
"Noted. Enam orang kami melihatnya. Kami bergerak, kalian pura-pura masuk ke dalam rumah."
"Baiklah, Tuan Pablo hidangkan kami kopi di dalam rumah. Kita menghindar dari keributan." Aku dan yang lain harus segera menyingkir membiarkan penembak jitu menyelesaikan pekerjaannya.
"Baiklah, ikut aku. Mari masuk Nona." Dia ternyata mengerti bahasa Inggris. Kami berjalan ke dalam sebuah rumah, nampaknya itu rumah utama, bentuknya sedikit lebih bagus dari yang lain.
Kami berjalan beberapa langkah, ketika seseorang memanggil kami dari kejauhan dan melangkah dengan cepat ke kami. Jantungku serasa berhenti di tempat itu.
"Dia adalah penjaga dari Juan, dia memegang senjata apa yang harus kulakukan?"
Belum sempat aku bertanya.
__ADS_1
"Bereskan dia." Thomas bicara di telingaku. Aku tak tahu apa artinya itu. Orang itu berjalan ke kami dengan cepat dan satu detik kemudian aku shock ketika lima meter di depan kami kepalanya tertembus sesuatu dan darah seperti berterbangan di udara. Itu pemandangan yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.
Orang-orang di depan sana berteriak kaget, mereka langsung tiarap, tapi dua orang yang terlambat menyadari situasi dihantam peluru lain dari penembak jitu dengan suara mengerikan, tiga orang jatuh sisa tiga.
"Pablo, bangsat kau!" Orang yang tertinggal mengacungkan senjata pada kami dan reflek kami semua berlari kencang sekuat tenaga, letusan senjata pecah. Baru kali ini aku merasa begitu ketakutan dihadapkan moment hidup dan mati. Suara peluru seperti berdesing di telingaku, membuatku berpikir bagaimana jika aku mati dan nasib Ibuku.
Waktu terasa seperti berlari dengan lambar, sementara dorongan adrenalin membuat aku berlari lebih cepat lagi untuk menyelamatkan selembar nyawaku yang berharga ini.
Saat aku masuk ke perlindungan tembok rumah itu, aku tak henti berterima kasih aku masih hidup ke Tuhan. Beberapa baku tembak terdengar, tentara menembaki tiga orang yang tersisa, kurang dari lima menit keributan itu berhenti dan semua menjadi tenang.
"Sara, sudah aman. Bantu aku memeriksa sandera."
__ADS_1
"Thanks God." Akhirnya ini berakhir. Aku melangkah keluar dan menemukan para pekerja ramai berkumpul, para tentara yang berpakaian tempur hijau keluar dari rimbunan tanaman ganja berjalan ke arah rumah utama bersiaga jika ada ancaman yang muncul lagi. Tapi nampaknya semua sudah aman.
Tuan Diego dan Pablo bicara dengan Thomas, Thomas ingin memastikan apa ada pengawal yang lain yang ada di sini. Tapi rupanya tak ada
"Ayo, ke gudang itu." Thomas yang sudah dalam outfit pakaian operasi menghampiriku yang menunggu bersama dengan beberapa orang prajurit.
"Kau baik? Kau cukup tenang menghadapi kartel kerjamu bagus." Dia bercanda, dia pasti tidak melihat aku sudah pucat pasi mendengar peluru berdesing di samping kepalaku.
"Aku baik, hanya semangat hidupku sudah hilang separuhnya." Thomas meringis, ayo kita bereskan tawanan dulu, heli akan segera menjemput mereka. Para prajurit akan membuka area pendaratan segera.
Kami membuka gudang itu. Itu adalah gudang peralatan. Wanita-wanita itu diikat begitu saja dengan tambang dan melihat kami seperti melihat malaikat penyelamat bagi mereka. Tipe-tipe wanita cantik dengan kulit mulus dan rambut panjang.
__ADS_1