BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 93. Antigua 2


__ADS_3

Aku melihatnya menatap mataku tanpa takut. Aku juga takut menghancurkan harapannya.


Jadi aku memalingkan wajahku, menunduk dan hanya mengikuti mataku memainkan pasir dengan jariku. Untuk sesaat kami berdua hanya berdiam diri. Dia terlihat berbeda dengan baju kemeja warna cerah itu, andai semuanya bisa mudah untuk kami.


"Pekerjaanmu lancar?"



"Iya semua berjalan dengan baik."


"Aku kemarin mengirim Matthew ke luar kota." Aku melihatnya dengan mengangkat alisku, jadi dia yang dengan tiba-tiba memberi pekerjaan melalui Philippe, aku tak berpikir dia akan melakukannya sejauh itu. Pantas saja aku merasa aneh kenapa tiba-tiba Matthew dikirim kadi juri audisi.


"Kenapa..." Aku tahu alasannya, tapi kenapa dia melakukannya, "... kita hanya teman."


"Aku tak mau membagi temanku." Aku tertawa kecil dengan jawabannya.


"Aku tersanjung." Bagaimana aku harus mengatakannya , teman ini punya perasaan cemburu, sekarang aku mengerti kenapa dia bersikap sedemikian rupa saat bertanya tentang Nicholai beberapa sàat lalu.

__ADS_1


"Aku tahu aku buruk rupa di depanmu."


"Kau yang menceritakan borokmu sendiri."


"Kau benar juga." Entah kenapa kami bisa tertawa bersama sekarang. Tapi kemudian aku menghela napas, aku tersanjung seperti yang kubilang, tapi hanya kemudian untuk menjadi khawatir apa yang harus kukatakan.


"Apa salah buatmu aku datang seperti ini." Aku menghela napas.


"Bagaimana jika aku jadi teman baikmu beberapa saat lalu kita jadi teman lagi." Aku tertawa dengan penawaranku sendiri.


"Kenapa kau begitu tak percaya padaku. Aku bahkan tidak meminta apa-apa padamu. Selain saat kau menjebakku, apa aku pernah memanfaatkan kesempatan untuk menjadikanmu 'teman baik'? Kau pikir aku tertarik padamu untuk di jadikan teman baik?"


"Aku hanya wanita sederhana, kau punya banyak pilihan wanita hebat."


"Aku tak mencari wanita hebat, hanya seseorang yang membuatku nyaman. Lagipula aku melihat kau lebih hebat dari mereka yang punya segalanya."


Katanya aku lebih hebat dari wanita-wanita kaya dan punya keluarga terpandang dan wajah sempurna itu. Mungkin kacamatanya berkabut. Kami beda kelas, beda strata.

__ADS_1


"Kau terlalu berpikir sederhana..."


"Kenapa kau berkata begitu."


"Mudah karena siapa aku, siapa kau? Apa kau pikir itu mudah. Ibumu tak akan setuju, kau mau bertengkar dengan Ibumu karena aku? Rasanya aku berat menjalani dibenci oleh Ibumu. Kita bisa jadi teman baik sesaat lalu kita jadi teman saja, itu lebih mudah. Jauh lebih mudah."


"Aku yang akan mengatasi Ibuku, yang harus kau lakukan hanya tetap di sampingku."


"Bisakah itu dilakukan seperti itu. Rasanya sulit, kenapa kau tidak realistis saja, kau sendiri pernah bilang Ibumu sengaja mengenalkanmu ke beberapa orang anak senator. Kau tahu apa pekerjaanku? Pole dancer? Bagaimana menyebutkannya, kekasih anak Ibu Mary Aides yang terhormat adalah seorang pole dancer di klub malam kota New York."


"Kau pikir keluargaku punya gelar kerajaaan." Dia tertawa kecil dengan aku diam. Tak tahu harus kujawab apa.


"Menurutmu itu tak sulit?"


"Ibuku hanya berharap, aku yang menjalaninya. Kita yang menjalaninya, jadi buat apa aku mendengarkan orang lain. Tidak akan lagi terjadi seperti itu."


"Tidak akan lagi terjadi seperti itu? Artinya ini pernah terjadi?" Sekarang dia diam dengan pertanyaanku, tampaknya dia sadar dia tadi salah bicara. jadi dia pernah ditentang oleh Ibunya juga? Kapan, siapa? Lalu apa yang terjadi.

__ADS_1


bersambung besok


__ADS_2