BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 111. Back to NYC


__ADS_3

Thomas melihatku bicara dengan tenang. Kenyataannya sampai sekarang aku selalu mengatakan di pikiranku tentang kemungkinan pasti terjadi, mungkin Francoise memintaku untuk tidak pesimis terhadap hubungan kami tapi entah kenapa aku masih tak bisa mempercayai itu. Jadi aku menanamkan itu agar aku tak terlalu berdarah-darah jika berpisah dengannya.


"Ibunya Mary Aides, kudengar dia mengincar jabatan Secretary of Energy di kabinet mendatang jika dia menang. Dia memang wanita yang luar biasa."


"Bisa kau pikirkan bagaimana jika dia tahu latar belakangku." Thomas diam, dia tahu apa yang kumaksud.


"Mungkin tak seburuk yang kau bayangkan Sara, mungkin dia akan menerimamu."


"Kau tak usah menghiburku Thomas, aku tahu apa yang kubicarakan. Daripada itu sekarang aku juga mungkin tak bisa bekerja dengan cederaku ini."


"Nanti aku akan bicara pada boss untuk mengganti gajimu. Kau pasti akan dapat bayaran karena menyelamatkan Nora dan teman-temannya. Apa kau bisa kembali, mungkin istirahat cederamu memang cukup lama."


"Aku harap aku bisa kembali secepatnya, kau sendiri yang bilang dokter mengatakan aku masih bisa menari. Semoga dia benar."


"Iya dokter bilang begitu tapi kau sendiri harus mematuhi apa yang boleh dan yang tidak. Jadi cederamu tidak tambah parah."

__ADS_1


"Iya aku tahu aku akan berusaha patuh larangan dokter,"


Thomas boss yang pengertian. Aku suka dia, setidaknya dia mengerti kesulitanku, walau bahkan aku tidak punya perjanjian kerja dengan mereka, dia memperlakukanku sebagai partner yang perlu didukung.


"Apa bossmu akan mengerti kau cuti agak lama?" Dia bertanya dengan simpatik.


"Kurasa bisa, Ashley bisa mengerti apa yang kualami. Hanya mungkin istirahat cedera seperti ini cukup lama."


"Mungkin kau ganti profesi saja."


"Apa yang kubisa, seumur hidupku aku hanya fokus belajar menari."


"Iya."


"Tak mau kembali ke ballet?" Jika aku keluar tak ada jalan untuk kembali itu kenyataannya.

__ADS_1


"Aku sudah keluar, mana mungkin aku bisa masuk perusahaan lagi. Tak akan semudah itu. Aku akan tetap di pekerjaanku yang sekarang. Itu membuatku punya pegangan untuk Ibuku, aku bisa bekerja di NY dengan gaji yang baik, tip yang baik.


Thomas mendengarku bicara.


"Kau tahu bukan kenapa aku mengambil pekerjaan dari Nicholai dan asal mula aku terjebak di sini, 40.000 dollar, aku belum pernah punya tabungan sebesar itu, uangku habis untuk biaya dokter dan rumah sakit, Ibuku hanya punya asuransi pemerintah, tetap ada bagian yang harus kubayar. Jadi aku nekat karena kali itu aku butuh pegangan untuk berganti pekerjaan. Karena bulan-bulan pertama aku harus berlatih dan belum dibayar."


"Aku mendengar itu, iya tadinya kupikir kau sangat nekat hanya untuk 40,000, kau mempertaruhkan terlalu banyak, sekarang aku mengerti kenapa itu terjadi."


"Aku hanya berusaha yang terbaik. Tapi terima kasih Thomas, jika tak ada kau mungkin aku sudah tinggal nama. Entah bagaimana nasib Ibuku."


"Kita memang harus saling membantu."


Ponselnya berbunyi. Dia melihatnya.


"Ini kekasihmu, dia minta aku memberitahunya jika kau sudah bangun. Ini ponselmu. Aku keluar dulu oke. Jika kau perlu sesuatu nanti aku ada di luar."

__ADS_1


Aku menerima ponselku. Tak lama di layarku keluar nama Francoise.


"Hi, aku baik-baik saja. Kau tak usah kesini. Mungkin dalam tiga atau empat kedepan hari aku sudah bisa kembali dengan kursi roda." Rentetan semburan informasi itu cukup untuk membuatnya tak bisa bicara sesaat.


__ADS_2