
"Iya, aku yang akan bicara." Semuanya nampak terkendali. Ada Franco di sampingku, seseorang yang jauh lebih tahu mengendalikan situasi.
Aku akan baik-baik saja. Kami selesai latihan dan sekarang saatnya menghadapi Nicholai.
Aku tiba sekitar jam satu di JFK International Airport, sejam sebelum pesawat Nicholai mendarat. Seseorang yang adalah pegawai CIA yang dikirim Thomas dan petugas imigrasi sudah menungguku.
Francoise datang kemudian, orang yang dikirim Thomas dan bossnya itu memberi kami peralatan headset untuk kami, dia yang mengurus semua pencegatan ini dengan orang imigrasi.
"Boss akan bisa memantau pembicaraan kalian, dia juga akan bisa memberikan instruksi. Boss tidak bersedia muncul untuk kondisi apapun, jadi semua arahan pembicaraan akan tergantung padamu Tuan Francoise." Orang yang Thomas kirim menegaskan situasi yang kami sudah ketahui sebelumnya.
"Iya, aku mengerti dengan jelas itu." Franco harusnya sudah tak asing dengan teknik negosiasi. Aku hanya di suruh membuat pembukaan ke Nicholai.
Dia mengajak kami melihat ruangan interogasi.
"Petugas imigrasi akan mengirim Nicholai ke ruangan interogasi ini, keamanan yang kau bawa akan menunggu di luar menjaga segala kemungkinan. Saat dia masuk kami akan melakukan penguncian ruangan sesuai protokol keamanan, kau bisa melambai ke kamera ini untuk dibukakan pintu." Orang CIA yang bernama Charles itu memperlihatkan ruang kontrol yang ada di sebelahnya. Dimana juga terdapat peralatan perekam.
"Mengerti." Francoise yang menjawabnya.
__ADS_1
"Kalau begitu Anda bisa menunggu dulu di ruang tamu, masih 45 menit sebelum kedatangan."
Kami beralih ke ruangan lain, ada 4 pengawal yang dibawa oleh Franco, kami semua menunggu Nicholai dibawa ke ruangan, tanganku sudah dingin dan jantungku berdebar karena tak pernah menghadapi sesuatu seperti saat ini. Francoise tentu saja memghadapi ini dengan mudah, dia masih bisa menhubungi staff-nya untuk menyelesaikan pekerjaan ini bukan masalah untuknya.
"Kau kelihatan tegang."
"Aku belum pernah menghadapi hal seperti ini. Ini pertama kalinya." Dia tersenyum.
"Ingat kita sudah berlatih kemarin."
"Apa kau lapar."
"Iya aku lapar." Dia sekarang tertawa. Tadi aku sudah makan, tapi sekarang memikirkan yang akan terjadi di depan aku lapar.
"Kenapa kau tak bilang."
"Aku takut dibilang tak serius saat bekerja sebenarnya."
__ADS_1
"Orang yang lapar tak akan bekerja dengan benar, tunggu sebentar, kita pesan burger saja."
"Kenapa kau tahu aku lapar?"
"Dulu aku juga pernah di posisi sepertimu. Stress menghadapi sesuatu. Gula darah dalam tubuhku perlu di tingkatkan. Jika tidak aku tak berfungsi dengan baik."
Untungnya saat selesai makan pelan-pelan kegugupan dan rasa khawatirku berkurang. Nampaknya dia benar gula memberi efek penenang bagiku.
"Harusnya sekarang dia sedang turun, sebentar lagi petugas imigrasi akan membawanya ke ruang interogasi. Kau sudah baikan?" Sudah sepuluh menit lewat waktu kedatangan pesawat.
"Iya jauh lebih baik setelah makan lagi. Rasanya konyol." Aku menertawakan diri sendiri.
Dia meringis, aku tahu aku bersikap konyol. Tapi itulah yang terjadi hari ini, yang membuatku lega adalah Francoise tidak menghakimiku dia bersikap supportive.
"Ada aku, tak akan terjadi apapun, kau hanya harus bersikap simpatik ke Nicholai seperti yang kita latih kemarin." Dia mengingatkan lagi apa yang kami bicarakan sebelumnya.
"Iya baiklah." Aku menghela napas panjang, siap memulai negosiasi ini.
__ADS_1