
"Tak usah khawatir nanti aku akan mengurus intinya, akan ada Thomas dan bossnya juga yang bergabung dengan kita, tak ada yang perlu kau khawatirkan." Aku jadi tenang setelah berbicara dengannya.
"Terima kasih Franco. Aku benar-benar khawatir tadinya." Dia tersenyum padaku. Seakan ini juga bukan beban untuknya.
"Aku ada kejutan soal ini."
"Kejutan? Apa yang bisa jadi kejutan."
"Aku menawar gajiku. Berapa tahun kau harus jadi agen lepas mereka."
"Tiga tahun dan aku sudah menerimanya."
"Aku mendapatkan satu tahun sebagai rewardku terlibat dalam kasus ini. Jadi kau hanya jadi agen lepas mereka dua tahun sekarang." Sekarang aku mengangga. Aku tak tahu harus berkata apa. Jadi aku hanya memeluknya dengan erat sebagai rasa terima kasih.
__ADS_1
"Terima kasih playboy bangs*at." Dia meringis mendengarku mengucapkan terima kasih.
"Cukup terima kasih saja, kau tak usah menghujatku dibelakang." Aku tertawa sekarang, gembira hidupku akan jadi normal segera, bagaimanapun sejak aku tertangkap memata-matai Francoise sudah enam bulan. Jadi satu setengah tahun lagi hidupku akan kembali normal.
Dan dia sudah jadi teman baik seperti yang dia katakan sebelumnya. Aku sudah mulai terbiasa dengan teman baik ini. Tidak seperti sebelumnya, aku sudah agak kebal dengan pesonanya.
Dia tampan, di h*ot tapi aku tahu aku memilikinya sebagai teman. Di dunianya yang aneh dan anti komitmen menjadi teman, lebih berarti daripada menjadi 'teman baik'. Teman tanpa hubungan romantis ini berkali-kali lebih berharga daripada 'teman baik'-nya yang adalah para model cantik dan putri orang berpengaruh itu.
Jadi tentu saja aku bersedia jadi teman. Tak ada hubungan romantis, tapi lebih seperti kakak yang ada untuk adiknya. Bagaimana itu bisa terjadi, aku juga tak tahu, yang kutahu itulah kebenarannya.
"Ahh iya, agen property yang kau kirimkan memberi Ashley pilihan yang bagus. Dia dan partnernya sudah memutuskan satu tempat yang bagus. Dia akan ke sini segera, untuk menandatangani sewa dan mengurus renovasi ke tempat latihan kami. Aku dan teman-teman yang lain tetap di Queens.
"Oh baguslah."
__ADS_1
"Iya bagus, aku bisa kembali melihat Mom setiap hari liburku. Belakangan aku merasa hidupku lebih mudah. Mom juga terlihat lebih santai, mungkin karena dia merasa aku sudah bisa lebih longgar."
"Itu bagus bukan."
"Ya itu bagus, terima kasih untukmu. Jika tidak ada kau mungkin aku sedang berakhir di penjara saat ini. Entah bagaimana aku bisa membalasmu, tapi terima kasih."
Aku menatapnya dengan rasa terima kasih. Mempunyai teman seperti dia membuatku bersyukur. Dia cuma tersenyum membalasku.
"Itulah gunanya teman." Itulah yang dikatakannya.
Dia teman terbaik. Keberuntungan datang padaku saat aku merasa hidupku sangat sulit.
"Baiklah, kalau begitu kita bertemu di Bandara hari Kamis siang. Aku sudah minta cuti hari Kamis dan Jumat, aku takut terjadi sesuatu." Aku takut mengacaukan negosiasi ini tapi dengan poin-poin yang sudah kami sepakati harusnya tidak ada kejadian yang tidak bisa diko*ntrol.
__ADS_1
"Seharusnya ini akan jadi pembicaraan yang tidak terlalu rumit, tapi Nicholai juga seperti kita, kita harus menunggu dia menghubungi bossnya."
"Kau benar juga. Kita harus menunggu bossnya setuju, kalau yang ini kau yang harus bicara. Aku akan gemetar bicara dengan level seperti itu."