujaan hati tentu membuat Dika senang, meskipum hanya dua kata pujian yang Aurel ucapkan, tapi itu sudah membuat Dika membusungkan dadanya.
Dika langsung beranjak menuju kamar Lina.
*********
Di tempat lain,
Piter, orang tua Windy atau suami dari Winda, sedang murka setelah dia tau apa yang sudah Winda lakukun selama ini.
''Apa mamahmu itu sudah tidak waras? biar papah yang akan menjemput Mamah mu, jika dia tidak mau. Papah akan menyeretnya,''kata Piter yang sepertinya sudah habis kesabarannya.
Dan Windy hanya bisa diam, tidak sedikitpun dia membela Winda.
Winda memeng tidak tingal bersama suaminya yang memilih menetap di luar nergi, dengan alasan, ingin mngurus senderi semua bisnisnya yang ada di tanah air. Hingga piter pun menuruti permintaan iatrinya itu. Tapi kali ini Piter sudah tidak akan lagi menuruti perminttaan istrinya sekalipun Winda mengatasnamakan Bisnianya. Setelah Piter tau apa yang sudah iatrinya lakukan di sana.
******
''Tidak Pah, mamah tidak mau pergi dan tinggal di sana, mamah nyaman tinggal di sisni mamah juga harus mengurusi semua bisnis mamah yang ada di sini.''
''Tidak, aku suadah tidak akan lagi menerima alasan apapun darimu, bukanakah akan lebih baik kita tinggal bersama di sana, karena Windy pun memilih untuk menetap di sana.''
__ADS_1
''Pah...!''
''Winda, apa kau ingin menjadikan bisnismu sebagai alasan, bukakan banyak orang kepercayaanmu di sini, mereka tentu bisa mengurus semuanya, apa kau memilih bertahan karena ambisimu yang ingin merusak keluarga Seno?''Sentak Piter.
Winda tentu terkejut dengan sentakan dari suaminya itu, selama menikah, Piter tidak pernah bicara dengan nada tinggi padanya apalagi sampai membentak.
''Pah!''
''Cukup Winda, kau mau memberi alasan apalagi? aku sudah tau semunya, semua yang telah kau lakukan pada Windy, apa pikiranmu sudah tidak berjalan dengan baik, hingga kau dengan tega menghasut putrimu sendiri untuk melakukan sesuatu yang salah?''
Winda yang tadinya dalam posisi duduk kini beranajak setelah mendengar kata-kata Piter yang terdengar menyalahkanya.
''Pah, Windy itu putriku.''
''Justru karena dia putrimu kau harusnya bisa menjadi orang yang mengarahkan Windy, orang yang bisa membuatnya bangkit dari masa lalu buruknya, menjaganya memahaminya, menyayanginya, bukan malah mempropokasi dirinya untuk berjalan di jalan yang salah.''
''Cukup Pah, Windy itu putriku, aku tau apa yang terbaik untuk putriku sendiri. Aku yang melahirkannya, aku tau apa yang harus aku lakukan . Kau hanya Papa....!''Winda menghentikan kata-katanya, sepertinya wanita ini gemar sekli melakukan kesalah dengan ucapanya, yang menyakiti hati orang lain, bahkan orang-orang terdekatnya.
"Papah tiri maksudmu?"Piter melanjutkan kata-kata Winda yang tertunda.
Winda membuang wajahnya.
Dan Piter kembali bicara.
''Winda, aku tahu dan aku sadar jika aku ini bukan papah kandung Windy, tapi aku sudah menganggap Windy seperti anakku sendiri, aku menyayangi Windy seperti darah dagingku sendiri.''Kata Piter dengan nada suara yang terdengar pilu ketika dia di sadarkan bahwa dia bukan orang tua kandung dari anak yang sudah dia besarkan sejak usia 10 tahun itu.
Sedangkan Papah kandung Windy entah pergi kemana, dia meninggalkan Windy demi wanita lain sejak Windy berusia 5 tahun, mungkin ini yang menjadi alasan Winda kenapa dia bernafsu dan memaksa Windy untuk merebut dan mempertahankan apa yang pernah dia miliki.
''Maafkan aku Pah, aku tidak bermaksud untuk mengingatkan siapa dirimu,"sesal Winda, lalu dia menarik nafasnya dalam-dalam.
"Sudahlah, aku tidak mau membahas ini lagi, aku tidak akan ikut pulang bersamammu, seperti apa yang aku katakan aku akan tetep di sini untuk mengurus bianisku.''Sambung Winda.
''Baiklah, itu terserah padamu. Aku sebagai suami sudah berusaha menuruti apa yang menjadi keinginanamu. Dan aku mimta satu hal, jangan melakukan apapun yang merugikan orang lain.'' Pasrah Piter. Dia sudah tidak mau lagi peduli dengan Winda.
Meskipun Winda dan Piter dulu menikah karena perjodohan, tapi lelaki itu selalu berusaha menjadi apa yang di inginkan Winda, termasuk dengan tempat tinggal mereka yang terpisah, namu sepertinya saat ini Piter sudah menyerah.
*********
Bersambung.
Terima kasih sudah berkunjung kecwrita iniπ
mohon dukungannya.π€
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalan tulisan ini.
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya.β€οΈβ€οΈππ»