
"Jadi dia tidak bisa menentukan sumber dan waktu tepatnya? Kau yakin?"
"Aku yakin."
"Begitu..."
"Yang kau harus lakukan hanya bersikap normal apa yang terjadi antara kalian hanya kesenangan sesaat. Bergeraklah mendekatu ponselnya saat kau yakin dia sudah tidur, katakanlah dalam waktu sejam."
"Apa dia tidak berpikir kalau itu dimasukkan khusus." Aku khawatir tentu saja, jika aku tertangkap melakukan ini bukan hanya 40,000 dollar yang menghilang, nyawakupun bisa hilang dan akhirnya siapa yang merawat Ibu.
Aku tak bisa menanggung resiko itu.
"Virus seperti yang kau masukkan akan terlihat seperti virus malware pada umumnya. Teknisi yang membersihkannya akan memperlakukannya dengan menghapus virusnya di scan umum. Memang begitu tampilannya, tidak ada yang menyangka lebih dari itu. Virusnya akan tersamar ke adwere."
"Apa itu adware?"
"Virus yang menyebabkan pop up iklan."
"Benarkah?"
"Benar, kau tidak usah khawatir. Tak akan ada yang tahu, kau hanya perlu melakukan ini sekali bayarannya sangat besar. Cukup untuk memastikan kau punya uang untuk menopang hidup Ibumu." Dia terus meyakinkan aku memerlukan uang ini.
"Baiklah, deal."
Dengan jaminan itu aku berani mengambil resiko ini. Perjumpaan ini hanya sekali dan tak akan terjadi lagi, ada aku tak akan dicurigai.
__ADS_1
Semenit kemudian lampu indikator itu berubah menjadi hijau, tanda aku sudah bisa melepas alat hacking itu tanpa suara. Francoise masih tertidur lelap. Obat tidur itu berhasil dengan baik.
"Patahkan alat ini dan buang ke toilet. Itu akan membuatmu lebih aman."
Aku mengunci pintu dan mematahkannya. Saat hal melegakan melihat air menghilangkan alat kecil itu. Mencoba tidak menarik perhatian dengan agak lama berada di kamar mandi. Tapi setelah aku keluar aku menemukan dia tidak terbangun. Aku sangat lega...
Setelah pengalaman ini aku tak akan bisa tidur dengan tenang. Jadi aku menelan obat tidurku sendiri, berharap dan berpura-pura semuanya baik.
Pagi aku terbangun karena gerakan di sampingku. Dia melihat ponselnya yang tak berani aku gerakkan sedikitpun dari semalam.
"Selamat pagi Sara..." Dia tersenyum padaku, semuanya pasti baik-baik saja.
"Pagi."
Aku dengan cepat bangun, merasa banyak hal yang harus diselesaikan, dan terutama aku tak nyaman berada di sini.
"Jam 3, ini jam berapa? Maaf aku tertidur."
"Kenapa kau meminta maaf. Ini baru jam 7."
"Ohh baiklah."
Aku mengambil tasku dan melihat sebuah pesan dari Nicholai.
'Uangmu sudah masuk.' 40,000 ku sudah ada di rekeningku. Sekarang tinggal pergi dari sini.
__ADS_1
"Hari ini pentas terakhirmu bersama Nicholai?"
"Iya."
"Kapan kau akan mengundurkan diri."
"Segera." Segera setelah pentas ini berakhir akhir pekan ini aku mengundurkan diri. Pasti berat mengatakannya
"Kau tidak akan bekerja di ballet lagi."
"Tidak."
"Kau tak akan merindukan balet?"Dia bertanya seakan dia tidak pernah mengalami beratnya meninggalkan group tarinya.
"Sangat kukira. Tapi aku juga tak bisa bertahan di sini."
"Kemana kau akan pergi." Aku tersenyum padanya.
"Kita tak akan bertemu lagi. Untuk apa kau tahu."
"Kenapa kita tidak akan bertemu lagi, kau tak menganggapku teman."
"Kita sudah menjadi teman sekarang, sudah kubilang aku orang yang membawa perasaan dan kau anti komitmen. Aku akan membuatmu terganggu." Dia tersenyum dengan kata-kataku.
"Baiklah, setelah ini semoga apapun yang kau jalani akan baik."
__ADS_1
"Terima kasih sweetheart." Dia tertawa sambil menatap mata dengan panggilan sweetheartku.