
Aku tak yakin padanya jelas. Walaupun dia sudah berusaha datang ke sini. Apalagi Ibunya akan sangat sulit menyetujui kami.
"Kau tak boleh menerima Matthew. Berjanjilah padaku."
Aku melihatnya sambil tersenyum. Dia tak ingin aku menjadi kekasih Matthew. Benar juga jika dia tak datang ke sini kemungkinan aku akan memilih Matthew.
"Ya baiklah." Akhirnya aku menyetujui itu karena dia sudah berusaha sampai kesini.
"Kita tetap teman bukan."
"Ya kita tetap teman."
Aku tak tahu bagaimana menghadapi perasaanku sendiri, tapi hatiku terasa begitu bahagia sekarang, dia menyusulku kesini, kau memikirkan seseorang dan tiba-tiba dia datang ke depanmu.
Kami berjalan-jalan jauh menyusuri pantai dengan dia mengandeng tanganku tanpa bisa kutolak. Rasanya berdebar senang, bibirku mengulaskan senyum bahagia dan kami bicara seperti sahabat lama yang saling merindukan.
__ADS_1
Dia membawaku duduk di kursi bersamanya, aku harus menahan kenangan yang muncul begitu saja dengan kedekatan kami. Sudah sering aku tergoda memikirkannya, sekarang dia muncul di sini, dorongan untuk jatuh ke pelukannya tak tertahankan.
Aku memeluknya, hadiah pertemuan kami. Jantungku berpacu begitu saya saat aku menyembunyikan wajahku di dadanya. Aku tahu dia melihatku karena rangkulannya padaku menjadi lebih erat.
"Kenapa kau membohongi dirimu sendiri. Kau juga ingin kita bersama." Jika tak ada masalah di Ibunya, sudah dari tadi aku setujui permintaannya.
"Aku hanya suka rasa terlindung olehmu." Jika dipikir dia sudah berusia empat puluh, umur kami cukup jauh. Saat melihatnya kupikir dia orang yang bisa kuandalkan, sebuah rasa aku punya seseorang yang seperti Kakak. Aku tak punya Kakak atau Ayah, dan rasa punya seseorang yang lebih dewasa bers
Walaupun aku menutupinya dengan kenyataan bahwa aku menipunya untuk mendapatkan uang, tapi kemudian dia memaafkanku dan memahami alasanku. Sebagian dari diriku menginginkan rasa aman dan perlindungan yang nampaknya bisa dia berikan. Dibanding dengan yang seumur seperti Matthew, rasa ingin punya tempat bersandar dimana seseorang bisa membuatku merasa aman rasanya begitu menarik.
"Aku berhutang hidupku padamu."
"Ya sudah setujui saja kita kekasih. Percaya saja padaku."
"Kau manis, begitu caramu merayu Tuan Donatur."
__ADS_1
"Apa aku pernah merayumu. Kau yang merayuku." Aku tersenyum sekarang. Tuan Donatur tampan ini membuat matahari siang ini lebih menyilaukan dari biasanya. Aku menatapnya, seorang gadis penari miskin yang bermimpi membahagiakan Ibunya mendapatkan kejutan seperti ini.
"Kau tahu aku merasa ini mimpi, bagaimana aku bisa mendapatkanmu datang ke sini."
"Karena kau juga memikirkanku. Berhentilah bersandiwara kau tidak ingin semua ini terjadi." Dia menghadapkanku padanya memandang mataku, tangannya merangkul pinggangku. Aku dalam pelukannya tak bisa pergi. "Katakan kau mau jadi kekasihku."
"Aku ...tidak..."
"Kau perlu dipaksa untuk mengatakannya." Dalam sekejab tangannya mengapai tengkukku dan ciu*mannya mengunci bib*irku membuat nafasku terhenti dan jantungku berdebar begitu cepat. Aku reflek mendorongnya tapi dia tak mau melepasku.
"Katakan kau akan menjadi kekasihku Sara. Kenapa kau harus berbohong pada dirimu sendiri." Dia melepasku tapi dia bicara begitu dekat seakan akan menguasai bibirku lagi.
"Franc,... aku tak bisa."
"Kau bisa, aku yang akan memastikan semuanya berjalan lancar."
__ADS_1
"Mungkin kita hanya bisa jadi kekasih ŕahasia saja di sini." Mungkin demi merasakan cinta kecilku yang mendebarkan ini aku hanya perlu sedikit berani. Mungkin tak semua kisah cinta berakhir happily ever after.